
"Galvin?"
Bagaimana bisa Elrich bertemu dengan Galvin di Panti sosial. Apalagi keadaan Galvin yang tengah duduk di kursi roda. Baru saja beberapa hari lalu Elrich kembali mendengar nama pria ini disebut oleh Claire sebagai pria yang harusnya bertanggung jawab atas kehamilan Pevita--dulu. Sekarang, mereka malah dipertemukan dalam keadaan seperti ini.
Pada akhirnya, mereka memutuskan bicara empat mata.
Abrine cukup heran karena El tidak pernah bercerita padanya mengenai Galvin. Tapi, dia memberi ruang dan waktu untuk mereka berdua bercerita.
"Kau sudah menikah?" Itulah pertanyaan pertama yang Galvin lontarkan pada Elrich.
"Hemm, aku menikah dengan Abrine sebulan yang lalu."
Galvin mengangguk, cukup lama dia terdiam dengan pemikirannya. El pun tidak mau menanyakan sebelum Galvin buka suara. Hingga Galvin memulai percakapannya yang sempat terjeda.
"Sebelumnya, aku ingin mengatakan padamu sebuah pengakuan. Mengenai aku dan Pevita---"
"Aku sudah mendengarnya," potong Elrich cepat.
Wajah Galvin berubah pias. Dia cukup terkejut mendengar El telah mengetahui semuanya.
"Jika ada orang yang patut disalahkan atas kematian Pevita, itu adalah aku, bukan kau, El."
"Aku juga menyuruhnya melakukan aborsi walau setelah itu aku menyesalinya."
"Ya, mungkin kita sama-sama bersalah. Tapi ada yang lebih bersalah daripada kita berdua."
Elrich menatap Galvin dengan sebelah alis yang terangkat, seolah menanyakan siapa yang dimaksudkan oleh pria ini.
"Claire.... dia yang menyebabkan semua ini terjadi, tapi dia tetap tidak menerima kematian adiknya."
Elrich mengangguk. "Sudahlah, itu telah menjadi masa lalu. Aku ingin menguburnya dalam-dalam."
Galvin tertawa sumbang. "Jangan pikir Claire hanya menyalahkanmu, El. Dia juga menyalahkanku atas kematian Pevita."
Elrich menatap bingung pada Galvin.
"Aku melakukan itu karena waktu itu aku sangat mencintai Claire, aku rela melakukan apapun yang dia inginkan. Aku dijadikan boneka untuk kepentingannya sendiri. Padahal aku juga merasa bersalah pada Pevita."
"Jika begitu, kenapa kau tidak bertanggung jawab saja pada Pevita?"
"Aku tidak bisa. Aku tidak mencintai Pevita. Aku tidak mau semakin menyakitinya dengan menikahi dia. Lagipula jika aku melakukan itu, maka Claire akan merasa puas sebab semua rencananya berhasil."
".... bodohnya aku dulu, mengikuti semua yang diinginkannya."
Elrich terdiam dengan pengakuan Galvin. Lalu, kenapa dulu Claire menuduhnya seolah-olah tak tahu apapun? Bahkan, Claire juga menuduhnya yang telah menghamili Pevita.
__ADS_1
"Claire mencintaimu, El. Tapi cintanya padamu sudah berubah menjadi obsesi gila."
"Kau tahu kenapa aku bisa lumpuh seperti ini? Ini juga karenanya, walau aku tidak bisa membuktikan apa-apa."
El terperangah mendengar ujaran Galvin.
Meski El yakin Claire adalah wanita yang rela melakukan apa saja, tapi El tidak mengerti kenapa Galvin menyalahkan Claire atas kelumpuhannya. Rasanya apa mungkin Claire senekat itu, mengingat mereka dulu adalah sepasang kekasih.
"Apa kau yakin?"
"Sangat."
"Kenapa dia melakukan itu?"
"Waktu itu aku mendengar jika kau dituntut keluarga mereka atas kematian Pevita. Aku ingin memberitahumu sejak awal, tapi Claire tidak memberiku celah untuk buka mulut, dia melakukan segala cara agar kau tetap merasa bersalah atas kematian adiknya. Dan dia justru mencelakaiku, aku sangat yakin meski entah kenapa semua bukti seolah hilang."
".... saat itulah, aku bertemu Kristy. Dia yang menyelamatkan dan merawat aku sampai saat ini."
Elrich terdiam, dia mencerna semua penjelasan Galvin.
"Jangan pikir kepergiannya selama beberapa tahun ini tidak ada artinya, El. Dia sedang mempersiapkan diri, karena sekarang saatnya giliranmu."
Pada kenyataannya, El menjadi berpikir keras. Tentang ucapan Galvin serta menghubungkannya dengan perkataan Abrine pada waktu itu.
"Sekarang dia memang bekerja di Rumah Sakit yang sama denganku."
Galvin tersenyum penuh ironi. "Apa kau merasa itu sebuah kebetulan? Atau justru sebuah kesengajaan?" tanyanya.
"Entahlah, aku tidak bisa menyimpulkannya."
"Maka dari itu, berhati-hatilah padanya. Dia itu sudah gila. Aku sudah memperingatkan mu, El," pungkas Galvin.
***
Abrine tidak mungkin menghindar saat ternyata dia harus dihadapkan lagi dengan seorang wanita bernama Freya saat dia sedang makan disebuah Cafe bersama Anne-- seusai meeting mereka.
"Kau disini?" sinis Freya.
"Ini tempat umum, tidak ada yang melarangku berada disini."
"Kau tahu, kau itu wanita ter-naif yang pernah ku temui. Kau menikah dengan orang lain tapi kau tidak membiarkan Raymond bahagia bersama orang lain."
"Atas dasar apa kau mengatakan hal itu? Aku tidak pernah melarang Raymond berhubungan dengan siapapun, aku tidak punya hak atas dia. Mungkin kau saja yang kurang beruntung, karena nyatanya Raymond tidak bahagia bersamamu."
Freya mengepalkan tangan sampai buku jarinya memutih. Ucapan Abrine benar-benar meremehkannya.
__ADS_1
"Dengar Freya, Aku sudah memiliki kehidupan baru. Aku tidak mau bertengkar denganmu karena membahas pria yang bukan suamiku!" tekan Abrine.
Anne yang juga berada disana, hanya bisa mengelus-elus pundak Abrine untuk menenangkannya. Padahal Abrine tidak emosi sama sekali dengan pernyataan Freya, dia menanggapinya dengan santai. Mungkin Anne hanya takut sebuah perkelahian terjadi karena dia sangat tahu bagaimana tindak-tanduk atasannya.
"Nona, ku mohon pergilah dari sini," kata Anne. Dia berpikir kenapa Freya nekat mencari kegaduhan dengan Abrine. Apa Freya tidak tahu bagaimana jika Abrine sudah mengamuk?
Kau mengganggu singa yang sedang diam, Nona. Batin Anne.
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi, atasanmu yang tidak tahu diri ini seharusnya sadar bahwa dia tidak secantik itu untuk membuat Raymond-ku patah hati."
Ucapan Freya berhasil membuat emosi Abrine tersulut. Dalam sekali tinjuan, wanita itu tersungkur dengan darah yang keluar dari hidungnya.
"Dasar wanita tak punya etika!" berang Freya.
Abrine malah berdecih mendengarnya, dia merapikan blazer yang dia kenakan. Menundukkan pandangan pada Freya yang terduduk dilantai.
"Setelah ini, terserah kau mau melakukan apa. Ini hanya peringatan dariku agar kau menjaga mulut dan tingkahmu yang pandai beretika itu," sindir Abrine.
Abrine beranjak. Bahkan dia melangkahi tubuh Freya begitu saja. Freya kesal dan amarahnya sudah sampai di ubun-ubun.
"Hei, sombong! Aku akan menuntutmu. Kau dengar itu? Aku akan menuntutmu!" pekik Freya tapi Abrine tidak memedulikannya lagi.
Dalam perjalanan, Anne merasa cemas dengan ancaman yang sempat Freya ucapkan tadi.
"Miss, jika dia benar-benar menuntut bagaimana? Ini akan menjadi pencemaran nama untuk perusahaan kita." Anne mengkhawatirkan Abrine sekaligus perusahaan tempatnya bekerja.
"Tenanglah, dia tidak akan berani melakukannya."
"Kenapa kau seyakin itu, Miss?"
"Karena sebelum dia melakukannya aku yang akan lebih dulu melaporkannya."
Abrine ingat jika waktu dia bertengkar dengan Freya di supermarket tempo hari, mereka sudah membuat kesepakatan hitam diatas putih didepan security. Pertengkaran pertama itu jelas disebabkan oleh Freya, jadi apabila terjadi pertengkaran lagi, Abrine bisa menuntut jika Freya yang lebih dulu bersalah, karena ada bukti CCTV milik supermarket serta security yang menjadi saksi saat Freya menampar Abrine waktu itu.
"Jika nanti dia menuntutku, aku akan menunjukkan bukti bahwa dia yang lebih dulu memancingku hari ini, di cafe itu pasti ada CCTV juga. Lagipula, aku berhak membela diri dari tindakannya yang menindasku."
*****
Yang belum tahu visual Abrine, nih aku kasih ya....
__ADS_1