
Elrich menatap Abrine datar dalam posisinya, ketika Abrine mulai mengutarakan permohonan maafnya.
"Dokter, aku--aku datang kesini untuk meminta maaf. Mungkin ini terlambat tapi kali ini permintaan maafku sungguh-sungguh. Aku menyesali kejadian ini yang terjadi karena keteledoran ku." Abrine mengatupkan kedua tangan didepan dada, bersikap memohon dihadapan pria yang berbaring itu.
Elrich masih diam, dia ingin tahu apalagi yang akan gadis ini utarakan didepannya.
"Dan juga terima kasih telah menjadi penjaminku disini. Nanti aku akan mengganti semua biaya yang ditanggungkan kepadamu." Elrich melihat kesungguhan Abrine dalam menyampaikan setiap kosa-katanya.
Tapi, bukan itu yang menjadi atensinya sekarang. Elrich memikirkan apa yang sebenarnya Abrine ingat tentang kejadian malam itu. Apa Abrine tidak ingat saat dia mencium El secara serampangan? Jika gadis ini mengingatnya, bukankah seharusnya ada pembahasan mengenai hal itu dalam permintaan maafnya kali ini. Atau, Abrine memang melupakannya? Apa yang sebenarnya ada dipikiran Abrine mengenai awal mula terjadinya kecelakaan itu?
Elrich berdehem sejenak sebelum berkata.
"Ehem, sebenarnya apa yang kau ingat mengenai insiden itu?" tanya pria itu pelan.
"Sejujurnya aku tidak mengingat apapun, lebih tepatnya belum..." jawab Abrine sambil tertunduk dan mengigit bibirnya sendiri.
Elrich memperhatikan itu, termasuk saat Abrine menggigit bibir. Seulas senyum tipis tersungging diujung bibirnya.
"Lalu? Permintaan maafmu kepadaku atas dasar apa?" tanya El kemudian.
"Ya karena aku menabrakmu hingga menyebabkan kondisimu seperti sekarang ini." Abrine mer emas jari jemarinya dalam pangkuan.
Mendengar itu mata Elrich membola karena terkejut, ternyata Abrine mengira dia adalah korban dari insiden kecelakaan yang disebabkan oleh gadis itu sendiri. Memang, kemarin pihak kepolisian sempat mendatangi El terkait masalah ini, hanya untuk menanyakan insiden kecelakaan tunggal itu terkait Elrich sebagai pengemudinya. Abrine tidak ditanyai karena dalam keadaan tidur. Dan masalahnya sudah dianggap tuntas oleh pihak kepolisian.
Tapi, hal ini justru membuat Abrine mengira jika dia adalah pengendara yang menabrak El. Bagaimana ini?
"Aku minta maaf, Dokter. Tolong jangan tuntut aku...." Sekali lagi Abrine mengatupkan kedua tangan didepan dada, bersikap memohon dengan raut wajah yang justru tampak lucu di pandangan mata Elrich.
Elrich bisa saja mengatakan kejadian yang sebenarnya pada Abrine, tapi dia tidak mau. Kenapa? Karena justru pemikiran Abrine itulah yang membuatnya semakin mudah memanfaatkan keadaan. Biar saja Abrine merasa bersalah padanya.
Jika semula Elrich pikir Abrine merasa bersalah karena insiden ciuman itu hingga menyebabkan kecelakaan, ternyata Abrine merasa bersalah karena mengira telah menabraknya. Bukankah ini lebih baik untuk dimanfaatkan?
Memanfaatkan rasa bersalah dan rasa takut Abrine agar tidak menerima tuntutan darinya.
"Baiklah, aku tidak akan menuntutmu. Tapi kau tahu kan bagaimana kondisiku sekarang?" Elrich merujuk pada kondisi tangannya.
Abrine mengangguk dalam secara berulang.
"Aku juga sudah bilang bukan, jika maaf saja tidak cukup. Aku ingin melihat kesungguhan mu dalam hal ini." Elrich menatap Abrine tajam.
"I-iya," jawab Abrine yang merasa terintimidasi oleh tatapan pria itu. Jika diajak bertarung, dia mungkin akan melawan tapi jika diajak berurusan dengan kepolisian, Abrine masih ciut, karena pasti hal itu akan terdengar sampai ke telinga Papanya meski sekarang Papa Nev ada di Indonesia.
__ADS_1
"Baiklah jika begitu, aku ingin memberimu syarat."
"Syarat?" Abrine mengadah pada El dengan mata berkedip-kedip gelisah.
Elrich mengulumm senyum melihat tingkah gadis ini.
"Ya, syaratnya tidak sulit. Jika kau setuju aku akan mengatakannya padamu."
"Apa itu?"
"Kau bersedia mengikuti syaratnya atau tidak?" El mencoba memberi opsi.
"Y-ya... katakan dulu syaratnya!" Abrine tak mau kalah.
"Cukup mudah, ayahku mendesakku untuk segera menikah. Aku tidak punya seorang gadis atau wanita untuk dikenalkan. Kau pahamlah apa yang ku maksud." Elrich tersenyum miring.
"A-apa?"
"Hanya perkenalan. Hanya itu. Aku juga tidak tertarik untuk benar-benar menikah apalagi denganmu." Elrich tersenyum sembari menatap keseluruhan diri Abrine. Senyuman itu tampak seperti meremehkan.
Abrine melotot dengan tatapan kesal. "Hei dokter! Aku juga tidak tertarik padamu!" ujarnya dongkol. "Tapi jika hanya itu syaratnya agar aku tidak kau tuntut maka, ya--ya, baiklah. Deal, akan aku lakukan!" sambungnya kemudian.
******
Abrine sudah pulang dari Rumah Sakit. Keesokan harinya, dia sudah merasa sehat dan pulih kembali. Dia mengabaikan beberapa bekas luka di bagian tubuhnya.
Abrine pun langsung memutuskan untuk bekerja. Dia sudah bersiap untuk ke kantor, sebab sudah dua hari urusan mengenai pekerjaan dia tinggalkan. Semua ini karena kecelakaan itu. Tapi semua sudah terlanjur terjadi. Mau bagaimana lagi. Dia tidak terbiasa mengeluh.
Meski Abrine seorang yang tomboi dan terbiasa berpenampilan urakan, tidak demikian jika dia terjun ke dunia pekerjaan. Bagaimanapun, Abrine seorang CEO dikantornya dan dia harus pandai-pandai menyesuaikan diri terutama dalam hal berpenampilan.
Walaupun tidak menjadi dirinya sendiri, mau tak mau setiap bekerja Abrine harus mengenakan pakaian formal. Hari ini, dia memakai blazer berwarna navi serta bawahan sebuah celana panjang putih yang membentuk kaki jenjangnya. Dia tampak stylish dengan rambut yang dikuncir kuda. Urusan cantik, Abrine tidak mengerti standarisasi kencantikan. Dia tidak tertarik mempercantik diri. Tapi, tidak jarang dia mendapat pujian mengenai hal itu dari banyak relasi bisnisnya. Tak mau ribet, Abrine tidak pernah memikirkannya lebih jauh.
Mengenai kecelakaan itu, sudah ditangani Elrich tanpa sepengetahuan Abrine, sehingga tidak ada satupun media yang mengetahui dan meliputnya. Hal itu pula yang membuat semua orang menatap heran akan kedatangan Abrine kali ini sebab melihat bagian dahi Abrine yang masih terbalut perban. Semua orang tidak tahu bahwa atasan mereka itu telah tertimpa musibah kecelakaan mobil.
"Miss Abrine, apa anda telah mengalami suatu insiden?" Anne, sekretarisnya langsung menyambutnya dengan tatapan penuh selidik dan raut khawatir.
"Ya, hanya kecelakaan ringan." Abrine menjawab sesantai mungkin. Dia takut Anne mengadukan hal ini pada sang Papa. Anne memang sekretarisnya, tapi tidak setiap saat bersamanya. Mereka hanya dekat didunia pekerjaan, tidak lebih.
Baru saja Abrine duduk di kursi kebesarannya, tiba-tiba vibrasi ponselnya terdengar, menandakan ada sebuah panggilan.
Sebuah nomor yang dia beri nickname 'Korban 143' memanggil.
__ADS_1
"Ya?" jawab Abrine dengan nada malas-malasan.
"Apa kau tidak lupa dengan kesepakatan kita?" tanya seseorang dari seberang panggilan itu.
"Tentu saja tidak. Aku sudah tahu, aku akan ikut denganmu besok lusa setelah kau keluar dari Rumah Sakit, Dokter."
Ya, itu adalah panggilan dari Elrich. Mereka sudah saling bertukar nomor kontak masing-masing untuk memudahkan komunikasi keduanya.
"Ya, tapi ku rasa syaratnya agak bertambah."
"Apa maksudmu? Kau benar-benar mau memanfaatkanku, ya!" Abrine bukannya tidak tahu, dia tidaklah bo doh. Dia jelas mengerti jika Elrich mengambil kesempatan dari kecelakaan ini, tapi dia bisa apa, dia tak mau dituntut. Dia bisa membayar biaya jaminan, tapi bukan itu masalahnya, dia tak mau Orangtuanya mencium kabar mengenai hal ini. Dia menjaga rapat-rapat masalah ini dari pengetahuan keluarganya.
Terdengar tawa ringan dari seberang sana. Pria itu tertawa. Ya, dia Elrich. Menertawakan ucapan Abrine. Sangat menyebalkan.
"Aku tidak mau mengikuti syarat lainnya, syarat awal hanya ikut denganmu berkenalan dengan Ayahmu saja," tukas Abrine kemudian.
"Syarat utama memang itu. Tapi, aku tidak mau ayahku curiga nantinya karena aku tidak mengetahui apapun tentangmu. Dan lagi, kau tahu kondisiku bukan? Sejak awal sudah ku peringatkan mengenai kondisiku karena kecerobohanmu."
"Ya, ya, aku tahu lenganmu patah karena aku. Jangan mengulangi hal itu terus. Kau adalah korban ke seratus empat puluh tiga yang ku buat cedera." Abrine mengoceh terus, membuat Elrich tertawa lagi diseberang sana.
"Untuk itulah, karena lenganku patah karenamu... kau harus membayarnya dengan merawatku. Ini tidak termasuk syarat dariku, tapi ini adalah tanggung jawabmu, Nona!" tekan Elrich dengan nada serius.
"Hah?"
"Sekalian aku ingin mengetahui sedikit tentangmu. Ini hanya agar Ayahku tidak curiga nanti. Cepat, datanglah kesini."
"Tidak mau!"
"Harus mau! Kau harus merawatku. Kau sudah mengatakan jika kau bersungguh-sungguh dengan permintaan maafmu, bukan?"
"Y--ya, tapi...."
"Sudahlah, jangan beralasan. Aku tunggu kau disini atau....." Elrich berlagak ingin mengancam dan Abrine mengetahui hal itu, buru-buru dia menyahut.
"Oke! Nanti siang aku kesana. Aku harus bekerja dulu sebentar!"
Tak menjawab lagi, panggilan itu langsung diputus sebelah pihak oleh Elrich karena dia sudah merasa puas akan jawaban yang diberikan Abrine.
"Benar-benar keterlaluan!" gumam Abrine geram. "Hanya dia korbanku yang paling menyebalkan!" lanjutnya sambil merematt ponsel.
******
__ADS_1