
"Kenapa? Sepertinya kau senang sekali mendengarku akan datang. Kau merindukanku, hah?"
"Aku---aku..... tentu saja tidak!" jawab Abrine membuat El merengut di posisinya. Entah kenapa dia kecewa dengan jawaban Abrine. Apa dia berharap dirindukan oleh gadis itu?
"Ah, ku pikir kau merindukanku karena aku sangat berharap hal itu." Suara El terdengar lesu dipendengaran Abrine.
"Serius?"
"Tentu saja tidak!" jawab El membalas perkataan Abrine.
"Sial!" umpat Abrine membuat El tertawa renyah dari seberang sana.
"Ya sudah, kau tidak perlu menunggu kedatanganku nanti aku akan muncul disana sebelum kau menyadarinya!"
Padahal Abrine baru ingin menanyakan kapan jadwal penerbangan El ke Indonesia, tapi pria itu sudah lebih dulu berkata demikian.
"Baiklah, lagipula aku memang tidak menunggumu!"
"Berdusta saja terus!" jawab El mencibir.
"Memang iya! Buat apa aku menunggumu!"
"Buat menikahimu jika kau lupa!"
Abrine tersenyum mendengar jawaban Elrich, tapi dia buru-buru menjawab dengan ciri khasnya yang biasa saja.
"Iya, menikahiku karena permintaan ayahmu!" jawab Abrine akhirnya.
Elrich terkekeh. "Jangan lupa juga tentang menikahimu karena permintaanmu sendiri."
"Aku? Kapan aku memintanya?" kesal Abrine terkejut.
"Apa perlu aku mengingatkanmu? Waktu itu kau keluar dari Excelo Apartmen, masuk ke taksi yang masih ada aku didalamnya lalu kau mengajakku menikah. Apa kau lupa?"
Seketika itu juga Abrine merengut, bukan karena masih mengingat momen Raymond dan Freya di malam yang sama, melainkan karena ucapan El benar adanya, bahwa dia memang sempat mengajak El menikah waktu itu.
"Kau lebih dulu mengajakku menikah!" cetus Abrine tak mau kalah.
"Iya, tapi itu didepan ayahku, kan!"
"Terserah kau saja!" Abrine memutus panggilan telepon mereka kemudian setelah panggilan itu berakhir dia berlagak bicara pada ponselnya sendiri.
"Dasar egois!" katanya lalu melempar ponselnya ke tempat tidur.
*****
"Abrine, Mama akan pergi ke Rumah Sakit, kata Zio, Airish sudah kontraksi dan akan melahirkan."
Raya berujar pada Abrine yang baru saja membuka pintu kamarnya karena digedor sang Mama. Bahkan wajah Abrine pun masih terlihat muka bantal.
__ADS_1
Mendengar ucapan sang Mama, seketika itu juga Abrine melotot kemudian langsung mengangguki ucapan Raya. "I-iya, Ma.... Abrine mandi dulu nanti abrine akan nyusul kesana, Ma."
Seperginya Raya, Abrine pun segera bersiap dengan sangat cepat. Dia sampai berlarian menuruni tangga. Mendengar Airish yang akan segera melahirkan malah dia yang kalut sendirian.
"Bi Yana, aku pergi nyusul yang lain ke Rumah Sakit," pamit Abrine sambil lalu. Dia membawa mobilnya sendiri dan segera melajukan dengan kecepatan sedang.
Sesampainya di Rumah Sakit, Abrine berlarian di koridor sampai akhirnya dia tiba didepan ruang operasi karena ternyata Airish tidak bisa melahirkan normal dikarenakan air ketubannya sudah mengering.
"Ma, Pa...." sapa Abrine pada Raya dan Nev.
Wajah Raya tampak pucat pasi, mungkin khawatir pada Airish yang masih berada dalam ruang operasi.
"Mama tenang, ya. Pasti semuanya baik-baik aja." Abrine mencoba menenangkan Raya, dia mengelus-elus pundak sang Mama.
Tak berapa lama, Dokter keluar dari ruang operasi dan mengatakan operasinya telah selesai dan berhasil. Airish melahirkan seorang putri yang sangat cantik. Mereka semua belum boleh masuk untuk melihat, hanya Zio yang tadinya diperbolehkan mendampingi Airish dalam ruangan Operasi.
Saat Airish sudah dipindahkan keruang rawat, barulah mereka semua datang menjenguk. Bersamaan dengan itu, Aarav dan Rahelsa juga tiba disana.
"Wah, keponakan aku nambah nih." Abrine melihat pada Airish yang terbaring di ranjang pasien dengan wajah yang tampak lelah. "Selamat ya, Rish... Zio..." katanya menatap sepasang suami istri itu bergantian.
"Gak lama lagi Lo bakal nyusul jadi ibu juga, kok!" kata Zio terkekeh. Wajahnya dihiasi binar bahagia yang sangat jelas. Dia menegelus-elus dahi Airish dengan lembut.
"Ye.... nikah aja belom!" sahut Abrine sambil tertawa. Entah kenapa setiap melihat Zio dan Airish yang serasi, ada rasa ingin yang sama. Dia ingin merasakan bagaimana dicintai, seperti Airish dicintai oleh Zio.
Andai dia menemukan seseorang yang bisa mencintainya dengan tulus juga. Sayangnya, dia tak pernah menemukan pria seperti itu selama 24 tahun hidupnya. Selama ini dia hanya tahu bagaimana rasanya mencintai, tapi justru cintanya tidak terbalas hal yang sama. Jangan ditanyakan sakitnya, itu sangat sakit, apalagi dia juga sempat melihat orang yang dicintainya berhubungan dengan wanita lain. Dua kali secara langsung.
"Mungkin hidup gue cuma bisa dapat jackpot yang menyedihkan," gumam Abrine membuat Zio dan Airish mengernyit.
"Gak, gak apa-apa. Gue cuma seneng kebahagiaan kalian udah lengkap gak kayak gue. Hehe...." Abrine memaksakan menyengir.
"Sa ae lo! Entar lagi kan Lo nikah, nah Lo bisa bahagia juga dong!"
Ucapan Zio ada benarnya, tapi jika pernikahan Abrine seperti pernikahan mereka yang dilandasi dengan rasa saling mencintai. Sementara kenyataannya, dia akan menikah dengan El yang datar dan tidak percaya cinta. Apa mungkin dia bisa mendapatkan cinta pria itu? Ah, kenapa juga dia harus berpikir sejauh itu? Memangnya dia berharap dicintai oleh El? Kenapa dengan dia ini.
"Brine..."
Abrine menoleh pada Rahelsa yang memanggilnya. Istri Aarav itu memberi kode seperti mengajak Abrine mengobrol berdua.
"Rish, Zio... aku keluar dulu ya. Sekali lagi selamat untuk kalian berdua. Nanti aku mau lihat Baby L, ya. Sekalian kasih gift khusus buat keponakan baru," celoteh Abrine. Memang bayinya belum tiba diruangan rawat karena masih dibersihkan oleh perawat.
Airish dan Zio mengangguk. Abrine pun keluar ruangan lalu menemui Rahelsa yang sudah berada diluar.
"Ada apa, Hel?"
"Sarapan yuk, laper banget!"
"Kak Aarav mana?"
"Lagi nelepon klien tadi, dia nyuruh duluan."
__ADS_1
Mereka berjalan beriringan sampai ke kantin Rumah Sakit. Rahelsa memang tidak membawa sang putra untuk ikut kesana, dia menitipkan bayinya pada sang Mama sebelum ke Rumah Sakit tadi.
"Kamu kenapa? Calon pengantin kok kayaknya lesu gitu!" tanya Rahelsa yang cukup heran dengan Abrine.
"Gak ada, cuma masih ngantuk aja," kilah Abrine.
Rahelsa tersenyum tipis. "Apa karena kangen sama calonnya yang bule itu, ya?" goda Rahelsa membuat Abrine tertawa pelan. Untuk apa juga dia rindu pada Elrich yang menyebalkan.
"Kok ketawa, aku serius!" kata Rahelsa lagi.
"Ya, gitu lah." Akhirnya Abrine menjawab sekenanya.
"Ya, wajar aja kangen, namanya juga pasangan."
"Pasangan palsu," batin Abrine tertawa miris.
"Aku sama Aarav juga gitu kalau berjauhan. Airish sama Zio juga pasti gitu, jadi kamu gak usah malu kalau emang rindu sama calon suami kamu."
Abrine tak menyahut. Dia berpikir itu akan terjadi jika dia dan El saling mencintai seperti Aarav dan Rahelsa juga seperti Airish dan Zio. Sedangkan dalam hubungannya yang palsu, mana mungkin ada perasaan semacam itu walau jika El mengatakan merindukannya dia juga pasti akan sangat senang.
"Aku boleh kasi pesan gak sama kamu," celetuk Rahelsa tiba-tiba.
"Apa?"
"Ya, aku emang belum lama menikah sama Aarav, belum bisa ngasih saran yang baik. Tapi, kamu tahu kan, kalau aku sayang sama Aarav sudah lama dan akhirnya bisa menikah sama dia itu gak mudah, apalagi Aarav pernah lumpuh dulu."
"Iya, aku tahu, tapi kamu ngomong gini ke aku dengan maksud apa?"
"Gak maksud apa-apa sih, cuma mau ngingetin kamu yang sebentar lagi bakal menikah. Aku mau bilang, kalau nanti kamu menikah, udah berstatus istri, kamu harus perjuangkan status itu. Menangkan hati suami kamu sampai dia gak mampu berpaling dari kamu sedikitpun," terang Rahelsa.
"Emang bisa?" Entahlah, Abrine jadi tertarik dengan pembahasan dan pesan Rahelsa kepadanya.
"Bisa dong! Kalau suami kamu mencintai kamu itu bakal berjalan mulus, tapi setiap pernikahan pasti ada rintangannya."
Abrine terdiam, itu kalau Elrich mencintainya sedangkan dia tahu jika pria itu tak mencintainya itu artinya semuanya akan berjalan sulit walau Abrine tak yakin mau memenangkan hati El atau tidak.
"Ingat, Brine! Jaga pernikahan kamu nanti, jangan sampai berubah status karena perceraian. Itu gak enak, loh! Lain lagi kalau ada penyebab serius yang memaksa kamu harus menyandang status single kembali, itu lain ceritanya."
Sekali lagi Abrine terkesiap, benar juga, jika dia bercerai nanti dan statusnya dari istri berubah menjadi.... Ah, pasti semuanya tak akan sama lagi. Itu pasti tidak mudah untuk dia jalani. Dia tak mau! Membayangkan menjadi janda diusia muda saja dia tak bisa. Dalam artian, ternyata selama ini dia sendiri sengaja mau membuat statusnya seperti itu, kan? Kenapa selama ini dia bisa berpikiran untuk bercerai setelah menikah? Dia tak berpikir kesana, dia menyetujui kesepakatan dengan El begitu saja. Dia tak memikirkan efeknya.
Ucapan Rahelsa membuat Abrine berpikir keras. Lalu, haruskah dia menaklukkan Elrich demi menjaga statusnya? Toh, dia hanya perlu belajar mencintai pria yang sudah menjadi suaminya itu nanti dan membuat pria itu memiliki perasaan yang sama padanya meski Abrine tak yakin bisa tapi sepertinya dia harus mencoba.
"Makasih nasehatnya ya kakak iparku sayang." Abrine memeluk Rahelsa dari samping membuat Rahelsa tergelak, karena tak biasanya si tomboi Abrine berlaku manja seperti ini.
Disaat mereka sudah selesai bicara, rupanya ada seseorang yang muncul diantara mereka.
"Brine...."
******
__ADS_1
Makasih ya buat yang udah vote dan kirim hadiah, othor udah nepatin janji untuk up lagi, ya🥰🥰🥰🥰 tapi gak tahu kalau review nya lama, itu diluar kekuasaan othor. hehehe pokoknya othor udah kirim bab baru✌️😄