
Beberapa hari kemudian, Elrich kembali sibuk dengan pekerjaannya di rumah sakit. Begitupula dengan Abrine yang juga mengurusi bisnisnya di kantor.
Mereka hanya bertemu di malam hari. Itupun terkadang El pulang sangat larut dan mendapati istrinya sudah tertidur pulas.
Hari berlalu begitu cepat. Tanpa terasa hari pernikahan Xander dan Yemima pun tiba.
Perhelatan besar terlaksana disebuah hotel ternama. Anak tunggal pemilik rumah sakit besar menikahi putri sulung seorang pengacara kondang.
Pesta itu tampak cukup mewah. Kalangan yang datang kesana pun adalah orang-orang menengah ke atas. Tak terlewat beberapa selebritis kota yang adalah kolega dari ayah Yemima yang seorang lawyer ternama.
Abrine dan El datang ke pesta itu. Mereka tampak sangat serasi. El mengenakan tuksedo berwarna hitam gelap, menggandeng Abrine yang menggunakan gaun senada. Gaun itu menonjolkan perut Abrine yang mulai tampak membuncit, meski kandungannya masih terbilang muda, tapi karena yang dia kandung adalah bayi kembar sehingga kehamilannya mulai terlihat.
"Selamat untuk kalian." El menjabat tangan Xander dan menepuk-nepuk punggung pria itu dengan akrab.
Begitupun dengan yang Abrine lakukan, dia berpelukan dengan Yemima cukup lama. Yemima bahkan meminta Abrine untuk mendoakannya agar bisa segera menyusul Abrine yang tengah hamil.
Sebagai kado pernikahan untuk mereka, Elrich menghadiahi tiket bulan madu ke Paris.
"El, kau benar-benar mengabulkan keinginan kami?" Yemima speechless. Mulutnya sampai ternganga saat melihat tiket yang sudah ada ditangannya.
"Hmm, pastikan kalian menggunakannya. Manfaatkan itu dengan baik," kata El tersenyum simpul sembari menggenggam tangan Abrine disisinya.
Yemima dan Xander saling menatap dan terkekeh bahagia.
"Terima kasih, El. Kau memang yang terbaik. Aku pikir kau akan menggunakan tabunganmu untuk bulan madu-mu dan Abrine. Kenapa malah menghabiskannya untuk hadiah pernikahan kami? Percayalah, Yemima hanya bercanda waktu itu meski dia memang mengharap," canda Xander dengan seringaian kecil.
"Tak masalah. Lagipula hadiah ini bukan dari tabunganku. Jadi, tak usah merasa bersalah."
Xander mengangguk samar. Dia agak ragu dengan hadiah dari Elrich tapi nyatanya itu benar-benar sudah didepan matanya sekarang.
"Tiket itu untuk lima hari. Kalian bisa pergi mulai lusa."
"Thanks, El...."
"Sudahlah, tidak usah berterima kasih terus...." Abrine menimpali. Dia setuju dengan hadiah itu, karena secara tak langsung Xander dan Yemima lah yang mempertemukan dia dengan Elrich.
Mereka menikmati pesta itu semalaman. Bahkan El dan Abrine beberapa kali ikut berdansa meski Abrine tidak yakin dengan kemampuannya dalam hal itu.
"El, sepertinya aku mengantuk." Abrine berujar setelah waktu menunjukkan cukup larut. Wajar saja memang. El pun mengangguki ucapan istrinya itu.
"Kami akan pulang. Sekali lagi selamat untuk kalian."
El menuntun Abrine dan mereka tak sengaja berpapasan dengan Raymond yang juga menghadiri pesta itu sebab Yemima juga teman kuliahnya, bukan?
"Kalian akan pulang?" tanya Raymond, dia sudah melihat keduanya saat El dan Abrine berdansa tadi.
__ADS_1
Namun, mata Raymond menyelidik pada sosok Abrine yang tampak aneh.
"Ya, permisi." El berusaha mengabaikan Raymond sebab dia merasa istrinya bukan mengantuk sekarang. Ada yang tidak beres. Gelagat Abrine saat ini seperti pertama kalinya dia bertemu Abrine waktu itu.
"Tunggu, El!" Raymond mengejar langkah mereka. Dia hanya khawatir.
"Apa lagi?" tanya El dingin.
Raymond kembali melihat Abrine yang tengah memijat pelipisnya sendiri.
"Dia kenapa?" tanya Raymond merujuk pada sikap Abrine.
"Abrine hanya mengantuk."
Raymond menggeleng keras. Mereka sudah tiba di area luar hotel bintang lima tersebut.
"Apa tadi dia ada minum?" tebak Raymond.
"Dia hanya minum jus," jawab El jujur.
"Abrine tidak tahan mengonsumsi alkohol, El."
El mengingat saat Abrine mabuk waktu pertama kali mereka bertemu. Saat itu dia justru mengira Abrine minum dengan sangat banyak sehingga menyebabkan wanita itu mabuk dan akhirnya tak ingat pada peristiwa kecelakaan mereka.
"Sepertinya Abrine mabuk. Segeralah pulang!" saran Raymond kemudian.
El mengerti, dia langsung memapah tubuh istrinya untuk masuk ke dalam mobil.
Sementara, Raymond tetap merasa janggal dengan hal ini. Dia masuk kembali ke ballroom hotel tempat berlangsungnya acara. Secara tak sengaja matanya justru melihat sesosok wanita yang sangat familiar. Freya. Dia meyakini apa yang dialami Abrine ada hubungannya dengan Freya.
Freya juga tahu jika Abrine tak bisa minum minuman beralkohol, sebab dulunya Raymond, Abrine, Yemima dan Freya memang dalam satu lingkup circle yang sama.
Jika El mengatakan bahwa Abrine tak minum tadi, apa lantas ini ada hubungannya dengan Freya?
"Frey...." Raymond menghampiri Freya.
"Raymond?" Freya tersenyum antusias. Tangannya langsung bergelayut mesra di lengan Raymond. "Ada apa? Apa kau merindukanku?" tanyanya kemudian
Raymond tersenyum tipis. "Kau mencampur jus Abrine dengan alkohol, kan?" tembaknya tanpa tedeng aling-aling.
Seketika wajah Freya pucat. Memang tadi dia sengaja melakukan itu. Dia iri melihat Abrine bahagia bersama pasangannya.
Kalau dia tidak salah lihat, Abrine juga sepertinya tengah mengandung.
Padahal dia dan Raymond yang lebih dulu menjalin hubungan, sudah tidak bersama. Itu juga terjadi karena Abrine. Kenapa sekarang Abrine bisa bahagia diatas penderitaannya?
__ADS_1
Tadinya, dia memang membayar pelayan yang akan menyajikan minuman untuk Abrine-- agar mencampur jus dengan sedikit alkohol. Dia hanya berniat memberi Abrine sebuah pelajaran kecil saja.
"Bisa tidak, kau jangan mengganggu Abrine lagi? Aku dan dia juga tak punya hubungan. Kau lihat kan, dia sudah bersama orang lain!" ujar Raymond. Saat melihat wajah Freya pucat, dia sudah bisa menebak jawabannya tanpa mendengar penjelasan dari Freya.
Freya menghela nafas berat. "Aku hanya mengerjainya sedikit. Itu tidak akan merusak apapun. Dia juga berada ditangan yang aman yaitu suaminya sendiri," jawab Freya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Tapi tetap saja kau sengaja melakukannya. Kau mengganggunya, Frey!"
Freya hanya tersenyum miring. "Kau tahu kan, ini semua terjadi karenamu! Andai kau tidak memutuskanku karena Abrine waktu itu!"
"Freya, sudahlah! Semua juga sudah berakhir. Lanjutkan hidupmu dengan pria yang lain. Aku muak melihat tingkah kekanakanmu ini! Ingatlah waktu itu hubungan kita tidak serius. Just have fun!" tukas Raymond sambil berlalu pergi.
Freya mendengkus. Tapi dia tetap puas sudah memberi Abrine pelajaran tadi.
*****
Dilain sisi, El mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Bagaimanapun, dia takut sesuatu terjadi pada Abrine karena mengonsumsi alkohol tanpa sengaja. Terlebih lagi, Abrine tangah mengandung.
Sebenarnya sejak awal El merasa curiga, hanya saja dia tidak tahu jika Abrine tak bisa menyentuh alkohol sama sekali. Pertemuan pertama mereka dulu disaat Abrine mabuk, membuat El punya kesimpulan jika Abrine sudah biasa dengan minuman semacam itu. Ya, paling tidak hanya segelas wine saja tidak masalah, kan?
Rupanya dia salah. Justru dia baru tahu hari ini jika Abrine tak bisa mengonsumsi alkohol walau hanya setetes saja.
Perjalanan cukup jauh dari hotel tempat berlangsungnya acara tadi ke apartmen tempatnya tinggal.
Sekelebat ingatan El justru membawanya pada saat malam nahas itu. Malam pertama dia bertemu Abrine. Dimalam itu mereka kecelakaan dan berakhir di rumah sakit.
Entah kenapa perasaan El tidak enak sekarang. Padahal, saat ini Abrine hanya bersandar di jok sambil memejamkan matanya. Tidak berbuat hal aneh seperti malam itu yang sampai menciumnya dengan serampangan.
Beberapa meter dari arah berlawanan. El melihat bayangan yang seolah melintas didepan mobil yang tengah dia kendarai.
Syukurnya El bisa mengerem tepat pada waktunya. Mobilnya berhenti didepan seseorang yang meringkuk dan berjongkok sambil memeluk tubuh.
Sinar lampu mobil El menyorot tepat kepada seseorang itu. Namun cahaya yang menyilaukan membuat El tidak dapat melihat ekspresi seseorang yang nyaris dia tabrak.
"Ada apa, El?" tanya Abrine yang perlahan membuka kedua matanya karena terkejut dengan pengereman yang dilakukan El.
"Aku nyaris menabrak seseorang."
"Mana?" tanya Abrine dengan heran. Dia masih memijat pelipisnya yang terasa pusing dan mata yang semakin berkunang-kunang. Dia tak melihat siapapun yang dimaksud oleh suaminya.
Rupanya, saat El menyahuti pertanyaan Abrine, atensinya yang tadinya fokus ke depan jadi teralihkan, sehingga saat El kembali memandang ke arah aspal jalanan-- dimana ada seorang yang meringkuk tadi, tiba-tiba disana sudah tak ada siapapun lagi.
Perasaan El mendadak semakin tak karuan sekarang.
****
__ADS_1