
Wildan baru saja keluar dari gerbang rumahnya. Saat tidak sengaja sudut matanya menangkap sesosok gadis yang berdiri termangu didekat gerbang rumah.
Beberapa detik berpikir, hanya ada satu orang gadis yang terlintas dikepalanya saat melihat visual gadis itu dari jarak yang belum terlalu jauh.
Tak mau menduga-duga hingga salah menebak, akhirnya Wildan memilih menepikan mobilnya dan turun demi menghampiri gadis tersebut. Postur dan penampilannya memang mengingatkan Wildan pada gadis di masa lalunya. Itupun jika gadis itu tak mengalami banyak perubahan fisik setelah 7 tahun berpindah dari Indonesia.
Jika dugaannya salah, dia hanya perlu menanyakan apa niat gadis itu yang datang berkunjung ke rumahnya. Tapi, jika tebakannya benar, maka itu adalah sebuah keberuntungan untuknya hari ini.
Ternyata Wildan benar, itu adalah gadis yang ada dipikirannya, gadis yang sudah dia duga. Gadis itu adalah Abrine. Wildan masih memikirkan apa niat dan tujuan Abrine bertandang ke kediamannya, karena setahunya selama ini, Abrine tidak pernah mengetahui alamat tempat tinggalnya.
Apa kiranya yang membawa langkah gadis itu kemari hari ini?
Rupanya Abrine menyebut satu nama dan itu adalah identitas Mamanya. Apa hubungan Abrine dengan Mama?
"Ma, Mama!" serunya dengan girang. Sekalian saja dia mengenalkan Abrine pada sang ibu.
Soal masa lalu mereka, Wildan tahu dia terlalu lama membebaskan Abrine. Kendati diapun pernah menjalin hubungan dengan gadis lain setelah kepergian Abrine ke Jerman, itu hanya dia lakukan untuk mengisi masa-masa bosan, bukan untuk serius dalam jalinan hubungan. Sejatinya, Wildan tetap memegang komitmennya atas janji untuk menunggu Abrine kembali, karena hanya pada gadis itulah hatinya sudah dia tujukan.
Sebenarnya, komunikasi mereka di dua tahun pertama setelah Abrine pindah, masih baik-baik saja. Tapi, setelah itu Abrine seperti sengaja menghindarinya dan memutus kontak dengannya. Segala sosial media milik Abrine lenyap dan nomornya tidak bisa lagi dihubungi.
Wildan juga tak bisa menyalahkan Abrine, salahnya sendiri yang tak bisa memberi kepastian misal, sesekali menyusul Abrine ke Jerman, mungkin. Tapi, langkah itu tak bisa dia lakukan. Dia tidak bisa bertolak ke Jerman, karena negara itu menyimpan suatu memori yang ingin dia lupakan.
Andai kepindahan Abrine bukanlah ke negara tersebut, mungkin Wildan akan berusaha untuk menyusul Abrine dan memperjelas hubungan mereka.
"Kamu mau minum apa?"
"Air putih hangat, boleh?" jawab gadis itu dengan senyum sungkan, membuat Wildan membalas dengan tawa kecil.
"Boleh banget, bentar, ya!" Wildan beranjak dan meninggalkan Abrine di ruang tamu.
*****
Seperginya Wildan ke dapur, barulah Abrine menghembuskan nafas dengan leluasa, sejak tadi dia seperti sulit bernafas. Dunia kenapa harus sekecil ini untuknya? Dia pindah ke Jerman, bertemu banyak manusia. Singkat cerita, dia berkenalan dengan Elrich dan berakhir dirumah yang Elrich katakan sebagai rumah ibunya, tapi rumah itu juga diisi oleh Wildan yang menyatakan bahwa ini adalah rumah Mamanya.
Kenapa hidup Abrine seperti dipermainkan. Padahal dulu dia memang sengaja menghindari Wildan, bukan karena tidak suka pada pemuda tersebut, melainkan, dia yang tidak sanggup menjalani hubungan jarak jauh dengan status Wildan yang saat itu adalah seorang Mahasiswa dengan banyaknya kaum hawa dikampusnya, banyak gadis menggandrungi visual Wildan yang memang jauh diatas rata-rata.
__ADS_1
Lebih baik diakhiri ketimbang sakit hati, itulah motto hidup Abrine yang tidak mau ribet. Dia menjauhi Wildan dengan sadar. Sampai akhirnya, dia jatuh cinta pada Raymond, pria yang selalu bisa dekat dengannya, banyak kesamaan hobi, serta mencurahkan segala perhatian kepadanya.
Abrine memutuskan mengakhiri pemikiran tentang masa lalu itu. Tujuannya kesini tentu bukan karena Wildan, apalagi Raymond. Bahkan niatnya datang kesini tak ada sangkut pautnya dengan kedua pria itu, melainkan untuk pria yang lain--Elrich--yang sebentar lagi akan menikah dengannya.
Abrine mencoba melihat-lihat keadaan ruangan yang sepi, dia melihat beberapa figura foto dan hanya diisi dua orang, tentu banyak foto Wildan. Adapun foto kebersamaan Wildan dengan sosok satunya lagi yang adalah wanita paruh baya. Wanita itu memang tampak cantik luar biasa diusia yang tak lagi muda. Abrine yakin itu adalah Erika, orang yang Wildan panggil Mama dan disebut Elrich sebagai ibunya.
Apa Wildan dan Elrich mempunyai ibu yang sama? Mereka adalah kakak adik? Batin Abrine terus saja meneriakkan kalimat itu tapi dia segera menepisnya, berharap ada sebuah hal yang menjawab jika semua itu tidaklah benar. Abrine berharap ada kemungkinan lain. Ya, hubungan Wildan dengan Elrich, jangan sampai mereka benar-benar kakak dan adik. Abrine bisa sakit kepala jika itu benar terjadi. Tapi, apa lagi kemungkinan lainnya, jika bukan itu?
"Kamu siapa?" Seorang wanita yang tadi Abrine lihat fotonya di figura, kini sudah berdiri dihadapannya.
"Saya---"
"Dia Abrine, Ma!" sahut seseorang. Siapa lagi jika bukan Wildan yang datang dengan segelas air bening dalam nampan. "Silahkan diminum, Brine!" ujar Wildan bicara dua arah, pada Mamanya lalu pada Abrine.
Abrine mengangguk samar, dia segera menyahut gelas air itu sebab dia memang butuh minum sekarang, tenggorokannya terasa kerontang.
"Hai, Abrine. Saya Erika, Mamanya Erland." Erika mengulurkan tangan kehadapan Abrine dan Abrine menyambutnya setelah meletakkan gelasnya lebih dulu.
"Erland?" tanya Abrine bingung.
Fix, pasti Elrich dan Wildan benar-benar kakak dan adik. Namanya saja dengan inisial yang sama. Bukan cuma Elrich dan Erland, bahkan kakak El yang ada di Swedia namanya Elena dan orangtua mereka Edgar dan Erika, pikir Abrine. Tidak ada kesempatan, mereka pasti benar-benar saudara. Astaga....
"Eh, ngomong-ngomong kenapa airnya enggak nyuruh Mbak Nia aja yang nganter kesini?" tanya wanita setengah baya itu pada Wildan.
"Ini kan untuk gadis spesial yang kepulangannya udah lama aku tunggu, jadi biar aku aja yang anter kesini," Wildan mengedipkan mata pada sang Mama.
Abrine menggosok leher dengan pikiran semrawut sekarang.
"Ehm, Brine, katanya mau ketemu sama Mama aku. Ada keperluan apa? Aku jadi penasaran."
"Itu, ehm... itu..." Abrine jadi bingung sendiri jika keadaannya seperti ini. Apa dia berkata yang sebenarnya saja sekarang. Tapi, dia juga ragu mengakui saat melihat antusiasnya Wildan dengan kehadirannya saat ini.
"Kamu pasti ada tujuan kesini, Abrine. Gak mungkin kamu bisa sampai ke alamat ini kalau gak ada tujuannya, kan?" tanya Erika dengan raut wajah ingin tahu.
"Saya...." Sekarang Abrine bingung mau memulai kalimat darimana walau dari lubuk hatinya ingin menyelesaikan hal ini secepatnya dengan berkata jujur dan terus terang saja.
__ADS_1
"Kenapa kayak ragu gitu, Brine?" Erika tertawa pelan. "Oh, iya .... Erland banyak cerita soal kamu, dulu. Akhir-akhir ini memang udah jarang sih, tapi kadang masih sempat bawa-bawa nama kamu."
"Iyakah?" Abrine menatap Erika dan Wildan bergantian.
"Iya," jawab Erika langsung, sementara Wildan terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal akibat perkataan ibunya itu.
"Tante gak nyangka bisa ketemu kamu hari ini, kamu memang cantik, ya. Erland bilang, kamu sempat tinggal di Jerman, ya?" Wajah Erika berubah sendu saat mengatakan nama negara itu.
Abrine tersenyum tipis mendengar pujian untuknya. "Iya, Tant. Saya tujuh tahun disana."
"Hmmm...." Erika mengangguk-anggukkan kepalanya pelan, seperti mau bicara sesuatu tapi terlihat menahannya.
"Jadi.... kamu tahu alamat ini darimana, Brine?" Wildan mulai bersuara kembali. "Terus, kok tahu nama mama aku? Aku yakin kamu kesini bukan pengen ketemu aku, kan?" Wildan terkekeh diujung kalimatnya.
"Iya, aku .... sebenarnya aku memang mau ketemu Tante Erika."
"Ada apa, Brine?" Kini Erika menatap Abrine serius. "Apa ada masalah?" tanyanya.
Abrine menggeleng. "Saya tahu alamat Tante dari El...."
"El?" Erika dan Wildan berucap serentak dengan ekspresi terkejut yang sangat terlihat jelas.
"Ya, Elrich.... dia ngasih saya alamat ini karena katanya ini adalah tempat tinggal ibunya yang bernama Erika."
Sekarang Erika dan Wildan saling berpandangan satu sama lain, seolah tatapan itu mengandung sebuah makna yang hanya mereka berdua lah yang memahaminya.
Abrine dapat mendengar Wildan yang menghela nafas panjang. Disusul suara Erika yang kembali terdengar.
"Kamu mengenal El, Abrine?"
"Iya, Tant."
"Lalu, tujuan kamu kesini ada kaitannya dengan El, begitu?"
"Saya.... saya mau meminta restu Tante sebagai ibunya El, karena saya dan El akan segera menikah."
__ADS_1
*****