PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
8. Merawat


__ADS_3

"Anne, tolong berikan pekerjaanku dari dua hari lalu. Aku akan segera menyelesaikannya."


Anne kembali menatap Abrine heran. Dia cukup mendengar pembicaraan Abrine tadi, tapi tidak sepenuhnya mengerti apa yang sedang Abrine bahas melalui sambungan seluler itu. Dia tidak mau menanyakan lebih lanjut karena merasa masalah diluar pekerjaan bukanlah ranahnya.


Anne segera mengambil beberapa berkas yang harus Abrine tanda tangani. Meski sudah diperiksa tapi Abrine tetap harus menelitinya sebelum membubuhi tanda tangannya di setiap dokumen.


"Siang ini kita ada pertemuan dengan Mr. Alison, Miss..." ujar Anne kemudian.


"Aah, pria buncit yang genit itu." Abrine bergumam sambil mengangguk pelan. Namun, dia teringat janjinya pada Elrich yang mengatakan akan mendatangi Rumah Sakit siang ini.


"Wakilkan aku untuk bertemu Mr. Alison. Aku ada urusan mendesak."


"Baik, Miss..." Anne berlalu meninggalkan ruangan Abrine. Dalam hati dia bertanya-tanya dan ingin tahu mengenai kehidupan atasannya yang tertutup. Rasa penasarannya berawal sejak dia tak sengaja melihat Abrine berkelahi di pinggir jalan dan Abrine memenangkan pertikaian itu. Awalnya Anne merasa salah melihat orang, ternyata yang dia lihat itu benar-benar Abrine, CEO wanita tempatnya bekerja.


******


Sesuai janjinya, Abrine mengunjungi Rumah Sakit siang itu. Dia langsung mendatangi bangsal Elrich. Kebetulan sekali perawat baru saja meletakkan nampan berisi makan siang pria itu. Saat Abrine datang, Elrich menyunggingkan seulas senyum culas.


"Bantu aku makan," kata El to the point saat Abrine baru saja mendudukkan diri di sofa.


Abrine mengernyit, sesaat kemudian bersungut-sungut mendekat pada ran jang Elrich dan meraih nampan makanan itu.


"Kenapa kau menyebalkan sekali," gumam Abrine pelan sambil mengelap sebuah sendok dengan tisu.


"Apa? Jangan bergumam!" Elrich berdecak lidah.


"Kenapa? Kau tidak senang? Hidupku ini bukan untuk menyenangkanmu!"


"Cepatlah," ujar Elrich sambil memutar bola matanya.


"Seharusnya kau menahan perawat tadi untuk menyuapimu makan. Kenapa harus merepotkanku!" gerutu Abrine sambil mengangsurkan sesendok makanan ke arah Elrich.


Elrich menerima suapan itu. Dalam hatinya tergelak senang mendengar gerutuan Abrine. Dia tidak menyangka mengerjai gadis ini akan terasa menyenangkan sekaligus bisa menghiburnya dikala sakit.


"Aku bukan merepotkanmu. Tapi ini adalah harga yang harus kau bayar karena telah membuat tangan kananku patah. Aku jadi tidak bisa makan sendiri. Ah iya, jangankan makan bahkan mandi pun sulit."


"Apa maksudmu? Apa setelah ini kau juga menyuruhku untuk membantumu mandi?" Abrine melotot pada El.


"Boleh juga saranmu itu," jawab El cuek sambil kembali melahap suapan yang diberikan oleh Abrine.


Abrine kembali bersungut-sungut, bersikap menirukan gaya bicara Elrich sambil menye-menye tanpa mengeluarkan suara. Hal itu justru membuat Elrich terkekeh lagi.


"Pertemuan awal, saat kau mengunjungi bangsal ku waktu itu... ku pikir kau adalah pria dingin yang menyebalkan, irit bicara, dan tidak tersentuh!" kata Abrine.

__ADS_1


Elrich tersenyum tipis. Sebenarnya penilaian Abrine itu tidak salah. Begitulah pandangan orang lain terhadapnya. "Dan kenyataannya?" tanyanya kemudian.


"Kenyataannya kau tidak sedingin yang aku pikirkan. Kau cukup ramah dan mudah tertawa, tapi tetap saja kau itu menyebalkan." Abrine berterus-terang.


Elrich merasa lucu sendiri dengan pujian Abrine. Kendati pujian itu dilengkapi dengan cibiran, tapi memang tidak banyak orang yang bisa melihat sikap hangatnya. Maksudnya, biasanya orang memang menganggapnya pria dingin. Hanya orang terdekat yang bisa melihat sikap ramah dibalik tembok diri yang dia bangun. Dan lagi, dia biasa bersikap ramah hanya kepada orang-orang tertentu. Keluarga, misalnya.


Tapi, setelah mendengar penuturan Abrine, El jadi merasa bahwa dia telah tanpa sengaja menunjukkan jati diri yang sesungguhnya pada gadis itu, padahal biasanya dia tak begitu pada orang lain apalagi orang yang baru dikenalnya seperti Abrine. Entahlah, mungkin sikap Abrine atau apa yang ada pada diri Abrine bisa membuatnya bersikap apa adanya dihadapan gadis ini.


"Apa ayahmu tidak tahu mengenai keadaanmu ini?" tanya Abrine.


"Tidak, aku tidak ingin dia tahu."


"Kenapa?"


"Kau benar-benar ingin tahu tentang keluargaku?" El menaikkan sebelah alisnya.


Abrine membuang pandangan saat tatapan matanya bersirobok dengan Elrich. "Ya--ya, karena seperti katamu di telepon tadi. Setidaknya, aku juga sedikit mengetahui mengenai keluargamu agar tidak ada kecurigaan dari Ayahmu."


"Hmm, ya... Ayahku sedang sakit. Aku hanya tidak ingin membebani pikirannya saja jika dia tahu hal ini."


Abrine paham yang dimaksudkan El, begitupun dirinya yang tidak ingin membuat orangtuanya kepikiran dengan segala macam ulah yang selalu dia buat sejak dulu, terkait orang-orang yang menjadi korban dalam insiden perkelahian yang sering melibatkan dirinya.


"Kalau aku mengadukannya pada Ayahmu, bagaimana?" Abrine menaikkan sebelah alisnya.


"Kalau ibumu bagaimana?"


"Ibuku tidak ada. Sudahlah, tidak usah membahasnya." Elrich pun meminta minuman pada Abrine dan Abrine menurutinya.


Sebenarnya Abrine cukup penasaran mengenai Ibu El, tapi dia tidak mau turut campur terlalu dalam. Lagipula, siapa El? Kenapa pula dia harus mengetahui seluk-beluk kehidupan keluarganya secara detail.


Tidak banyak mengetahui suatu hal terkadang justru akan menyelamatkanmu. Begitulah batin Abrine meyakini.


"Kalau keluarga yang lain?" Abrine menatap El serius.


"Kakakku sudah menikah, dia tinggal di Swedia."


"Oh, kalau adik?"


"Adikku.... dia..." Elrich tampak meragu, tapi kemudian melanjutkan perkataan. "Tidak ada, aku tidak memiliki adik."


Abrine mengernyit. Tapi sekali lagi dia tak mau menanyakan lebih lanjut. Dia sudah cukup mengetahui keluarga Elrich, berarti El dua bersaudara dan kakaknya berada di negara bagian lain.


"Kau sendiri?" Elrich balik bertanya pada Abrine.

__ADS_1


"Oh, aku tiga bersaudara. Kami triplet."


Elrich terkesima dengan jawaban Abrine. "Really?"


"Huum, Aarav dan Airish sudah menikah dan mereka telah kembali ke Indonesia."


"Kau orang Indonesia? Ku pikir kau asli Jerman, matamu cokelat." Elrich berujar sembari menatap kedalam mata Abrine yang dia maksud, entah kenapa Abrine jadi ikut menatap pada iris hazel milik pria itu. Beberapa detik berpandangan, keduanya segera memutus kontak mata dengan sikap saling salah tingkah.


"Begitulah," jawab Abrine. "Keluarga kami ada gen campuran dari ibunya Papaku. Wajah Indonesiaku tidak dominan, Jadi aku ini keturunan gado-gado," kelakar Abrine mencairkan suasana yang sempat canggung diantara mereka.


"Gado-gado. Itu enak." Kali ini Elrich tergelak, tapi hal yang membuat Abrine heran bukan karena mendengar El memuji makanan Indonesia itu, melainkan Elrich berbicara bahasa Indonesia sekarang.


"Kamu bisa bahasa Indonesia?" Abrine bertanya dengan bahasa Indonesia pula, ingin meyakinkan diri jika El memang mengerti perkataannya.


Elrich seperti tersadar dengan sesuatu, dia menatap Abrine sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan.


"Wah, kalau gitu bicara bahasa Indonesia aja.... hahahah," kekeh Abrine. Kali ini justru dirinya tampak lebih bersemangat sampai El terheran-heran melihatnya.


"Kenapa terlihat senang sekali?" tanya El kemudian.


"Iya, udah lama gak ngomong kayak gini. Sejak keluargaku pulang ke Indonesia, lidahku rasanya kaku bicara bahasa Jerman terus."


Kali ini, Elrich menatap Abrine lama. Seakan dia baru saja menemukan sesuatu yang dia cari dalam diri Abrine. Sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Abrine tampak lebih apa adanya dan menjadi dirinya sendiri menggunakan bahasa Indonesia yang dia pilih.


Melihat ekspresi Elrich yang diam saja, Abrine jadi tergelitik ingin tahu lebih lanjut. "Kamu paham kan apa yang aku bicarakan barusan?" tanyanya meragukan.


"Sangat paham," kata Elrich datar.


"Kamu kursus bahasa Indonesia, ya?" tebak Abrine masih dengan sunggingan senyum jenaka diwajahnya. Entah kenapa dengan bahasa ini dia jadi merasa akrab dengan El.


"Tidak juga," kata Elrich terus terang.


"Lalu?"


"Sudahlah, jangan membahas hal itu. Dan lagi, gunakan bahasa yang biasa saja."


"Huh? Aku tidak mau. Aku nyaman dengan bahasa Indonesia."


"Kau lupa ada dimana sekarang? Gunakanlah bahasa Jerman yang baik dan benar," cibir Elrich menahan senyuman.


Abrine memutar bola matanya malas. Untuk apa mempersulit jika mereka saling mengerti bahasa Indonesia satu sama lain. Lagipula ini kan hanya antara mereka berdua saja. Benar-benar Elrich ini lelaki yang payah dan ribet, batin Abrine.


******

__ADS_1


__ADS_2