
Elrich, Abrine, Yemima dan Xander akhirnya makan siang bersama di Restoran terdekat.
El berinisiatif memesankan makanan untuk Abrine karena dia melihat istrinya banyak diam sejak tadi.
"Makanlah, apa aku perlu menyuapimu juga?" kelakar El pada Abrine. Ucapannya itu membuat Yemima dan Xander mengulumm senyum, sementara Abrine hanya menyunggingkan senyum tipis.
"Aku bisa makan sendiri, El."
Elrich mengangguk. Dia membiarkan Abrine menikmati makan siang itu sementara dia dan Xander saling membahas mengenai dunia pekerjaan mereka.
"Ah, apa kau sudah melihat video kalian yang viral?" sela Yemima diantara percakapan Xander dan El.
"Sudah, tidak ada yang salah dengan hal itu, kan?" jawab El dengan cueknya.
"Iya, tapi karena hal itu Abrine jadi disangka telah mempermainkan banyak pria," ujar Yemima keceplosan. "Astaga!" Dia segera menutup mulutnya rapat-rapat.
"Kenapa? Apa ada yang aku lewatkan?" Elrich memandangi Abrine dengan lekat, dia baru menyadari jika pipi istrinya terlihat memerah. El menyentuhnya pelan. "Apa terasa sakit? Ku pikir pipimu agak memar, Sayang," katanya dan Abrine malah menatap Yemima seolah protes karena mulut Yemima yang tidak ada rem-nya.
"Tidak apa-apa, ini... hanya--hanya karena kesalahpahaman saja," jawab Abrine akhirnya.
El memutar tubuh agar bisa melihat Abrine lebih seksama lagi. "Kesalahpahaman apa? Apa yang sudah terjadi?"
"Abrine ditampar oleh Freya." Yemima mengadu, dia tidak tahan jika harus menyembunyikan hal ini. Biar saja El tahu sekalian.
"Mima!" seru Abrine tak setuju jika Yemima mengatakan hal yang telah terjadi.
"Biar saja suamimu tahu, Brine!" Yemima kembali menyahut. "Jadi, Freya itu pacarnya Raymond. Kau tahu Raymond, kan, El? Freya ditinggalkan oleh Raymond, dia menyalahkan Abrine karena hal itu. Lalu, video kalian viral. Akibatnya, Freya jadi menganggap Abrine sudah mempermainkan Raymond karena memilihmu. Begitulah...." jelas Yemima panjang lebar yang cukup dimengerti oleh El.
Abrine tertunduk diposisinya. Dia tidak enak pada El karena lagi-lagi dia sudah membuat masalah.
"Jadi, kalian bertengkar, hmm?" El menanyai Abrine dengan suara lembutnya.
Abrine mengangguk tak bisa mengelak lagi. "Aku tidak akan membuat masalah jika dia tidak lebih dulu memulainya," jawabnya pelan.
"Aku percaya padamu. Setelah ini kita obati memarnya, sepertinya itu sangat perih, dia pasti menamparmu sangat keras." Sebenarnya El menggeram dalam hatinya, dia tak terima istrinya diperlakukan kasar seperti ini. Dia ingin membalas, tapi apakah etis jika dia membalas perlakuan seorang wanita?
Setelah makan siang itu usai, Abrine mengikuti El ke ruangannya yang ada di Rumah Sakit. El mengangkat tubuh Abrine dan mendudukkannya diatas meja.
"El, kenapa seperti ini?"
"Diamlah, aku akan mengobatimu," ujar El sembari membuka kotak obat-obatan. Sebelumnya, El sudah menelepon seorang perawat untuk membawakannya es batu, dia ingin mengompres pipi Abrine lebih dulu
"Permisi Dokter, ini pesanan anda." Perawat itu tampak tersenyum malu-malu saat melihat ada seorang wanita didalam ruangan El.
El menyadari senyuman perawat itu yang terlihat penuh arti. Tak ingin orang beranggapan yang tidak-tidak, El segera buka suara.
"Suster Anna, dia Abrine, istriku."
Perawat itu tampak terkejut, kemudian mulai mengeluarkan suaranya yang pelan. "Ehm, ma-maaf, Dokter. Saya tidak bermaksud--"
"Tak apa," potong El cepat. "Terima kasih bantuannya, Suster Anna," lanjutnya.
__ADS_1
Perawat itupun berlalu setelah melempar senyum ramah pada Abrine.
El mulai mengompres pipi istrinya dengan sangat hati-hati dan perlahan.
"Arkhh..." Abrine meringis kecil.
"Apa aku menyakitimu?"
"Tidak, El. Aku sudah biasa seperti ini. Lagipula kau tidak usah repot, aku bisa mengobatinya sendiri."
El menatap Abrine heran. "Kau kenapa? Sejak tadi ku perhatikan kau banyak diam. Apa aku ada melakukan kesalahan?" tanyanya.
Abrine menggeleng. "Aku minta maaf telah membuat keonaran dan merepotkanmu, kau pasti malu memiliki istri seperti aku."
Elrich malah terkekeh. "Sayang, jangan merasa seperti itu, sedikitpun hal seperti itu tidak terlintas di pikiranku."
Abrine memegang tangan El yang masih berada di pipinya. Mereka saling bertatapan lama, hingga akhirnya Abrine kembali buka suara.
"Boleh aku bertanya padamu satu hal?"
"Tanyakanlah, kau boleh bertanya apapun padaku."
Abrine mengulurkan sebelah tangannya, secara perlahan tangannya menutupi sisi wajah El hingga menyisakan bagian matanya saja. Wajah Abrine terlihat terkejut untuk beberapa saat, entah apa yang dipikirkan oleh wanita itu. El sendiri tidak tahu apa maksud Abrine menutupi separuh wajahnya, dia masih diam saja menanti ujaran Abrine selanjutnya.
"Aku sudah mengingatnya." Abrine menundukkan wajah, tangannya berangsur-angsur turun dan wajah sang suami.
"Ingat? Ingat apa?" El mengernyit dalam.
"El, aku mau bertanya. Kenapa kau membohongiku?"
"Kecelakaan itu. Aku tidak pernah menabrakmu waktu itu!" tukas Abrine sambil membuang pandangannya kearah lain.
Sekarang El tahu kemana arah pembicaraan ini, termasuk kenapa Abrine banyak diam sejak dia keluar dari ruang operasi tadi. Rupanya, masker yang menutupi wajah El, membuat pikiran Abrine mengingat hal saat dia mencium El lebih dulu di momen pertemuan mereka yang pertama kali. Mungkin, inilah saat dia harus berterus terang pada Abrine.
Sebenarnya El sudah harap-harap cemas, dia yakin Abrine akan mencecarnya dengan kemarahan sekarang, tapi dia harus siap menerima resiko atas kebohongannya yang tak sengaja waktu itu.
"Sebenarnya aku tidak sengaja membohongimu, Sayang. Aku--aku, waktu itu aku tidak tahu kenapa aku mengiyakan pernyataanmu. Aku tidak pernah mengatakan kau yang menabrakku, kau yang mengatakannya dan kesalahanku adalah mengiyakannya."
Abrine tertawa sumbang sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia merutuki kebodohan dirinya sendiri. Kenapa baru sekarang dia tersadar.
"Brine, aku memaklumi jika kau marah padaku. Tapi, ingatlah bahwa kita sudah menikah sekarang jadi---"
"Aku tahu!" potong Abrine, membuat ucapan El terhenti di udara. "Jadi, waktu itu aku lebih dulu menciummu, kan?" lanjutnya.
"Abrine, sayang.... sudahlah, maafkan aku."
"Kenapa? Aku ingin membahasnya. Membahas kebodohanku!" tekan Abrine. "Selama ini kau pasti menertawakan kebodohanku, kan?" tebaknya.
"Sayang..." El menggelengkan kepalanya. "Cukup...." lanjutnya.
"Ya, Tuhan. Kenapa aku sebodoh ini?" Sebenarnya Abrine marah karena dirinya sendiri dan dia malu setelah tahu bahwa dia pernah mencium El dipertemuan pertama mereka.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang membuatmu merasa bodoh? Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu, Brine!"
Abrine menatap El nyalang. "Kembalikan ciuman pertamaku, El!" ujarnya lantang.
El kebingungan dengan ucapan Abrine. "Apa kau menyesal menciumku waktu itu?"
Abrine mengangguk. "Ya. Karena waktu itu aku menganggapmu sebagai pria lain. Maafkan aku."
El masih menatap Abrine dengan tatapan kebingungan. "Jadi, kau menyesal karena hal itu? Soal kebohonganku bagaimana?" tanyanya.
"Kau benar, kebohonganmu waktu itu karena pernyataanku juga. Kau tidak perlu meminta maaf, mulai sekarang aku akan menganggap kecelakaan itu dan kebodohanku adalah sebuah berkah."
"What? Berkah?" El terbengong.
"Iya, karena kita jadi terikat pernikahan seperti sekarang. Aku beruntung, bukan?"
Kali ini Elrich malah tertawa keras. "Sayang, ku pikir kau akan memukulku!" katanya terus terang.
"Awalnya aku ingin begitu, tapi aku akan rugi jika kehilangan dokter pribadiku yang tampan."
Elrich memeluk istrinya dengan perasaan lega. Sekarang, dia tenang karena hal ini sudah diketahui oleh Abrine dan respon istrinya itu sangat diluar perkiraannya. Dia pikir Abrine akan marah dan merajuk, tapi dia sadar bahwa istrinya memang lain daripada yang lain.
"Ehm, kau meminta aku mengembalikan ciuman pertamamu, kan?" El memegang kedua pundak Abrine. Posisi Abrine yang duduk diatas meja kerjanya, membuat tinggi mereka hampir setara.
"Memangnya bisa?" tanya wanita itu dengan tatapan polos.
"Bisa!" El memajukan wajah dan langsung menyergap bibir istrinya saat itu juga.
Suara deritan pintu yang dibuka dari luar membuat keduanya refleks menjauhkan tubuh satu sama lain, itu juga otomatis menghentikan kegiatan intens mereka berdua.
"Astaga, apa aku mengganggu sepasang pengantin baru?" Yemima melihat mereka berdua dengan tatapan sungkan.
Elrich ingin marah jika saja itu bukan Yemima, tapi mana mungkin dia melakukan itu pada wanita yang bukan bawahannya dan lagi Yemima adalah kekasih Xander, sahabatnya.
"Seharusnya kau mengetuk pintu dulu, Mima," kata Abrine lesu.
"Ma--af..." Yemima menggigit bibir. "Ah, aku ingin cepat menikah juga, jadi kalau berciuman di ruang kerja tetap sah-sah saja, ya!" sindirnya.
"Sial!" gumam El mengumpat, yang entah ditujukan pada siapa. Sepertinya ucapan Yemima membuatnya benar-benar tersindir.
"Kau mau pulang bersamaku atau bersama El, Brine?" tanya Yemima kemudian.
Memang setelah makan siang tadi, Abrine ke ruangan El sementara Yemima masuk ke ruangan Xander. Jadi sekarang wanita itu ingin mengajak Abrine pulang bersama.
"Aku ikut denganmu saja. El masih ada pekerjaan setelah ini."
"Baiklah, lanjutkan yang tadi. Aku tunggu diluar. Tapi jangan lama-lama," kata Yemima pengertian. Dia mengedipkan matanya menggoda Abrine dan El.
Seperginya Yemima, El kembali menatap Abrine. "Tunggu aku pulang, sebelum gelap aku sudah akan tiba di rumah," katanya.
"Hmm," Abrine menganggukkan kepalanya, setelah itu El mengecup dahi Abrine dan bertahan disana selama beberapa detik.
__ADS_1
"Kalau ada masalah lagi, telepon aku atau jika tidak bisa segera hubungi Xander, jangan menutupinya dariku." Elrich berujar sambil mengolesi gel dingin ke pipi istrinya.
******