
Hari ini adalah hari pertama El kembali masuk untuk bekerja di rumah sakit setelah dia mengalami insiden penusukan beberapa waktu lalu.
Rupanya, El kedatangan tamu spesial. Theresia mengunjungi pria itu sebagai seorang pasien yang ingin berkonsultasi. Sayangnya El tidak bisa meladeni neneknya yang sedang ingin bermain-main. Selain pekerjaannya sudah menumpuk, dia juga bukan dokter yang membuka jadwal konsultasi. Pekerjaannya membedah bukan untuk mendengarkan keluh kesah mengenai penyakit sang nenek.
Namun, berhubung El pun tidak mungkin mengusir sang nenek. Akhirnya dia meminta wanita tua itu untuk menunggunya beberapa saat sampai pekerjaannya sedikit lengang. Bagaimanapun, terkhusus untuk neneknya dia akan mendengarkan apapun-- terutama mengenai riwayat penyakit sang nenek.
Bukankah El layak mengetahui hal itu?
Theresia tak mempermasalahkan, dengan sabar dia pun menunggu Elrich. Padahal, waktu adalah uang baginya. Tapi, selama ini dia sudah menghabiskan banyak waktu demi pekerjaan, jadi sesekali dia ingin meluangkan waktu untuk cucu satu-satunya.
"Maaf, Nek. Aku sangat sibuk hari ini. Apa nenek sudah makan siang?"
"Maukah kau makan siang bersama nenek, El?"
"Tentu saja, Nek."
Selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa. Hubungan mereka misalnya. El dan Theresia semakin dekat sejak Theresia banyak membantu akibat insiden yang menimpa El tempo hari.
El juga dapat melihat ketulusan wanita tua itu.
Mereka berdua jalan berdampingan menuju letak restoran terdekat dari rumah sakit. El berusaha mendekatkan diri pada sang nenek sebagaimana Neneknya juga mulai menempatkan diri agar tidak ada lagi kecanggungan diantara mereka.
Dan tampaknya itu berhasil. Sekarang mereka sudah berada di restoran dan memesan menu yang sama. Kesukaan mereka rupanya sama. Bahkan mereka memiliki alergi yang serupa. El terkekeh mengetahui fakta ini, itu membuat mereka tampak semakin akrab.
"El, nenek punya sebuah hadiah untukmu. Tidak banyak tapi bisa kau gunakan sebaik-baiknya."
"Hadiah? Hadiah apa, nek?"
"Rumah sakit dibawah naungan Heaven Company sudah selesai dibangun. Nenek ingin segera meresmikannya. Nenek harap kau bersedia mencatatkan namamu sebagai pemiliknya. Anggaplah itu penghargaan nenek untuk profesimu, meski itu masih terlalu sedikit."
El menatap Theresia dengan tatapan terpana seakan tak percaya.
"Nenek serius?"
"Tentu saja, El."
"Tapi, aku sudah terlalu nyaman bekerja disini. Jika aku punya Rumah Sakit sendiri atas namaku, pasti aku tidak bisa bekerja layaknya dokter biasa. Pasti nanti aku juga akan ikut mengurusi bisnis kesehatan yang ada didalamnya. Aku tidak bisa, nek." El mencoba menolak secara halus.
Theresia mematut senyum simpul yang nampak elegan diwajah cantiknya yang sudah menua. Dia tak percaya cucunya ini tidak mau diberikan hadiah dan penghargaan. Kenapa El harus tumbuh dengan sifat rendah diri begini? Tapi, dibalik itu, tentu saja Theresia juga bersyukur karena cucunya tidak mau memanfaatkan apa yang dia punya.
"El, nenek mohon."
__ADS_1
El berpikir sejenak sambil menimbang-nimbang.
"Ehmm.... baiklah, Nek. Tapi, aku tidak menerimanya dengan cuma-cuma."
"Maksudnya?"
"Aku akan bekerja disana tanpa digaji. Aku mau mengabdikan diri untuk menolong orang lain. Jadi, Rumah sakit itu nantinya dipergunakan untuk menolong orang-orang yang kekurangan biaya saat ingin melakukan operasi atau pengobatan. Bagaimana?"
Theresia tertawa kecil. "Kau serius?" tanyanya.
"Ya, bukankah nenek juga sudah punya banyak uang? Apa nenek masih membutuhkan uang dari penghasilan yang didapatkan di rumah sakit itu, nanti?"
"Ya, tidak... tapi, apa kau sendiri tidak mau memiliki penghasilan? Bagaimana kau menafkahi anak istrimu nanti?"
El pun terdiam. Yang dikatakan neneknya ada benarnya. Dia sendiri tak mau mengurus bisnis sang nenek. Meski nenek ngotot mengirim dana ke rekeningnya dari hasil saham yang Theresia buat atas nama El. Tapi, tentu saja El ingin memiliki penghasilan dari kerja kerasnya sendiri.
Tak berapa lama, El pun kembali bersuara.
"Bagaimana kalau rumah sakit itu beroperasi seperti biasa. Menerima semua pasien. Tapi, apabila ada pasien yang kekurangan dana dan biaya, rumah sakit itu tetap mau menerima dan mendanainya sampai sembuh."
Theresia tersenyum puas dengan usul yang El beri saat ini. "Kalau begitu, nenek setuju!" ujarnya semangat.
"Ternyata semakin dekat denganmu, nenek baru menyadari bahwa kau terlalu banyak syarat, El."
Elrich terbahak mendengar keluhan neneknya yang tengah menyindirnya.
"Baiklah, katakan apa syaratmu yang lain!"
"Aku belum sempat menjenguk ayahku secara langsung, aku hanya beberapa kali meneleponnya via panggilan video. Elena akan segera kembali ke Swedia, bisakah sebelum itu terjadi .... aku mengunjungi ayah di villa nya bersama Nenek juga?"
Mendengar itu, kini Theresia yang terdiam. Bagaimanapun, hubungannya dengan Edgar tidak cukup baik. Dulu dia yang menentang keras pernikahan Emily dengan Edgar. Meskipun pihak keluarga Edgar pun tak menyetujui hal itu, tapi tentulah akan canggung apabila saat ini dia bertemu dengan mantan menantu yang tak diakuinya tersebut.
"Bagaimana, Nek? Ayahku orang baik. Dia tidak akan menyimpan perasaan dendam atau semacamnya kepada nenek. Aku bisa menjaminnya." El berujar dengan sangat yakin sehingga Theresia sungkan untuk menolak tawaran sang cucu.
"Baiklah."
****
Abrine menyiapkan beberapa pasang baju kedalam ransel yang akan El kenakan. Dia merasa senang karena El dan Theresia akan mengunjungi Edgar bersama-sama hari ini.
Abrine tidak ikut, padahal dia sangat ingin mengunjungi ayah mertuanya itu. Tapi, dia juga sadar bahwa Elrich, Theresia dan Edgar harus memiliki quality time yang baik tanpa dirinya.
__ADS_1
Hal-hal yang belum jelas dimasa lalu harus dituntaskan, dan meski Abrine telah menjadi menantu di keluarga Gustav, dia tak ingin terlalu mencampuri. Dia hanya ingin memberi sedikit waktu untuk keluarga itu-- agar bisa membicarakan masa lalu yang dulunya sempat berjalan dengan tidak baik.
Harapan Abrine, semoga mereka kembali menjadi keluarga yang hangat dan dapat memperbaiki hubungan yang sempat rusak.
"Sayang, kau yakin tidak akan ikut?" El memeluk Abrine dari belakang. Dia sedikit kecewa karena istrinya tak ingin mengikuti kemanapun dia pergi, tetapi dia pun tak mau memaksakan sang istri..
"Iya, lagi pula kalian disana hanya dua hari, kan?"
"Apa tidak apa-apa jika aku meninggalkanmu sendirian?"
"Tak apa, El...."
"Aku takut kau kenapa-napa."
"Aku tidak akan membuatmu khawatir. Pergilah bersama nenek dan buatlah hubungan nenek dan ayah menjadi lebih baik."
"Kau sangat pengertian, Brine." El mengusap lembut pipi chubby sang istri, Abrine pun tersenyum menatap pada suaminya..
Tak lama, El juga mengelus perut sang istri.
"Besok Daddy akan pergi ke villa Grandpa, kalian jaga Mommy baik-baik. Jangan minta yang aneh-aneh, oke?" El berceloteh pada jabang bayi yang ada diperut Abrine, seakan-akan mereka benar-benar sudah berada didepannya dan dapat memahami apa yang dia katakan.
"Iya, Daddy...." jawab Abrine menirukan suara anak-anak.
Mereka berdua terkekeh serentak dan saling memeluk satu sama lain.
"Aku akan meminta Erland untuk menjagamu selama aku pergi."
"Kau yakin? Kau percaya padanya?" Abrine mengulumm senyum. Dia tak menyangka kali ini El mau mengandalkan Wildan.
"Sejak awal, aku tahu Erland dapat dipercaya, tapi tidak dengan ibunya," jawab El dengan raut serius.
Abrine hanya menanggapinya dengan tawa kecil. "Jangan begitu, El. Ehm... bagaimana kalau sekalian saja ajak Mama Erika untuk ikut menjenguk ayah," usul Abrine random.
"Apa? Kamu bilang apa, sayang?" El menggeleng tak setuju. Apa dia tak salah dengar tadi?
Abrine tampak ragu-ragu. "Siapa tahu hubungannya dengan ayah juga jadi membaik."
"Astaga, usul istriku aneh-aneh saja." El berlalu seolah ucapan Abrine hanyalah sebuah percandaan saja. Dia tak mau membahasnya lebih lanjut lagi, karena dia akan kehilangan mood baik jika membicarakan tentang Erika.
****
__ADS_1