
Hari ini El libur berdinas. Abrine pun ingin mengikuti jejak suaminya yang tidak bekerja. Dia mau punya quality time bersama Elrich. Padahal dia baru saja bekerja beberapa hari kemarin, tapi hari ini dia memutuskan untuk absen lagi. Untunglah ada Anne yang bisa meng-handle semua pekerjaannya itu.
Alasan lain mengapa Abrine memilih libur adalah dia mau mengajak El jalan-jalan. Ditambah lagi, dia mau membujuk El terkait menerima kehadiran Theresia.
"Kau mau kemana hari ini, Brine?"
"Bagaimana kalau kita ke festival atau nonton bioskop. Nanti kita juga mampir ke panti. Kau mau?"
"Baiklah, semua yang kau inginkan."
Abrine memeluk El dengan raut gembira. Dia menghadiahi suaminya dengan kecupan bertubi-tubi di kiri-kanan pipi pria itu.
Tentu El menerima serangan ciuman itu dengan senang hati. Dia merasa Abrine sangat manja sejak kehamilannya dan dia menyukai itu.
El justru berniat untuk membuat Abrine terus hamil nanti, agar sikap manja istrinya tidak akan hilang apabila nantinya sudah tak dalam kondisi mengandung lagi.
Mereka pergi ke bioskop dan saling bergandengan tangan. Bisa dikatakan ini adalah momen kencan pertama mereka.
Setelah film berakhir, keduanya keluar dari area bioskop dan makan siang bersama.
"El, bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?"
"Mengenai apa?"
"Ehm.... apa sebelumnya kau pernah menjalani transplantasi jantung?"
"Ng... ya, beberapa tahun yang lalu."
Abrine diam tapi dia mengangguk.
"Kau tahu darimana mengenai hal ini, Brine? Apa kak Elena sempat menceritakannya padamu?"
"Tidak, justru aku baru mengetahuinya. Kenapa kau tidak pernah cerita?"
Elrich menggosok lehernya sekilas. "Ehm, karena aku takut kau akan menganggapku pria yang lemah. Maaf," ujarnya.
"El...." lirih Abrine. Sedikitpun dia tak akan menganggap El begitu, justru dia merasa suaminya selalu istimewa. Bahkan selama ini dia tak pernah melihat sisi lemah dari diri sang suami.
"Aku minta maaf. Sejujurnya aku memang tidak mau memberitahumu mengenai hal itu."
"Aku berhak tahu kondisi kesehatanmu, El."
"Ya, aku paham."
__ADS_1
Abrine tak menyalahkan El mengenai hal ini. Dia menganggap El hanya belum siap menceritakan padanya. Setelah dia sadari lagi, semua hal tentang El yang tidak dia ketahui bukan karena El tak mau terbuka padanya, melainkan mereka memang belum saling mengenal dengan jelas. Jika ditelisik kebelakang sekilas, memang mereka baru mengenal dan memutuskan untuk menikah pada waktu itu.
Awalnya bahkan Abrine tak tertarik untuk mengetahui seluk-beluk mengenai suaminya, jadi jika dia baru tahu sekarang disaat hubungan mereka semakin dekat, itu sangatlah wajar.
Abrine anggap semua hal yang dia ketahui dibelakang hari adalah bentuk pengenalan dirinya dengan sang suami.
Begitupun dengan El, Abrine sadar jika suaminya pun belum mengenal dan mengetahui semua tentangnya. Bukan berarti dia merahasiakan dari El, tapi karena mereka memang belum saling mengenal satu sama lain secara lebih dekat meski status mereka kini adalah sepasang suami dan istri.
"Baiklah, aku memahami kenapa aku baru mengetahuinya sekarang. Aku paham ada banyak hal tentangmu yang mesti ku pelajari."
Elrich tersenyum simpul. "Begitupun denganmu, kadang kau seperti rumus fisika yang harus ku pecahkan agar bisa mengetahui sisi lain yang ada pada dirimu."
El menggenggam tangan Abrine dan mereka saling melempar senyuman.
"Jika bukan dari kak Elena, kau tahu hal ini dari siapa, Brine?" tanya El kemudian.
"Ehm, aku mengetahuinya dari nenek Theresia."
El diam beberapa saat. Hingga Abrine bingung karena keadaan berubah menjadi canggung seketika.
"El, maafkan aku, tapi ku rasa kau harus menemuinya."
"Tapi, Brine..."
"Maksudmu?" Elrich mengerutkan kening.
"Apa kau pernah tahu siapa pendonor jantung untukmu?"
Elrich menggeleng. Setiap pendonor memang dirahasiakan dari pihak rumah sakit. Begitupula permintaan pendonor yang tak mau identitas asli diketahui oleh penerima organnya.
"Maka dari itu, ku mohon El... sekali ini saja kau temui Nenek Theresia. Aku tidak mau kau menyesal dibelakang hari."
****
Sebenarnya, di kepala El sudah terdapat berbagai macam pikiran setelah mendengar penyataan istrinya terkait pendonor jantung. Dia menebak, jika pendonoran jantungnya dulu dibantu oleh kekuasaan neneknya. Apalagi Abrine mengatakan jika wanita baya itu adalah pemilik salah satu perusahaan yang besar dan berkembang pesat di negara mereka.
Heaven Company sangat populer, siapa yang tidak mengenal perusahaan yang bergerak diberbagai bidang itu. Pemiliknya pasti sangat berkuasa.
Jika dikaitkan dengan hal itu, El jadi berpikir, apa saat tahu jika dia membutuhkan donor jantung, keluarga dari pihak ibunya memaksa seseorang untuk melakukan pendonoran demi menyelamatkannya? Bisa saja, karena mereka memiliki kuasa itu untuk membayar siapapun.
Tak ingin berpikir yang tidak-tidak. Setelah Abrine membujuknya berulang kali akhirnya El luluh juga.
Selain tak tega dengan rengekan serta segala bujuk rayu istrinya, dia juga merasa penasaran.
__ADS_1
Hingga tibalah hari dimana dia dan Abrine akan melakukan pertemuan dengan Nenek Theresia.
Menjelang sore, El dan Abrine sudah duduk didepan perempuan baya yang mengembangkan senyum cerah. Sebelumnya dia bahkan memeluk Abrine dan El bergantian dengan sikap yang sangat hangat.
"El, cucuku.... maafkan nenek." Itulah ucapan pertama yang keluar dari bibir orang tua itu.
Elrich hanya menanggapinya dengan menipiskan bibir. Senyum kecut. Tak tahu harus merespon seperti apa. Bagaimanapun selama ini dia sudah terbiasa hidup tanpa sosok nenek. Baginya, Theresia adalah sosok asing yang tiba-tiba hadir dan tak pernah mempunyai peran dalam membesarkannya.
"Aku tahu kau pasti kecewa karena nenek tidak pernah menemuimu, El. Tapi percayalah jika dibalik kesuksesanmu sekarang, nenek turut andil membantumu."
Elrich tertawa pelan. Justru selama ini dia merasa percaya diri dengan kemampuannya sendiri. Nyatanya ada keluarga Langford yang menyokong keberhasilannya?
Dan sayangnya keluarga itu justru keluarganya sendiri.
"Begini, Nyonya.... coba sebutkan satu alasan kenapa kau tidak menemuiku selama ini!"
Bahkan untuk memanggil Theresia dengan sebutan 'nenek' saja, El masih enggan. Itu terlalu janggal. Lidahnya belum fasih mengucapkan panggilan itu.
El memahami disini, Theresia lebih dulu menemui Abrine daripada dia karena Theresia pasti ingin Abrine membujuknya lebih dulu. Agar ketika pertemuan ini berlangsung, El tidak menaruh api amarah yang berkobar-kobar karena rasa kecewa yang besar pada keluarga sang ibu.
"Aku terikat janji dengan Emily. Dia tidak mengizinkan aku untuk menemuimu. Alasannya karena dia ingin hidupmu baik-baik saja. Tanpa memikirkan siapa ibumu yang sebenarnya. Emily berkata, tak mengapa tidak dianggap ada olehmu, asalkan kau dapat hidup dengan baik."
"Jika aku tiba-tiba datang menemuimu, maka semua yang kau yakini selama ini akan berantakan. Bukankah selama ini kau menganggap Naina lah yang ibu kandungmu?"
Elrich mencoba mencerna semua ucapan Theresia.
"Jadi, aku tidak mau merusak hal yang sudah kau yakini selama ini dengan kehadiranku yang tiba-tiba. Tapi, belakangan hari, aku mendengar jika kau sudah mengetahui bahwa Naina bukanlah ibu kandungmu."
".... kau juga sudah mengetahui jika ibu kandungmu adalah Emily. Maka dari itu, barulah sekarang aku berani masuk ke kehidupanmu, El. Karena kau juga sudah mengetahui segalanya."
Theresia menatap El lamat-lamat, menyelami mata hazel sang cucu. Mata itu mengingatkannya pada Emily yang memiliki warna serupa.
"Mungkin aku memang tidak pernah mengurusmu atau ambil peran sebagai sosok nenek yang baik untukmu selama ini, tapi percayalah, El....tidak pernah sekalipun nenek meninggalkanmu."
"Lalu, kenapa ayahku tidak bisa menemukan ibuku dimanapun?"
Theresia tak menjawab. Tapi El bisa menyimpulkan sendiri, dengan kekuasaan yang mereka miliki maka hanya bersembunyi dari pantauan ayahnya saja tak akan sesulit itu.
"Baiklah, sekarang kenapa nyonya yang menemuiku? Mana orang yang katanya telah melahirkan aku? Apa dia juga tidak punya nyali untuk menemuiku hari ini?"
"El...." Abrine memegang lengan El, dia tahu El sangat emosional sekarang. Dia hanya mencegah agar El tidak berkata yang tidak-tidak, karena Abrine takut El akan menyesalinya nanti, jika tahu apa yang sebenarnya terjadi.
*****
__ADS_1