PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
6. Permintaan maaf


__ADS_3

Sementara di ruangannya, Abrine tampak uring-uringan karena kedatangan Raymond beberapa saat lalu. Tidak dipungkiri bahwa ucapan pemuda itu cukup membuatnya kepikiran.


Apa benar Raymond juga menyukainya? Jika benar begitu maka dia pun merasa amat bahagia. Tapi, entah kenapa rasa sakitlah yang kini terasa lebih dominan dihatinya.


Perasaannya yang menggebu-gebu pada Raymond tentu tidak bisa lenyap begitu saja meski telah memergoki Raymond dan Freya waktu itu. Pemuda itu juga terbukti membohonginya dan berpacaran dengan Freya secara diam-diam. Itulah yang membuatnya sangat sakit hati. Tapi, haruskah dia tetap mempertahankan perasaannya untuk Raymond setelah merasa terluka seperti ini?


"Permisi, Nona. Ini adalah makan siang Anda."


Seorang perawat kembali menyajikan makan siang beserta obat. Abrine teringat sesuatu dan itu adalah ponselnya yang kehabisan baterai. Dia meminta tolong pada perawat itu untuk mengisi daya benda pipih tersebut, karena dia akan menghubungi orangtuanya. Tentu bukan untuk menceritakan masalahnya saat ini, melainkan dia sadar jika sejak kemarin dia tidak meninggalkan kabar apapun untuk keluarganya.


Biasanya, Abrine rutin mengirimi Mama Raya pesan ataupun menelepon hanya untuk menanyakan kegiatan wanita yang melahirkannya itu. Ataupun, dia saling bercengkrama via video call dengan Kakaknya Aarav, Rahelsa dan keponakannya, Gala. Dia juga rutin menanyakan kabar Airish--adik bungsunya--yang tengah hamil tua saat ini. Tapi, karena kejadian kemarin dia belum memberi kabar sama sekali, pasti semuanya sudah mulai kebingungan mencari kabarnya sebab hilangnya komunikasi dengan dirinya.


Soal keadaannya saat ini, mungkin Abrine akan merahasiakannya dulu. Entahlah, dia hanya tidak mau semua keluarganya cemas apalagi ada jarak yang terbentang diantara mereka.


"Ada lagi yang bisa saya bantu, Nona?"


"Tidak ada. Terima kasih," kata Abrine mencoba tersenyum simpul.


Perawat wanita itu mengangguk, saat dia hendak beranjak Abrine mendadak teringat sesuatu.


"Dokter El? Bagaimana keadaannya?"


"Oh, dokter El ada di bangsal VIP khusus pekerja Rumah Sakit."


"Ah... ternyata dia memang dinas di Rumah Sakit ini," gumam Abrine sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Mengenai tangannya, bagaimana?" tanyanya lagi.


"Ehm, yang saya dengar, tangan Dokter El mengalami patah tulang. Tapi dini hari tadi langsung dilakukan operasi pemasangan pen, semuanya akan baik-baik saja, Nona."


"Syukurlah, terima kasih, suster."


"Iya, permisi...."


Abrine mengembuskan nafas lega, setidaknya kecelakaan yang dia perbuat tidak menyebabkan Dokter El cacat permanen hingga tidak bisa melakukan aktivitas apapun.

__ADS_1


Keesokan harinya, Xander dan Yemima serentak mengunjungi ruangan Abrine. Kabarnya Abrine sudah diperbolehkan untuk pulang karena tidak ada luka serius ditubuhnya kecuali benturan dikepalanya, tapi itu sudah ditangani dan syukurnya tidak ada yang parah.


Abrine juga sudah mengabari keluarganya, tentunya dia mengatakan semua baik-baik saja dan dia hanya beralasan bahwa dia terlalu sibuk bekerja di perusahaan milik sang Papa yang kini dia kelola di Jerman.


"Mima, hari ini aku akan pulang ke Apartmen. Tapi...." Abrine tampak ragu-ragu.


"Kenapa, Brine?"


"Aku mau mengunjungi Dokter El. Apa bisa?"


Yemima dan Xander saling berpandangan. Tak lama, Xander yang lebih dulu menyahut.


"Kau khawatir padanya?" tebak Xander.


"Begitulah, dia begitu kan karena aku juga."


"Tidak perlu mengunjunginya. Nanti dia yang akan mencarimu kesini." Xander tahu hal itu karena El pasti akan mencari kabar mengenai kondisi gadis ini.


"Tapi, aku kan akan pulang ke Apartmen sebentar lagi," jawab Abrine pelan.


Dibantu Yemima dan Xander, Abrine mengunjungi bangsal Elrich menggunakan sebuah kursi roda. Padahal Abrine sudah mengatakan bahwa dia bisa berjalan biasa, namun Yemima keukeuh memintanya naik ke kursi roda yang disediakan.


Saat tiba di Bangsal tempat Elrich di rawat, mereka melihat dari celah kaca yang ada di pintu ruangan, rupanya Elrich masih nampak terlelap pulas. Memang waktu masih menunjukkan pukul 7 pagi, tapi Abrine akan meninggalkan Rumah Sakit sebentar lagi jadi dia memang harus mengunjungi Elrich secepatnya untuk mengulangi kata maaf yang lebih pantas dan tentu juga ucapan terima kasihnya.


"Dia masih tidur, aku jadi tidak enak." Abrine menoleh ke belakang tubuh dimana ada Yemima dan Xander disana.


"Tidak apa-apa, kau temui saja dia. Bilang mengenai keadaanmu. Dia pasti ingin tahu juga karena namanya dicatut sebagai walimu disini." Xander menerangkan sesuai keadaan yang dia ketahui.


"Ehm, soal itu kenapa dia yang mau menjaminku dan menjadi waliku, padahal ini semua terjadi karenaku?" tanya Abrine.


"Ya, seharusnya aku yang menjadi walimu disini, Brine. Maaf, kemarin aku terlalu kalut dan lama mencari kontak keluargamu. Aku belum memberi keputusan, tapi saat aku ingin mengajukan diri rupanya El lebih dulu tercatat sebagai walimu disini," papar Yemima terus terang.


Abrine menganggukkan kepalanya pelan. "Tapi, apa tidak apa-apa? Dan sekarang juga, apa aku boleh mengunjunginya? Aku merasa dia marah kepadaku." Abrine tampak meragu.

__ADS_1


"Tak apa, El tidak akan marah jika kau tidak membuat masalah lagi." Xander mengulumm senyum, pasalnya memang sekarang Abrine tidak membuat masalah, tapi mereka ada disini itu juga karena kekacauan yang dibuatnya, bukan?


"Brine, masuklah. Kami di luar saja." Yemima menengahi. "Tak enak jika semua masuk justru itu akan mengganggu istirahat El nanti."


"Tapi---tapi...."


Klek!


Xander sudah menekan kenop pintu, mengisyaratkan pada Abrine untuk masuk seorang diri. Abrine menghela nafas sejenak. Tidak ada ketakutan dalam dirinya untuk menghadapi masalah, sejauh ini semua akan baik-baik saja, setidaknya begitulah keyakinannya. Dia harus bisa menyelesaikan masalahnya sendiri setelah semua keluarganya tidak ada disini dan sudah pulang ke Indonesia.


"Ehem...." Abrine berdehem, mencoba menetralkan diri yang mendadak ragu ketika melihat Elrich bergeming dalam keadaan berbaring. Entah benar masih tidur atau berpura-pura, hanya El yang tahu, sedang Abrine tidak mengetahuinya.


"D-dokter," sapa Abrine gugup. Ah, pasti suaranya terdengar bergetar sekarang.


"Dok-dokter El ...."


Abrine berujar sembari mendorong kursi rodanya agar semakin mendekat ke arah pembaringan sang dokter.


Semakin dekat, Abrine dapat melihat dengan jelas tangan kanan dokter El yang dibalut gips. Ya Tuhan, itu karena ulahnya. Dada pria itu nampak turun naik secara teratur, menandakan betapa tenangnya dia dalam keadaan terpejam.


Abrine memberanikan diri menyentuh lengan Elrich dengan ujung jari telunjuknya. Diketuknya pelan hingga pria itu tampak sedikit menggeliat pelan.


"Eughh...." Elrich berlagak melenguhh, padahal sejak tadi dia sudah tahu kedatangan Abrine. Entah kenapa dia melakukan hal itu. Dia hanya tidak mau terlihat sedang menunggu kedatangan gadis itu ke bangsalnya.


Abrine menyunggingkan senyum tipis saat melihat Elrich terbangun. "Dokter, aku--aku datang kesini untuk meminta maaf. Mungkin ini terlambat tapi kali ini permintaan maafku sungguh-sungguh. Aku menyesali kejadian ini yang terjadi karena keteledoran ku." Abrine mengatupkan kedua tangan didepan dada, bersikap memohon dihadapan pria yang berbaring itu.


Elrich masih diam, dia ingin tahu apalagi yang akan gadis ini utarakan didepannya.


"Dan juga terima kasih telah menjadi penjaminku disini. Nanti aku akan mengganti semua biaya yang ditanggungkan kepadamu." Abrine tampak tulus dengan semua kata-katanya.


Tapi, Elrich sendiri sudah memiliki rencana untuk Abrine, jadi dia tidak mungkin melepaskan gadis ini begitu saja. Mungkin dia bisa melakukan ini pada gadis lain dengan memberi sejumlah bayaran, tapi memanfaatkan keadaan Abrine yang terdesak akibat membuat dirinya terluka sepertinya lebih menyenangkan. Dia tak perlu bersusah-susah mencari wanita lain yang cocok, lebih baik yang jelas-jelas ada didepan mata saja.


******

__ADS_1


Buat yang baca dari awal di Novel PENGASUH TUAN LUMPUH. Beberapa pada nanya soal Wildan, apakah cerita Abrine ini gak akan disangkutkan dengan Wildan dan Abrine jodohnya nanti adalah Elrich karena judul novel ini kan "Perangkap Cinta Sang Dokter". Nah, itu nanti jawabannya ada di novel ini. makanya baca kelanjutannya ya. Wildan bakal ada disini kok. tenang, othor gak lupa sama dia. Soal siapa pasangan Abrine nanti memang dia akan sama Dokter El ya. Tapi kelanjutannya kayak apa dan hubungannya sama Wildan nanti itu masih rahasia. Hehehe ✌️ Intinya nanti othor mengizinkan kalian untuk memilih, Abrine itu cocoknya sama siapa. Jadi endingnya hanya akan diketahui kalau lanjut baca novel ini 😂😂


__ADS_2