
Abrine langsung menghadang Elrich begitu sang pria keluar dan turun dari ruang kerja Nev.
"Apa kata Papa?" tanya Abrine pada El.
Elrich hanya menaikkan sebelah alisnya dihadapan Abrine, membuat gadis itu mendengkus sebal.
"Dokter, apa yang Papa katakan padamu?" ulang Abrine lagi dengan ekspresi tak sabaran.
Elrich malah berdecak lidah. "Jangan panggil aku dengan sebutan 'dokter' seperti itu!" protesnya pelan.
"Jadi? Kau kan memang dokter!" sungut Abrine.
"Iya, tapi kau bukan pasienku. Kau calon istriku, kan?" tukas Elrich membuat Abrine menatapnya aneh.
"I-iya, sih." Abrine jadi salah tingkah. Mendengar dia adalah seorang calon istri bagi El, sudah pasti perasaannya semrawut sekarang tapi ini sudah keputusannya tanpa ada paksaan dari siapapun.
"Ya sudah, panggil namaku saja. Atau kau bisa memanggilku dengan panggilan khusus." El memberi saran pada gadis itu.
"Panggilan khusus, maksudmu?"
"Ya, seperti pasangan kebanyakan. Mereka punya panggilan khusus pada pasangannya."
Abrine malah tertawa cekikikan. "Itu kan pasangan kebanyakan, bukan kita!" ujarnya.
Elrich hanya menatap Abrine dengan datar. "Ya, terserah kau saja, Nona. Aku hanya memberikan saran supaya keluargamu tidak curiga dengan hubungan absurd kita."
Abrine langsung terdiam mendengar ucapan El. Benar, dia tak mungkin membuat keluarganya curiga jika panggilannya pada El pun seperti pasien yang sedang konsultasi kesehatan.
"Ah iya, satu lagi, Papamu sudah memberi restu untuk kita. Jadi ku rasa, mulai sekarang kita sudah bisa memulainya."
"Memulai a-apa?"
"Menurutmu? Papamu pasti akan kecewa jika tahu kau sudah membohonginya dengan pernikahan ini. Sama halnya seperti didepan ayahku nanti. Didepan keluargamu pun kita harus bersikap selayaknya sepasang kekasih yang sebentar lagi akan menikah."
"What?" Abrine mengernyit dalam. Tak menyangka dengan ucapan El barusan.
"Jangan berisik atau mereka akan curiga. Kau pikirkanlah ucapanku ini. Restu sudah kita dapatkan, apa kau mau restu itu ditarik kembali karena mereka semua mengetahui kebohongan kita?"
"Te-tentu saja tidak!" jawab Abrine gugup, pasalnya Elrich mencondongkan muka kedepan wajahnya.
"Good girl! Ingatlah bahwa keputusan menikah ini adalah kesepakatan bersama yang juga sudah kau setujui. Jadi, jalani saja."
"Hemm..." Abrine mengangguk-anggukkan kepalanya secara berulang.
Disaat bersamaan, Aarav--kakak Abrine turun dari lantai atas, dia melihat Elrich dan Abrine yang sedang bicara berdua. Elrich menyadari kehadiran Aarav, dia mengulurkan tangan dan mengelus-elus rambut dipuncak kepala Abrine dengan lembut, sementara Abrine memelototi sikapnya itu.
__ADS_1
"Diamlah, ada kakakmu!" kata Elrich berbisik pada Abrine dan seketika itu juga Abrine pasrah menerima perlakuan El kepadanya.
"Ehem...." Aarav berdehem pada kedua insan itu, tapi dia juga menyunggingkan senyum tipis.
"El, umurmu sepertinya lebih diatasku, tapi ku dengar kau akan menjadi adik iparku?" Aarav baru saja mendengar hal tentang rencana pernikahan Abrine dan Elrich, dia juga sudah tahu bahwa Nev telah merestui mereka.
"Ya, aku harus memanggilmu apa, apakah harus memanggilmu kakak?" tanya Elrich pada Aarav.
Aarav terkekeh pelan. "Panggil namaku saja, hahaha..." sahutnya sambil tertawa lagi.
"Apa kau bisa bermain catur, El?" Aarav menatap El lagi.
Elrich mengangguk dan Aarav mengajak pria itu untuk bermain di teras belakang rumah.
******
Elrich dan Abrine akan menikah dalam dua bulan kedepan. Mereka tak mempermasalahkan itu. Elrich juga masih harus mengurus cuti kerjanya.
El tidak akan lama di Indonesia. Berhubung pernikahan itu akan diadakan di Indonesia, jadi dalam beberapa hari ini mereka sudah harus menyiapkan hal yang bisa mereka tangani.
Tidak banyak waktu, Raya pun meminta Abrine untuk segera fitting gaun pernikahan di bridal milik salah seorang relasinya. Urusan cincin pernikahan, Elrich dan Abrine sepakat untuk memesan dari usaha kerajinan berlian milik Zio--suami Airish.
"Kalian berangkat sekarang?" Raya melihat Elrich yang sepertinya tengah menunggu Abrine di beranda rumah.
"Iya, Tante."
Keduanya pergi menuju Bridal menggunakan Maps, sebab Abrine juga tak mengetahui pasti letak tempat itu ditambah lagi dia sudah lama tidak ke Indonesia.
"El, boleh aku bertanya padamu?"
Elrich tersenyum tipis, mendengar Abrine sudah memanggil namanya saja tanpa embel-embel kata 'dokter' lagi.
"Soal apa?"
"Apa sebelum denganku kau pernah ke Indonesia?"
"Pernah sekali."
"Sudah lama?"
"Ehm, waktu aku remaja. Tidak ingat tepatnya berapa tahun yang lalu."
Abrine menganggukkan kepalanya. Kemudian dia menatap El yang menyetir mobil dengan tatapan ragu-ragu.
"Apa lagi?" tanya El menebak jika sebenarnya hal yang ingin ditanyakan Abrine bukanlah hal yang sebelumnya mereka bicarakan.
__ADS_1
"Soal ibumu..." lirih Abrine.
"Oh, kau ingin tahu tentangnya? Tidak ada yang istimewa."
"Dimana ibumu tinggal sekarang? Beliau orang Indonesia, kan? Apa setelah berpisah dengan ayahmu dia kembali ke Indonesia?"
"Entahlah," jawab El acuh tak acuh.
"El, bagaimanapun dia adalah ibumu...."
"Aku tahu. Sudahlah, jangan bahas itu. Aku pernah mengatakan padamu bahwa ibuku tidak ada, kan? Anggap saja aku jika aku tidak pernah menjawab pertanyaan Papamu kemarin, mengenai wanita itu." El tahu Abrine jadi mengingat hal ini karena pertanyaan Nev padanya kemarin.
Abrine menggelengkan kepalanya, baru sekarang dia sadar bahwa El akan bersikap sangat keras kepala mengenai hal yang menyangkut ibunya. Bahkan pria ini menyebut ibunya dengan sebutan 'wanita itu'.
"Jika ibumu tidak ada, maka kau pun tidak akan pernah ada didunia ini, Elrich." Abrine membuang pandangan ke arah jendela mobil setelah mengucapkan hal itu.
Elrich menghela nafas panjang. "Anggaplah dia sudah mati."
"El?!!" seru Abrine tak terima dengan ucapan yang Elrich lontarkan.
"Apa?" tanya El cuek.
"Kau keterlaluan, El! Bagaimana bisa aku akan menikahi pria sepertimu!" Abrine menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Pernikahan ini juga bukan selamanya, apa kau lupa?"
Abrine membuka telapak tangannya lalu menatap El nyalang. "Ya, aku sadar dengan hal itu. Tapi, kau sendiri yang berkata pada papaku bahwa kau sudah mengambil banyak pelajaran dari gagalnya rumah tangga orangtuamu sehingga kau tidak akan menjadi seperti mereka."
"Lalu? Apa dengan ujaranku itu kau jadi menuntut pernikahan kita akan lama dan berlangsung selamanya tanpa adanya perceraian?"
Abrine tidak bisa menjawab ucapan Elrich. Dia sendiri bingung akan hal ini.
Keadaan hening seketika, tak ada obrolan lagi, sampai mereka tiba di sebuah Bridal yang memang ingin mereka kunjungi.
Melakukan fitting busana tanpa adanya kompromi atau meminta pendapat satu sama lain. Abrine tidak menunjukkan diri didepan El saat mencoba gaun pengantinnya. Dia memang tak begitu berminat dengan gaun semacam ini. Tau sendiri jika dia tak suka didandani, tapi sebagai bentuk formalitas di acara pernikahannya nanti, maka dia akan melakukan hal ini.
Selesai fitting, mereka kembali menaiki mobil dan kembali dalam suasana dingin akibat pertengkaran mereka beberapa waktu lalu.
"Jika memang ibumu berada di Indonesia, izinkan aku menemuinya dan meminta restunya sebelum kita benar-benar menikah," celetuk Abrine tiba-tiba, membuat El mengerem mobil secara mendadak.
"Brine! Come On! Tidak perlu restunya! Selain karena aku tidak memerlukannya, pernikahan ini juga bukan pernikahan yang sesungguhnya," tegas El membuat nyali Abrine sedikit menciut. Sebenarnya apa masalah El dengan Ibunya, sehingga masalah ini menyulut emosinya. Bahkan selama ini, El selalu terlihat tenang saat marah kepadanya. Tapi membahas soal ibunya, El terlihat sangat berapi-api.
"Jika beliau di Jerman, maka aku akan ikut kembali ke Jerman demi mendapat restunya." Abrine tetap bersikukuh dengan keinginannya.
Elrich mendengkus keras. Dia bahkan memukul sekilas setir mobil demi meluapkan kekesalannya atas ke-keras-kepala-an Abrine.
__ADS_1
******
(Kalau sempat nanti othor up 1 bab lagi, tungguin ya. Jangan lupa dukungannya, okey👍🥰🥰🥰🥰)