
"Brine ...."
Abrine dan Rahelsa sama-sama menoleh. Rupanya Aarav datang bersama Raymond disana. Aarav memberi isyarat lewat sorot mata bahwa dia juga tak tahu apa mau Raymond hingga datang ke Rumah Sakit ini.
"Kakak bertemu Raymond di koridor tadi, dia mencari kamu."
Abrine tahu Aarav tak bersalah disini. Aarav tak pernah mengetahui pertengkaran dan kejadian yang terjadi antara Abrine dengan Raymond selama ini. Meski beberapa kali Raymond terus mengajak Abrine bicara, sekuat hati Abrine mencoba menghindarinya. Kali ini sepertinya Abrine tak bisa mengelak, karena dia tak mau Aarav dan Rahelsa tahu ada apa antara dia dengan Raymond.
"Tadi aku ke rumahmu, aku mendapat kabar bahwa Airish akan melahirkan dirumah sakit ini dan kau ada disini sekarang. Jadi aku memutuskan menyusul kesini."
Abrine menghela nafas pendek, kini dia tahu kenapa Raymond bisa mengetahui keberadaannya.
Aarav sudah duduk disisi Rahelsa dan memesan makanannya, sementara Raymond tetap berdiri sehingga Abrine yakin jika ada yang ingin pria ini katakan tapi tidak didepan kakaknya.
"Aku mau bicara, Brine..."
Benar saja, Raymond memanfaatkan keadaan ini dimana Abrine tak mungkin menolaknya mati-matian didepan sang kakak.
Akhirnya Abrine mengangguki. Mereka berjalan menuju taman Rumah Sakit, Abrine berjalan lebih dulu dan Raymond mengikuti langkah gadis itu dengan perlahan dibelakang tubuhnya.
Sesampainya di taman, Raymond menarik pelan lengan Abrine agar gadis itu mengikuti jejaknya yang sudah duduk dikursi besi yang ada disana. Mau tak mau Abrine mengalah dan mengikuti saja tanpa mengucap sepatah katapun, dia mau Raymond yang lebih dulu menyampaikan tujuannya.
"Brine, aku tidak tahu sampai kapan kau akan berlaku seperti ini padaku. Sikapmu dingin, menghindari aku. Aku tidak bisa begini, Brine."
"... aku tahu kesalahanku padamu sangat fatal, aku tahu aku salah tapi kau harus menghargai ketulusanku untuk berubah demi dirimu. Semua orang punya kesalahan dimasa lalu, tapi bukan berarti aku akan begitu terus. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki diri demi dirimu."
Abrine merunduk dengan kedua tangan yang mencengkram kepalanya sendiri. Ucapan Raymond terdengar sungguh-sungguh di indera pendengarannya.
"Apa tidak cukup kau menghukumku dengan mengabaikan aku hampir dua bulan ini? Aku bahkan sudah menetap di Indonesia selama jangka waktu itu. Aku hanya butuh maafmu saja."
"Benarkah? Kalau begitu, aku sudah memaafkanku," jawab Abrine enteng.
"Thanks..." lirih Raymond. "Bisakah kau membatalkan pernikahanmu, jangan demi aku. Tapi, demi dirimu sendiri. Aku ingin kau bahagia, menikahlah jika memang kau mencintai pria itu, tapi jika tidak, maka batalkan semua ini. Masih ada waktu, Brine!"
Abrine terdiam, disatu sisi dia memikirkan ucapan Raymond dan sisi lainnya dia juga memikirkan ucapan Rahelsa di kantin tadi. Sedikit banyak, Abrine mulai berpikir bahwa memang lebih baik semua ini dibatalkan sejak awal daripada dia akan menyandang status janda dikemudian hari.
"Aku tahu, Brine. Hubunganmu dengan pria itu masih terbilang baru. Kau terlalu buru-buru mengiyakan ajakannya untuk menikah."
"Pikirkanlah, Brine... atau jika kau memang tak mencintainya, minimal dia memiliki rasa itu kepadamu. Jangan bina hubungan tanpa dilandasi rasa sama sekali. Jangan...." Raymond terus memprovokasi Abrine agar gadis itu berubah pikiran, dia yakin dari gelagat Abrine saat ini, pernikahan itu akan dibatalkan.
Abrine ingin menjawab, mulutnya sudah terbuka untuk mengiyakan permintaan Raymond sebab pikirannya mulai terbuka sekarang. Sejujurnya dia mulai takut jika nantinya rumah tangganya akan hancur dan gagal karena tanpa rasa seperti ucapan Raymond, tapi belum juga Abrine menjawab ujaran yang Raymond yakinkan kepadanya, tiba-tiba sudah ada yang menyahut dari samping tubuhnya.
__ADS_1
"Abrine akan tetap menikah denganku!"
Mata Abrine membola seketika, entah sejak kapan Elrich muncul diantara mereka. Astaga, benar perkataan pria itu ternyata dia memang akan muncul dan datang tanpa pernah Abrine perkirakan sebelumnya.
"El ...." lirih Abrine merasa seperti mimpi. Hampir dua bulan mereka tak bertemu, entah kenapa sekarang ada rasa aneh dihati Abrine saat melihat kemunculan pria itu lagi. Elrich terlihat sangat berkharisma dimatanya.
"Sayang, untuk apa kau menemuinya?" tanya Elrich dengan tatapan menuduh dan penuh intimidasi kepada Abrine.
"A-aku.... Aku tidak--"
Elrich langsung meletakkan tangannya sebagai isyarat agar Abrine tak melanjutkan kata. "Bukankah kita sudah saling berjanji untuk tidak menghubungi masa lalu kita masing-masing. Dia masa lalu untukmu, bukan? Aku! Aku yang masa depanmu jika kau lupa!" pungkas Elrich sambil menunjuk wajah Raymond yang tampak masih tercengang dengan kehadiran Elrich yang tiba-tiba.
"Si alan, kenapa dia harus datang disaat yang tidak tepat. Padahal Abrine hampir saja membatalkan pernikahan itu. Aku yakin jika dia tak datang Abrine akan mengatakan hal itu." Batin Raymond mengumpat Elrich didalam hatinya.
"El, aku tahu... tapi aku dan Ray hanya bicara biasa." Abrine mulai bisa menguasai keadaan. Dia meladeni akting Elrich kali ini.
"Kalau begitu, apa pembicaraan kalian sudah selesai?" tanya Elrich.
Abrine menatap Raymond sekilas. "Sudah," jawabnya.
Tapi Raymond bangkit dari duduknya, dia menarik lengan Abrine yang hampir saja mengikuti jejak Elrich yang ingin beranjak.
Melihat tangan Abrine dipegang Raymond dan Abrine diam saja, malah membuat emosi Elrich memuncak. Ternyata Raymond bukan cuma berniat mempengaruhi Abrine, tetapi pria ini nekat berlaku demikian didepan El yang dia ketahui sebagai calon suami Abrine.
Dengan pelan dan tatapan tajam tertuju pada Raymond, Elrich melepas tautan tangan pria itu dilengan Abrine. El menggantikan posisi tangan Raymond dan sekarang dia yang menggenggam pergelangan Abrine.
Abrine mendesahh pelan, kemudian dia memberi isyarat gelengan kepala pada Raymond--meminta pria itu agar tak mencegah segala niatnya lagi.
"Brine..."
"Kau bisa mencari gadis lain, Dude! Dia milikku!" Elrich berucap pada Raymond disertai senyuman culas yang tersungging di bibirnya membuat Raymond menggeram kesal.
Elrich membawa Abrine menjauh dari taman dimana Raymond masih berada disana.
"El, kau baru tiba?"
Elrich tak menjawab, dia terus menarik Abrine dengan langkahnya yang jenjang.
"El, pelan-pelan.... kita mau kemana!" Abrine bingung melihat sikap El yang sepertinya marah sungguhan bukan hanya akting. Abrine pikir El berlaku demikian karena tadi ada Raymond, tapi sekarang tinggal mereka berdua, kenapa El masih tampak emosi.
"El... lepas tanganku sebelum ku tendang bo kongmu!" pekik Abrine yang kesal karena Elrich memaksanya berjalan terus dan entah hendak menuju kemana, padahal Abrine sudah lelah mengikuti.
__ADS_1
Seketika itu juga Elrich menghentikan langkah, dia berbalik dan menatap Abrine disana.
"Apa begitu kata sambutanmu untuk calon suamimu yang baru datang?" tanyanya dengan wajah merah padam.
Seketika Abrine menciut, Elrich kalau seperti ini tandanya marah sungguhan, bukan cuma akting saja.
"Kau ini kenapa, hah?" Abrine kebingungan, dia tak menyangka kemarahan Elrich sampai seperti ini.
"Apa pantas kau berdua dengan pria itu di taman Rumah sakit?" tanya El menatap Abrine serius.
"Kenapa kau harus marah? Biasa saja! Aku dan Raymond bersahabat!"
"Bersahabat katamu? Aku tahu dia pria yang membuatmu menangis malam itu hingga tiba-tiba kau mengajakku menikah!"
"Lalu? Apa urusannya denganmu? Kau marah? Itu urusanku, El!" tekan Abrine.
Ucapan Abrine sontak menyadarkan El akan situasi. Astaga, dia kelewatan. Dia melampiaskan kemarahannya pada Abrine padahal seharusnya Raymond lah yang dia berikan sumpah serapah. Tapi, kenapa pula dia harus marah? Benar kata Abrine, ini urusan gadis itu, kenapa dia semarah ini?
"Maaf, aku hanya tidak mau keluargamu nanti melihatmu bersama pria lain. Karena sebentar lagi kita akan menikah, kan?" Suara El berubah lembut, membuat Abrine semakin kebingungan. Bukan apa-apa, jika Elrich berlaku lembut padanya seperti ini, hatinya terasa aneh, seperti ingin meleleh, apalagi melihat tatapan dari iris hazel miliknya.
Apa ada yang salah disini? Hei siapapun, katakan padanya siapa yang salah disini? Kenapa sekarang dia merasa tatapan El berubah padanya? Kenapa juga dia harus baper dengan ucapan lembut El sekarang? Sepertinya ada yang tidak beres. Jangan jangan dia sudah dirasuki roh halus yang ada di rumah sakit ini.
"I-iya, kita akan menikah." Abrine menunduk, malu dengan jawabannya pada Elrich.
Elrich tersenyum tipis. Dia melihat Abrine mulai jinak padanya sekarang. Hanya diajak bicara lembut, gadis itu langsung malu-malu dengan wajah yang merona. Kenapa El merasa suka dengan hal ini. Haruskah dia menggoda Abrine lagi sekarang demi melihat ekspresinya selanjutnya.
"Kau tidak menjemputku di Bandara." El mematut wajah cemberut. Dia hanya ingin melihat bagaimana respon Abrine dengan ucapannya ini. Dia mau menggoda sang gadis.
"Aku tidak tahu kau akan kesini," sanggah Abrine mengadahkan wajah pada El.
"Aku meneleponmu ratusan kali. Wajar jika kau tak mengangkat panggilanku. Kau sibuk dengan pria itu!" Elrich bersedekap seolah tengah merajuk.
Abrine berdecih pelan tapi dia juga mengulumm senyum. Kenapa pula tingkah El seperti ini. Terkadang jika El begini mereka jadi terlihat seperti pasangan sungguhan saja.
"Kenapa senyum-senyum! Kau tidak tahu aku sangat marah!" kata El kemudian.
Akhirnya Abrine meledakkan tawanya. "Aktingmu luar biasa, Tuan! Meyakinkan sekali."
Elrich ikut terkekeh tapi kemudian wajahnya langsung berubah jadi raut serius kembali. "Kau bersalah! Ku hukum kau sekarang! Ayo beri aku pelukan!" kata El seraya membentangkan lebar kedua tangannya seolah ingin menyambut pelukan dari Abrine.
Abrine melotot. "Pelukan? Dalam mimpimu saja!" ujarnya sambil melengos pergi. Disaat itu juga dia masih menahan tawa karena sikap El ini justru membuat moodnya membaik.
__ADS_1
******
Sorry ya gaes, nunggu bocil tidur siang dulu baru bisa update ✌️ jangan lupa tinggalin jejak yaaaa🥰🥰