PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
80. Rencana kecil


__ADS_3

Wildan berlari-larian saat tanpa sengaja melihat Abrine yang baru masuk melewati lobby gedung Apartmen mereka. Dia tahu Abrine dan El menempati sebuah unit di gedung yang sama dengan Apartmen yang dia sewa selama ini, tapi selalu saja dia tak bisa menemukan letak lantai dan dimana tepatnya mereka tinggal.


"Hai, Brine."


Sejak Abrine tahu Erika memberinya obat pencegah kehamilan waktu itu, juga sejak Wildan mencoba mempengaruhinya terkait perasaan Elrich yang masih mencintai Pevita, sejak itu pula intuisi dalam diri Abrine mengharuskannya untuk menjauh dari sosok Wildan.


"Hai, Wil. Maaf, aku terlalu buru-buru." Abrine ingin beranjak, namun Wildan mencekal lengannya.


"Tunggu! Bisakah kita bicara sebentar."


"Hal apa lagi? Jika kamu berniat mempengaruhiku lagi maka itu tidak ada gunanya."


Wildan tahu Abrine pasti menyadari niatnya, Abrine bukan gadis yang bodoh. Abrine dapat mengetahui jika dia sedang mendoktrin perasaannya.


"Tidak, ini bukan tentang pernikahanmu. Aku hanya ingin bicara jika kamu punya waktu. Aku ingin kita seperti dulu, Brine."


"Seperti dulu?" Abrine mengernyitkan dahi.


"Ya, meski kamu sudah menikah dengan kak El, tidak bisakah kita berteman baik? Terkait kesalahan Mama tempo hari bukankah aku sudah meminta maaf? Jangan pandang aku sebagai adik tiri Kak Elrich, tapi lihatlah aku sebagai Wildan yang kamu kenal sebelum hari ini. Wildan yang dulu."


Abrine tersenyum tipis. "Aku tahu kamu adalah pria yang baik, Wil. Untuk itu, hargailah hubunganku dan Elrich dengan tidak mendekatiku lagi," putus Abrine.


Wildan menahan sesak di dadanya. Dia tentu merasa sakit dengan penolakan Abrine. Bahkan untuk berteman pun Abrine sudah tak mau. Meski dalam hal itu, dia memang punya niatan lain yaitu mendekati Abrine secara pelan-pelan. Mungkin hati dan pikiran Abrine akan berbalik arah kepadanya. Nyatanya, dia tak diberi kesempatan barang sedikitpun.


"Bisa aku pergi sekarang?" tanya Abrine. Dia ingin memasuki lift, sementara tubuh tinggi Wildan menghalangi langkahnya disana. Andai tadi Abrine pulang bersama El, mungkin Wildan akan urung menghampirinya.


Wildan mengangguk pelan. Dia bergeser beberapa jengkal agar Abrine bisa melewatinya dan masuk kedalam bilik besi yang dapat mengantarkan wanita itu ke lantai tujuannya.


Wildan menyaksikan Abrine yang sudah berada didalam lift. Seperti terbingkai, wajah itu menari-nari dalam otaknya. Saat tangannya ingin meraih kembali, disaat bersamaan pintu lift itu pun tertutup.


Betapa miris nasibnya, bahkan kenyataan tak mengizinkan dia berlama-lama bersama dengan Abrine. Semesta seakan menolak keadaan itu.


Wildan menggeleng samar. Dia melirik ke arah dimana ada nomor lantai tujuan tertera tak jauh dari pandangan matanya. Baiklah, setidaknya, pertemuannya dengan Abrine hari ini membuatnya tahu letak lantai tempat tinggal Abrine.


Penthouse, lantai teratas.


Wildan tak menyangka, ternyata Elrich memang menempatkan istrinya pada rumah terbaik yang ada dalam gedung tersebut.


Kendati yang Wildan ketahui jika pernikahan mereka hanya sementara, tapi Wildan cukup salut dengan keloyalan sang kakak. Dia pikir, Elrich tak berbesar hati dengan memberikan rumah yang sangat layak untuk Abrine.


Sedikit banyak Wildan merasa tenang dengan hal ini.


"Baguslah, kamu tinggal ditempat yang aman."


Wildan hanya khawatir, terkait Claire yang belum bisa diremehkan begitu saja meski kini wanita itu sudah berada dibalik jeruji besi.


Wildan berbalik pergi. Tetapi, dilain sisi Erika menyaksikan kejadian barusan. Dia juga merekam dimana lantai tempat Abrine tinggal. Sebelum Wildan menyadari jika dia tengah memantau, Erika segera melipir dari tempatnya bersembunyi.

__ADS_1


Menjelang malam, Abrine kedatangan tamu. Dia pikir itu Elrich, karena selama ini hanya suaminya lah yang bolak-balik masuk ke Apartmen di jam ini.


Rupanya Abrine salah sangka, nyatanya yang datang ke unitnya adalah Erika. Sungguh mengejutkannya.


"Hallo, Abrine, apa kabar?"


Erika tersenyum ramah. Tapi, Abrine tak bisa menyembunyikan raut kesalnya pada wanita ini.


Dan lagi, Abrine bingung kenapa Erika bisa tahu letak tempat tinggalnya yang sekarang.


"Tak bolehkah mama masuk? Apa El ada didalam?"


Abrine masih diam. Dia tak sanggup mengatakan jika Elrich belum kembali dari rumah sakit. Tapi dia juga tak bisa berucap bahwa Elrich ada didalam Apartmennya.


"Ada perlu apa?" tanya Abrine yang akhirnya mengeluarkan suara. Bahkan untuk menyebut Erika dengan sebutan 'mama' dia juga merasa tak bisa.


"Mama kesini mau minta maaf padamu, Brine. Bisakah kita bicara sebentar?"


Abrine menghalangi jalan Erika yang hendak masuk melewati tubuhnya. Dia tak akan mengizinkan Erika masuk ke kediamannya, terlebih dia tak tahu niat apa yang Erika bawa khusus untuk dirinya.


"Percayalah, Brine. Mama sudah benar-benar merasa bersalah."


Entahlah, Abrine bingung bagaimana menanggapi wanita dihadapannya. Senyum Erika terlihat tulus. Nuraninya tidak tega menolak wanita itu, jika Erika memang berniat baik, haruskah dia mengusirnya?


"Brine?"


"Jika memang mama tidak boleh masuk, apa kita bicara di cafe bawah saja?" tawar Erika tersenyum lembut.


Abrine berpikir jika lebih baik dia menerima Erika masuk ke rumahnya ketimbang mereka berbicara diluar yang justru Abrine tak tahu ada bahaya apa diluar sana, kan?


"Masuklah, ma..." Abrine menggeser tubuh, memberikan Erika jalan masuk ke kediamannya. Sebenarnya Abrine merasa ini salah, tapi dia juga serba salah.


Erika melangkah dan mengamati sekilas tempat tinggal Abrine.


"Rumah kalian besar dan bagus. Semuanya juga tertata rapi," puji Erika.


"Mau minum apa, ma?"


"Apa saja asal tidak merepotkan ...."


"Baiklah, tunggu sebentar, Ma."


"Iya..."


Abrine membuatkan Erika segelas jus jeruk dan menyajikannya dihadapan wanita itu.


"Brine, sekali lagi mama minta maaf mengenai obat itu."

__ADS_1


Abrine tak menyahut. Tapi, raut wajahnya jelas menunjukkan kekecewaan yang besar.


"Waktu itu Mama pikir kamu tidak berniat mengandung anak El," kata Erika memberi sebuah alasan.


"Kenapa mama berpikir begitu?"


"Karena mama mendengar pernikahan kalian hanya sementara."


"Sekalipun memang begitu, aku pikir itu bukan menjadi urusan mama. Jika memang aku berniat menunda kehamilan maka aku akan membeli obat itu sendiri," jawab Abrine terdengar dingin.


"Maka dari itu, sebenarnya mama tidak bermaksud. Mama minta maaf, Brine."


"Jadi, mama ada urusan apa sampai datang ke Jerman?"


"Wildan ada rencana membuka resto disini... masakan khas Indonesia, jadi mama khusus datang untuk melihat menu apa saja yang akan dibuat disana." Tentu saja Erika berdusta.


"Oh benarkah?" tanya Abrine antusias. Akhirnya Wildan dan Erika memiliki tujuan positif di Jerman. Baguslah, jadi mereka tidak akan mencampuri urusan rumah tangganya lagi, pikir Abrine.


"Iya, nanti kalau sudah diresmikan, kamu dan El datang kesana ya."


Abrine hanya menyunggingkan senyum tipis. Tak lama, Erika pamit pulang karena merasa sudah cukup berbasa-basi dengan Abrine. Dia hanya ingin mengecek situasi dan kondisi saja hari ini sebelum sebuah rencana kecil ya terjalankan.


"Brine, mama pulang ya. Terima kasih kamu sudah mau menerima mama disini. Mama tahu kamu adalah wanita yang baik."


Abrine mengangguk samar.


"Andai saja kamu menikahnya sama Erland, Brine," gumam Erika kemudian.


Abrine mendengar itu tapi tak terlalu jelas. "Kenapa, Ma?" tanyanya.


"Oh, enggak. Mama hanya ingin Erland dapat wanita yang sebaik kamu." Kali ini Erika tidak berbohong.


"Semoga dapat yang lebih baik. Wildan orang baik, pasti dapat yang baik juga, ma."


Erika hanya tertawa pelan kemudian benar-benar berlalu.


Di koridor, Erika sempat melihat Elrich yang baru saja tiba. Dia segera berlari kecil ke arah lorong yang lain, agar tidak berpapasan dengan anak tirinya tersebut.


Elrich masuk ke dalam rumah dan mendapati Abrine tengah mencuci gelas bekas minum Erika tadi.


"Apa ada tamu yang datang?" tebak Elrich.


Abrine tidak berani mengatakan jika dia mengizinkan Erika berkunjung. Tapi, dia lebih takut jika suaminya dapat membaca kebohongannya.


"Ehm.... tadi, mama Erika datang kesini, El."


Seketika itu juga Elrich terdiam dengan rahang yang mengeras.

__ADS_1


******


__ADS_2