PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
99. Terjadi sesuatu?


__ADS_3

Raymond berdecak saat melihat wajah memelas Jerry yang memohon padanya karena lagi-lagi tidak bisa membayar hutang.


Sebenarnya dia malas meladeni urusan semacam ini. Sudah seperti Depkolektor bank saja, pikirnya. Tapi, entah kenapa juga dia tetap mendatangi Jerry hari ini.


"Bukankah kau sudah mendapat uang dari transaksimu kemarin?" sindir Raymond.


Seketika itu juga Jerry mengingat persoalannya dengan Mr. Alison.


"Ah, ya... mungkin maksud anda mengenai malam itu. Ya, begitulah, Tuan. Mr. Alison meminta kembali uangnya, aku tidak mungkin tidak melakukannya, dia bisa menuntutku karena menipunya."


"Kau juga menipuku! Kau bilang mau bayar hutangmu!" tukas Raymond keji.


"Kalau saja malam itu anda tidak mengganggu Mr. Alison dan ikut campur, mungkin aku akan mendapatkan uang dan bisa membayar hutangku padamu." Jerry bergumam. Tapi, pendengaran Raymond cukup menangkap jelas apa yang dikatakan oleh pria itu.


"Apa katamu?"


"Tidak ada," kilah Jerry.


"Cepat bilang!"


"Ehm... itu, tuan. Anda ikut campur malam itu menyebabkan Mr. Alison marah...."


Raymond tersenyum smirk mendengarnya.


"Kau menjual kekasihmu sendiri pada Mr. Alison, tanpa dia ketahui. Bagaimana aku tidak ikut campur!" ujar Raymond tenang.


"Ke-kasih?" Jerry terkejut dengan jawaban Raymond.


"Ya. Anne.... bukankah dia kekasihmu? Sudahlah, aku tidak mau mendengar urusan pribadimu. Intinya kau bayar saja hutangmu atau hari ini kau berurusan lagi dengan mereka." Raymond mengendikkan dagu ke arah lima orang ajudan yang ikut bersamanya mengunjungi Jerry hari ini.


"Jangan, Tuan!" Jerry langsung memohon, dia bahkan berlutut di kaki Raymond. "Beri aku kemudahan dan tenggang waktu sedikit lagi."


"Kau sudah membuang waktuku!" Raymond bangkit dan berjalan menjauh dari Jerry yang berada dibawah kakinya. "Urus dia!" katanya pada para ajudan.


"Tuan Rodriguez, ku mohon! Atau... aku akan membayarnya dengan tubuh Anne jika kau mau!"


Seketika itu langkah Raymond berhenti. Dia menggeleng samar. Tak menyangka Jerry masih saja berniat menjual kekasihnya. Bahkan sekarang ingin menjadikan Anne sebagai penebus hutang.


"Kau pikir aku mau?" tanya Raymond sambil tergelak.


"Aku jamin kau tidak akan menyesal. Anne wanita yang baik. Aku berani menjamin bahwa dia belum terjam ah oleh lelaki manapun."


"Termasuk kau?" ejek Raymond yang masih saja mengira Jerry adalah kekasih Anne.


"Ya. Aku tidak pernah menyentuhnya. Jika kau mau kau akan jadi yang pertama."


"Sejahat-jahatnya aku, belum pernah aku menjadikan wanita atau gadis sebagai alat transaksi apalagi sebagai penebus hutang," sarkas Raymond.


"Atau jika kau tidak tertarik dengan tubuhnya. Kau bisa mempekerjakannya tanpa digaji. Jadikan dia budak juga tidak apa-apa."


"Astaga... aku jengah sekali mendengarmu."


Raymond berjalan meninggalkan Jerry dengan segala omong kosongnya.


"Habisi dia. Kalau perlu, aku tidak mau melihat wajahnya lagi." Pesan Raymond kepada para ajudan disana. Kemudian pria itu benar-benar pergi tanpa mempedulikan teriakan histeris Jerry yang sudah dipukuli.

__ADS_1


****


"Sia lan! Kenapa pria seperti dia harus hidup!" umpat Raymond sembari memukul setir mobil dihadapannya.


Pria itu mengemudikan mobilnya dengan perasaan yang campur aduk. Nuraninya tersentuh, dia kasihan pada nasib Anne yang malang. Bagaimanapun, selama ini dia memiliki jiwa sosial yang tinggi. Itulah mengapa dia dan Abrine dulu selalu mengunjungi panti sosial bersama.


"Mungkin aku bisa menolak si breng sek itu karena aku kasihan pada Anne. Mungkin kemarin Anne juga lagi beruntung karena aku melihatnya di hotel bersama Mr. Alison, tapi kalau nanti Jerry akan kembali menjualnya pada pria hidung belang lain, bagaimana?"


Raymond tidak bisa berpikir lagi. Dikepalanya hanya ada keinginan untuk bicara dengan Anne agar bisa memperingatkan gadis itu.


Tanpa sadar, dia membelokkan kemudi. Berbalik arah menuju kantor Abrine berada.


Selama 30 menit berkendara, akhirnya dia tiba disana. Jika biasanya dia ingin mengunjungi Abrine, kali ini tujuannya berbeda.


"Anne...." Begitu melihat gadis yang ingin ditemuinya keluar dari kantor, dia langsung menyergapnya. Kebetulan sekali ini bertepatan dengan jam pulang kantor, jadi dia tak perlu lagi masuk ke dalam sana untuk mencari Anne.


Anne terkesiap kaget, apalagi Raymond sampai memegangi pergelangan tangannya.


Belum sempat Anne menguasai keadaan karena terkejut dengan sikap Raymond. Pria itu segera menarik ya untuk masuk ke dalam mobil yang letaknya tak terlalu jauh dari mereka.


Raymond bahkan membukakan pintu untuknya, lalu berjalan mengitari mobil untuk kembali duduk di kursi pengemudi.


Anne menatap pria disampingnya dengan tatapan terkejut, heran dan bingung. Dikepalanya juga sudah banyak pertanyaan untuk ditanyakan pada pria ini.


Tapi, sepanjang perjalanan mereka, tak ada satupun dari mereka yang mau buka suara lebih dulu.


Setelah merasa cukup lama terdiam dengan keadaan mobil Raymond yang terus menerus memutari pusat kota tanpa tujuan yang jelas, akhirnya Anne memberanikan diri untuk berbicara.


"Sebenarnya anda mau membawa saya kemana, Tuan?"


"Lalu, apa tujuan anda mencegat langkah saya tadi?"


"Bicaralah seperti biasa. Aku tidak suka terlalu formal jika diluar jam kerja seperti ini."


Anne mengangguk. "Ekhem..." Dia berdehem sejenak, menetralkan perasaannya.


"Jadi.... apa?" tanya Anne kemudian.


"Aku tidak bermaksud mencampuri urusanmu. Tapi, aku tidak mau kau terus menjalin hubungan dengan pria seperti Jerry."


"Jerry?" Dahi Anne mengernyit dalam mendengar ucapan Raymond.


"Ya, kekasihmu itu mencoba menjualmu pada Mr. Alison, kan?" tukas Raymond.


Anne tampak salah tingkah. Dia juga sudah menebak hal ini meski dia tak bisa langsung menuduh Jerry begitu saja sebab dia tak punya bukti.


"Kenapa kau diam?" tanya Raymond lagi. "Kau tahu Jerry se breng sek itu? lalu kau tetap mau bersamanya?" marah Raymond.


"Kenapa anda marah-marah?" Anne menjawab Raymond dengan sewot.


"Ya, aku tidak suka saja kau berhubungan dengan pria seperti dia. Dia bahkan mau membuatmu sebagai penebus hutang. Asal kau tahu, dia punya hutang yang banyak di perusahaanku!"


Mendengar itu mata Anne membola. Terperangah. Dia tak tahu Jerry separah itu. Dia pikir Jerry hanya butuh biaya untuk menyokong perusahaannya yang kolaps. Jerry tak pernah bercerita bahwa dia memiliki banyak hutang.


"A-apa yang kau katakan, Tuan?" Anne tampak pias.

__ADS_1


"Kau tidak tahu bahwa Jerry sudah bangkrut? Dia mencoba meminjam dana kemana-mana."


"Aku tahu soal perusahannya... tapi aku tidak tahu dia berhutang padamu."


"Dia menjadikanmu alat penebus hutang. Kau mau?" Raymond justru tersenyum miring.


"Tidak!" tolak Anne tegas.


"Aku juga tidak mau! Makanya kau akhirilah hubunganmu dengan pria seperti dia."


Anne menggeleng. "Kenapa kau peduli sekali padaku, Tuan?" tanyanya.


"Aku? Peduli padamu?"


"Ya, sampai kau memintaku putus dari Jerry. Aku bahkan tidak berpacaran dengannya!" tukas Anne kemudian membuat Raymond terkejut.


"Benarkah? Lalu apa hubungan kalian?"


"Dia... dia kakak tiriku!" Anne membuang pandangan ke arah jendela mobil.


"Ehm... begitu ya." Raymond manggut-manggut.


"Jadi, bisakah sekarang kau katakan kenapa kau mendadak peduli padaku, Tuan?"


"Karena... karena... aku mengenalmu. Kau juga sekretaris Abrine."


"Oh." Anne hanya ber-Oh ria.


"Ya sudah, intinya aku ingin memperingatkan mu soal Jerry. Ku pikir dia kekasihmu. Sorry...."


"Hmm..."


"Kenapa kau jadi pendiam?"


"Lalu aku harus jawab apa lagi, Tuan? Kau mau aku cerewet terus?"


"Ya, begitu lebih baik."


Anne menggelengkan kepalanya. Tapi, mendadak dia mengingat sesuatu yang ingin dia tanyakan pada Raymond.


"Terima kasih kau sudah mau memperingatkan ku. Kau juga sudah menolak tawaran Jerry." Anne sangat bersyukur Raymond masih memiliki hati nurani. Sedikit banyak dia merasa kagum dengan pria disampingnya ini. "Tapi, bisakah aku bertanya padamu, Tuan?" lanjutnya.


"Ya... tanyakan."


"Kenapa malam itu aku bisa berada di kamar hotel yang dipesan atas namamu?"


"Hah?"


"Ya, seingatku malam itu aku sedang berurusan dengan Mr. Alison. Lalu aku mabuk. Apa yang terjadi selanjutnya?"


"Kau ini.... terlalu polos! Aku menyelamatkanmu malam itu! Jerry mau menjualmu padanya. Untung ada aku. Ingat ya, kau punya hutang budi padaku." Raymond berkata sombong tapi entah kenapa Anne terkesima melihatnya.


Mendengar itu, Anne juga langsung menundukkan wajah, dia malu sendiri. Bagaimana tidak? Dia sudah berpikir terlalu jauh. Sampai-sampai dia juga mengira telah terjadi sesuatu diantara dia dengan Raymond malam itu.


Tapi, mendengar tak ada yang terjadi pada mereka, kenapa Anne sedikit kecewa? Apa dia memang mengharapkan sesuatu sudah terjadi malam itu?

__ADS_1


*****


__ADS_2