
Malam itu, El tidak membiarkan Abrine lepas dari kendalinya. Dia lebih leluasa dari pertama kali mereka melakukannya sebab sekarang dia sudah berterus terang mengenai perasaannya. Beban yang ada dipundaknya seakan berguguran seiring dengan pengakuannya pada Abrine.
"Baby, you're so damn good...." racau El ditengah-tengah kegiatannya bersama sang istri.
Sementara Abrine, suaranya sampai serak meladeni El hampir sepanjang malam. Mulutnya bisa menolak, tapi tubuhnya selalu mengungkapkan yang sebaliknya, yaitu menginginkan lebih dan lebih daripada buaian yang dihujani suaminya. Selama ini, dia tidak tahu jika rasanya begini. Suatu rasa aneh yang melambungkannya sampai ke angan-angan tertinggi dan tak terperi.
El menuntaskan kegiatan itu untuk kesekian kali pada malam yang sama, dia mengisi ra him sang istri dengan be nihnya.
Abrine pun tidak bisa berkata apa-apa lagi selain merasakan nikmat yang kini sudah memenuhi dirinya. Dia sudah me-nge-rang hebat beberapa kali sebelum El menyudahinya.
"Cukup, El. Besok kita harus bekerja." Kalimat yang sama pun terucap kembali. Dia sudah mengingatkan El sejak tadi, tapi tidak juga digubris hingga akhirnya El mengulangi lagi dan lagi. Sekarang, dia berharap tenaga suaminya sudah terkuras habis agar tidak terus menggempurnya hingga pagi.
"Aku bisa modar, El!" keluh Abrine akhirnya. Elrich terkekeh pelan mendengar Abrine menyebut kata 'modar' yang dia tahu jika arti dari kata itu adalah tidak baik untuk dia juga nantinya.
"Iya, tadi itu yang terakhir untuk malam ini," sahut El tertawa. "Thanks, wifey...." El mengecup dahi Abrine dengan penuh kasih sayang.
Abrine mengembuskan nafas lega. Dia bisa tidur nyenyak sekarang, tapi sebelum itu dia harus membersihkan diri terlebih dahulu karena meskipun cuek dengan penampilan, Abrine adalah wanita yang pembersih.
"Ah, sepertinya aku tidak bisa bergerak!" gumam Abrine sambil melihat El yang memungut pakaian mereka dilantai dengan santai.
Mendengar itu, El meletakkan setumpuk baju mereka ke atas nakas, kemudian dia mendekat pada sang istri. Dia mengelus pelan perut rata istrinya. "Semoga kamu cepat hadir diperut Mommy ya, Sayang," tutur pria itu seakan bicara pada calon bayinya.
Abrine terkesima, dia tersenyum simpul mendengar ujaran suaminya. Ternyata, El benar-benar menginginkan dia agar segera mengandung.
"Amin...." kata Abrine mengaminkan ujaran El yang terdengar baik.
"Kamu gak keberatan hamil anakku, kan?" tanya El menatap Abrine dari posisinya. El menggunakan bahasa Indonesia yang entah kenapa Abrine selalu senang saat mendengarnya, walaupun artikulasi yang terdengar dari seorang Elrich terkesan aneh jika dibandingkan dengan Abrine yang asli Indonesia.
Abrine menyahut dengan bahasa yang sama. "Kalau kamu masih nyuruh pisah kamar, ya---"
Elrich langsung menutup bibir Abrine dengan telapak tangannya. "Maafkan aku soal itu, jangan dibahas lagi, ya," pintanya lembut.
Abrine mengangguk. Kemudian Elrich menggendong Abrine dikedua tangannya, membuat Abrine tersentak lalu terkekeh karena ulah El.
"Kenapa di gendong, El? Nanti aku jadi manja, maunya digendong setiap hari."
"Kamu bilang tidak bisa bergerak, kan? Ya sudah, lagipula manja padaku setiap hari tak masalah. Asal jangan manja pada pria lain." El berucap sambil tetap fokus membawa Abrine masuk ke dalam kamar mandi.
El menurunkan Abrine didekat pinggiran bathub, kemudian menyalakan keran air panas, mengatur temperatur suhu disana dan membantu Abrine membersihkan diri layaknya seorang bayi yang tengah dimandikan oleh ibunya.
"Aku bisa sendiri, El...." protes Abrine sambil terkikik.
"Aku ikhlas melakukannya, Sayang." El berujar sembari tetap fokus pada aktivitasnya, dia menyirami punggung terbuka sang istri dengan shower kemudian menggosoknya pelan menggunakan spons mandi.
__ADS_1
"Ah, aku semakin mengantuk, El."
"Iya, setelah ini selesai baru kita tidur, ya." El mengecupi wajah Abrine tanpa ada yang terlewat satu sentipun, dia melakukan itu agar Abrine tidak tertidur di bathub.
Setelah sama-sama bersih, El lebih dulu memakaikan Abrine pakaian dengan telaten, istrinya itu menerima semua perlakuannya dengan pasrah saja.
"Oh iya, hadiah apa yang kemarin diberikan oleh Mama Erika?"
Abrine menjawabnya sambil menguap. "Lingerie," jawabnya.
"Benarkah?" Elrich mengulumm senyum. "Pakai itu didepanku nanti," pintanya.
"Hmm," sahut Abrine sambil memejamkan mata. Lambat laun, Abrine pun mulai terlelap. Dia tidak sempat mengatakan bahwa ada obat 'kesuburan' yang diberikan oleh ibu sambung El itu.
Saat El sudah selesai dengan Abrine, dia tersenyum melihat sang istri yang sudah nyenyak. El pun menyelimuti Abrine lalu menyetel suhu kamar agar istrinya semakin nyaman. Setelah itu, barulah dia beralih pada dirinya sendiri.
El naik ke atas tempat tidur setelah mengenakan boxernya. Dia berbaring menyamping sambil memeluk sang istri. Dalam hatinya, dia akan sangat menyesal jika tadi tetap pada pendiriannya untuk tidur terpisah dari istrinya ini. Atau, dia akan lebih merutuki diri sendiri jika tadinya Abrine sampai benar-benar memutuskan pergi darinya.
"I love you," bisik El didekat wajah pulas wanitanya.
********
Abrine terbangun saat matahari sudah tinggi. Dia sadar bahwa dia kesiangan, tapi dia masih saja santai. Beberapa detik berpikir, barulah dia semakin menyadari jika ada sebuah kesalahan. Ah ya, dia baru ingat bahwa sekarang dia sudah berstatus istri, harusnya dia bangun lebih awal dan membangunkan suaminya. Ini pasti karena dia kelelahan akibat kejadian semalam.
Secara harfiah, Abrine pun menelisik kesamping tubuhnya, rupanya ruang yang ada disana terlihat kosong. El sudah tidak ada.
"El....." panggil Abrine dengan serak. Dia agak tertatih menuju kamar mandi, tapi kamar mandi itu juga kosong.
Tanpa sengaja, Abrine melihat sebuah nampan berisi roti bakar dan susu cokelat diatas nakas. Disana juga ada secarik kertas. Rupanya itu adalah nota yang ditinggalkan oleh suaminya.
..."Breakfast for my wife.... Aku dinas pagi, tidak tega membangunkanmu. Aku kerja dulu, Honey. Ah, iya aku meninggalkan obat untukmu, gunakan itu jika masih terasa perih. Nanti malam aku akan membantumu mengoleskannya lagi."...
Abrine pun menyadari ada sebuah obat oles disana.
Abrine tersenyum sesudahnya, dia malu sendiri karena selain El bangun lebih dulu daripada dia, suaminya itu juga menyiapkan sarapan serta obat untuknya. Ternyata El benar-benar memperhatikannya se-detail itu.
"Dia benar-benar ingin membuatku jatuh cinta rupanya," gumam Abrine senang. Dia memakan roti bakarnya dengan senyuman.
"Ehm, bagaimana kalau hari ini aku berbelanja dan mengirimkan El makan siang." Abrine sudah memikirkan rencana untuk siang nanti. Dia tidak sabar melakukannya, padahal selama ini dia tidak pernah khusus memasakkan seseorang kecuali untuk dirinya sendiri. Soal pekerjaannya di kantor, sementara nanti bisa diurus oleh Anne.
"Tapi, El suka makanan apa, ya?" Abrine bermonolog. Dia ingin menebak makanan kesukaan El tapi dia takut salah. Dia memilih menghubungi Yemima agar diberikan saran.
"Mima, makanan apa yang disukai El?"
__ADS_1
"Mana ku tahu...." jawab Yemima yang merasa agak aneh dengan pertanyaan Abrine. "Tapi, tunggu dulu, kenapa kau menanyakan ini? Bukankah kemarin kau marah padanya dan mengatakan padaku ingin pisah rumah sementara dengannya?"
Abrine menyengir ditempatnya, meski Yemima tidak bisa melihat itu, tapi Yemima bisa menebak situasi sekarang.
"Kau sudah berbaikan dengan suamimu?"
"Sudah...."
"Apa terjadi malam panas diantara kalian semalam?" goda Yemima.
"Hmm, begitulah....."
"Sudah tahu rasanya bagaimana? Kau ketagihan, kan?" cibirnya.
"Si-alan. Cepat beritahu aku apa makanan yang kira-kira disukai El?"
"Itu suamimu, mana ku tahu! Kalau kau bertanya makanan kesukaan Xander barulah aku tahu," omel Yemima.
Abrine sebenarnya mengiyakan jawaban Yemima dalam hatinya. Mana mungkin Yemima tahu, tapi dia pun bingung harus memasakkan El makanan apa.
"Coba kau tanyakan pada Xander, mereka kan dekat, pasti Xander cukup tahu makanan yang El sukai. Nanti segera beri tahu aku, okey?"
"Baiklah Nyonya besar...."
Abrine terbahak mendengar panggilan baru yang diberikan Yemima padanya.
Dia memutuskan untuk segera mandi dan bersiap. Tak lupa, dia juga mengoleskan obat oles berupa gel bening itu dibagian in-ti tubuhnya yang memang masih terasa perih.
Walaupun keadaan tubuhnya hari ini sangat lelah dan kurang fit, tapi hati dan perasaan bahagia membuatnya bersemangat untuk segera berbelanja bahan makanan di supermarket. Dia juga mau menyenangkan El hingga memenangkan hati pria itu, itulah tekadnya.
Abrine pun tiba di supermarket lalu mulai berbelanja disana. Dia memilah-milih bahan makanan dasar seperti bumbu dan yang lainnya. Untuk yang pokok, dia menunggu pesan dari Yemima saja.
Tak berapa lama Yemima mengirimkan pesan bahwa Xander mengatakan jika Elrich sangat menyukai seafood. Abrine segera beranjak ke area penjualan makanan laut yang ada dikawasan supermarket itu.
"Abrine...."
Abrine menoleh dan seseorang dengan troli belanjaan juga tengah berada diarea yang sama dengannya.
Abrine ingin tersenyum ramah pada orang itu, tapi orang itu malah menampar pipi Abrine hingga pipinya memerah dan memanas. Hal itu tak pernah Abrine kira.
"Apa yang kau lakukan?" marah Abrine tak terima. Dia pun segera membalas perlakuan orang itu dengan tamparan yang lebih keras karena berkelahi adalah keahliannya.
Plak!
__ADS_1
"Kau cari masalah denganku?" berangnya.
******