
Raymond membaringkan tubuh Anne di atas ranjang yang ada dalam kamar hotel yang sudah dipesan.
"Ternyata kau berat juga, Nona!" keluhnya berlagak menyeka peluh. Padahal tubuh kurus Anne tidak mungkin membuatnya kewalahan seperti itu.
"Kasihan sekali kau ini, dijual oleh kekasihmu sendiri." Raymond terus saja mengomel, tak peduli jika Anne tak mendengarnya sama sekali. Dia masih mengira Jerry adalah kekasih Anne yang tega menjual gadis itu.
"Ingat ya, setelah malam ini kau punya hutang budi padaku dan harus membayarnya suatu saat nanti."
Raymond berpikir sejenak seperti tengah menimbang-nimbang. Akhirnya dia memotret Anne yang sudah dalam keadaan tak sadarkan diri diatas tempat tidur kingsize itu.
"Aku ambil fotomu. Berjaga-jaga saja, siapa tau kau tidak ingat jasaku malam ini."
Raymond pun pergi dari kamar tersebut. Ivan sudah menunggunya didepan pintu.
"Urus si Jerry! Pastikan dia membayar hutangnya. Mr. Alison pasti sudah membayarnya tadi, makanya dia pergi meninggalkan mereka berdua."
"Baik, Tuan."
Mereka berdua keluar dari area hotel menuju kediaman masing-masing.
Sementara itu, Mr. Alison yang tidak terima karena rencananya gagal mendapatkan Anne malam ini--sungguh sangat kesal. Bagaimana bisa dia bertemu Raymond disana. Bahkan dia sudah membayar mahal pada Jerry.
Pria tambun itu meminta asistennya menelepon ke nomor Jerry saat itu juga.
Dengan sekali panggilan, Jerry segera menerima sambungan seluler itu.
"Bagaimana, Tuan? Apa kau puas? Kau bisa membelinya lagi di lain waktu," ujar Jerry girang dari seberang sana.
"Puas kau bilang? Aku bahkan belum menyentuhnya seujung kuku! Kembalikan uangku!"
"A-apa maksud anda, Mr. Alison? Bukankah semuanya lancar? Aku sudah pergi meninggalkan kalian berdua tadi."
"Lancar kepalamu! Kembalikan uangku! Ku tunggu 1 kali 24 jam."
"Tap--tapi, Tuan ...."
"Jangan membantah bede-bah! Atau kau sengaja menjebakku, iya? Kau ingin uang itu tanpa berniat menyerahkan adikmu padaku?"
"A-aku tidak me-mengerti maksudmu, Tuan. Bukankah aku sudah setuju. Jika tidak, mana mungkin aku membiarkan kalian berdua tadi."
"Tuan Rodriguez hadir disana, dia menghancurkan rencanaku. Ah, sudahlah! Kau kembalikan uangku. Mengerti!" Mr. Alison menekan kata diakhir kalimatnya.
Mendengar nama Rodriguez, nyali Jerry menciut. Dia bahkan baru dipukuli beberapa hari lalu oleh beberapa ajudan dari perusahaan milik keluarga Rodriguez--karena dia punya hutang yang banyak pada perusahaan tersebut.
"Astaga, kenapa Tuan Rodriguez ada disana? Kenapa juga dia mencampuri urusan ini? Matilah aku...." gerutu Jerry.
****
Hari ini, Abrine dan El mengundang Yemima dan Xander untuk makan malam bersama di Apartmen mereka. Jamuan itu sebagai bentuk rasa terima kasih karena mereka telah banyak membantu selama El dirawat.
Mereka juga mengundang Kristy dan Galvin agar suasana semakin ramai.
Sebelumnya, Bibi Daisy sudah memasak banyak menu makanan untuk makan malam mereka. Wanita baya itu masih menyajikan dan menyiapkan semuanya dibantu oleh Abrine sekenanya saja sebab El tidak mau Abrine yang mengandung akan semakin kelelahan.
Sambil menunggu kedatangan tamu-tamunya, Abrine memutuskan untuk menelepon sang Mama di ruang keluarga. Dia mau mengabari wanita itu terkait kondisinya dan keadaan Elrich saat ini.
__ADS_1
Saat Abrine menelepon, El menghampiri istrinya disana, dia berniat mengganggu Abrine lagi kali ini. Entah kenapa sekarang dia suka sekali menjahili sang istri, karena sejak Abrine hamil, Abrine jadi gampang merajuk tapi juga gampang dibujuk, sehingga El sangat gemas melihat tingkah laku wanita itu.
"El, aku sedang menelepon!" protes Abrine ketika El sengaja mengelus-elus perutnya.
Abrine melanjutkan sesi bicaranya pada sang Mama sementara El juga terus melanjutkan aksi nakalnya.
"Astaga, El. Apa yang kau lakukan?" Abrine nyaris berteriak saat El sekarang malah berjongkok didepan wanita itu kemudian tangannya membelai paha bagian dalam milik istrinya.
Kalau tidak ingat sedang menelepon dan mendengar ucapan sang Mama yang serius dari seberang sana, sudah dapat dipastikan Abrine akan mengumpat El saat ini juga.
Pria itu hanya memasang cengiran dengan wajah tanpa dosanya. Sekarang dia malah menyingkap dress yang Abrine kenakan.
Abrine menarik nafas dalam. "Seharusnya aku pakai celana saja tadi," gerutunya.
"Ada apa, Brine?" tanya Raya dari seberang panggilan.
"Ah, tidak ada, Ma. Sampai dimana tadi kita bicaranya?" respon Abrine. Terserahlah apa ulah El dibawah sana. Dia pun melanjutkan sesi meneleponnya.
"Ma, nanti aku telepon lagi ya. Tamu aku udah datang." Abrine hilang kesabaran, padahal tamunya belum datang. Dia terpaksa menutup panggilan karena ulah suaminya semakin menjadi-jadi.
"Kembalikan, El. Kau jangan membuatku marah!" Abrine ingin meraih benda yang El ambil, padahal itu tadi dia kenakan. Suami jahilnya telah membukanya dengan semena-mena.
Benda berenda itu malah El angkat tinggi-tinggi.
"Ya Tuhan, salahku telah menikahi pria gila," gumam Abrine membuat El terkekeh senang.
Abrine tidak bisa menjangkau underwearnya ditangan Elrich karena El semakin mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Kembalikan, El. Kau mau aku tidak pakai dalam-an begini?"
"Sin ting!" dengkus Abrine, tapi El tidak marah dikatai istrinya justru dia senang melihat wajah memerah Abrine.
Saat mereka masih sibuk berebutan benda berenda itu. Tiba-tiba bel apartemen berbunyi.
Ting tong ....
"Astaga, tamunya datang. Bukalah pintu. Aku ke kamar dulu, mencari dalam-an yang lain." Abrine hendak beranjak tapi El mencegatnya.
"Sudahlah, tidak akan ada yang bisa melihat... kau mengenakan dalam-an atau tidak."
"El... kau ini---"
Belum selesai Abrine protes, suami me sumnya langsung menariknya untuk menyambut kedatangan tamu-tamu mereka didepan pintu.
Yemima datang bersama Xander, disusul oleh Kristy dan Galvin dibelakangnya.
"Wow, kalian berjanjian datang diwaktu yang sama?" canda El pada keempat tamunya.
"Bukankah kalian yang mengatakan jam 8. Kami hanya berusaha datang tepat waktu," kata Yemima menjawab.
"Yup, on time." Kristy pun menimpali.
Abrine sungguh merasa risih karena kondisinya saat ini tapi El seperti sengaja tidak memberinya kesempatan untuk kabur ke dalam kamar dan mencari dalam-an lain.
Akhirnya mereka semua sudah duduk di satu meja makan yang penuh makanan.
__ADS_1
"Silahkan dimakan...." Elrich menawari dengan ramah. Dia melirik istrinya yang duduk disebelahnya.
"Brine, kau kenapa?" Yemima sadar ada yang aneh pada sahabatnya. Abrine tampak tertunduk dan tidak banyak bicara.
Abrine mengadahkan wajah. Dia menatap Yemima dan menggeleng pelan. Tak mungkin dia berujar mengenai kondisinya saat ini, kan?
"Ayo, ayo, makan..."
Mereka semua mulai makan kecuali Abrine. Dia ingin beranjak tapi satu tangan Elrich terus menggenggam jemarinya seolah melarangnya untuk pergi.
Ingin rasanya Abrine mengumpat pria yang dia nikahi hampir 4 bulan ini, tapi bagaimanapun, dia tak mungkin melakukan itu dihadapan orang lain apalagi di meja makan.
"Sayang, kau tidak makan?" tanya El. Dia mengambilkan lauk untuk Abrine dan menyuapi sang istri.
"Wahh .... so sweet..." Xander berkelakar. "Kami yang pengantin baru saja kalah telak," sambungnya.
Abrine menginjak kaki Elrich seolah itu menyuarakan protesnya terhadap sang suami.
Elrich meringis, hampir saja dia menjerit tapi dia menahannya. Dia berniat membalas kelakuan istrinya yang nakal.
Abrine terkesiap ketika merasakan jari El masuk ke inti tubuhnya. Dengan tidak melihat situasi dan kondisi, jari itu malah seenaknya saja keluar masuk dibawah sana. Membuat Abrine menahan era-ngannya dengan membekap mulutnya sendiri.
Abrine melirik El, pria itu terlihat biasa-biasa saja, El terlihat makan dengan garpu ditangan satunya. Sementara tangannya yang lain sibuk mengerjai sang istri.
"Brine, apa kau sakit?" Kal ini Kristy yang angkat bicara. Dia melihat Abrine yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja.
"Biasa, hormon ibu hamil." El yang menyahut dengan santainya.
"Awas saja, kau!" batin Abrine merutuki ulah suaminya.
Abrine hampir sampai di puncak pelepas-annya karena ulah jari Elrich dibawah sana. Dia menahan diri agar tidak memekik dan men-de-sah disaat yang sama.
Tampaknya El paham apa yang Abrine alami. Dia pun menyudahi kegiatan jarinya. Abrine menghela nafas frustrasi karena tidak sampai puncak padahal sedikit lagi dia akan mendapatkannya.
"Sepertinya Abrine harus ke toilet sekarang. Kalian lanjutkan makannya, ya." El pamit untuk mengantarkan Abrine ke wastafel kamar mandi, dia membuat alasan bahwa Abrine sedang mual.
Sesampainya di kamar mandi. El melihat wajah istrinya yang masih memerah.
"Kau gila, El..." Sudah payah Abrine berujar, nafasnya masih tersengal.
"Kau suka, kan?"
Astaga pria ini, ingin rasanya Abrine menonjok wajah malaikat yang dipasang El sekarang. Tapi, dia sadar itu justru akan merugikannya nanti. Jika pipi El bonyok, dia juga yang akan menyesal.
"Aku lanjutkan, tapi tidak dengan jari."
Seketika itu juga mata Abrine membola Bisa-bisanya El melakukan ini sementara diluar ada empat orang tamu yang sengaja mereka undang ke kediaman mereka.
*****
Gesrek memang yah bang Elπ€§π€§π€§ terlalu nakal dan jailπππ
Dah ya, up banyak othor hari iniππππ€£π€£π€£
__ADS_1