PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
68. Sakit Jiwa


__ADS_3

News anchor masih terdengar membacakan berita terbaru hari ini. Tentu saja salah satu berita terhangat itu mengabarkan tentang tertangkapnya seorang dokter yang tak lain dan tak bukan adalah Claire.


Penangkapannya cukup mengejutkan karena selain terbukti bersalah telah merencanakan pelecehan pada salah satu istri rekannya yang sesama dokter. Dikediamannya juga ditemukan banyak barang koleksinya yang membuat publik ternganga.


Claire diketahui mengoleksi benda-benda semacam belati dan benda tajam lainnya yang tentu saja ilegal. Belum diketahui apa motif dia menyimpan semua barang-barang itu, tapi berdasarkan pemeriksaan tersebut dia juga akan lanjut diperiksa untuk mengetahui kondisi kesehatan kejiwaannya.


ztt...


"El? Kenapa tv nya dimatikan."


Abrine terkejut saat tiba-tiba saja suaminya pulang dan langsung meraih remote tv untuk menghentikan tontonan seru istrinya.


"Untuk apa mendengar berita tentang dia lagi? Aku tidak mau kau terlalu memikirkannya dan justru akan berempati padanya."


El duduk disamping Abrine yang melipat tangan didada dengan wajah ditekuk.


"Bukan begitu, El. Beritanya sekarang adalah penemuan benda-benda tajam yang menjadi koleksinya."


"Sudah ku bilang kan, dia itu gila."


Abrine menarik nafas panjang.


"Sudahlah, sayang." El mengacak rambut Abrine sekilas. Dia hanya tidak mau Abrine kepikiran lagi dengan hal ini. "Namamu tidak ada disebutkan di media, kan?" tanyanya kemudian.


"Sepertinya tidak, mereka hanya mengatakan tentang istri dari rekan Claire. Aku tahu yang mereka maksudkan itu aku tapi syukurlah mereka tidak menyebut namaku sama sekali. Aku takut keluargaku di Indonesia akan khawatir."


"Ya, itu yang juga aku jaga. Baguslah..."


El berlalu menuju kamar mereka dan Abrine mengikuti dibelakangnya, dia menyiapkan keperluan suaminya yang akan dikenakan sehabis mandi.


Seharian ini Abrine memang memutuskan tidak bekerja, bukan karena mentalnya masih lemah sebab memikirkan kejadian kemarin, tapi El yang benar-benar melarangnya untuk keluar rumah dulu sebelum Claire benar-benar mendapat tempat dibalik jeruji besi.


El telah siap dengan urusan mandinya ketika Abrine menyajikan makan malam pria itu.


"Suamiku mau makan apa?" celetuk Abrine membuat El mengulumm senyum.


"Mau makan istriku, apa boleh?" tanya El sembari melingkarkan tangan di pinggang sang istri.


Abrine tergelak, apalagi saat El menciumi tengkuknya sambil menggelitik perutnya secara bersamaan.


"El...." protes Abrine, tapi El tidak menghentikannya juga sampai Abrine meminta ampun padanya barulah dia berhenti menggelitik sang istri.


"Aku sudah kehilangan selera makan." El menatap Abrine serius.


"Lalu?" tanya Abrine memutar bola matanya.


"Ayo bermain, sebentar saja."


"Tapi, El---"


Abrine tidak tega melihat wajah suaminya yang dibuat sememelas mungkin. Akhirnya dia mengangguk juga.


Mereka berdua kembali ke kamar utama dan ber-cinta sampai hari menjelang larut.

__ADS_1


"El, kenapa perutku terasa kram ya..." Abrine berujar sembari memegangi perutnya.


Mendengar itu El langsung tersentak. "Apa aku terlalu kasar dan menyakitimu?" tanyanya.


"Tidak juga. Apa mungkin karena aku akan datang bulan, ya?" Abrine mengingat-ingat siklus bulanannya. Seharusnya dia sudah datang bulan dari seminggu yang lalu.


"Mungkin saja. Atau apa karena kejadian kemarin? Apa mereka ada memukulmu dibagian perut?"


Abrine menggeleng, sepersekian detik berikutnya dia bangkit dari posisinya yang berbaring. Menutupi tubuh polosnya dengan selimut sambil meraih ponsel diatas nakas.


"El? Bisakah besok aku keluar sebentar? Aku ingin ke apotek?" ujarnya sembari melihat kalender di ponselnya sendiri. Ya, dia benar-benar sudah sangat telat datang bulan.


"Apotek? Kau benar-benar merasa sesakit itu?" Raut wajah El berubah khawatir.


"Aku mau beli testpack."


Mendengar itu dahi El berkerut. Hanya dua detik, karena setelahnya dia langsung menyunggingkan senyuman. "Sayang, apa kau hamil?" tanyanya antusias.


"Entahlah, tapi aku sudah telat datang bulan."


El memeluk istrinya secepat kilat. "Mudah-mudahan kau benar-benar hamil, Brine."


"Iya, semoga saja." Entah kenapa Abrine justru merasa lesu dengan hal ini. Bukan dia tak senang jika nantinya dia benar-benar hamil, tapi dia masih memikirkan ujaran Wildan waktu itu. Apa jika dia hamil nanti El akan menganggapnya seperti Pevita? Lalu menebus kesalahan pada Pevita melalui dia?


****


Abrine hanya turun dari gedung Apartmennya sebentar. Dia keluar untuk membeli testpack. El sudah mengatakan akan membelikannya sepulang dia bekerja, tapi Abrine tidak sabar dan ingin membelinya sendiri. Lagipula, letak apotek itu tak terlalu jauh dari kediamannya.


Saat di apotek, rupanya dia justru bertemu dengan Kristy.


"Abrine?"


"Kau sedang apa disini?"


"Aku sedang menebus obat Galvin. Kebetulan di apotek dekat rumah sakit tempatku bekerja obatnya kosong jadi aku kesini," terang Kristy.


"Oh... iya-iya."


"Kau sendiri sedang apa?"


"Aku ingin membeli testpack."


"Kau hamil?" Kristy memasang senyum semringah.


"Baru mau cek."


"Mudah-mudahan saja kau benar-benar hamil. Aku mendoakanmu, ya."


"Thanks, Kris. Ehm... apa kau sibuk?"


"Kenapa?"


"Jika tak sibuk, ayo mampir ke Apartmen ku," ajak Abrine.

__ADS_1


Kristy tampak menimbang-nimbang tapi kemudian dia mengangguk menyetujui.


Keduanya berjalan sebentar karena jarak yang cukup dekat, sampai tibalah mereka di apartmen yang Abrine tempati.


Abrine menyajikan minuman dingin untuk Kristy konsumsi. Mereka menyalakan televisi dan rupanya berita tentang Claire masih santer di tayangkan disana.


"Kau tahu, dia ditangkap karena aku," ujar Abrine mengejutkan Kristy.


"Be-benarkah?" Air muka Kristy berubah. Ada keterkejutan tapi juga ada kelegaan disana.


"Ya, dia menyewa preman untuk melecehkan ku."


"Astaga."


"Apa kau mengenalnya? Aku tidak sengaja mendengar Galvin dan El menyebut namanya waktu itu."


Kristy diam beberapa saat. Sampai akhirnya dia menatap Abrine dengan tatapan sendu.


"Claire... mantan kekasih Galvin."


"Kau serius?"


"Ya, dan Galvin mencurigai jika Claire yang membuatnya lumpuh. Kecelakaan Galvin ada kaitannya dengan Claire, dia menyabotase mobil yang Galvin gunakan."


Kristy menundukkan wajah. Seperti ada beban yang dia tanggung sendiri tapi entah apa.


"Tapi aku bukan mengenal Claire karena Galvin. Justru aku mengenal Claire lebih dulu. Dulu dia bekerja di Rumah Sakit tempatku bekerja."


"Ternyata dunia begitu kecil bagi kita, Kris. Dia memang baru di mutasi ke rumah sakit tempat El berdinas."


"Ya, dia di mutasi karena bertengkar denganku. Aku mengetahui rahasianya."


"Rahasia?"


"Iya, rahasia dia yang baru saja terbongkar didepan publik. Aneh kan, dia itu dokter tapi dia juga sakit jiwa. Sepertinya dia psikopat."


Rupanya Kristy lah yang menyebabkan Claire dimutasi karena Kristy tak sengaja melihat semua barang-barang koleksi wanita itu saat dirumahnya. Claire memang menyukai benda-benda tajam mulai dari yang bentuknya unik sampai belati yang memiliki sejarah.


"Kenapa kau bisa melihat semua koleksi anehnya itu?" tanya Abrine. Mendadak dia jadi teringat saat kejadian malam itu, dimana gerak-gerik Claire yang mencurigakan saat sebelum mencium El secara paksa waktu itu.


Ya, malam itu Claire menyembunyikan pisau dibalik tubuhnya. Tidak salah lagi.


"Dulu aku tidak tahu dia mantan kekasih Galvin. Aku menolong Galvin dan kami berpacaran. Rupanya Claire mengetahui hal itu, dia mengajakku ke Apartmennya. Aku tidak curiga sama sekali. Rupanya dia punya rencana untukku. Dia sendiri yang membebaskanku untuk memilih pisau mana yang akan dia gunakan untuk membunuhku. Sejak saat itu aku tahu rahasianya soal pisau-pisau itu. Sejak saat itu juga aku tahu dia mantan kekasih Galvin."


"Ya Tuhan, Kris.... ternyata dia--"


"Ya, jadi bukan cuma kau yang pernah hampir menjadi korbannya, tapi aku juga. Syukurnya waktu itu aku berhasil kabur."


Abrine mengusap-usap pundak Kristy, ternyata hal itu yang menyebabkan Kristy dan Claire berseteru. Kristy juga mengatakan jika dia sempat melaporkan kejahatan Claire pada pihak rumah sakit, tapi Claire mampu berdalih dan malah meminta untuk dimutasi agar tidak ada keributan lagi.


"Dia yang memilih sendiri rumah sakitnya, dan pilihannya jatuh ke rumah sakit dimana suamimu bekerja. Mungkin dia sudah merencanakan sesuatu untuk El."


".... seharusnya waktu itu aku melaporkannya ke kantor polisi bukan ke rumah sakit, aku menyesal karena terlalu gegabah," imbuh Kristy kemudian.

__ADS_1


*****


__ADS_2