PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
107. Harusnya menerima


__ADS_3

Berkat data-data para kolega yang Anne miliki dibuku jurnalnya. Akhirnya dia mendapatkan sebuah kontak untuk dapat menghubungi Raymond.


"Hallo?"


"Ha--hallo?" Suara Anne terdengar ragu. Dia pikir kontak itu akan menghubungkan pada nomor sekretaris Raymond, tetapi saat mendengar suara siapa yang menyahut diseberang sana, Anne sudah tahu jika itu adalah orang yang dia cari.


"Hallo? Siapa ini?"


Anne masih belum berani menjawab meski dia tahu suara Raymond terdengar mendesak dan tak sabar sekarang.


"Jika kau tidak mau bicara, maka ku tutup teleponnya!"


"Tunggu!" serobot Anne pada akhirnya.


"Siapa kau, huh?"


"Aku--aku, Anne...."


"Anne? Sekretaris Abrine?"


"Y-yah...."


"Ada apa? Kau mau mengatakan soal jadwal pertemuan bisnis?"


"Bukan, Tuan. Bukan."


"Jadi? Katakan langsung! Jangan berbelit-belit, aku sedang sangat sibuk..."


"Tuan, kenapa sore tadi ibu anda datang ke kediaman orangtuaku dan mengatakan ingin melamarku?" tukas Anne to the point.


"Apa? Jadi ibuku benar-benar datang menemuimu? Dan itu.... ke rumah orangtuamu?" Suara Raymond terdengar sangat kaget. Mungkin dia mengira ucapan Xena hanya main-main untuk melamar Anne. Dia pikir ibunya tak seserius itu. Nyatanya benar-benar melakukannya.


"Ya."


"Astaga. Lalu kau jawab apa? Kau bilang kita punya hubungan, kan?"


"Apa aku harus jawab begitu?" Anne menggigit bibirnya.


"Ya Tuhan... kau dimana sekarang? Kita bertemu. Kirimkan lokasimu." Panggilan itu langsung diputus sebelah pihak oleh Raymond, membuat Anne kebingungan karena tak menyangka dengan reaksi yang Raymond lakukan ini.


****


Anne menunggu di sebuah taman yang letaknya tak jauh dari kediaman tempat tinggalnya. Sebelumnya, dia sudah mengirimkan alamat itu agar Raymond mudah menemuinya.


Tak sampai setengah jam. Anne sudah dapat melihat siluet tubuh jangkung pria itu yang berjalan dari kejauhan--menuju ke tempat Anne terduduk.


"Tuan, se--sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Anne gugup. Pasalnya baru hari ini dia bertemu Raymond ditengah malam dan bicara empat mata dengan pria itu. Bahkan, ini bukan untuk membahas soal pekerjaan.


Raymond menghela nafas pelan. Sebenarnya tadi dia sedang sibuk bersama teman-temannya di sirkuit motoGP. Daripada dia mendengar omelan ibunya, lebih baik dia menghindar dan bergabung dengan teman-temannya yang sibuk di bidang otomotif. Sayangnya, telepon Anne dan berita yang Anne sampaikan membuatnya harus menunda masalah hobi, sebab lamaran ibunya pada Anne lebih penting serta menyangkut masa depannya.


"Aku menghindari Freya. Dia terus mengejarku seperti anak anj*ing. Ya sudah, aku mengatakan pada ibu jika aku sudah punya calon istri dan itu kau."


Mata Anne membulat mendengar penuturan Raymond yang terkesan blak-blakan.


"Ke-kenapa aku?"


"Jadi, aku harus mengatakan siapa lagi? Abrine? Tidak mungkin, kan? Kau tahu sendiri jika dia sudah menikah."


"Kan, banyak gadis lain. Kenapa aku?" Anne menunjuk dirinya sendiri dengan keheranan.


"Entahlah, aku menjawabnya secara random dan kebetulan di ponselku ada fotomu. Ya sudah...."


"Fotoku?"


"Hmmm..." Raymond manggut-manggut. "Waktu itu aku sempat mengambil fotomu sebagai bukti bahwa aku sudah menolongmu dari Mr. Alison. Kau ingat?"


"Jadi---"


"Jadi, apa yang kau jawab pada ibuku?" potong Raymond.


"Tentu saja aku tolak, Tuan. Kita tidak punya hubungan." Anne memposisikan diri agar bisa melihat reaksi Raymond, rupanya pria itu menarik nafas sepenuh dada. Apa dia kecewa karena Anne menolak lamaran itu?


"Seharusnya kau terima," jawab Raymond melirih.


Anne terkesiap kaget. "A-apa aku harus menerimanya?" Dia geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Entahlah, aku juga bingung. Mungkin begini yang dirasakan Abrine dulu saat aku mengejar-ngejarnya terus. Hingga dia memutuskan menikah dengan Elrich. Apa aku juga harus menikahimu demi menghindari Freya?"


"A-apa?" Sekali lagi Anne terkejut-kejut dengan pernyataan Raymond. "Kau bercanda, Tuan!" Anne memasang cengiran karena merasa ucapan Raymond sudah terdengar sangat aneh ditelinganya.


"Kau punya hutang budi padaku.... Ayolah bantu aku!"


"Pernikahan bukan untuk permainan, Tuan."


"Ya, aku tahu... tapi setelah aku pikir, aku mau mencobanya."


"Kau serius?" tanya Anne.


"Ya, kita bisa mencoba untuk jadi dekat lebih dulu. Tidak harus langsung menikah. Soal lamaran ibuku, jika nanti kita merasa cocok satu sama lain, maka kau bisa mempertimbangkannya." Raymond memberi pilihan.


Anne mengangguk pelan. Haruskah dia katakan dia sudah mulai tertarik pada Raymond bahkan sebelum hari ini? Tapi, secara mendadak Anne justru memikirkan problem Jerry. Bahkan kakak tirinya itu memiliki hutang pada Raymond. Anne merasa sangat malu karena hal itu.


Raymond menatap Anne yang menunduk dalam. Entah apa yang dipikirkan wanita itu. Kenapa mendadak diam seperti ini?


"Kau kenapa?" tanya Raymond. Apa dia salah lihat? Sepertinya Anne sedang menangis sekarang.


"Tidak ada," sanggah Anne mengelak.


"Apa aku menyakitimu? Atau ucapanku menyinggungmu?"


"Bukan, bukan salahmu."


"Jadi? Kenapa kau menangis?" Perlahan tangan pria itu terulur, dia mengangkat dagu Anne dengan ujung jarinya, membuat gadis itu menatapnya dengan mata yang basah. Disaat itulah tatapan mereka bertemu.


Entah kenapa melihat wajah sendu Anne membuat hati Raymond tersentuh. Meski Anne tidak berkata apapun, tapi pria itu seakan memahami bahwa Anne sedang mengemban problem yang cukup berat.


"Bisakah kau cerita padaku, apa yang terjadi?" tanya Raymond dengan suara pelan dan satu tangannya masih berada disisi wajah Anne.


"Jerry, aku malu dia punya hutang padamu."


"Ah, soal itu..."


"Iya, dan dia juga---"


"Dia mau menjadikanmu penebus hutang lagi?" tebak Raymond.


"Ke pa rat itu!" Raymond mendengkus geram. Entah kenapa, sejak awal dia selalu saja emosi terkait masalah Anne dengan Jerry. Mungkin karena dia melihat sendiri bagaimana Jerry dengan licik menjebak Anne pada malam itu didepan Mr. Alison.


"Baiklah, jika begini kita tidak punya banyak waktu."


"Maksudnya?"


"Ku pikir kita bisa saling mengenal dulu sebelum memutuskan menikah. Tapi aku tidak mau karena ulah Jerry kau jadi terlalu lama berada dalam posisi ini."


Anne belum memahami kemana arah pembicaraan Raymond ini.


"Anne, ku beri kau pilihan... kau menolak lamaran dari ibuku dan hidupmu akan semakin buruk karena ulah Jerry atau kau menerima lamaran itu, tapi Jerry tak akan berani mengusikmu lagi."


"....ya, meski itu akan mengorbankan perasaanmu karena kita belum saling mencintai," tambah Raymond lagi.


Cukup lama Anne terdiam. Raymond memberinya waktu, karena pilihan ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk Anne pertimbangkan.


"Baiklah, daripada aku dijual oleh Jerry... lebih baik aku menikah denganmu."


"Kau setuju?" Raymond terkejut dengan jawaban Anne.


"Hmmm..." Anne mengangguk, tapi sesaat kemudian dia menatap Raymond dengan tatapan yang berbeda.


Raymond membalas tatapan Anne. Tanpa banyak kata, secara perlahan dia mendekatkan wajah dan mengecup bibir wanita itu untuk pertama kalinya. Hanya sekilas dan tidak lama.


"A-apa yang kau lakukan, Tuan?" Anne terkejut. Gadis itu memegangi bibirnya yang baru saja dikecup oleh Raymond.


"Tatapanmu seperti memintaku melakukannya," kekeh Raymond dengan sangat tenang.


Anne tersipu. Wajahnya memerah dan langsung memalingkan pandangan ke arah lainnya.


"Apa kau keberatan jika malam ini aku mengajakmu ke suatu tempat?"


"Ke-kemana?" tanya Anne. Apa tatapannya kepada Raymond sangat mudah ditebak oleh pria itu sehingga Raymond bisa menyimpulkan perasannya yang mulai tertarik? Apa sekarang Raymond juga mau memanfaatkannya?


"Hei... apa yang kau pikirkan?" Raymond balik bertanya.

__ADS_1


"Tidak ada. Aku hanya bertanya kau akan mengajakku kemana."


"Jangan berpikiran kotor, Nona! Sebelum kesini tadi, aku ada di sirkuit MotoGP. Beberapa hari lagi akan ada perlombaan disana. Aku mau kembali kesana dan mengajakmu ikut. Jika kita menikah, sedikit banyak kau harus mengetahui hobiku, kan?"


Anne menunduk malu. Jujur, pikirannya memang sudah kemana-mana tadi.


"Tapi, jika setelah dari sana kau ingin menghabiskan malam panas bersama denganku juga tak apa."


Ucapan Raymond berhasil membuat Anne memutar bola matanya.


"Hahaha, aku hanya bercanda. Aku memang se breng sek itu, dulu.... sekarang tidak lagi."


"Benarkah?" tanya Anne tidak yakin.


"Ya, tapi jika kau setuju aku tidak menolaknya."


Anne akhirnya tertawa mendengar candaan pria itu.


"Kau sudah tidak sedih lagi, kan? Ternyata aku mampu menghiburmu?" Entah kenapa Raymond senang melihat perubahan sikap Anne.


"Ya, terima kasih. Kau membuat mood ku jadi lebih baik."


"Benar kan? Pria ini cukup baik untukmu, Nona!" kata Raymond pongah.


Tanpa mereka sadari keduanya mulai akrab malam ini. Setelah merasa baik-baik saja, akhirnya Anne mengikuti Raymond untuk mengunjungi sirkuit MotoGP.


Disana, Raymond mengenalkan Anne pada teman-teman sepermainannya. Awalnya Anne sangat canggung tapi lama kelamaan dia bisa berbaur dengan semuanya.


"Kau tahu, kau adalah wanita pertama yang aku ajak kesini."


"Oh, benarkah? Bagaimana dengan Miss Abrine?"


Raymond terkekeh. "Abrine? Ya ya ya, dia yang pertama tapi mereka mengenal Abrine sebagai sahabatku, sedangkan kau ku perkenalkan sebagai pasanganku."


Mendengar itu wajah Anne kembali memerah. Raymond pun mengacak rambut lurus wanita itu.


"Maaf jika kau tidak setuju, aku hanya takut salah satu atau sebagian dari mereka tertarik padamu jika mengetahui kau single."


Mereka berdua tertawa bersama dan terlihat sangat kompak. Anne merasa Raymond pria yang baik dan humble meski pancaran jiwa playboy nya masih sangat terlihat.


"Kenapa dulu kau tidak menikahi Miss Abrine?" tanya Anne.


"Kami tidak berjodoh."


"Itu jawaban yang bisa dijawab oleh anak kecil."


Raymond terkekeh lagi. Dia mengingat masa-masa terkelamnya.


"Dulu aku tidak baik untuknya. Dia mencari pria yang lebih baik."


"Kalau sekarang?"


"Sekarang aku merasa jauh lebih baik, tapi Abrine tidak bisa lagi ku dapatkan." Raymond seperti menerawang ke masa-masa dulu, saat dia bersama Abrine.


"Kau sangat mencintainya?"


"Begitulah... tapi akhir-akhir ini aku sedang sibuk memikirkan satu wanita lain."


"Siapa?"


"Kau..."


"Aku?"


"Ya... entahlah. Kau boleh mempercayainya atau tidak. Tapi, sejak aku melihatmu dimanfaatkan oleh Jerry aku merasa ingin melindungi mu."


"Kau kasihan padaku..." tebak Anne menerka situasi.


"Ya, tapi bisa juga lebih dari pada itu. Buktinya aku tidak apa-apa jika kita segera menikah. Justru aku merasa senang sekarang."


"Benarkah?"


"Hmm, ku pikir aku memang tertarik padamu. Kau tahu kenapa? Karena beberapa saat sebelum bertemu denganmu hari ini, aku sempat menolak untuk cepat menikah. Tapi sekarang aku jadi benar-benar serius dan mau menikahimu."


Ucapan Raymond membuat Anne menunduk dan memejamkan matanya rapat-rapat.

__ADS_1


******


__ADS_2