PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
17. Pria yang ku cintai


__ADS_3

"Kita harus bicara berdua!"


Abrine tidak bisa menghindar lagi dari keinginan Raymond. Dia mengikuti langkah cepat pria itu yang menariknya menjauh dari dimana Elrich terduduk. El sebenarnya ingin mencegah, namun dia tahu kalau dia tidak berhak ikut campur mengenai urusan Abrine dengan Raymond.


"Brine, apa maksudnya ini? Mau menikah? Dengannya? Siapa dia? Kapan kau mengenalnya? Jangan mengada-ngada! Jangan mengambil keputusan yang akan membuatmu menyesal nantinya." Raymond memberondong Abrine dengan semua kata-katanya.


"Aku tidak mengada-ngada, semua sudah ku pikirkan dengan kepala dingin," akui Abrine.


"What?" Raymond menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Ini tidak mungkin!" cetusnya putus asa. Bagaimana bisa Abrine mau menikah dengan pria asing seperti Elrich? Bahkan Raymond tak pernah mengetahui kapan dan dimana mereka berkenalan.


"Inilah kenyataannya. Aku dan El akan menikah, setelah El mendapatkan cuti nanti kami akan terbang ke Indonesia dan menemui keluargaku."


"Tidak!" ujar Raymond cepat. "Aku bahkan tidak tahu kapan kau mengenalnya. Siapa dia? Dia pria asing, Brine!"


"Tidak semua pria yang ku kenal harus kau kenali juga, Ray! El tidak asing bagiku. Sudahlah, ini sudah menjadi keputusanku." Abrine menatap ke arah lainnya, dia tak mau terus menerus menatap wajah Raymond yang merah padam seakan ingin menelannya bulat-bulat.


Raymond ingin marah, tapi tak bisa melampiaskan itu didepan gadis ini. Kendati dia masih tak percaya dengan keputusan Abrine, tapi dia juga tak bisa memaksa Abrine yang sudah mengambil sebuah keputusan tanpa melibatkannya.


"Aku harap kau tidak akan menyesalinya, Brine. Aku mau kau bahagia," kata Raymond melirih. Dia memegang kedua pundak Abrine agar gadis itu membalas tatapannya, namun Abrine tetap saja enggan melakukan itu karena dia takut saat menatap Raymond lagi justru hatinya kembali sakit dan kecewa. Dia juga takut harapan untuk bersama dengan Raymond kembali tercipta.


"Kau baru mengenalnya?"


"Hmmm," jawab Abrine singkat.


"Boleh aku tahu kenapa kau ingin menikah dengannya secara mendadak begini? Apa dia bersikap kurang ajar padamu?"


"Tidak, justru Elrich sempat menolongku." Abrine tidak berniat berbohong, memang El sempat menolongnya, bukan? Pria itu menjadi penjaminnya dirumah sakit dan tidak mau Abrine mengganti semua biaya yang ditanggungkan kepadanya. "Aku langsung menyukainya, karena dia baik," sambung Abrine demi meyakinkan Raymond.


"Lalu aku? Bagaimana denganku, Brine?"


Abrine menghela nafas pendek. "Kita akan tetap berteman, Ray!" Abrine ingin berlalu dari hadapan Raymond, dia hendak kembali menemui Elrich diruang tamu.


Tapi Abrine menghentikan langkahnya sejenak, dia ingin tahu apa jawaban Raymond mengenai pertanyaannya kali ini.


"Apa tidurmu nyenyak malam tadi?" tanya Abrine dalam posisi membelakangi Raymond yang putus asa.

__ADS_1


Raymond mengadah dan menatap punggung Abrine. "Aku tidak bisa tidur, Brine. Aku memikirkan ucapanmu ditelepon kemarin soal pernikahan ini."


Abrine tersenyum miring. Bagaimana mungkin Raymond bisa tidur jika ada Freya yang menemani malamnya semalam, tapi bisa-bisanya Raymond menjawab tak bisa tidur sebab memikirkan ucapannya. Benar-benar!


"Kenapa kau tidak membalas pesanku kemarin?" tanya Raymond lagi.


"Aku tidak membalas, tapi aku membacanya."


"Benarkah?"


"Ya, dari situ aku memutuskan untuk mengunjungi Apartmenmu. Aku ingin memberimu kejutan dengan kedatanganku." Abrine berusaha berterus terang meski dengan ini dia jadi mengingat lagi rasa kecewanya pada pria yang sama.


"K-kau ke Apartmenku?" tanya Raymond. "Ka-kapan? Aku tidak tahu..."


Abrine menoleh sekilas, dia menyunggingkan senyum tipis. "Bagaimana kau bisa tahu, kau sibuk dengan Freya!"


Deg...


Nama Freya kembali dibicarakan Abrine. Dan apa katanya tadi? Astaga! Abrine melihatnya bersama Freya (lagi).


Rasanya Raymond ingin berteriak sekarang. Bagaimana bisa Abrine melihatnya bersama Freya malam tadi.


"Brine, itu--" Raymond ingin menjelaskan pada Abrine bahwa kemarin dia mabuk, dan soal Freya adalah kesalahan, tapi Abrine segera memotong ucapannya sebelum dia bisa berujar.


"Sudahlah, pembahasan ini sudah selesai, kan? Aku tidak mau El menunggu kita terlalu lama. Aku tidak mau dia salah paham," tutup Abrine.


"Abrine!" seru Raymond yang semakin frustrasi, apalagi kini dia sudah tahu bahwa Abrine melihatnya bersama Freya. Kepalanya mau meledak sekarang.


Abrine kembali bergabung bersama Elrich yang memang menunggunya.


"Aku akan mengambil berkasku, setelah itu akan kembali ke kantor lagi," jelas Abrine pada pria berkemeja biru muda itu.


Elrich mengangguk kemudian berdiri dari posisinya. "Aku akan mengantarmu ke kantor."


"Tidak usah, kau sudah mengantarku kesini tadi. Aku bisa sendiri."

__ADS_1


Elrich ingin menanyakan tentang Raymond, sedikit banyak dia penasaran apa hubungan Abrine dengan pria itu, dia juga khawatir meninggalkan Abrine berdua bersama Raymond di Apartmen ini. Elrich akan meninggalkan Apartmen setelah Abrine benar-benar pergi dari sini.


Tampaknya Abrine melihat raut kekhawatiran Elrich, ini pasti ada kaitannya dengan Raymond yang belum juga pergi, kini Raymond juga tampak kembali bergabung bersama mereka berdua.


"Kau tidak pulang?" Abrine bertanya pada Raymond, berusaha mengusirnya secara halus.


"Aku akan pulang setelah dia pulang." Raymond menunjuk El dengan dagunya.


Elrich tersenyum tipis. "Aku juga akan keluar dari sini setelah kau pergi," ucapnya tak mau kalah.


Abrine merasa pusing melihat kedua pria ini. Dia meninggalkan keduanya dan mencari berkas yang ingin dia bawa ke kantor. Setelah menemukan, dia kembali ke ruang tamu dan masih melihat kedua pria yang sama seolah saling melempar tatapan permusuhan satu sama lain. Tidak, bukan Elrich melainkan hanya Raymond saja.


Abrine sadar Raymond belum mempercayai keputusannya soal pernikahan ini.


"Ehem...." Abrine berdehem sejenak. "Jika kalian masih betah bahkan mau terus saling menatap disini, silahkan saja. Aku masih banyak urusan." Abrine berlalu setelah mengucapkan kata-kata itu.


Elrich dan Raymond sama-sama mengejar langkah Abrine. Namun demi menghentikan Raymond, dengan sangat terpaksa Abrine bergelayut pada lengan Elrich, hingga membuat pria itu terkesiap kaget.


"Aku akan pergi bersama El, apa kau berniat mengikuti kami, Ray?"


Raymond mendengkus pelan. Dia bukan mengenal Abrine sehari dua hari, dia sangat tahu jika sikap Abrine itu adalah bentuk protes kepadanya. Abrine sedang membuatnya cemburu dan gadis itu berhasil. Ingin rasanya Raymond melerai tautan tangan Abrine dan Elrich saat ini juga, tapi tentu hal itu tidak bisa dia lakukan.


"Aku akan bicara padamu lagi diwaktu dan tempat yang tepat," kata Raymond menatap Abrine. "Permisi...." lanjutnya kemudian benar-benar berlalu.


Abrine melepas tangannya yang melingkar dilengan Elrich. "Maaf," katanya pelan.


Elrich tersenyum miring. "Tak apa, kita saling memanfaatkan, bukan? Ada kalanya aku juga akan memanfaatkanmu seperti ini didepan ayahku nanti," ujarnya yakin.


"Baiklah, aku tahu itu."


"Memangnya dia itu siapa?" Akhirnya Elrich juga menanyakan siapa Raymond pada Abrine.


"Dia.... pria yang ku cintai."


Mendengar itu entah kenapa perasaan Elrich seperti tertampar, sakit dan panas. Ada apa dengannya? Bukankah hubungannya dengan Abrine pun bahkan belum dimulai?

__ADS_1


"Oh...." Akhirnya El hanya bisa ber-Oh ria.


*******


__ADS_2