PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
106. Ancaman


__ADS_3

"Bagaimana, Ayah?" Elrich menghampiri sang Ayah yang baru saja keluar dari bangsal dimana Erika dirawat.


Edgar menggeleng samar sebagai tanggapan untuk pertanyaan putranya.


"Hmm, mungkin melupakan masa lalu itu terasa begitu sulit baginya," ucap El merujuk pada Erika.


"Ya, yang terpenting ayah sudah memberinya pengertian. Erika mau mengerti atau tidak, itu adalah urusannya sendiri. Kita pulang?"


"Tapi, kita belum bertemu Erland, ayah."


Saat mereka tiba memang Wildan sedang ada keperluan lain, dia pulang ke Apartmen untuk mengambil segala keperluan Erika selama di rawat.


"Apa Erland akan menyambut ayah dengan sikap yang sama seperti Mamanya?" Edgar agak pesimis.


"Aku rasa tidak, Erland sudah jauh lebih dewasa sekarang. Dia bukan anak-anak lagi, Ayah. Aku yakin dia bisa memilah yang salah dan yang benar."


"Apa kita akan menunggunya disini?"


"Sebaiknya begitu, ayah ingin sekali bertemu dengannya, kan?" Elrich dapat menebak hal itu.


Edgar mengangguk. Mereka memutuskan menunggu di rumah sakit. Tepatnya didepan ruang perawatan Erika.


Saat sedang menunggu, El mendapat panggilan dari istrinya. Abrine memang belum mengetahui jika El sudah tiba di kota, dia mengira El akan tiba di sore hari karena El ingin membuat kejutan atas kepulangannya. Lagipula, dia ingin menemani Edgar menemui Erika dan Wildan lebih dulu. Setelah ini barulah dia akan pulang menjumpai sang istri.


"Sayang, kau mau makan apa sore nanti?" tanya Abrine dari seberang panggilan.


"Kau mau memasak?"


"Hmm.... kau mau, kan?"


"Ya, tapi aku tidak mau kau kelelahan."


"Tidak apa-apa, itu menyenangkan dan tidak membuatku lelah."


"Baiklah, apa saja yang kau masak, aku akan memakannya... i miss you so much."


"Miss you too... cepat kembali," ujar Abrine terdengar riang.


Edgar yang mendengar sekilas pembicaraan Elrich melalui sambungan seluler itupun tersenyum. Dia bisa menarik kesimpulan jika putranya dan Abrine benar-benar sudah saling mencintai sekarang. Dia lega, padahal dulu Abrine sempat menolak saat dia melamarkan Abrine untuk dinikahi sang putra.


Beberapa menit berbincang, akhirnya El memutus panggilannya. Bersamaan dengan itu, Wildan pun tiba dihadapan keduanya.


"Kak..."


El dan Edgar sama-sama mengadah kearah pria berkaus hitam tersebut.


Wildan melihat pada Edgar. Tatapan keduanya saling menyorot dengan pancaran kesedihan yang dalam.


"Ayah ingin bertemu denganmu, Er..." kata Elrich mengambil alih keadaan.


Tapi, disaat itulah Wildan tidak bisa menahan diri untuk memeluk sang Ayah. Tubuh Edgar terasa sudah tak segagah dulu. Tubuh itu sudah termakan usia meski raut ketampanan masih terlihat jelas diwajah yang sama.


"Ayah...." Wildan tidak bisa menahan airmatanya.

__ADS_1


Selama Wildan hidup, dia hanya mengenal satu sosok ayah. Itu adalah Edgar. Sedangkan ayah kandungnya, sudah meninggal sebelum sempat mengakui dia sebagai anak.


Erika tidak pernah menikah lagi. Wanita itu terlalu mencintai Wilmar, ayah kandung Wildan. Dulu, dia menikah dengan Edgar hanya demi bisa hidup layak saja. Padahal dia sudah lebih dulu menjadi kekasih Wilmar. Tetapi, Wilmar hanya menjadikannya selingan sebab sudah mempunyai keluarga sendiri.


Hingga akhirnya, Wilmar meninggal karena kecelakaan. Beberapa hari setelah kematiannya, Erika pun memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan membawa Wildan ikut serta karena pada saat itu dia juga sudah diceraikan oleh Edgar.


Wildan memang mempunyai saudara satu ayah dari keluarga mendiang Wilmar. Tapi, dia tidak mau mengusik keberadaan mereka sebab dia sadar bahwa dia adalah anak hasil perselingkuhan.


Akan tetapi, saat Wildan lulus SMA, tanpa pernah diduganya, dia mendapat sebagian harta dari peninggalan almarhum ayah kandungnya.


Meski Wilmar seorang Sopir di keluarga Edgar, tapi saat dia hidup, pria itu punya tabungan yang cukup banyak.


Itulah awal mula Wildan bisa mendapatkan modal untuk mengembangkan usaha kulinernya sampai saat ini.


"Ayah rindu padamu, Nak." Edgar menepuk-nepuk pundak Wildan dengan hangat dan akrab. Perkataannya tidaklah bohong, dia memang merindukan putra yang sempat dia besarkan itu.


"Aku juga merindukan ayah. Aku minta maaf telah banyak mengecewakan ayah."


"Tidak, Nak. Kau tidak pernah mengecewakan ayah. Semua ini karena keadaan kita."


Elrich yang melihat itu dibuat terharu akibat pertemuan Ayah dan adiknya. Dia ikut memeluk tubuh Edgar bersamaan dengan apa yang Wildan lakukan.


Setelah cukup berlarut-larut dengan hal itu. Elrich memberi ruang pada ayahnya untuk berbicara pada Wildan.


"Kau sudah dewasa, Nak."


Wildan tersenyum tipis dengan sendu diwajah yang masih terlihat.


"Ayah juga semakin tua," jawab Wildan berkelakar.


Akhirnya mereka terkekeh bersamaan melepaskan suasana sedih yang sempat tercipta.


"Apa ayah sudah bertemu dengan Mama?"


Edgar mengangguk.


"Apa Mama tidak menanggapi ayah dengan baik?" terka Wildan.


"Sudahlah, mungkin Mamamu masih butuh waktu."


"Seberapa lama pun ayah memberinya waktu, Mama tidak akan berubah." Wildan berkata terdengar sangat yakin.


"Jangan begitu, doakan mama agar bisa berubah. Semoga mama tidak selamanya seperti itu."


"Entahlah ayah, aku sudah pesimis jika Mama mau menjadi lebih baik."


*****


Sore harinya, Elrich benar-benar pulang ke Apartmen. Tapi dia tidak sendiri, dia kembali bersama Edgar dan Wildan-- yang masih ingin melepas kerinduan.


"Tada....."


"El? Kenapa tidak bilang jika ayah juga ikut ke sini?" tanya Abrine terkejut melihat ayah mertuanya juga ikut berkunjung. Bahkan ada Wildan juga.

__ADS_1


Abrine menyalami tangan Edgar dengan takzim. Dia meminta mereka semua masuk dan mereka bersiap untuk makan malam bersama.


"Untunglah aku masak cukup banyak tadi," kata Abrine diselingi dengan tawa kecilnya.


Mereka berempat makan malam dengan lahap. Ada yang berbeda. Saat ini semua terasa cukup lengkap.


"Andai kak Elena juga ada disini," kata Wildan. Dia jadi mengingat momen makan bersama mereka saat kecil.


"Ya, kapan-kapan kita akan buat acara makan bersama. Bersama Elena dan Hardin juga," kata Edgar yang diangguki oleh semuanya.


"Nenek kemana, El? Kenapa tidak diajak ikut?" tanya Abrine.


"Oh, begitu tiba di kota, nenek ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Jadi, nenek tidak bisa ikut."


"Kasihan nenek..." lirih Abrine.


Andai Elrich mau mengurus bisnis neneknya, pasti Theresia tidak perlu mengurus pekerjaan diusianya yang sudah cocok untuk pensiun. Tapi, mau bagaimana lagi, diapun tak mungkin memaksa pria itu, sebab bisnis memanglah bukan passion Elrich.


"Saat ini nenek sedang sibuk mengurus bisnis untuk masa-masa terakhir-- sebelum beliau benar-benar pensiun," timpal Edgar. Theresia sudah menceritakan cukup banyak padanya saat mereka berada di villa.


"Syukurlah... jika nenek sudah pensiun, siapa yang akan menjalankan bisnis itu ya?" celoteh Abrine lagi.


"Untuk beberapa tahun kedepan nenek akan mempercayakan pada tangan kanannya, tapi semua aset itu tetap atas nama nenek. Sebelum nanti akan dialihkan penuh untuk cicitnya, dan jika mereka sudah berusia legal maka mereka yang akan mengelolanya." Kali ini El yang menyahut, 'mereka' yang dia maksud adalah bayi dalam kandungan Abrine. Dia juga mengelus perut istrinya sebagai isyarat ucapannya tersebut.


Wildan yang juga mendengar itu merasa kakaknya sangat beruntung. Bukannya iri, justru dia ikut senang dengan hal itu. Bagaimanapun, hidup dan masa depan anak-anak Abrine pastilah sudah terjamin.


Sementara di tempat lain, tepatnya di bangsal rumah sakit yang siang tadi dikunjungi Elrich dan Edgar, ada Erika yang terbujur kaku saat beberapa orang berpakaian hitam memasuki tempatnya di rawat.


"Kau mungkin tidak mengenalku. Tapi, aku cukup mengenalmu."


"Siapa, kau?" tanya Erika dengan tampang takut.


"Aku Theresia Langford. Neneknya Elrich."


"Ne--neneknya El?" Erika tergugu.


"Ya. Aku adalah ibu kandung Emily."


Kerongkongan Erika rasanya tercekat mengetahui kenyataan ini. Masalahnya adalah penampilan wanita yang mengunjungi bangsalnya ini, sudah menunjukkan kelas wanita itu--tanpa perlu di jelaskan lebih jauh.


"Kunjunganku ke sini adalah selain untuk menjenguk mantan ibu tiri dari cucuku, aku juga ingin memberimu peringatan agar tidak mengganggu hidup cucuku dan keluarganya lagi. Kau mengerti maksudku, bukan?" Theresia berbicara dengan sangat anggun dan elegan, seolah memang sengaja menunjukkan jati dirinya didepan Erika.


Erika terdiam dengan wajah pias. Apa yang akan terjadi padanya jika dia melanggar peringatan yang sudah Theresia buat didepannya? Bahkan wanita sekelas Theresia rela repot menemuinya hanya untuk memberitahukan hal ini? Ini berarti El sangat penting bagi wanita itu, bukan?


"Mungkin usiaku sudah terlalu tua. Aku tidak dapat berjalan tanpa tongkatku. Tapi kau tentu tau, apa yang dapat ku lakukan jika kau berani macam-macam."


Erika berdecih sekilas dan Theresia tersenyum kecil mendengarnya.


"Dengarkan aku, nyonya Erika.... selama ini aku diam bukan berarti aku tidak tahu. Aku cukup tahu sepak terjangmu. Semua kartu as mu juga ada di tanganku. Jika kau mengabaikan peringatan ku kali ini, maka aku akan dengan mudah membalikkan alur hidupmu."


"Apa kau mengancamku, nyonya?" tanya Erika dengan suara pelan nyaris berbisik.


"Begitulah, aku memang mengancammu!" ujar Theresia tak mau berbasa-basi. "Jadi, pikirkan segala perbuatanmu sebelum kau melangkah lebih jauh."

__ADS_1


Erika tahu, orang seperti Theresia tidak mungkin main-main dalam setiap ucapannya. Erika hanya bisa bungkam sampai Theresia dan dua orang ajudannya keluar dari ruang perawatan tersebut.


*****


__ADS_2