
Suara dengkuran halus milik Elrich sudah menjadi nyanyian pengantar tidur bagi Abrine dalam sebulan belakangan.
Tapi, entah kenapa malam ini matanya enggan untuk terpejam. Rasa ngantuknya hilang, berganti dengan rasa ingin tahu mengenai sosok Galvin.
Sejak pertemuan mereka dengan Galvin beberapa hari lalu, El memang tidak menceritakan padanya siapa pria itu. Begitupun dia tidak ingin terlalu mencari tahu jikalau El tidak membuka cerita mengenai Galvin lebih dulu dihadapannya. Alhasil, sekarang dia menjadi penasaran.
Pasalnya, dia sempat mendengar Galvin menyebut nama Claire. Meski tak tahu apa pembahasan mereka selanjutnya, tapi dia merasa kurang enak hati mengenai hal ini. Walau bagaimanapun, dia sempat melihat gelagat Claire yang mencurigakan saat di parkiran rumah sakit waktu itu.
Tangan Elrich tengah melingkari perutnya dengan posesif. Dia sadar El sudah mencintainya, dia pun dapat merasakan itu.
Dia memutar posisi menjadi menghadap El tanpa mengganggu kenyamanan pria itu.
Dipandanginya wajah El yang terlelap. Pemilik mata hazel itu memang terpejam, menampakkan sebaris rapi bulu matanya. Alis yang tebal. Hidung yang mancung, rahang yang tegas, serta bibir yang penuh.
Jemari Abrine terulur, menyentuh lembut bibir suaminya. Bertahan disana sambil mengelus pelan.
Ini adalah bibir yang mendapatkan ciuman pertamanya.
Bibir ini juga yang telah membuat kesepakatan diantara mereka. Bibir inilah yang menyebut namanya dalam ikrar pernikahan. Tapi, bibir ini pula yang membuat semua perjanjian mereka jadi berubah.
Sejak bibir ini menyebutkan kata cinta untuknya.
Sejak bibir ini menjanjikan tak akan meninggalkannya.
Sejak itu pula dia takut untuk kehilangan suaminya.
Dengan bibir yang sama, El selalu menyebutkan kata maaf padanya. Berulang kali. Menggumamkan itu walau sebenarnya dia tak pernah menyalahkan El atas semua yang terjadi padanya sampai saat ini.
"Apa bibir ini juga pernah membohongiku?" batinnya sedikit meragu. Bukan karena cinta yang dimiliki suaminya. Tapi karena masa lalu El yang membuat pikirannya berkabut. Dia yakin jika Galvin adalah salah satu keping dari masa lalu Elrich yang kelam.
"Haruskah aku menanyakan langsung pada Galvin? Ada cerita apa diantara mereka dengan Claire?"
"Atau haruskah aku bertanya pada El yang sebenarnya?"
Dia tidak sadar kapan El sudah membuka mata dan menatapnya dalam. Tiba-tiba saja, pria itu sudah berucap dan itu cukup mengagetkannya.
"Sudah puas memandangiku sampai tidak tidur begitu?"
"E--el? Kau bangun?"
"Harusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kau tidak juga tidur. Jam berapa ini?"
"Jam?" Dia melirik sekilas pada jam yang ada didinding kamar. "Jam 2, huh?" Dia sendiri terkejut saat menyebutkannya.
"Jam 2 dini hari tapi istriku tidak tidur. Apa ada yang kau butuhkan, hmm?" Elrich menggulung-gulungkan helai rambutnya secara berulang.
__ADS_1
"Tidak!" sanggahnya cepat. "Ini juga mau tidur!" ujarnya.
"Hmm.... jadi sudah puas, kan?"
"Puas apa?"
"Memandangiku." El tersenyum kecil, menampakkan sebuah lesung mini yang ada didekat ujung bibir pria itu.
"Eh, itu... sudah!" jawabnya asal.
"Sebenarnya kamu sedang memikirkan apa, sayang?"
"Tidak ada." Dia berusaha mengabaikan pria itu. Dia pun memejamkan mata.
Cup !!!
Elrich mengecup bibirnya, secara otomatis, hal itu membuatnya kembali membuka mata.
Pandangan mata keduanya bertemu. Tanpa berkedip dengan jarak yang kurang dari lima centi.
"Tidur, oke?" ujar pria itu lagi.
Dia mengangguk pelan.
El kembali menatapnya dengan tatapan intens. Dia pun seolah tak ingin kehilangan momen sehingga terus saja melebarkan mata.
Seketika itu juga dia memejamkan mata, namun dia masih bisa mendengar suara tawa kecil yang terdengar dari mulut suaminya.
*****
Siapa yang menduga jika hari ini Abrine harus kedatangan tamu spesial ke kantornya. Bukan, itu bukanlah musuh-musuhnya yang pernah dia buat cedera. Bukan Raymond apalagi Wildan. Tapi itu adalah pihak kepolisian yang datang akibat laporan Freya terhadap dirinya.
"Dengan Nona Abrine Prawiraharja?"
Dia sudah tahu jika ini akan terjadi, dia pun sudah menyiapkan diri. Dia tidak mau merepotkan Elrich, meski kini tanggung jawab atas dirinya memang sudah berpindah ke tangan sang suami.
Dia mengajak kedua orang aparat itu untuk bicara di ruangannya, namun pihak mereka mengatakan Abrine harus menjelaskan duduk perkara di kantor polisi.
"Baiklah," ujarnya menyerah. Dia tidak ingin ada keributan dan memancing para pekerjanya untuk membentuk sebuah opini.
Dalam perjalanan menuju kantor polisi, dia hanya bisa terdiam. Dia yakin bisa menyelesaikan masalah ini sendirian. Dia tidak bisa mengandalkan Elrich. Suaminya sedang dalam ruang operasi sekarang.
"Anda dituntut dengan tuduhan melakukan tindak kekerasan, Nona."
"Boleh aku tahu siapa yang membuat laporan itu?" Walau dia sudah bisa menebak jika ini adalah ulah Freya, namun dia tetap perlu sebuah kejelasan.
__ADS_1
"Freya Moeremans."
Dia mengangguk. Benar dugaannya jika semua ini ulah wanita itu.
"Apa saya bisa memberi penjelasan untuk membela diri?"
"Silahkan hubungi penjamin anda atau pengacara anda. Sebab Nona Freya sudah menyerahkan bukti berupa tes visum tubuh atas tindakan kekerasan yang anda lakukan kepadanya."
Damned!
Dalam hati dia mengumpat keras. Namun, dia juga sudah memiliki bukti untuk membebaskannya dari kasus ini.
"Baiklah, saya akan menelpon penjamin saya."
Dengan berat hati, akhirnya dia mencoba menghubungi suaminya. Dia tidak yakin El akan menerima panggilan ini namun dia tak punya pilihan lain. Tak mungkin dia merepotkan Yemima terus, bagaimanapun dia sudah bersuami.
Benar saja, panggilan itu tidak tersambung. Dia mencoba menelepon pada pihak rumah sakit, siapa tahu disana dia bisa menitip pesan agar El segera menghubunginya nanti.
Pihak rumah sakit menerima pesannya. Mereka mengatakan jika El memang sedang dalam ruang operasi. Dia hanya meminta agar mereka memberitahu El untuk menghubunginya karena ada perihal penting. Dia tak memberitahu detailnya. Apalagi sampai mengatakan keadaannya yang sedang di kantor polisi saat ini.
***
Dilain sisi, Freya tersenyum puas. Dia tidak berniat menjebloskan Abrine ke penjara. Tapi, dia hanya berniat merusak pamor baik wanita itu.
Saat polisi mendatanginya dan membawa Abrine untuk masuk ke mobil polisi, diam-diam Freya menyuruh seseorang untuk merekam kejadian yang sempat terjadi itu.
Dan sekarang rekaman saat Abrine dibawa oleh pihak berseragam itu sudah berada dalam genggaman tangannya.
Dalam sekali klik, rekaman itu sudah menyebar luas. Tentu saja itu bisa dilihat oleh banyak orang. Dan akan mudah menjatuhkan Abrine nantinya.
Video berdurasi tak sampai semenit itupun beredar. Banyak orang yang sudah melihat hal tersebut, tak terkecuali Raymond yang sedang melakukan meeting dengan kliennya di sebuah rooftop hotel ternama.
"Breng sek!" Dia segera menyudahi meetingnya. Dia tahu ini ulah siapa. Siapa lagi jika bukan Freya yang tidak menerima keputusannya waktu itu. Dia bukan hanya menebak-nebak, tetapi dia memang dapat kiriman video itu langsung dari Freya.
"Ivan?"
"Ya, Tuan?"
"Hubungi pihak humas, hapus semua video yang beredar hari ini mengenai Abrine."
Ivan, asisten Raymond, sudah mengetahui jika Tuannya sangat sen-si-tif jika ada hal yang berkaitan dengan wanita bernama Abrine.
"Baik, Tuan."
Raymond menggeleng samar. Dia segera menekan tombol hijau di ponselnya dan menghubungi Freya saat itu juga.
__ADS_1
"Baiklah, katakan apa yang kau inginkan!" ujarnya berang.
******