
Berbeda dengan Abrine yang larut dalam kesedihan. Hari ini Anne disibukkan dengan berbagai pekerjaan. Dari yang mudah sampai yang sulit. Belum lagi dia harus mewakili Abrine yang tak bisa menemui rekan meeting yang jumlahnya tidak hanya satu perusahaan melainkan lebih.
Sebab itu, Anne cukup kewalahan. Tapi dia sudah terbiasa bekerja keras. Dia tidak mengeluh. Nyatanya dia adalah gadis yang pintar dan cekatan.
"Nona Anne, ada Tuan Rodriguez yang menunggu anda di bawah."
Anne mengernyit saat menerima panggilan dari sambungan tablephone-nya.
"Menungguku? Tidak salah? Biasanya dia mencari Miss Abrine?" Anne bergumam-gumam heran.
Akhirnya dia berjalan cepat, memasuki lift dan turun ke lantai dasar untuk menemui Raymond.
"Ada apa, Tuan?" tanya Anne sopan. Pasalnya mereka masih berada di dalam lingkup kantor.
"Apa kau tahu kabar Abrine?"
Anne meringis. Ternyata kedatangan Raymond kesini ingin menanyakan kabar atasannya. Ya memang seharusnya begitu, kan? Memangnya apa yang dia harapkan tadi?
"Dua hari kemarin aku sangat sibuk, tidak bisa mengunjungi rumah sakit tempat suaminya di rawat. Pagi tadi aku menyempatkan diri kesana, tapi katanya Elrich telah dipindahkan ke Rumah sakit lain."
"Aku tidak tahu, Tuan. Maaf," jawab Anne hendak berlalu.
Secepat kilat Raymond mencekal lengan Anne. Membuat gadis itu terkesiap kaget karena tangan Raymond menyentuh kulitnya sekarang.
Anne menatap pada tangan Raymond, seolah tak setuju dengan perlakuan ini. Raymond segera memahaminya dan diapun melepaskan.
"Maaf. Aku hanya ingin tahu kabar Abrine. Aku tidak bisa menghubunginya. Aku sangat khawatir dengan kondisinya. Bisakah kau memberitahuku?"
"Tuan, aku disini memang bekerja untuk Miss Abrine. Tapi, aku tidak mencampuri terlalu dalam mengenai urusan pribadinya. Aku tidak tahu. Kau bisa mengecek sendiri keadaan beliau di kediamannya."
"Tapi aku tidak tahu tempat tinggalnya yang sekarang. Ada baiknya kau memberitahuku."
Sebenarnya memang ini tujuan Raymond mendatangi kantor Abrine hari ini. Dia ingin tahu dimana letak kediaman wanita yang masih berada dalam tahta tertinggi dihatinya itu.
Gadis berbaju merah muda itu tersenyum kecil pada Raymond. Anne menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak berhak memberitahu mengenai privasi Miss Abrine kepada orang lain. Itu bukanlah ranah saya, Tuan. Permisi."
Raymond menghela nafas kecewa. Dia tak bisa memaksa Anne sekarang. Tapi, mungkin lain kali, pikirnya.
__ADS_1
Raymond hanya ingin menjenguk dan melihat keadaan Abrine saja, karena rasa khawatir sangat mendominasinya. Dia tidak lagi berniat mengganggu rumah tangga Abrine kendati perasaannya masih sama seperti dulu.
Raymond cukup tahu diri. Dia juga sangat mengenal diri Abrine. Jadi, meski dia sudah yakin dulunya Abrine tak mencintai El, sekarang dia dapat melihat perasaan itu hanya dari binar dimata wanita itu.
Dari hal itu pula, Raymond mencoba realistis. Dia tidak mau rasa cintanya pada Abrine berubah menjadi obsesi yang akan menyakiti.
Baginya, cinta tidak harus bersama. Melihat Abrine bahagia dengan El sudah menjadi kebahagiaannya.
Terdengar omong kosong memang, tapi begitulah kenyataannya bagi dia. Entahlah bagi orang lain.
Saat ini, Raymond justru sedang sibuk berbenah diri. Bagaimanapun dulu Abrine tak mau bersamanya karena sikapnya yang suka bersenang-senang.
Dia mau menjadi pria dewasa yang lebih baik. Sebab dia selalu mengingat ucapan Abrine mengenai hal ini.
"Jodohmu adalah cerminan dirimu. Jika kau baik maka kau akan mendapatkan yang baik. Begitupun sebaliknya."
Jika dia tidak berjodoh dengan Abrine, mungkin dia saja yang breng sek dan tak layak untuk sang wanita.
Mulai kedepannya, Raymond ingin berubah jadi lebih baik. Sebab, senakal-nakalnya dia, tetaplah seorang wanita baik yang dia inginkan menjadi pasangannya.
Soal Freya. Raymond tak peduli. Sejak awal, mereka sepakat untuk bersenang-senang tanpa melibatkan perasaan.
"Doakan yang baik. Semoga pengobatannya juga berjalan baik. Jaga kesehatanmu, Abrine. Ingatlah janin yang sedang kamu kandung. Semoga itu dapat menguatkanmu," ujar Theresia mencoba menguatkan Abrine dari sambungan seluler.
Kabarnya, hari ini El masih dalam keadaan terbaring lemah, meski begitu dia sempat sadar beberapa menit dan kembali tertidur karena efek obat yang disuntikkan ke tubuhnya.
Abrine ingin sekali berbicara pada suaminya. Dia merasa lega, setelah tiga hari akhirnya ada perubahan yang cukup baik pada sang suami. El telah sadar dan itu membuat Abrine sangat bahagia.
"Jika dia sudah terbangun dan dalam keadaan baik serta boleh menelpon, pasti nanti nenek hubungi lagi, ya."
Sambungan telepon itu terputus. Abrine merasa kembali sedih. Sudah tiga hari dia lalui tanpa bersenda gurau dengan El. Bahkan berbicara pun tidak ada tanggapan. Rasanya begitu sepi dan hampa, walau keluarganya tengah menginap di kediamannya sekarang.
Sepertinya Abrine dilanda rindu yang hebat. Terlebih, El tidak pernah meninggalkannya begitu lama setelah mereka resmi menikah.
"Brine, makan dulu ya," kata Raya yang tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar putrinya.
Abrine menggeleng lemah.
"Sayang, kamu gak mau kan kalau nanti El udah sehat terus kamu yang malah sakit? Ayo, makan. Mama masakin makanan kesukaan kamu. Disini pasti susah carinya kalau gak masak sendiri."
__ADS_1
Abrine akhirnya mengangguk. Rupanya sang Mama memang memasakkan dia makanan yang dia suka sedari kecil. Nasi gurih dengan toping sambal keripik kentang yang pedas manis.
"Apa mau mama suapin?" kekeh Raya mencoba menghibur sang anak.
"Enggak, ma. Abrine bisa sendiri, kok." Buru-buru Abrine meraih sendok dan piring ditangan sang ibu.
"Apa kak Aarav sudah berangkat, ma?" tanyanya.
"Udah, setengah jam yang lalu. Apa ada kabar baik, nak?"
Aarav memang sudah pergi menyusul ke rumah sakit dimana El dirawat.
"Kabarnya El udah sadar sebentar tadi."
"Syukurlah. Semoga El cepat pulih ya, Brine. Hari ini Mama sama Papa mau liatin mertua kamu. Kamu dirumah sama Yemima, gak apa-apa, ya?" bujuk Raya.
"Abrine sendirian aja, Ma. Gak enak sama Mima. Dia udah repot dari awal kejadian ini. Dia pengantin baru tapi gara-gara Abrine semuanya jadi begini..." lirih Abrine tampak menyesali semuanya.
"Gak ada yang mau kejadian seperti ini terjadi, Sayang. Yemima juga ikhlas jagain kamu. Mama udah bicara sama dia kemarin. Mama bersyukur kamu punya sahabat seperti itu, nak."
Abrine memeluk raya cukup lama. Tak ada kata, hanya saja dia merasa tenang dapat berada dalam dekapan wanita yang melahirkannya itu.
"Abrine juga bersyukur ada Mama yang masih mau peduli sama Abrine. Sampai jauh datang kesini. Semoga mama dan papa sehat terus ya, ma." Tiba-tiba Abrine terisak. Entahlah, rasanya dia sangat sedih dengan kejadian yang menimpa rumah tangganya, dia juga terharu karena keluarganya ada didekatnya saat ini.
Beberapa saat larut dalam keadaan itu, atensi Abrine teralihkan pada suara televisi di kamarnya yang memang menyala.
"Diberitakan, pagi tadi sekitar pukul 6, ditemukan sesosok mayat wanita di dekat rumah tua yang ada didalam hutan....."
News anchor membacakan berita aktualnya pagi ini.
"Dugaan sementara, wanita itu terpleset saat berada diarea yang licin tersebut."
"Penemuan itu ditemukan oleh seorang pencari jamur yang kebetulan lewat di TKP. Untuk info sementara, identitas wanita itu belum diketahui."
"Begitu mendapat laporan, mayat tersebut langsung diurus oleh pihak yang berwajib."
"Penemuan ini cukup membuat geger, pasalnya tempat kejadian bukanlah tempat yang biasa dikunjungi oleh orang lain."
*****
__ADS_1