
"Tapi, kenapa kau bisa berada disana, El? Kenapa kau tahu aku dalam bahaya?"
"Sebenarnya.... sebenarnya ini semua ulah Claire, sayang," ujar El terus terang. Dia tidak mungkin menyembunyikan ini dari Abrine. Selain istrinya memang berhak tahu, dia juga mau Abrine semakin berhati-hati mulai sekarang.
"Apa? Dia merencanakan ini?"
"Hmm, dan aku mengetahuinya karena aku mengingat ucapanmu waktu itu. Aku melihat gelagat Claire yang mencurigakan, jadi aku memutuskan untuk mengikuti dia. Tidak disangka hal itu malah membawaku ketempat dimana kamu berada dan aku sangat bersyukur karena tiba diwaktu yang tepat."
"Tapi kau tidak apa-apa kan?" Abrine menangkup rahang suaminya, lalu dia menatapi seluruh sisi wajah El seolah mencari-cari tanda kekerasan disana.
"Aku tidak apa-apa, Sayang."
"Atau lukanya ada ditempat lain? Dimana mereka memukulmu tadi?" Kini Abrine menyelidik kepada bagian-bagian tubuh sang suami.
"Sayang, sudah ku katakan aku tidak apa-apa. Justru aku khawatir denganmu. Kau terluka, apa yang mereka lakukan padamu?" El mengelus pipi Abrine lembut.
"Ini hanya luka kecil. Aku sudah biasa dengan hal seperti ini."
"Jangan terlalu meremehkan. Besok kita periksa ke rumah sakit."
"Untuk apa?" Abrine keheranan.
"Kalau perlu kita lakukan rontgen menyeluruh, siapa tahu ada tulangmu yang patah." El berkata serius, tapi Abrine malah terkekeh mendengarnya.
"Kalau ada yang patah aku pasti sudah mengeluh sekarang. Sudahlah, aku juga tidak apa-apa, El."
"Kau yakin?"
Abrine mengangguk, mengiyakan.
"Baiklah, tapi sejujurnya aku khawatir dengan kondisi psikis mu setelah kejadian hari ini."
"Lalu? Kau mau aku periksa ke psikiater?"
"Jika itu bisa membuatmu tidak memikirkan hal ini lagi, kenapa tidak?"
Abrine menggeleng. "Aku akan berusaha melupakannya. Kau mau membantuku, kan?"
"Pasti, sayang. Apa yang bisa ku lakukan?"
"Jangan terlalu cemas padaku. Itu saja."
"Mana bisa, kejadian hari ini akan membuatku mencemaskan mu sepanjang hari disaat kau tidak bersamaku."
"El?"
"Baiklah, aku tahu kau tidak mau dikekang."
"Hemm, rupanya kau sudah mengerti aku dengan cukup baik." Abrine memeluk leher El dengan posesif, El tersenyum karenanya.
"Ah, bagaimana dengan Claire? Apa yang terjadi padanya? Kau bilang mengikutinya sampai ke tempat itu, kan? Berarti dia ada disana juga, kan?"
"Ya, aku tidak peduli apa yang terjadi padanya. Aku memberikan dia pada mereka sebagai ganti."
__ADS_1
"Maksudmu?"
"Ya, mereka menginginkanmu tapi aku menukarkan dengan Claire. Ku pikir itu sebanding."
"El!!!" seru Abrine tak menyangka dengan kekejaman yang El lakukan.
"Terserahlah! Salahnya sendiri mengganggu milikku!"
"Tapi, El. Apa mereka.... apa mereka akan melakukannya pada Claire? Ya Tuhan..."
"Sudahlah, sayang. Tidak perlu menggunakan nurani pada wanita seperti dia. Dia tega melakukan itu padamu, aku lebih tega melemparkannya pada kelima orang itu," pungkas El membuat Abrine bungkam seketika.
Abrine benar-benar tak habis pikir jika suaminya yang terlihat penyayang bisa sekeras itu pada Claire. Tapi, memang ulah Claire hari ini juga membuat Abrine murka dan marah. Bagaimana bisa wanita itu punya rencana yang sangat menjijikkan seperti itu.
"Setelah ini, apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengan Claire lagi, El?"
"Menurutmu apa aku masih mau bertemu dengannya? Ku pastikan jikapun aku bertemu dengannya lagi dia sudah berada dibalik jeruji besi."
****
Claire terbangun pagi-pagi sekali. Seharusnya dia belum berangkat ke Rumah Sakit di jam ini. Tapi, suara ketukan pintu membuatnya mau tak mau harus beranjak bangun.
Tubuhnya masih terasa remuk akibat kejadian kemarin. Dia sudah mandi hampir lima kali sejak kepulangannya semalam, tapi dia tetap merasa jika tubuhnya sangat kotor akibat perlakuan buas para preman-preman itu.
"Selamat pagi, dengan Nona Claire?"
"Ya, itu aku." Claire menjawab sambil menguap. Lingkaran hitam di sekeliling matanya tak bisa membohongi bahwa wanita ini tampak kurang tidur.
"Nona Claire, kau ditahan." Rupanya mereka adalah detektif yang mengenakan pakaian biasa.
Claire tidak menyangka jika kedua pria yang ada dihadapannya adalah aparat kepolisian.
"Apa? Apa kau bilang?" tanya Claire syok.
"Kau ditahan. Kau memiliki hak untuk diam. Segera ikut ke kantor kami sekarang juga."
Belum sempat mulut Claire menyahut, kedua tangannya segera di borgol.
Claire murka, sangat murka dengan semua ini. Dia tahu ini pasti laporan Elrich akibat kejadian kemarin.
"El! Bisa-bisanya kau masih melaporkanku ke polisi padahal kau sudah menyerahkan tubuhku pada lima preman itu!" batin Claire mengumpat Elrich.
Dia langsung digiring untuk ke kantor polisi saat itu juga.
Claire ingin melarikan diri namun dia kalah tenaga dan lagi kedua tangannya sudah di borgol.
Claire memikirkan cara untuk kabur dari mereka. Dia ingin membuat perhitungan pada El.
Didepan lobby Apartmennya, entah bagaimana Claire justru berhasil lolos dan berlari keluar gedung.
Terjadi pengejaran yang cukup alot karena Claire masih sempat bersembunyi dibalik pepohonan demi membuat para polisi itu tidak melihatnya. Tubuhnya yang kecil membuatnya bisa berlari dengan sangat gesit. Polisi itu sempat kehilangannya beberapa saat.
Claire menahan nafasnya, dia takut jika dia bernafas sedikit saja bisa mengeluarkan suara yang akan membuatnya tertangkap. Tubuhnya yang terasa lelah akibat kejadian kemarin belum sepenuhnya pulih, malah hari ini dia harus kejar-kejaran dengan dua orang detektif polisi.
__ADS_1
"Itu dia!" pekik polisi satunya, mengejutkan Claire seketika.
Mengetahui persembunyiannya sudah diketahui, Claire segera keluar dari sana dan berlari lagi demi mencari tempat persembunyian yang baru. Dia harus bisa lepas dari hal yang bernama kepolisian atau jika tidak, rahasia yang dia sembunyikan selama ini juga akan terbongkar.
Claire berlarian, membuat polisi itu menembakkan pistol ke arah atas demi sebuah peringatan padanya. Tapi Claire tidak menggubris, dia tetap berlari.
Dor!
Sebelah kaki Claire harus rela tertembak peluru panas dari senjata milik salah satu polisi tersebut. Membuat wanita itu terjatuh mencium aspal saat itu juga. Dia menger ang dan mengaduh merasakan nyeri yang menjalar di betisnya.
"Sial!" umpat Claire geram. Usahanya kabur telah sia-sia. Justru timah panas yang bersarang dikakinya.
Tidak henti-hentinya Claire menyumpah El dan Abrine didalam hatinya.
"Aku tidak akan diam setelah semua ini, El!" racaunya setelah bisa dibekuk kedua polisi tersebut.
****
Berita penangkapan Dr. Claire menjadi topik hangat di seluruh penjuru Rumah Sakit hari ini.
"El? Claire dibawa polisi pagi tadi," celetuk Xander diruangan El.
"Ya, baguslah. Satu persatu masalahku hilang. Termasuk masalah yang ada sejak kedatangan Claire ke rumah sakit ini."
"Kau tidak terlalu terkejut, ku pikir apa kau sudah tahu hal ini sebelumnya?"
El hanya menyunggingkan senyum tipis, membuat Xander menarik sebuah kesimpulan sendiri.
"Atau jangan-jangan kau yang melaporkannya?"
"Begitulah," jawab El mengaku.
"Kenapa?"
"Apa kau pikir aku akan diam saja setelah apa yang dia lakukan pada istriku?"
"Abrine? Apa yang Claire lakukan pada Abrine?" Xander nampak penasaran.
El menceritakan kejadian kemarin pada sahabatnya itu, seketika itu juga Xander terperangah saat mendengarnya. Dia tidak menyangka Claire setega dan sebengis itu dalam merencanakan sesuatu.
"Rencananya terdengar sangat menjijikkan, El. Biarkan dia abadi di sel. Aku malu mempunyai rekan seprofesi yang seperti dia."
"Hemm... aku juga tidak menduga, tapi aku melihat kekejamannya didepan mataku sendiri. Hal ini membuatku jadi yakin jika ucapan Galvin waktu itu tidak main-main. Pantaslah Galvin sangat yakin jika Claire juga yang telah membuatnya lumpuh."
"Galvin? Kau bertemu dengannya?" Xander juga mengenal Galvin. Dia adalah mantan kekasih Claire yang dulunya pernah menjadi teman sepermainannya juga meski mereka tak terlalu akrab.
"Ya, dia sekarang lumpuh. Dia mengatakan itu ulah Claire tapi dia tak punya bukti untuk menjebloskan wanita itu ke penjara."
"Ya Tuhan, dengan Galvin saja dia tega, padahal Galvin sangat mencintainya dulu. Pantaslah dia tega pada Abrine yang bukan siapa-siapa untuknya."
"Begitulah."
******
__ADS_1