PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
64. Aku sudah memilikimu


__ADS_3

Abrine tidak bisa menampik bahwa sejak mendengar ucapan Wildan tempo hari, dia jadi kepikiran mengenai sosok Pevita. Apa benar El akan menganggapnya sebagai Pevita jika nanti dia mengandung? Apa El akan menebus rasa bersalah pada Pevita melalui kehamilannya? Kenapa rasanya itu tidak adil, bukankah El mengatakan sudah mencintainya?


Sebenarnya bisa saja dia menanyakannya pada Elrich. Tapi, dia takut menyinggung perasaan El. Apalagi El tampak banyak diam sejak kejadian di kantor polisi waktu itu.


"Aku pergi bekerja, Brine."


Ucapan El membuatnya tersadar dari lamunannya. Dia bergegas mengejar langkah El yang nyaris menyentuh handle pintu.


"El!" serunya.


Elrich menoleh. "Ya?"


"Kau tidak makan sarapanmu?" Ada nada kecewa dari pertanyaannya. Tentu saja, El tidak memakan masakannya pagi ini.


"Aku buru-buru, Brine. Ada operasi mendadak."


Dia meraih lengan sang suami. "El, kau masih marah karena waktu itu aku sudah membuat masalah sampai masuk ke kantor polisi?"


Elrich tersenyum tipis. "Tidak, Brine. Aku harus pergi sekarang," ujar pria itu.


"El, tunggu dulu!" cegahnya. Dia mengambil tangan Elrich, membawanya kedepan bibir lalu mencium punggung tangan itu dengan takzim.


Elrich nampak terkesima, mungkin karena untuk pertama kalinya dia melakukan hal ini pada sang suami.


"Hati-hati..." Dia melambaikan tangan pada El yang masih tampak termangu.


"Ehm, ya.... aku pergi."


Dia mengangguk dan melengkungkan senyum. Meski pikirannya gusar tapi dia mencoba bersikap tenang. Dia tak mau hubungan rumah tangganya semakin dingin jika dia membalas sikap diam El dengan hal yang sama.


Seperginya Elrich, dia harus kembali membereskan makanan yang tersaji.


"Huppp... apa sesibuk itu? Sampai masakan istrinya pun tidak dimakan!" keluhnya sambil memanyunkan bibir.


Drttt...drtt...drttt....


Vibrasi ponsel membuatnya harus mengambil benda pipih itu dari saku apron yang dikenakannya.


^^^[Jika tidak merepotkan, bolehkah antar makanannya ke Rumah Sakit nanti siang? Aku tidak bersemangat jika seharian tidak makan masakan istriku!]^^^


Seulas senyum terkembang di bibirnya. Rupanya pesan itu terasa sangat manis saat dia baca. Dengan cepat dia membalas pesan dari suaminya.


^^^[Oke, Sayang]^^^


Dan terkirim. Setelah itu dia terkekeh. Niatnya mau membuat sang suami grogi tapi ujungnya dia sendiri yang merasa malu setelah pesan itu benar-benar terkirim.


Tapi sayang, pesan itu terlihat belum dibaca oleh Elrich. Mungkin sang suami sudah sibuk mengendarai mobil sekarang.


"Ya sudahlah, aku harus berbenah sekarang."


Hari ini dia akan ke kantornya sebentar, barulah siang nanti dia akan mengantarkan makanan untuk Elrich di Rumah Sakit.


Sesampainya di kantor Anne sudah menyambutnya dengan seabrek pekerjaan.


"Miss, perusahaan Heaven Company mengajukan untuk bekerja sama dengan perusahaan kita. Pemiliknya juga bersedia menanamkan saham awal sebanyak 25%."


Abrine memeriksa berkas yang Anne tujukan padanya. Tapi, perusahannya tidak pernah bekerja sama dengan perusahaan ini sebelumnya.


"Kenapa pemiliknya mau bergabung dengan kita, Heaven Company bukan perusahaan kecil. Mereka punya anak perusahaan yang tersebar luas di berbagai kota bahkan dalam dan luar negeri."


"Mungkin mereka tertarik dengan benefit yang akan didapatkan," jawab Anne terdengar ragu.


"Mungkin katamu?"

__ADS_1


Sebenarnya Abrine senang ada perusahaan taraf internasional yang mau menanam saham di perusahaannya. Tapi, dia tidak bisa menerima begitu saja. Bukan dia menolak rezeki, tapi dia hanya harus lebih teliti sebelum menyetujuinya. Kecuali perusahaannya sedang diujung tanduk, mungkin dia tak bisa melakukan itu, tapi saat ini perusahaannya sedang baik-baik saja jadi dia masih mau menghindari relasi yang kurang jelas maksud dan tujuan sebenarnya. Apalagi sampai menanamkan saham awal yang cukup besar, pikirnya.


"Miss, jika Anda tidak keberatan, kita bisa melakukan pertemuan dengan pemilik Heaven Company."


"Baiklah, atur waktu untuk bertemu dengannya."


"Beliau mengatakan kapan saja, dia yang akan menyesuaikan dengan jadwal Anda, Miss. Yang penting dia bertemu dengan anda secara langsung dan tidak diwakilkan."


Dia tersenyum samar. "Seorang pemilik Heaven Company mau menyesuaikan dengan jadwalku? Oh yang benar saja, ini terdengar sangat lucu, kan?" gumamnya.


Anne juga merasa heran dengan hal ini, tapi bagi dia ini adalah sebuah jackpot karena perusahaan besar itu mau bekerjasama dengan perusahaan tempatnya bekerja. Ini akan mendongkrak popularitas serta benefit perusahaan.


"Terbilang aneh, karena ku pikir dia tidak mau melirik perusahaan kecil kita, apalagi sampai mengajukan sebuah kerja sama."


***


Menjelang siang, Elrich sudah duduk di ruangannya sambil menatap kertas data riwayat milik beberapa pasiennya.


Merasa cukup mempelajari itu, dia membuka ponsel yang sejak pagi tidak dia sentuh.


Membaca pesan Abrine yang memanggilnya 'sayang' membuatnya tersenyum senang.


"Apa kau mulai sayang padaku?" gumamnya seorang diri.


Sebuah telepon masuk ke tablephone-nya.


"Dokter, istri anda ada disini."


"Oh, iya... aku akan menemuinya saja disana."


Dia menutup telepon dan membuka almamater. Menggulung lengan kemeja sambil bersiul senang.


Mendiamkan Abrine atas kekecewaan pada dirinya sendiri, sungguh membuatnya merasa bersalah. Semua ini tidak boleh dilanjutkan atau dia sendiri yang akan menyesal.


Abrine tampak mengenakan kemeja slimfit dengan motif bunga-bunga kecil berwarna merah muda, serta celana kain berwarna nude turut menyempurnakan setelan istrinya hari ini.


Penampilan Abrine sangat mencerahkan pandangannya. Dia menatap istrinya dengan binar cinta yang kentara.


"Kenapa?"


Suara sang istri membuatnya mengulumm senyum.


"Cantik."


Satu kata yang dia layangkan justru membuat istrinya terkekeh dengan rona merah di seluruh wajah wanita itu.


"Mau makan dimana?" tanya Abrine dengan senyum dikulumm, malu-malu.


"Di luar ya. Di ruanganku bosan."


Abrine mengangguk, dia segera meraih jemari istrinya dan berjalan bergandengan menuju taman belakang Rumah Sakit.


"Hari ini kau sibuk?"


"Lumayan."


"Apa tidak merepotkanmu datang kesini hanya untuk mengantarkan makananku?"


Abrine menggeleng sambil tersenyum lembut. Ingin rasanya dia merengkuh wanita itu, entah kenapa rasa hatinya amat merindu. Tapi, dia tidak melakukannya, dia hanya memandangi Abrine yang kini tengah membuka sebuah kotak bekal.


"Ini, makanlah...." Abrine menyodorkan kotak makanan itu kepadanya tapi dia menggeleng.


"Kenapa? Apa tidak berselera?" Abrine tampak gelisah.

__ADS_1


"Bukan."


"Jadi?"


"Suapi aku, boleh?"


Abrine terkekeh. Tapi dia melakukan permintaannya. Sebuah sendok sudah menghampiri mulutnya yang diulurkan oleh istrinya itu.


"Dasar dokter manja... kenapa masih minta disuapi. Apa tidak ingat umur?" kekeh Abrine.


"Sesekali manja pada istri sendiri tak masalah, kan?"


"Kalau begitu, apa aku juga boleh manja pada suamiku?"


Dia mengunyah makanan sambil menatap Abrine keheranan. "Ya tentu saja boleh. Justru aku mengharapkanmu manja padaku."


"Benarkah?" Mata Abrine membulat sempurna.


Kemudian mereka terkekeh bersama.


"Kau makan juga. Aku tidak mau kau kelaparan." Dia mengambil kotak bekal dan justru menyuapi istrinya juga.


Abrine tidak menolak, mereka makan bersama-sama dengan perasaan yang menghangat.


"Ehm... boleh aku tanya sesuatu."


Dia mengangguk sebagai tanggapan untuk istrinya.


"Kenapa kemarin kau mendiamkan aku?" Abrine mematut wajah cemberut.


Dia mengacak rambut sang istri dengan gemas. "Maaf, aku hanya sedang merenungi kesalahanku padamu. Kau tidak salah, aku yang salah."


"Salah? Memangnya kau salah apa?"


"Aku merasa tidak bisa kau andalkan dan aku merasa insecure atas hal itu."


"El...." Abrine menggeleng keras. "Aku tidak menyalahkanmu. Aku memaklumi, aku tahu kau bukan sengaja untuk melakukannya."


"Aku tahu kau tidak menyalahkan aku. Hanya saja, aku merasa karena ke-alfa-anku itu justru memberi celah untuk pria lain memasuki kehidupanmu."


"Maksudmu Raymond?" tebak Abrine.


"Ya, salah satunya. Juga Erland."


Abrine tersenyum simpul. "Kau cemburu, kan? Aku sudah menduganya."


"Begitulah...." akuinya tak mau menampik hal itu.


Rupanya Abrine mengambil tangannya dan menggenggam itu. Jemarinya langsung dialiri rasa hangat.


"El, mulai sekarang jangan cemburu lagi. Aku dan Raymond hanya bersahabat, mungkin dulu dia adalah pria yang aku cintai tapi sekarang dia hanya sahabatku..."


"Kau yakin?"


"Jujur, awalnya aku tidak yakin tapi sekarang aku yakin jika Ray hanya sahabat bagiku."


"Kau tidak memiliki rasa lagi padanya?"


Abrine mengangguk mantap.


"Bagaimana bisa?"


"Karena sekarang aku sudah memilikimu."

__ADS_1


******


__ADS_2