
Abrine memutuskan kembali ke kantornya. Begitu tiba didepan lobby, dia berpapasan dengan Anne yang juga baru selesai meeting di luar dengan Mr. Alison.
"Apa meetingnya lancar?" tanya Abrine dan diangguki oleh Anne.
Mereka berjalan beriringan ingin menuju ruangan Abrine yang ada di lantai 3. Namun belum juga mencapai lift, suara recepsionis memanggil Abrine karena baru menyadari kedatangan gadis itu.
"Ehm, Miss Abrine .... ada tamu yang sedang menunggu anda."
Abrine mengangguk, "Siapa?" tanyanya sambil berbalik hendak menuju ruang penerimaan tamu.
"Tuan Rodriguez."
Abrine menghela nafas pelan. "Baiklah, aku akan menemuinya."
Abrine tahu, jika pria itu tidak akan menunggunya di ruang tamu seperti tamu lainnya, karena Raymond Rodriguez terbiasa langsung mendatangi ruangannya di lantai 3.
Anne melihat gelagat lain dari raut wajah Abrine. Biasanya jika mendengar nama Rodriguez disebut, wajah gadis itu akan langsung semringah dan memerah. Lain halnya dengan hari ini.
"Anda tidak apa-apa, Miss?"
"Huh? Fine, semuanya baik-baik saja." Abrine memasuki lift yang pintunya sudah terbuka bersama-sama dengan Anne.
Anne duduk di mejanya yang berada didepan ruangan Abrine, sementara Abrine sendiri menghela nafas sejenak sebelum menekan kenop pintu.
"Kenapa kau tidak mau menjawab teleponku, Brine?"
Begitu Abrine masuk, Raymond segera menanyainya.
Abrine memaksakan untuk mengulas senyum. Hatinya sebenarnya belum siap untuk melihat Raymond lagi saat ini. Tapi, jikapun dia tidak bertemu Raymond dalam satu Minggu saja, pasti mereka sama-sama saling mencari. Itulah kebiasaan mereka sejak dulu.
"K-kau tidak bekerja?" Abrine berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia meletakkan tas diatas meja kerja dan berdiri tak jauh dari Raymond sambil melipat kedua tangan didepan dada. Sejujurnya, dia sedang mencoba bersikap biasa saja didepan Raymond, meski sebenarnya, setiap melihat paras tampan dan mengingat kebaikan pemuda ini padanya, hatinya selalu goyah dan kembali merasakan sakit itu lagi.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Brine..." Raymond melirih, dia bangkit dari duduknya dan ikut berdiri disisi Abrine. "Kau bahkan tidak memberitahuku jika kau sudah keluar dari Rumah Sakit."
Abrine menyengir, tentu itu terpaksa dia lakukan dihadapan Raymond.
"Maaf, aku pikir aku tidak perlu memberitahumu segala sesuatu yang ku lakukan. Aku rasa itu tidak terlalu penting."
Raymond tersenyum tipis menatap Abrine. "Kau tahu jika kau selalu penting untukku, bukan?" ujarnya lembut.
Entah kenapa sejak Abrine mengaku cemburu pada Raymond dan sejak pemuda itu juga mengaku bahwa dia menyukai Abrine, tingkah Raymond berubah menjadi lebih melunak begini. Kendati sejak dulu Raymond sudah bersikap baik pada Abrine, tapi sekarang sepertinya ada yang berbeda dari sikap dan tutur bicaranya.
Abrine mengangguk, tak berani menatap sorot mata Raymond yang seakan menghujam tepat ke jantungnya. Kini, detak jantungnya berdentum-dentum. Sia lan, rasa itu masih sangat kuat untuk Raymond.
"Aku mengkhawatirkanmu. Kenapa kau langsung bekerja, hmm?" Raymond mendekat dan memperhatikan perban di pelipis Abrine dari jarak dekat. "Brine, luka dibalik perban itu bahkan belum kering," lanjutnya.
Lihat! Dengan bodohnya Abrine malah diam saja dan menikmati sikap protect yang Raymond lakukan kepadanya.
__ADS_1
Abrine mengadah, bersamaan dengan itu Raymond juga menundukkan pandangan. Kini, dalam jarak yang tak sampai sejengkal diantara keduanya-- mereka saling bersitatap satu sama lain.
Jemari Raymond berangsur untuk merapikan anak-anak rambut Abrine dengan perlahan, menghanyutkan gadis itu hingga membuatnya terlena dan memejam. Melihat itu, Raymond tak mau menyia-nyiakan kesempatan, dia pun memangkas jarak yang tersisa diantara mereka.
Abrine dapat merasakan hangat nafas Raymond yang sangat dekat dengannya. Ini adalah momen yang dia tunggu. Senakal-nakalnya dia selama ini, dia tak pernah berhubungan dengan lelaki selain untuk urusan yang melibatkan pertikaian otot, keonaran, dan kegiatan sosial. Berbeda saat dia dengan Raymond, hubungan mereka memang terjalin sebagai sahabat dekat dan saling memperhatikan satu sama lain sejak lama. Mungkin inilah saatnya, saat untuk mereka bersama bukan sebagai sahabat lagi, tapi ....
Abrine membuang pandangan seketika, padahal bibir Raymond hampir mendarat dibibir lembutnya. Dia mendorong pelan dada Raymond dan kemudian beringsut menjauh dari posisi pemuda itu.
Raymond menatapnya dengan sorot tak percaya, lebih tepatnya kecewa. Apa yang ada dipikiran Abrine? Mereka nyaris berciuman barusan, awalnya menerima tapi tiba-tiba Abrine seakan menolak momen itu dengan sengaja?
Abrine segera duduk di kursi kebesarannya. Sebuah meja besar kini menjadi penghalang jarak diantara mereka. Anggaplah itu sebagai tameng perlindungannya.
Raymond membungkukkan badan dengan kedua tangan yang bertumpu dibibir meja, dia merunduk demi menatap serius kearah Abrine, seolah menuntut penjelasan atas sikap gadis itu. "Kenapa?" lirihnya.
Abrine memijat pelipisnya. Dia memang menginginkan momen itu. Dia ingin menyerahkan ciuman pertamanya pada pemuda yang sudah dicintainya bertahun-tahun dalam diam ini. Tapi, saat dia memejamkan mata tadi, mendadak dia mengingat kejadian malam itu. Dimana dia memergoki Raymond dan Freya sedang bersama. Bayangan tentang hal itu terlintas dibenaknya.
Abrine menjadi hilang minat seketika, membayangkan bibir yang akan menyentuhnya pernah menyentuh bibir gadis lain. Saat dia ingin sekali memeluk tubuh atletis itu, tapi dia kalah langkah, kalah jauh, karena ternyata tubuh itu bahkan sudah dimiliki oleh orang lain.
"Kita saling menyukai, bukan?" Raymond berdecak lidah sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Abrine menolaknya setelah mereka saling tahu perasaan masing-masing.
"Aku tidak bisa. Aku tidak bisa!" jawab Abrine serius.
"Ya, kenapa? Karena kau sudah tidak menyukaiku lagi?"
Abrine menggeleng. Tentu saat ini dia masih amat sangat menyukai bahkan mencintai Raymond, meski entah sampai kapan perasaan itu. Tapi, melakukan hal itu rasanya sulit karena dia harus berperang dengan keegoisan dirinya sendiri yang disatu sisi justru menolak perlakuan intens Raymond kepadanya.
Raymond terdiam, dia tak mengira hal itulah yang masih dipikirkan Abrine hingga saat ini.
"Jadi, kau ingin aku putus dengannya? Aku akan melakukan hal itu jika memang kau memintanya, Brine."
"Apa?" Abrine berdiri dari posisinya, tampak terkejut. "Kau belum memutuskannya?" tanyanya diakhiri dengan decihan pelan.
Raymond kembali diam. Abrine seperti tengah berlaku sarkas padanya sekarang.
"Jadi benar kata Freya kalau kalian berpacaran? Kenapa malam itu kau mengatakan itu hanya ons?" Abrine pun mendengkus pelan. "Ku pikir aku akan mempercayaimu saja mengenai hubungan kalian dan mengabaikan ucapan Freya waktu itu. Tapi ternyata kata-katamu barusan membuatku sadar, Ray!"
"Sadar? Sadar apa?" Raymond mulai menaikkan intonasi suara.
"Sadar bahwa kau terbiasa seperti ini."
"Apa maksudmu?"
"Kau masih terikat status dengan Freya tapi bisa-bisanya kau mau menciumku hari ini. Apa kau terbiasa melakukan hal ini pada gadis lain? Mempermainkan mereka?" sindirnya.
Raymond mendengkus keras mendengar itu. Dalam hati dia merutuk dirinya sendiri karena sudah melakukan hal ini, dia bukan memikirkan Freya melainkan Abrine. Pendapat Abrine bagai menampar keras perlakuannya tadi.
Hening, tak ada yang bersuara lagi diantara keduanya.
__ADS_1
"Brine...." Raymond lebih dulu memecah keheningan itu.
"Hmm?"
"Maafkan aku. Tapi, tidak semua pemikiranmu itu benar."
"Pemikiran yang mana?" tanya Abrine acuh tak acuh.
"Mengenai sikapku yang terbiasa melakukan hal ini. Tidak seperti itu. Hanya sekali ini, aku tidak bermaksud mempermainkan perempuan. Ini terjadi karena aku tidak bisa menahan perasaanku lagi didepanmu, Brine...."
Abrine mengembuskan nafas perlahan. "Bisakah kau jangan menemuiku lagi?" tegasnya to the point.
"Brine!" Raymond berseru. Sekali lagi dia tak habis pikir dengan ucapan yang Abrine lontarkan.
"Please!" mohon Abrine. "Jangan muncul lagi didepanku!"
"Aku tidak bisa melakukan hal itu. Kau tahu itu!" tegasnya.
"Harus bisa! Aku tidak akan bisa melupakanmu jika kau terus ada dihadapanku!" pungkas Abrine terus terang.
"Kalau begitu, jangan lupakan aku! Aku akan melepaskan Freya. Kita mulai semuanya dari awal. Bersama," tandas Raymond pula.
Abrine menggeleng. Meski rasa cintanya amat dalam untuk Raymond, tapi dia masih waras. Sekali lagi, dia masih waras. Titik.
"Kalau kau melakukan itu, sama saja jika kau ingin memberiku label bahwa aku ini gadis perebut pacar orang, Ray."
"No!" Raymond menggeleng keras. "Sejak awal memang seharusnya kita yang bersama. Freya hanya batu sandungan untuk kita."
"Ray, dia kekasihmu! Berpikirlah!"
"Sudah ku katakan bahwa aku tidak bermain rasa dengannya. Just have fun!"
"Lalu, denganku? Kau juga akan membuatku sebagai alat kesenanganmu?"
Raymond terkesiap dan memutuskan tak menjawab. Dia berusaha mencerna dan memikirkan ujaran Abrine kali ini, dia tak mau salah memberi jawaban, yang nanti akan disesalinya.
"Jika di kepalamu masih ingin bersenang-senang dan menganggap Freya adalah orang yang tepat untuk mewujudkan itu, maka tetaplah bersamanya. Jangan mengharapkan aku, karena aku tidak bisa memberimu apa-apa, apalagi kesenangan semu semacam itu." Abrine menatap tajam pada Raymond. "Kau tahu kan, aku bukan gadis seperti itu! Aku memang berandalan, tapi urusan hubungan, aku mau yang lurus-lurus saja. Kau mengerti, bukan? Aku masih menjunjung tinggi budaya ketimuran yang ku miliki."
Raymond pulang dengan rasa kecewa. Dia ingin memikirkan lagi ucapan Abrine. Dia tahu Abrine adalah gadis yang memiliki harga diri tinggi yang tidak bisa dia perlakukan seperti gadis-gadis lain yang dengan mudah dia kencani. Justru hal itulah yang membuatnya menyukai Abrine. Tapi, hal ini pula yang membuatnya kepikiran. Apakah dia juga akan membuat Abrine menjadi seperti Freya nantinya? Tapi, bagi Raymond tentu Abrine selalu berbeda dari gadis manapun yang dia kenal selama ini.
Sekarang Raymond sadar akan ucapan Abrine. Masalahnya bukan ada pada Abrine, tapi pada dirinya sendiri. Apakah dia masih mau bersenang-senang? Jika ya, maka bukan Abrine gadis yang cocok untuk dia. Jika dia siap memilih Abrine maka dia harus siap pula untuk mengikuti alur Abrine yang lurus.
Abrine sendiri, kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Tak lupa disaat sibuknya dia mengabari keluarganya di Indonesia.
Menjelang malam, Abrine kembali ke Apartmen dan merenung. Dia sudah melepas Raymond dan meminta pemuda itu untuk tidak muncul lagi dihadapannya. Tapi, di lubuk hatinya yang terdalam, dia berharap jika Raymond mau memikirkan kata-katanya dan mau berubah. Sampai suatu saat nanti mereka bisa bersama dengan tidak menyakiti hati siapapun termasuk Freya.
*******
__ADS_1