PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
47. Terkuak


__ADS_3

Mendengar ucapan Abrine, El merasa ada sesuatu yang janggal. Dia menatap lamat-lamat kedalam netra sang istri dan dia tahu jika Abrine tidak sedang membohonginya sekarang.


"Boleh aku lihat obat kesuburan yang kau konsumsi?" El ingin memastikan, jika obat yang dimaksudkan Abrine bukanlah obat yang dia temukan pagi tadi.


Abrine mengangguk, matanya berkaca-kaca, dia tidak tahu kenapa El bisa menuduhnya seperti ini. Atas dasar apa El sampai beranggapan bahwa dia sengaja menunda kehamilan? Memang dia belum pernah menyatakan perasaannya yang sekarang pada El, tapi jauh sebelum dia merasa nyaman dengan hubungan mereka, dia sudah bertekad untuk mengandung darah daging suaminya demi mempererat hubungan diantara mereka berdua.


"Baik, tapi bisa beri aku alasan kenapa kau menuduhku sudah mengonsumsi pil pencegah kehamilan?"


"Karena aku menemukan obat itu dikamar kita."


Abrine terbelalak. Obat yang mana yang sebenarnya ditemukan oleh El. Dia segera menarik lengan suaminya itu untuk memasuki area kamar.


"Mana obat yang kau temukan, El?" tanya Abrine.


El menggeleng. "Tunjukkan dulu obat kesuburan yang sudah kau konsumsi," pintanya. Dia ingin melihat apa kejanggalan yang dia rasakan benar adanya atau tidak.


Saat tangan Abrine menyentuh botol obat yang disangka El sebagai vitamin, lalu menunjukkan itu padanya, disitulah dia langsung paham situasi yang sebenarnya terjadi.


"Sayang, siapa yang mengatakan jika obat ini adalah obat untuk kesuburan?" El mengerti sekarang, jika istrinya ini tidak mengetahui obat apa yang sebenarnya sudah dikonsumsi.


"Ma--ma..." jawab Abrine gugup.


"Mama, Mama siapa?" El mengernyit, dia pikir tidak mungkin Raya yang sengaja memberikan obat ini pada Abrine dan menipu putrinya sendiri.


"Mama Erika, El. Jadi---"


El langsung bangkit seketika itu juga saat mendengar nama Erika disebut oleh istrinya, padahal Abrine belum selesai dengan perkataannya.


"Breng-sek!" umpat El entah pada siapa. Abrine sampai mundur beberapa langkah dari posisi suaminya. Dia terkejut melihat raut kemurkaan diwajah El.


"El, ada apa? Apa ada yang salah?"


El malah meninju cermin yang ada disana, menyebabkan kaca itu berhamburan bagai butiran jagung. Abrine semakin ciut saja sekarang, kendati dia punya nyali segunung, tapi melawan seorang suami tidak masuk dalam list hidupnya, kecuali suaminya menyakitinya barulah Abrine melawannya, tapi El? Tidak ada alasan baginya untuk melakukan itu.

__ADS_1


"Sayang, inilah obat yang ku maksud sebagai obat penunda kehamilan. Aku sudah melihatnya pagi tadi," terang El dengan intonasi suara yang meninggi.


"El...." Abrine tergugu dengan tatapan mata nanar dan wajah yang syok. Kenapa Erika dengan sengaja memberikan obat itu padanya? Dan lagi, jika begini berarti wanita itu telah menipu Abrine, kan?


"Dia memang tidak pernah berubah." El masih terlihat marah. Andai Erika ada di negara yang sama dengannya sekarang, pasti saat ini juga El akan mendatanginya lalu menanyakan apa maksud dan tujuan wanita itu sebenarnya.


"Kenapa dia membohongiku, El?" lirih Abrine. "Aku---aku benar-benar tidak tahu jika itu adalah obat penunda kehamilan."


"Ya, aku bisa menebaknya." El mengembuskan nafas perlahan, dia tahu, pasti sikapnya sudah membuat Abrine terkejut. Dia mendekati Abrine dan membawa sang istri kedalam pelukannya.


"Entahlah kenapa dia membohongimu. Tapi aku tidak suka dia mengusik rumah tangga kita."


El mulai bisa menguasai diri, raut wajahnya yang merah padam tadi berangsur-angsur mulai normal seperti sebelumnya.


"Apa kau menyimpan nomor telepon wanita itu?" El tidak sudi untuk kembali memanggil Erika dengan panggilan 'Mama', memang seharusnya sejak awal dia tak memberi Erika kesempatan untuk menjalin hubungan baik dengannya lagi.


Abrine mengangguk dalam dekapan El. Tak lama dia memberikan ponselnya pada sang suami. Dia tahu El butuh penjelasan dari mulut Erika mengenai hal ini.


"Hallo, Abrine?" Terdengar sahutan girang dari Erika, dia mengira Abrine yang menghubunginya.


Elrich berdecak lidah, merasa Erika tengah menggunakan topeng baiknya didepan Abrine.


"Tidak usah berbasa-basi! Katakan apa maumu sebenarnya, kenapa kau memberikan istriku obat pencegah kehamilan?" cecar El to the point.


"Ehm... El-elrich?" Erika tergagap menyahutnya.


"Cepat katakan! Kau pikir aku akan diam saja setelah kelakuanmu ini!"


"El, kau salah paham. Sebenarnya mama tidak bermaksud--"


"Per-se-tan!" maki El. Dia menggeram, giginya bergemelatuk, sudah ketahuan pun Erika masih mau berkilah, andai wanita itu ada dihadapannya sekarang mungkin El tidak lagi bisa menahan emosinya. Dia ingin menyerang Erika habis-habisan.


"Dengar, mulai saat ini, jangan pernah mengganggu keluargaku! Jika kau masih berani mengusik sedikit saja, aku akan mendatangimu meski kau bersembunyi di lubang semut sekalipun!" tukas El geram.

__ADS_1


Abrine hanya bisa menunduk dalam, saat mendengarkan percakapan antara suaminya dengan Mama sambung pria itu. Dia tak berani berkomentar apapun. Dia tahu hubungan mereka memang sangat pelik, apalagi Erika sampai nekat melakukan hal seperti ini. Abrine pun kesal dengan Erika, tapi dia membiarkan El yang menyelesaikan masalah ini.


"El!!!" seru Erika dari seberang sana. "Iya! Aku memang sengaja memberikan itu untuk istrimu! Kau tahu kenapa, El? Karena aku kasihan padanya jika dia sampai mengandung anak dari pria sepertimu!" Akhirnya Erika menyahut dengan kesal karena ucapan El tadi sangat menyudutkannya.


"Apa maksudmu, hah?"


"Kau pikir kau adalah anak Naina? Tidak! Naina itu ibunya Elena. Ayahmu itu tidak sebaik yang kau kira, El. Kau adalah anak dari selingkuhannya, dengan teganya dia membawa kau pulang ke rumah dan Naina yang bodoh malah merawatmu!"


Elrich membeku diposisinya, wajahnya tampak pias mengetahui hal ini. Sementara, Abrine tentu ikut terkejut karena dia juga mendengar obrolan itu sebab El memang mengaktifkan pengeras suara dari ponselnya.


"Ayahmu itu tukang main perempuan! Aku cuma takut jika Abrine hamil anakmu, sementara kau mewarisi perilaku ayahmu yang memalukan!"


"Diamlah!" senggak El. "Kau pikir kau sangat suci? Kau lupa apa perbuatanmu?" ujarnya menuding Erika sambil menekan rasa ingin tahunya mengenai berita yang Erika sampaikan saat ini mengenai asal-usulnya.


"Hahaha...." Erika malah tertawa mengejek El. "Perbuatanku adalah karma untuk ayahmu. Jadi, jika selama ini kau menganggap putraku Erland adalah anak dari hasil perselingkuhanku, maka kau tidak ada bedanya, El. Kau pun adalah anak dari hasil perselingkuhan Edgar dengan wanita antah berantah!"


Elrich makin tersudut. Mulutnya sudah terbuka untuk menyahut, tapi akhirnya dia kembali bungkam sebab dia pun sudah tidak tahu harus menjawab apa.


"Kenapa kau diam, El? Kau semakin sadar jika kau tidak layak untuk Abrine, bukan? Aku juga takut nasib Abrine berakhir seperti Pevita."


El menggeleng pelan. Dia menutup panggilan itu tepat setelah Erika sempat menyelesaikan kalimatnya.


Elrich memijat pelipisnya, sementara Abrine terdiam menatapnya.


Abrine mengelus pelan punggung dan pundak El, mencoba menenangkan suaminya. Kendati ada banyak pertanyaan dibenaknya, namun dia berusaha menyimpannya untuk saat ini. Dia juga sempat mendengar nama Pevita disebutkan oleh Erika. Siapa Pevita? kenapa Erika mengkhawatirkan nasib Abrine dan tak mau dia bernasib seperti wanita bernama Pevita itu?


"El, lebih baik kita tidur saja sekarang." Abrine memberi keputusan. Dia tahu El juga butuh waktu mengenai kenyataan yang baru saja disampaikan Erika kepadanya.


"Tidurlah, lebih dulu. Aku akan menyelesaikan kekacauan yang sudah ku buat." El merujuk pada serpihan kaca yang tadi ditinjunya.


Abrine tak mau berdebat, dia mengalah dan mengiyakan. Dia tidur dengan banyak pertanyaan melingkupi kepalanya.


******

__ADS_1


__ADS_2