
Berita tentang terbakarnya sebuah RSJ di pusat kota menjadi trending topik malam ini. Bukan hanya kebakaran itu yang membuat orang panik, tetapi puluhan pasiennya diberitakan kabur.
Kebakaran itu menghanguskan hampir 40% tempat tersebut. Selain panik untuk menyelamatkan diri, para pekerja dan semua orang yang terlibat dalam lingkup RSJ juga sibuk mengamankan beberapa pasien yang kocar-kacir. Mungkin mereka juga ingin lepas disaat yang sama.
Kebakaran itu terjadi akibat rencana Claire. Tentu saja. Padahal sebelumnya dia tampak bersikap tenang dan dapat diajak berkompromi. Sehingga tidak ada yang mencurigainya dan menyangka hal ini dapat terjadi.
Beberapa pasien yang kabur sudah dapat ditangani. Bahkan ada diantaranya yang diantarkan langsung oleh orang lain ke tempat semula yang telah kacau karena efek kebakaran tersebut.
Tidak tanggung-tanggung, akibat kebakaran itu, enam orang tewas terpanggang. Salah satunya bahkan seorang pekerja dan bukanlah pasien ODGJ.
Berita itu menyebar luas. Semua televisi mengabarkan hal yang sama. Hingga akhirnya berita tersebut sampai ke telinga Theresia.
Namun saat dia mengetahui hal tersebut, bersamaan dengan itu sebuah telepon dan kabar duka dia terima.
Cucunya ditikam oleh seseorang.
Theresia terpukul. Dia sampai syok. Syukurnya dia masih bisa mengendalikan dirinya agar tetap tegar.
Berbeda halnya dengan Edgar, saat mendengar kabar bahwa putranya berada di rumah sakit akibat tertikam, pria paruh baya itu langsung tak sadarkan diri, serangan jantungnya kumat dan langsung dibawa oleh pelayan ke rumah sakit terdekat.
Kabar mengenai tertusuknya El, sampai juga ke telinga Xander dan Yemima. Kedua pasangan pengantin baru itu bahkan sampai menunda untuk kepergian bulan madu mereka.
"Abrine?" Yemima yang menunggui Abrine di bangsal rumah sakit, akhirnya lega melihat sahabatnya sadar. Ya, dia yang menerima telepon dari Claire malam tadi.
Abrine mengerjapkan matanya. Sepertinya dia tak sadar cukup lama.
"Aku dimana, Mima?"
"Di rumah sakit," jawab Yemima dengan raut sendu.
Abrine memegangi kepalanya sambil meringis.
Tadi malam dia terjatuh ke aspal sesaat setelah El juga ambruk akibat tusukan itu, dia pingsan dan menyebabkan kepalanya ikut terbentur walau tubuh tegap sang suami masih melindunginya.
"Kepalaku sakit," rintih Abrine.
"Akan ku panggilkan dokter," kata Yemima sigap.
Dokter segera datang sesaat setelah Yemima memencet tombol panggilan.
"Dari hasil pemeriksaan umum, Nyonya Abrine tidak apa-apa. Syukurnya kandungannya juga dalam kuat. Semoga setelah ini anda bisa segera pulih dan kembali ke rumah, ya," ujar Dokter Stella. Dia adalah dokter yang biasa menangani Abrine untuk memeriksakan kandungannya.
__ADS_1
Abrine mengangguk, namun pikirannya sekarang justru merasa heran. Kenapa Yemima yang menunggunya? Apa yang terjadi padanya kemarin sepulang dari pesta? Lalu, dimana El? Seharusnya suaminya ada disini menjaganya, kan?
Dan Yemima? Harusnya wanita ini sedang menikmati kebersamaan sebagai pasangan pengantin baru bersama Xander, kenapa malah menunguinya disini?
Tak bisa dipungkiri, perasaan Abrine mendadak cemas.
"Mima... dimana El? Apa dia sedang memeriksa pasien? Atau sedang ada jadwal operasi?"
Seketika itu juga wajah Yemima yang sendu berubah memucat. Dia tidak tahu harus memberikan penjelasan apa pada sahabatnya. Semua kalimat yang tadi sudah dia susun sebaik mungkin--mendadak hilang. Yemima merasa blank. Dia tak sanggup mengatakan pada Abrine mengenai keadaan El saat ini.
****
Dilain sisi, Claire yang dalam masa pelarian merasa histeris dengan apa yang telah dia perbuat. Langkahnya terseok-seok entah mau membawa tubuhnya kemana.
Tungkai kakinya sudah terasa letih. Dia tersengal-sengal seolah dikejar-kejar oleh orang yang ingin menangkapnya.
Perasaan was-was, kalut, ketakutan, bercampur menjadi satu. Claire seperti orang yang tengah merasakan paranoid akut. Bahunya berguncang bersamaan dengan sekujur tubuh yang gemetaran.
Keringat sebesar biji jagung berulang kali menetes dari ujung pelipisnya. Dia sangat tertekan. Dia butuh obat yang bisa menenangkan kekhawatirannya.
Disaat yang sama, sebuah mobil berhenti disisinya. Seseorang dari dalamnya--keluar-- untuk memastikan penglihatannya. Tidak salah, yang dilihat benar-benar seorang wanita bernama Claire yang sempat dia kenal secara singkat.
"Claire?"
"Jangan! Jangan! Aku tidak membunuhnya!" pekik Claire semakin histeris saat menyadari siapa yang ada dihadapannya saat ini.
Orang itu adalah Wildan. Dia tidak tahu apa yang menyebabkan Claire histeris tapi dia yakin Claire sedang kabur dari rumah sakit jiwa yang terbakar kemarin malam.
"Jangan mendekat!" ucap Claire seakan mengancam.
Wildan sendiri keheranan. Dia bukan sengaja menjemput Claire, dia justru tak sengaja menemukannya di pinggiran jalanan lintas seperti ini.
"Aku tidak akan menyakitimu. Bisakah kita bicara baik-baik, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Wildan penuh kehati-hatian.
Wildan memang tak tahu sesuatu telah menimpa Elrich akibat ulah Claire. Dia hanya mendengar berita kebakaran RSJ.
"Aku tidak sengaja. Aku tidak berniat membunuhnya!"
Sekali lagi Wildan mengernyit. Kenapa Claire selalu mengucapkan kata soal 'membunuh'? Atau jangan-jangan Claire memang telah membunuh seseorang?
"Siapa? Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Elrich...." jawab Claire nanar. Sepintas bayangan El yang ambruk didekat kakinya pun terbayang dibenaknya.
Mendengar nama kakak tirinya, mata Wildan seketika membola.
"A-apa? Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Wildan tergugu.
"Aku tidak sengaja. Aku menusuknya!" pekik Claire merasa semakin terguncang.
Wildan menggeleng samar. Niatnya yang ingin menolong Claire yang tadinya tampak tak tahu arah, kini musnah.Berganti menjadi rasa terkejut dan syok luar biasa.
Wildan berbalik arah. Dia tidak memedulikan lagi bagaimana nasib seorang Claire. Yang ada dipikirannya saat ini adalah Elrich dan .... Abrine? Bagaimana keadaan Abrine saat tahu El ditusuk oleh Claire?
Wildan menginjak pedal gasnya. Satu tujuan. Rumah sakit tempat El berdinas.
****
Disana, Abrine baru saja menguatkan hati saat dia memasuki ruang ICU. Suaminya terbaring, tidak sadarkan diri setelah semalaman telah menjalani proses operasi penanganan luka tusuknya.
Luka itu cukup dalam. Dan lagi perlu sterilisasi ketat akibat kadar karat yang terkandung di pisau yang menancap cukup lama pada punggung Elrich.
Abrine lunglai. Tidak, dia tidak sanggup melihat sang suami berada dalam ranjang pesakitan.
Tadinya, Yemima ingin menemani Abrine kedalam ruangan ICU, tapi Abrine menolak sebab dia ingin bicara dengan El berdua saja. El pasti mendengarkannya, begitulah keyakinan dalam diri Abrine. Dengan sangat berat hati, akhirnya Yemima membiarkan Abrine masuk sendiri demi menemui Elrich.
"El?" Abrine berusaha memanggil suaminya meski dia tak yakin suaranya itu keluar dari rongga mulut atau tidak. Dia seperti berbisik, atau justru tak kuasa bahkan hanya untuk berbicara.
Entahlah El mendengar dia atau tidak. Tapi, Abrine sangat tertekan melihat kondisi Elrich seperti ini. Kedua tungkai kakinya seakan melemas tak bertenaga, seolah itu telah berubah menjadi jelly. Dia tak kuat menopang bobot tubuhnya. Dia terduduk di lantai dingin dalam ruangan ICU, tepatnya disamping kolong tempat pembaringan sang suami.
Rasa dingin dari lantai yang dia duduki menyeruak, seakan menusuk kulit.
"Ku mohon sadarlah, El..." gumam Abrine ditempatnya.
Suaranya terdengar sangat menyayat hati. Dia mengelus perutnya sejenak.
"Aku dan anak-anak kita menunggumu pulih. Aku yakin kau akan sembuh. Kau harus sembuh. Bukankah selama ini kau yang menyembuhkan orang lain?" Abrine menyunggingkan senyum penuh ironi.
Setelah mengucapkan kalimat itu. Abrine tergugu. Dia menangis tanpa airmata, rasanya airmatanya telah terkuras habis saat tadi dia diberitahukan mengenai keadaan El yang kritis. El bahkan belum sadar pasca operasi dilakukan. Jadi, Abrine sangat terpukul.
Setelah menguatkan hati barulah dia muncul di ICU untuk menyapa suaminya.
Sekarang? Dia harus apa? Harus bagaimana? Dia ingin kuat, tapi El yang selalu menguatkannya telah terbaring lemah. Pada siapa dia bertumpu jika selama beberapa bulan belakangan ini dia sudah menjadikan El sebagai penopang dalam hidupnya?
__ADS_1
*****