
"Ayah ...." Elrich memeluk sang Ayah yang memang sudah menunggunya.
Edgar tersenyum hangat, membalas pelukan itu sembari menepuk pelan punggung puteranya. Namun, atensinya teralihkan saat melihat seorang gadis dibelakang tubuh Elrich.
"Siapa dia, El?" tanya Edgar dengan suara berat khasnya.
Elrich menoleh pada Abrine. "Dia .... Abrine."
"Kemarilah, Nak...."
Abrine melangkah ragu-ragu ke hadapan pria baya itu. Namun tak urung dia melakukan juga perintah Edgar yang menyuruhnya untuk menghampiri.
"Hallo, Paman. Perkenalkan, aku Abrine." Abrine memasang senyum tulus. Melihat Edgar justru mengingatkannya pada sosok sang Papa yang berada jauh di negara lain. Abrine rindu dengan Nev--papanya.
"Hai, Abrine. Kau pasti sudah tahu siapa Paman, kan?" Edgar tersenyum hangat menyambut Abrine.
Abrine mengangguk pelan. Dia merunduk dan mengusap sekilas titik airmatanya yang sempat menetes. Entah kenapa dia benar-benar merindukan sosok papanya sekarang saat melihat raut wajah Edgar yang semringah. Tak ada yang mengetahui bahwa dia sempat menangis, baik Elrich maupun Edgar.
"Ayo masuk, kalian pasti sudah lelah diperjalanan."
Elrich dan Abrine pun masuk ke dalam rumah berbarengan dengan Edgar yang memasang wajah penuh kebahagiaan sejak tadi. Bagaimana tidak, dia tak menyangka Elrich datang bersama seorang gadis. Ini sebuah kemajuan pesat setelah belasan tahun yang lalu.
"Bibi Sera sudah memasak banyak untuk menyambut kepulanganmu, El. Tapi, kenapa kau tidak mengatakan bahwa kali ini akan membawa seorang gadis?"
Elrich hanya tertawa pelan menanggapi ucapan ayahnya. Mereka makan bersama diselingi dengan percakapan mengenai kegiatan sehari-hari satu sama lain.
Abrine sendiri lebih memilih untuk diam, dia menikmati masakan rumahan yang disediakan hari ini sambil sesekali menyimak sekilas pembicaraan ayah dan anak yang duduk satu meja dengannya.
"Kau bekerja atau masih kuliah, Abrine?" tanya Edgar yang kini justru menanyakan Abrine bukan lagi El.
Abrine berusaha bersikap biasa dan se-rileks mungkin. Dia mau mengakrabkan diri dengan Edgar. Bukan untuk menarik perhatiannya atau mengambil hati pria baya itu, karena diapun tak memiliki hubungan khusus dengan Elrich, melainkan dia mau agar Edgar jadi satu kubu dengannya hingga bisa mewujudkan keinginannya untuk mengerjai Elrich nantinya. Bagaimanapun, Abrine masih kesal dengan El saat ini. Meskipun tak yakin, tapi Abrine perlu dukungan Edgar jika jiwa keisengannya meronta untuk membalas sikap El yang selalu menyebalkan. Kalau dilihat-lihat, Edgar adalah orang yang ramah dan bersahabat.
"Aku sudah bekerja, Paman." Abrine menjawab santai.
"Bekerja dimana?"
Kali ini, Elrich juga memperhatikan, dia juga ingin tahu, karena sebelumnya dia sendiri tak pernah menanyakan pekerjaan apa yang Abrine geluti.
"Hanya usaha kecil-kecilan dibidang property, Paman."
"Usaha sendiri?"
__ADS_1
Abrine mengangguk. "Iya, tapi berawal dari modal yang diberikan oleh papa, aku hanya melanjutkan usaha itu," ujarnya kemudian.
"Oh, ya? Hebat kamu, Abrine...." puji Edgar.
"Belum hebat, Paman. Karena masih dimodali papa."
"Itu sudah hebat, banyak orang yang mudah membuka usaha tapi tidak banyak yang bisa mempertahankannya. Hanya semangat di awal-awal saja. Terlepas itu modal pribadi atau bukan, tapi dengan kamu bisa mempertahankan usahamu, itu artinya kamu termasuk orang yang hebat. Apalagi kamu seorang perempuan." Edgar memberikan acungan jempol pada Abrine.
Abrine tersenyum tipis mendengar pujian yang lagi-lagi dilayangkan Edgar padanya. "Terima kasih, Paman," ujarnya.
Sementara disisi lain, Elrich harap-harap cemas dengan hal ini, dia takut ayahnya justru semakin menyukai Abrine jika ternyata latar belakang gadis ini cukup baik bahkan terdengar sangat baik.
"Kalau memang Abrine bukan lagi anak kuliahan, sudah bekerja, sudah cukup umur, jadi.... tentukan saja kapan kalian akan menikah!"
Sontak saja pernyataan Edgar itu membuat Abrine maupun Elrich tersedak makanan masing-masing.
Benar dugaan Elrich, bahwa ayahnya akan senang dengan gadis seperti Abrine yang mandiri. Atau sebenarnya, Ayahnya memang tak mungkin memilah-milih lagi calon istri untuk dirinya karena ayahnya memang sangat menginginkan dia menikah sebelum menginjak usia kepala tiga.
Abrine buru-buru menyambar air putih disisinya. Begitupula dengan El yang melakukan hal serupa. Edgar menatap keduanya, seakan menanti jawaban yang akan mereka ucapkan.
Abrine menginjak kaki El dibawah meja, karena sorot mata Edgar kini seperti memberi isyarat agar Abrine yang memberi tanggapan. Sementara Abrine sendiri tak tahu harus menjawab apa.
"Aarkkkh!!!" El meringis karena Abrine semakin menekan kakinya di kolong meja.
"Kalau begitu, segera pikirkan! Ayah menunggu momen itu, El."
"Tapi ayah...."
"Apa lagi? Ayah melihat Abrine sangat cocok untukmu," pungkas Edgar.
"Ayah baru mengenalnya sepintas. Apa ayah yakin?"
"Jadi kau mau ayah tidak merestui kalian, begitu? Apa kalian benar-benar menjalin hubungan?" Edgar menatap El penuh selidik.
"Y-ya. Te-tentu saja, Ayah. Kami--kami berhubungan serius." Elrich menyesal setelah kalimat itu tercetus begitu saja dari bibirnya, seharusnya bukan itu yang dia ucapkan.
"Kalau begitu, cepat lamar dia pada orangtuanya. Apa perlu mendatanginya bersama ayah?" Edgar menawarkan diri untuk membantu El.
Abrine menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia mendelik pada Elrich yang kelihatannya tak bisa berkutik didepan Ayahnya.
"Tapi ayah sedang sakit, bukan?"
__ADS_1
"Ayah baik-baik saja asal kau menikah secepatnya," tutup Edgar dan menyudahi acara makan siang itu.
"Abrine, Paman permisi istirahat dulu ya. Nikmatilah harimu disini. Sekalian bahas kapan pernikahan kalian karena Paman sudah merestuinya."
Abrine hanya mengangguk dalam kebingungannya dengan hal ini. Dia tak tahu lagi harus merespon apa.
"Astaga..." gumam El lirih. Dia ikut bangkit dari duduk, menyudahi acara makannya. El bingung sendiri jika sudah begini. Apa yang harus dia jadikan alasan lagi?
"Tapi ayah!"
Seruan Elrich menghentikan langkah Edgar yang hendak menuju kamarnya dengan langkah perlahan.
"Apa lagi, El?"
"Ada dari diri Abrine yang perlu ayah ketahui. Aku takut ayah akan marah mengenai ini, tapi aku rasa ayah memang perlu tahu."
Dengan terpaksa Elrich harus mengatakan hal ini demi mencegah restu ayahnya. Dia tak mau pernikahan konyol antara dia dan Abrine terjadi.
Disisi lain, Abrine ikut menyimak ujaran El barusan. Dia juga ingin tahu hal apa yang hendak El sampaikan supaya Edgar mengurungkan niat mengenai restu pernikahan itu.
Hal apa pada dirinya yang akan membuat Edgar marah? Apa ada yang salah sehingga ini dijadikan El jurus terakhir agar ayahnya tidak merestui mereka dan tidak mendesak sebuah pernikahan?
"Hal apa itu, El? Ayah tetap akan merestui kalian. Menikahlah secepatnya."
"Apa ayah yakin akan merestui kami jika ternyata Abrine adalah gadis dari Indonesia?"
Edgar terdiam. Mendengar itu dia langsung menoleh pada Abrine dan gadis itu menunduk dalam.
Abrine berpikir, apa ada yang salah dengan asal usulnya? Kenapa hal itu dijadikan El sebagai alasan?
"Benarkah? Apa benar kamu berasal dari Indonesia, Abrine?" tanya Edgar.
Abrine mengadah dan menatap wajah pria baya itu. Meskipun demikian, ketampanan dan kewibawaan Edgar tak hilang termakan usianya.
"Iya, Paman. Aku orang Indonesia. Apa ada yang salah dengan hal itu?"
"Tidak ada yang salah. Hanya saja...." Edgar menjeda ucapannya, beralih menatap wajah tampan sang putra dengan tatapan dalam. "Tidak semua orang sama, Nak. Meski berasal dari tempat yang sama, tapi sikap dan perilaku setiap orang berbeda-beda. El, lupakan hal menyakitkan itu. Biar hal itu menjadi milik ayah. Untukmu, binalah hidup yang baru. Buktikan jika kau akan lebih baik daripada ayah sebagai seorang suami."
Elrich terdiam kaku mendengar ujaran ayahnya. Sementara Abrine yang ikut mendengarnya jadi semakin larut dalam kebingungan.
*****
__ADS_1
...Vote, hadiah, like, dong🙏🥰...