PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
70. Tes kehamilan


__ADS_3

"Apa kau masih mencintai Pevita? Apa kau pernah berniat untuk menebus rasa bersalahmu padanya setelah dia meninggal?"


"Aku memang merasa bersalah padanya, tapi aku sudah melupakannya jauh sebelum kita saling mengenal, Brine."


"Jadi, apa kau mau menebus rasa bersalahmu itu?"


"Ya, jika bisa aku akan melakukannya. Tapi aku tau itu tidak akan bisa, Brine. Jangan membahas hal ini lagi, hmm?"


Mau tak mau Abrine mengangguk juga.


Keesokan harinya, Abrine benar-benar melakukan pengecekan dengan testpack. Dia menunggu dengan harap-harap cemas dan ternyata dia memang positif hamil.


Entah bagaimana dia harus mengekspresikan diri, harus senang atau justru sebaliknya? Bukan karena dia tak menginginkan anak yang tengah dia kandung tapi dia justru meragukan perasaan suaminya.


"Apa yang ku harapkan lagi darinya? Bukankah dia sudah mengatakan jika dia mencintaiku? Lalu, aku harus menuntutnya apa lagi?" batin Abrine seakan menyadarkan dirinya sendiri. Dia tidak mungkin seperti ini terus. Dia harus yakin pada suaminya.


Abrine tau, dia tidak boleh egois. Dengan El bisa mencintainya saja seharusnya dia sudah bersyukur.


Akhirnya dia keluar dari kamar mandi dan mendapati El yang tengah menyisir rambutnya disana.


"Bagaimana?" Rupanya El juga tengah menunggu kabar dari sang istri, tentunya tentang hasil tes itu. Dia tahu Abrine tengah mengeceknya tadi.


"Aku menggunakan tiga testpack...." Abrine menggantung kalimatnya.


"Lalu? Apa hasilnya?"


"Maaf...." lirih Abrine.


El menghela nafas panjang. "Tidak apa, sayang. Kita masih bisa mencobanya lagi. Kita punya waktu selamanya untuk bersama-sama, jika memang belum diberi maka itu bukan rezeki kita," ujar pria itu disertai senyum tipis.


"El?" Abrine tak menyangka suaminya menjawab dengan bijak.


"Ya?"


"Jika akhirnya aku tidak bisa memberimu keturunan, bagaimana?"


Elrich mengendikkan bahu. Dia memegang kedua pundak sang istri dan menatapnya dengan sangat dalam.


"Listen to me.... pernikahan itu bukan semata-mata tentang anak. Kau tahu, anak itu adalah bonus dari sebuah pernikahan jadi itu tidak wajib dimiliki."


"Tapi.... kau sangat menginginkannya, kan?"


"Ya, tapi semua garis kehidupan sudah ada yang menentukan. Aku mana bisa menentangnya, sayang."

__ADS_1


Abrine tertunduk lesu. Membuat El mengelus-elus pundak istrinya dengan penuh kasih sayang. El pikir wajar jika Abrine merasa sedih karena hasil tes nya negatif.


"Sekarang aku tanya padamu, jika ternyata aku yang tidak sehat dan tidak bisa memberimu keturunan, bagaimana?" tanya El. Padahal dia sudah tahu jika masalah kesuburannya baik-baik saja.


"Ya, kita bisa mendapatkannya dengan cara lain. Kita bisa mengadopsi. Banyak anak di panti yang akan melengkapi pernikahan kita," ujar Abrine sungguh-sungguh. Mungkin itu alternatif terbaik jikalau El tak bisa membuahinya, tapi saat ini Abrine sendiri tahu bahwa dia tengah hamil hanya saja dia belum mengatakan secara terus terang pada El.


"Ya, itu ide yang bagus. Tapi, jika memang begitu apa kau akan meninggalkanku?"


"Ya tidak!" jawab Abrine cepat.


"Kenapa?"


"Karena.... karena.... saat ini aku hamil anakmu, mana mungkin aku meninggalkanmu!" cetusnya.


Mata El membola mendengar ucapan Abrine.


"Jadi, kau membohongiku?"


Abrine tergelak melihat raut marah El. Dia justru mencubit kedua pipi suaminya dengan gemas.


"Tadinya mau buat kejutan, tapi aku ingin tahu dulu pendapatmu jika ternyata aku tidak bisa hamil, bagaimana. Rupanya jawabanmu membuatku cukup speechless."


"Kau tahu, aku sangat senang mendengar kau hamil." El mengepalkan tangan sambil bersorak kegirangan. Seperti pemain bola yang baru saja berhasil mencetak gol ke gawang lawan.


"Kenapa kau mengatai suamimu sendiri, sayang. Ini bentuk euforiaku karena ternyata usahaku yang hampir setiap malam itu berhasil."


"Cih!" Abrine berdecih sambil mengulumm senyum.


"Kalau begitu, ayo!" El menarik tangan istrinya, membuat Abrine terkejut sekaligus keheranan.


"Kemana?"


"Ke rumah sakit. Kita USG."


El tak menerima penolakan, dia langsung menggendong tubuh istrinya dengan kedua tangan. Bahkan Abrine sampai memekik karena tingkah El yang berlebihan.


"Aku belum ganti baju, El! protes Abrine. Saat ini dia hanya mengenakan kaos rumahan disertai celana kain selutut.


"Tak masalah, istriku cantik mengenakan apa saja. Apalagi saat tak mengenakan apapun!"


Abrine segera menyumpal mulut suaminya yang tidak bisa difilter. "Dasar dokter me sum!" gerutunya.


Sesampainya di rumah sakit. El tidak langsung masuk ke ruangannya. Dia lebih dulu menemani Abrine untuk ke poli kandungan.

__ADS_1


"Selamat. Saat ini anda tengah hamil 3 minggu, Nyonya."


Abrine dapat merasakan sebuah alat yang kini menyentuh lembut bagian perutnya. Ya, dia tengah di USG.


"Ternyata, disini ada dua titik." Dokter kandungan itu menatap Abrine semringah. "Dapat dipastikan jika anda tengah hamil anak kembar," ujarnya lagi.


Abrine dan El terperangah bahagia. Keduanya saling menatap dengan binar kebahagiaan yang terpancar jelas. Mereka tak menyangka jika langsung diberikan berkat dua anak sekaligus.


Salah satu faktor adanya kehamilan kembar, yaitu bisa didapatkan dari garis keturunan. Kebetulan Abrine memang mempunyai gen itu, kan?


Airish--saudari kembar Abrine--tidak melahirkan bayi kembar. Rahelsa istri Aarav juga tidak, atau mungkin belum. Betapa beruntungnya Abrine yang lebih dulu merasakan hamil kembar seperti ini.


"Jaga kandungan anda baik-baik, Nyonya. Jika ingin tahu jenis kela min bayinya kita bisa melihatnya diusia kandungan 18 Minggu," papar Dokter Stella.


"Terima kasih, Dokter Stella."


"Ya, selamat untukmu Dokter Elrich. Kau harus menjaga istrimu dengan sangat baik. Dia bukan hanya mengandung satu bayi. Jadi, pastikan juga dia tidak kekurangan gizi," canda dokter Stella.


"Tentu saja, aku akan memberikan yang terbaik untuk istriku, Dokter."


*****


Sepanjang perjalanan pulang, Abrine mengelus perutnya dengan tidak henti-hentinya. Senyumnya merekah, ternyata mengetahui dia benar-benar hamil dan saat menyaksikan kondisi janin dalam kandungannya, membuat dia merasa antusias dan bersemangat kembali.


Awalnya dia merasa sedih jika menghubungkan kehamilan ini dengan mendiang Pevita. Tapi selanjutnya dia merasa masa bodoh. Terserahlah jika nanti El akan menganggapnya Pevita atau bagaimana, yang jelas dia akan mempertahankan bayi-bayinya hingga titik darah penghabisan.


"Kau masuklah, aku akan kembali ke Rumah Sakit." El mencubit pipi Abrine sekilas.


Saat Abrine ingin masuk rupanya El menahan lengannya.


"Aku hampir lupa. Mulai saat ini aku juga ingin berpamitan dengan calon anak-anakku."


El merunduk, berlutut dilantai dan mencium perut istrinya yang masih tampak rata.


"Dengar, Daddy akan bekerja. Jadi, kalian jagalah Mommy baik-baik. Jangan merepotkannya juga. Tunggu Daddy kembali di sore hari." El mengelus-elus perut Abrine dengan penuh kasih sayang.


Abrine terenyuh melihatnya. Jika nanti anaknya sudah lahir, pasti El akan menjadi ayah yang siaga dan sangat menyayangi mereka.


El kembali berdiri. Dia menatap Abrine dalam.


"Terima kasih kau mau mengandung anakku. Aku sangat mencintaimu, Brine." El menutup pembicaraan mereka dengan sebuah kecupan manis yang dilabuhkan di dahi istrinya.


Abrine menatapi punggung El yang telah berlalu. Betapa dia merasa beruntung dicintai pria itu. Semoga saja El benar-benar menganggap dia adalah seorang Abrine bukan Pevita yang telah tiada.

__ADS_1


******


__ADS_2