
El tidak habis pikir dengan perkataan Claire di ruangannya tadi. Dia merasa kehidupan tengah mempermainkannya. Bagaimana mungkin Claire melakukan semua itu hanya karena mengharapkannya. Tidak, ini semua tidak benar. Claire saja yang gila, pikirnya.
El tidak mau berlarut-larut dalam problem masa lalunya. Kendati dia sudah tahu siapa yang menghamili Pevita dan kenapa Pevita mengkhianatinya, tapi dia sudah menutup kisah itu. Meski setelah mengetahui segalanya dari mulut Claire, dia merasa menjadi pria ter-naif selama ini.
Sudahlah, sekarang bukan saatnya memikirkan hal yang sudah berlalu.
El pun melihat hari yang sudah gelap dari kaca besar yang ada dihadapannya, sekarang dia memang berada di aula kosong untuk menenangkan diri.
Tanpa terasa, ternyata El sudah berada di Rumah Sakit selama berjam-jam lamanya. Kini, dia justru memikirkan istrinya, mungkin dia jarang memberi Abrine perhatian karena pekerjaannya yang seperti ini. Dia tidak punya waktu luang yang lama. Dia ingin mengabari Abrine tetapi ponselnya kehabisan daya baterai.
Sementara disana, hujan mengguyur deras sejak sore. Diikuti kilat dan petir yang menggelegar, namun belum juga berhenti sampai saat ini. Memang sekarang sudah memasuki musim penghujan.
Abrine menunggu El tiba dikediamannya. Sudah cukup larut, tapi suaminya belum juga pulang. Abrine sudah mencoba menghubunginya namun tidak mendapat jawaban. Dia mencoba menghubungi Xander untuk menanyakan keberadaan El namun Xander juga sulit untuk dihubungi.
"Yemima, apa kau bersama Xander?" Akhirnya dia menghubungi Yemima. Entah kenapa perasaannya sangat tidak enak sekarang.
"Ada apa, Brine? Xander memang sedang di Apartmenku."
"Oh, dia tidak di Rumah Sakit? Bisakah tanyakan padanya apa dia tahu jadwal El hari ini? El belum tiba dirumah sampai sekarang."
"Oh, sebentar."
"Maaf merepotkanmu, Mima."
"It's oke, no problem, Brine."
Beberapa saat menunggu, akhirnya Xander memanggil Abrine dari sambungan seluler itu.
"Ada apa, Brine?"
"Kau tahu dimana El?"
"Aku sudah pulang sore tadi. Tapi, mungkin El ada operasi mendadak."
"Baiklah, thanks, Xander." Abrine memutus panggilannya. Meski sudah mendengar jawaban dari Xander, hatinya tetap merasa tidak tenang.
"Kau dimana, El?" batin Abrine gelisah.
Abrine menunggu sampai lewat dini hari. Dia paham tugas El sebagai dokter kadang memang menyita waktu, tapi sekarang perasaannya sangat tidak enak.
Dengan keputusan yang sudah dia timbang-timbang, akhirnya dia memutuskan untuk menuju Rumah Sakit dimana El bekerja.
Di Rumah Sakit, Elrich baru saja menyelesaikan sebuah operasi mendadak. Waktu memang sudah menunjukkan dini hari.
Disaat yang sama, El ingin mengabari Abrine dan teringat akan ponselnya yang sempat dia sambungkan pada charger, dia masuk ke ruangannya untuk mengambil ponsel.
__ADS_1
El menghubungi Abrine, namun panggilannya tidak terjawab. Dia menelpon berulang kali namun tetap tak ada jawaban.
Akhirnya El mengirimi Abrine pesan singkat.
^^^[Sayang, apa kau sudah makan malam? Maafkan aku tidak mengabarimu, tadi aku ada operasi mendadak. Aku akan segera pulang sekarang.]^^^
El keluar dari ruangannya tapi di koridor, dia berpapasan Claire, wanita itu menatapnya dengan tatapan yang sulit El definisikan.
El mencoba mengabaikannya. Dia melewati tubuh semampai Claire begitu saja.
"Maaf atas tindakanku di ruang operasi sore tadi. Aku akan membereskan kekacauan yang sudah ku perbuat."
Ucapan Claire yang terdengar sangat menyesal, berhasil membuat El menghentikan langkah.
"Kenapa kau sangat kejam, Elrich Axel Gustav? Kenapa kau tidak pernah mau melihatku? Harusnya kau sadar bahwa aku melakukan itu untuk mencari perhatianmu!" tukas Claire, dia berbalik dan menyorot El dengan tatapannya yang sangat penuh pengharapan.
Baiklah, El mengerti sekarang, seorang Claire yang dulu selalu meremehkannya, kini berubah menjadi wanita yang mengemis perhatiannya hanya karena dia sudah mengakui perasaannya pada El sore tadi.
Elrich ingin menjawab, menjelaskan pada Claire bahwa dia tak bisa membalas perasaan wanita itu, baik itu dulu apalagi sekarang. Namun, El rasa tidak perlu menjelaskan sesuatu hal kepada orang yang tidak mau membuka pikirannya. Itu tidak ada gunanya dan hanya akan berujung sia-sia. Akhirnya, El hanya menggeleng pelan. Dia berlalu tanpa sepatah katapun pada Claire.
Claire menggeram dalam hati, menganggap sikap diam El adalah sebuah kesombongan diri.
Claire menyorot kepergian El yang semakin menjauh.
"Kau lihat, Pevita? Dia bisa hidup nyaman sekarang, dia menjadi dokter sukses dan terkenal. Seharusnya kau juga sudah menjadi dokter sekarang. Tapi karena dia, kau harus menemui ajal." Claire berujar seolah tengah bicara pada Pevita.
"Dia juga tidak membalas perasaanku bahkan setelah adikku meninggal. Aku tidak akan membiarkan dia hidup tenang dan bahagia, apalagi bersama istrinya yang menyebalkan itu," batin Claire dipenuhi dendam. Dia masih mengingat ucapan Abrine saat pesta pernikahan mereka. Dia tahu istri El sulit untuk ditindas.
Claire baru tiba di kota ini sesaat setelah pemindahan tugasnya. Dulunya, dia dan keluarganya memang menetap disini, tapi sejak kematian Pevita, mereka memutuskan untuk pindah ke luar kota. Sampai akhirnya, dia harus kembali bertemu El lagi di kota yang sama.
Dia sadar bahwa dia tidak bisa melihat El hidup baik-baik saja setelah apa yang terjadi pada adiknya beberapa tahun silam. Dendam itu, masih ada dan kembali menyala. Apalagi, El tetap tak bisa membalas perasaan yang sejak lama dipendamnya. Justru El menikah dengan wanita lain.
Maksud Claire waktu itu, El memutuskan Pevita yang hamil dan membiarkan Pevita bersama Galvin. Dan dia akan bersama dengan El. Nyatanya semua tidak sesuai dengan rencananya.
Dia tersenyum miring dan melangkahkan kakinya dengan cepat untuk mengejar langkah El disana.
\*\*\*
Abrine masuk ke dalam lobby Rumah Sakit dengan keadaan mantelnya yang sedikit basah. Tadi, dia berlarian dari taksi sampai ke area ini.
"Apakah saya bisa bertemu dengan Dokter Elrich?"
"Dokter El baru saja keluar, Nona."
"Pulang atau kemana?"
__ADS_1
"Sepertinya beliau memang akan pulang."
Abrine pun berbalik menuju ke parkiran setelah mengucapkan terima kasih pada resepsionis Rumah Sakit itu. Dia lalu mencari keberadaan mobil El, tidak begitu sulit karena area itu cukup lengang di jam larut seperti ini.
Angin masih berhembus kencang, hujan masih turun dengan gerimis. Dari kejauhan, Abrine dapat melihat Elrich yang berjalan menghampiri mobilnya sendiri. Tapi, kening Abrine langsung mengernyit tatkala melihat sosok lain dibelakang tubuh suaminya.
Abrine yang ingin menjeriti suaminya, langsung urung melakukan itu. Dia berjalan perlahan menghampiri posisi dimana suaminya berada.
Langkahnya terhenti kala mendengar percakapan mereka. Itu adalah Claire yang mengejar langkah suaminya.
"El, tinggalkan istrimu demi aku!" ujar Claire tanpa rasa canggung, ucapan itu berhasil membuat El berbalik badan demi menatap wanita yang ternyata mengejarnya sampai ke parkiran.
"Apa maksudmu?" tanya El.
Disaat yang sama, rupanya Claire melihat Abrine yang juga berada disana. Dia tahu Abrine tak bisa dilawan dengan kekerasan, tapi dia akan menekan mental Abrine dengan mengguncang perasaan wanita itu.
Claire mendekat pada Elrich dan menciumnya begitu saja, dia sengaja melakukan itu agar Abrine melihatnya, hal ini cukup untuk membuat Abrine sakit hati, kan?
Mata Abrine terbelalak menyaksikan adegan itu.
El sendiri begitu terkejut dengan ulah yang Claire lakukan. Dia mendorong keras tubuh Claire hingga melepaskan ciuman dadakan itu. Dia mengusap bibirnya sendiri dengan rasa gusar. Ini menjijikkan, batin El.
Abrine mendekat dan mendorong Claire hingga terjerembab di lantai parkiran. Padahal baru saja El ingin mengumpat tindakan wanita ini, tapi ternyata Abrine lebih dulu mengambil tindakan.
"Apa yang kau lakukan?" marah Claire karena tindakan Abrine.
El sendiri terkejut melihat Abrine yang juga berada disana. Dia baru menyadarinya.
"Harusnya aku yang bertanya padamu. APA YANG KAU LAKUKAN PADA SUAMIKU, BI*CH?" marah Abrine.
"Sayang sebaiknya kita pulang, jangan berpikiran yang tidak-tidak." El berusaha menenangkan istrinya. Dia sudah takut Abrine akan salah paham jika benar istrinya sudah melihat momen ciuman sialan tadi.
Claire bangkit dari posisinya. Dia tertawa sumbang. "Seharusnya kau jangan tanyakan padaku, tanya saja pada suamimu ini. Ada hubungan apa diantara kami," ujar Claire seolah melimpahkan kesalahan sepenuhnya pada El.
"Shut up, Claire!!!" seru El geram.
Claire hanya tersenyum tipis.
"Hubungan?" Abrine menatap El dan Claire bergantian seolah meminta penjelasan.
"Tidak, tidak. Dia gila sayang. Kita pulang saja!" tukas El menarik lengan Abrine perlahan.
Abrine menurut dan menaiki mobil El tapi Claire terus mengoceh.
"Jangan terlalu percaya pada suamimu itu! Dia tidak sebaik yang kau kira! Tidak semua ucapannya adalah kebenaran!" Claire terus memprovokasi Abrine padahal Abrine sudah berada didalam mobil suaminya.
__ADS_1
*****