
Diperjalanan pulang, El sesekali melirik pada istrinya yang duduk tepat disampingnya.
"Kenapa?" Abrine memutuskan bertanya, sebab dari tadi dia melihat El yang seolah ingin berucap sesuatu namun tampak masih enggan.
"Kau tidak cemburu?"
Abrine mengernyit dengan pertanyaan Elrich.
"Cemburu? Cemburu apa?"
"Membiarkan Anne dan Raymond disana."
Abrine malah terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kau tidak sakit hati? Jika mereka benar-benar berkencan, bagaimana?"
"Ya, bagus..." sahut Abrine tanpa pikir panjang.
"Tidak cemburu?" Sekali lagi Elrich ingin meyakinkan diri dengan jawaban sang istri.
"Kenapa aku harus cemburu, El? Yang bersama Anne itu Raymond. Bukan kau. Bukan suamiku."
Wah, Elrich sampai mengembangkan senyuman selebar-lebarnya saat mendengar jawaban istirnya. Beberapa detik dari itu, dia justru bersiul-siul girang.
"Kenapa kau menanyakan itu?"
"Aku hanya ingin memastikan. Kau tidak memiliki rasa lagi pada Raymond."
"Tidak, sayang...." jawab Abrine dengan intonasi selembut mungkin membuat El terkekeh pada akhirnya.
Mereka tiba di Apartmen dan disambut oleh maid yang belakangan hari sudah bekerja disana.
Abrine memang membiarkan wanita paruh baya itu untuk membersihkan rumah dan mencuci baju-baju mereka. Tapi, dia tetap mengusahakan sebisa mungkin agar sang suami makan masakannya.
"Mandilah, aku akan menyiapkan makan malam kita."
"Kau tidak lelah?" Elrich memeluk pinggang Abrine yang mulai terasa lebih berisi.
"Lumayan, tapi kebanyakan Anne yang mengambil alih pekerjaanku. Hanya memasak saja tak apa, El."
"Baiklah, aku mandi dulu." El mengecup dahi Abrine sekilas dan berlalu.
Abrine mulai beraksi di dapur. Dia memasak menu simpel untuk menu makan malam mereka.
"Saya permisi pulang, Nyonya."
Maid yang bekerja dirumah mereka memang akan pulang ketika Abrine dan El juga sudah pulang dari bekerja.
"Baiklah, hati-hati dijalan Bibi Daisy."
Wanita paruh baya itu tersenyum dan keluar dari apartmen mereka. Kini Abrine benar-benar tinggal berdua lagi bersama suaminya didalam Apartmen.
Tak berapa lama Abrine pun sudah selesai dengan masakannya. Dia akan memanggil El untuk makan malam bersama.
__ADS_1
Sesampai di kamarnya, Abrine justru mendapati El yang bersandar di kepala tempat tidur sambil meluruskan kaki. Pria itu terlihat belum mandi dan hanya bermain ponsel sampai tidak menyadari Abrine yang sudah masuk kedalam kamar.
"El, kenapa belum mandi?"
Disitulah El baru melihat pada sang istri. Dia melemparkan senyum kecil. "Aku mau mandi bersama istriku," jawabnya tanpa canggung.
"Ah, El.... yang benar saja."
"Kalau kau tidak mau, tak masalah. Tapi izinkan aku memandikan bayi-bayiku."
Senyum El berubah menjadi seringaian tipis membuat Abrine mendengkus pelan. El memang tak mempermasalahkan penolakannya, tapi pria itu justru berdalih dengan mengatasnamakan bayi-bayi yang masih didalam perutnya. Dengan kata lain, tetap saja dia harus ikut mandi bersama juga, kan?
Sepersekian detik berikutnya, Elrich justru sudah berdiri dibelakang punggung Abrine. Dengan sengaja dia malah meniup-niup tengkuk sang istri.
"El!" Abrine mele nguh akibat aksi suaminya. Dia tau El tengah menggodanya sekarang.
Elrich menyeringai. Dia menggendong Abrine di kedua tangannya dan membawanya kedalam kamar mandi.
El mengelus perut Abrine yang sudah terbuka. Kemudian dia berbicara disana, seolah tengah mengajak bayi mereka mengobrol.
"Daddy ingin memandikan kalian..."
Abrine terkikik geli dengan ucapan El itu. Dia meletakkan kedua tangannya di pundak sang suami, memberikan akses untuk El menciumi perutnya dan mengelus itu sesuka hati.
Sewaktu-waktu, El menempelkan telinganya diperut sang istri.
"Sayang, aku bisa mendengar mereka bicara," celetuk El tiba-tiba. Padahal Abrine sedang menikmati sentuhan El yang tengah menyabuni perut dan pahanya.
"Apa kata mereka?" tanya Abrine meladeni kekonyolan suaminya.
Abrine menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengulumm senyum. Tapi, tentu saja penolakannya tidak digubris oleh Elrich yang langsung mengambil kendali.
Mereka ber cinta di dalam bathub yang dipenuhi busa sabun dan air hangat ber-aromatherapi.
...Skip___________...
Setelah selesai dengan kegiatan yang cukup menguras energi namun katanya menyehatkan itu, Abrine pun mulai menanyai sang suami.
"El, apa kata nenek?" tanyanya sambil mengelus-elus dada bidang pria itu.
Elrich menghela nafas pelan. "Beliau bersikeras agar aku menggantikan posisinya."
"Lalu, apa jawabanmu, El?"
"Aku menolaknya. Tak apa, kan?" El takut jika Abrine akan kecewa dengan keputusannya.
"Semua terserahmu, Sayang... aku tidak memaksamu untuk menerima itu."
Dalam hati Elrich sangat bersyukur dengan jawaban istrinya. Andai istrinya adalah salah satu wanita yang haus harta dan kekayaan, andai pula wanita yang dia nikahi ini lebih memilih kekuasaan ketimbang kenyamanan hidup mereka, maka El tidak tahu harus bagaimana sekarang.
Sementara El sendiri bimbang mengenai harta warisan dan hak yang memang diatasnamakan miliknya tersebut.
"Aku merasa tidak memiliki keahlian dalam bidang yang dirintisnya. Jadi, semua ini seperti beban tersendiri untukku, bukan malah sebaliknya."
__ADS_1
Abrine tersenyum kecil. Jika Elrich serakah, maka pasti dia akan menerima begitu saja harta sang nenek tanpa memikirkan hal apa yang terjadi kedepannya.
Tapi El berbeda, El pasti memikirkan dampak perusahaan neneknya di kedepan hari. Jika El menerima tanpa memiliki keahlian, maka sama saja dengan nol. Perusahaan itu akan bangkrut dan rusak ditangannya dan dia tidak mau itu terjadi karena El sadar kualitas dirinya sendiri.
"Jika kau memang mau, kau bisa mempelajari ilmu bisnisnya, El. Kau pasti mampu." Abrine berusaha menyemangati Elrich.
Elrich menatap kedalam manik mata sang istri. "Ya, sayangnya aku memang tidak tertarik."
"Jadi, apa kata nenek setelah kau menolaknya?"
Elrich tersenyum getir. "Beliau malah ingin semuanya menjadi milik anak-anak kita. Aku tidak sengaja mengatakan jika kau sedang hamil."
"Ya sudahlah, El. Lagipula nenek memang berhak tau. Ini cicitnya juga, kan?"
Elrich menyugar rambutnya ke belakang. Dia juga mengusap wajahnya berulang kali.
"Entahlah, aku tidak bisa berpikir, sayang," ujarnya sembari menyurukkan wajah di ceruk leher sang istri.
*****
Disisi lain, Erika baru saja tiba di Jerman. Setelah menunggu cukup lama dan Wildan tak memberi hasil apa-apa. Erika memutuskan untuk turun langsung dan ikut menyusul ke negara tersebut.
Wildan menyambut kedatangan sang ibu dengan wajah yang ditekuk. Dia tak setuju Erika ikut kesini. Dia percaya bisa menyelesaikan semuanya sendiri tanpa bantuan Erika.
Sedikit banyak, Wildan justru khawatir dengan kedatangan sang ibu yang terlihat sangat berniat untuk memisahkan Elrich dengan Abrine bahkan mengalahkan keinginan Wildan sendiri.
Entah kenapa Erika selalu mendoktrin Wildan-- bahwa Abrine tidaklah bahagia dengan pernikahan sementaranya bersama Elrich.
Hal itulah yang mendorong Wildan untuk semakin ingin memisahkan mereka. Padahal, jika mengikuti kata hatinya, Wildan akan merelakan Abrine jikalau wanita itu memang sudah bahagia dengan pernikahannya dengan Elrich.
Tapi, menurut Erika, Wildan terlalu naif apabila merelakan Abrine begitu saja. Bagaimanapun, Elrich dan Abrine harus berpisah.
Kejadian yang menimpa Claire cukup membuat Wildan berpikir, dia tidak mau mengotori tangannya sama seperti perbuatan Claire hingga menyebabkannya masuk ke dalam sel tahanan.
Jadi, Wildan memilih jalan yang lebih ringan dengan mempengaruhi perasaan Abrine. Sayangnya, Erika yang mendengar itu tak setuju. Dia malah ingin jalan pintas untuk memisahkan mereka.
Sampai-sampai Erika rela menempuh perjalanan jauh demi menyokong Wildan agar bisa memisahkan El dengan Abrine.
"Ma, gak perlu lah sampe nyusul aku kesini... aku bisa nyelesaiin ini sendiri."
"Lama!" ketus Erika. "Mama tuh gak sabar sama cara kerja kamu. Apa sih yang kamu lakuin sebulanan disini?"
"Kerjaan aku juga bukan cuma ngikutin kemana kak El, ma.... aku juga mantau restoran dan pekerja aku dari sini."
"Halah.... kamu aja yang gak bener-bener fokus sama rencana awal kedatangan kamu kesini. Ingat gak, tujuan utama kamu apa? Misahin El dan Abrine, Erland!"
"Jadi, Mama mau gimana? Kenapa mama ngebet banget biar mereka pisah? Bahkan lebih ngebet dari aku!"
"Kok mama? Ini juga demi kamu. Apa kamu gak mau dapatin Abrine?"
Selalu jawaban yang sama yang diucapkan Erika jika Wildan sudah mengatakan bahwa Erika tampak sangat terobsesi dengan hal ini.
"Udahlah, Ma. Ngantuk... aku mau tidur!" Wildan berlalu meninggalkan Erika yang bersungut-sungut melihat tingkahnya.
__ADS_1
****