PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
78. Ide Cemerlang


__ADS_3

"Ada apa, Ray?" Abrine meletakkan tasnya diatas meja bersamaan dengan dia yang mendudukkan diri di sebuah sofa.


Kini Abrine, Anne dan Raymond sudah berada di dalam cafe untuk berbicara.


"Kau sehat? Terakhir kali aku mendengarmu tak masuk ke kantormu karena kau sedang tak enak badan."


Abrine mengangguk. "Aku sudah baik-baik saja, Ray," ujarnya.


"Begini, aku mendengar soal wanita bernama Claire..."


"Lalu?"


"Aku khawatir padamu, Brine. Aku tidak mau kau terlibat dengan wanita seperti itu."


"Aku sudah terlalu terbiasa menghadapi wanita seperti Claire."


"Tidak, dia berbeda. Aku menyelidikinya, terakhir kali ku dengar dia akan segera dipindahkan ke rumah sakit jiwa."


"Sudahlah, Ray... aku tidak mau membahasnya."


"Tapi, Brine... apa kau tahu semua ini karena masa lalu pria itu?" tanya Raymond. Dia merujuk pada Elrich, tapi dia enggan menyebutkan El sebagai suami Abrine jadi dia hanya mengatakan mengenai 'pria itu'.


"Ya, aku cukup sadar dengan hal itu. Tapi, setelah aku dan El menikah itu artinya kami sama-sama harus siap menghadapi masa lalu dari pasangan kami masing-masing."


"Tapi, Brine---"


"Seperti El yang mau tak mau juga harus menghadapimu, Ray," sela Abrine memotong perkataan Raymond.


Ucapan Abrine benar, Raymond merasa tersadar bahwa diapun sama seperti Claire. Bedanya, Claire berasal dari masa lalu Elrich, sedangkan dia adalah bagian dari masa lalu Abrine.


"Baiklah, kedepannya aku berharap kau lebih berhati-hati lagi," lirih Raymond yang tak bisa memprotes lebih.


"Hem, aku tahu hal itu. Terima kasih kau masih mengkhawatirkanku."


"Always...."


Anne hanya bisa menjadi pendengar setia diantara percakapan yang tercipta diantara Raymond dan Abrine. Sesungguhnya didalam dirinya, dia merasa kasihan pada Raymond yang ditinggal Abrine menikah. Dia kira selama ini mereka memiliki hubungan khusus.


"Kau tampak lebih berisi sekarang." Raymond sudah bisa menguasai keadaan, dia mulai terlihat bersikap sebiasa mungkin.


"Ya, berat badanku memang naik." Abrine tak mau mengatakan soal kehamilannya. Entahlah, dia masih enggan terbuka mengenai hal ini meski kepada Raymond sekalipun.


Dulu, Raymond adalah orang yang paling dia percayai. Bahkan setiap ada hal baik yang dia dapatkan, Raymond menjadi orang pertama yang dia beri tahu. Tapi sekarang, semuanya telah berbeda. Termasuk perasaannya pada pria ini yang perlahan-lahan seakan sudah terkikis dan mulai habis menjadi biasa saja.


"Apa kau bahagia?"


"Kau sudah menanyakan hal ini berulang kali, Ray. Mungkin berat badanku yang naik bisa menjadi bukti nyata untukmu. Kau bisa melihat jika aku bahagia, kan?"


Raymond mengangguk samar. "Ku harap apa yang kau katakan memanglah yang sebenarnya kau rasakan."

__ADS_1


"Ah ya, bagaimana project mu dengan ibuku?"


"Oh, semuanya baik-baik saja. Kami akan segera menyelesaikan tahap akhirnya. Bibi Xena sangat profesional, belakangan dia tidak pernah membahas hal pribadi ditengah-tengah kerja sama kami."


Raymond tahu hal ini, dia hanya ingin memastikan bahwa ibunya tidak mengganggu Abrine lagi. Dia juga sudah menentang rencana Xena yang bekerja sama dengan Freya untuk membuatnya melupakan Abrine. Sebab, sampai kapanpun dia tidak akan bisa melupakan wanita yang dia cintai begitu saja.


Suara deringan ponsel membuat Abrine harus menerima panggilan itu secepatnya. Itu adalah panggilan dari Elrich.


"Ya, El?"


"Kau dimana? Aku sudah di jalan pulang. Jika belum keluar dari kantor, aku akan menjemputmu sekalian."


"Boleh, tapi aku sedang berada di Jazz Cafe. Jaraknya tak terlalu jauh dari gedung kantor. Kau bisa mampir kesini?"


"Baiklah, tunggu aku disana."


Raymond dan Anne dapat mendengar pembicaraan Abrine melalui sambungan seluler itu. Dan mereka sudah bisa menebak jika itu adalah Elrich yang akan menjemput Abrine.


Tak berselang lama, Elrich tiba di cafe itu dan mendapati istrinya bersama dengan Raymond, pria yang beberapa waktu lalu juga sempat dia pukuli.


"Mau apa dia bersama Abrine? Apa dia mengadu soal pemukulan itu?" batin El mulai menerka-nerka. Namun, El tak menyurutkan niat, dia melangkah jenjang kearah meja mereka.


"Sayang?" sapa El sembari mencium pipi istrinya sekilas.


Anne tersenyum dalam diamnya melihat keromantisan mereka. Sementara Raymond terpaksa membuang pandangan karena hal itu cukup membuat hatinya memanas.


"El, duduklah... kau mau memesan minuman?"


Kedua pria itu kini saling memandang, seolah tengah menantang lewat sorot mata masing-masing. Tapi, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir keduanya untuk saling menyapa.


Abrine memesankan minuman untuk sang suami. Mereka berempat berkumpul disana.


"Ada pertemuan penting, ya?" Tebak El. Apa mereka disini karena membahas pekerjaan? Mungkin juga.


"Tidak juga, kami hanya bicara santai, El." Abrine membuka suara.


"Oh, mengenai apa, sayang?" El menatap Abrine dengan senyuman khas-nya. "Apa pembicaraan mengenai mereka berdua?" kata El merujuk pada Anne dan Raymond.


"Mereka berdua? Mereka siapa maksudmu?" tanya Raymond menyahuti.


"Ya, kalian. Kau dan Anne."


Seketika itu juga Anne yang sedang menyeruput minumannya langsung tersedak. Apa suami atasannya ini sedang membuat sebuah lelucon? Tapi wajahnya terlihat serius dan tak ada kesan percandaan sama sekali.


"Haha, yang benar saja!" Raymond tergelak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan ucapan Elrich.


"Ya, tapi kalian cocok juga." Abrine memberikan pendapatnya dan disaat yang sama Raymond justru menatapnya dengan mata membola, terkejut.


"Apa-apaan, Brine!" protes Raymond. Abrine pun mengulumm senyum.

__ADS_1


"Miss, jangan bercanda." Anne pula yang bersuara.


Abrine dan Elrich saling memandang seolah memiliki pemikiran yang sama.


"Kenapa, Ann? Ku pikir ide suamiku ada benarnya."


Anne melotot tak percaya dengan ucapan sang atasan. Bahkan siang tadi Raymond baru saja mengancamnya penuh kemarahan karena tak memberi akses bertemu dengan Abrine. Kenapa sekarang malah dia seperti anak remaja yang dijodoh-jodohkan dengan pria ini?


"Kenapa aku tidak kepikiran ya. Idemu cemerlang juga, El." Abrine menepuk-nepuk punggung tangan suaminya seolah merasa bangga dengan pemikiran pria itu.


"Huh? Sangat aneh!" gerutu Raymond.


Setelah minumannya habis, Abrine mengajak El segera pergi dari sana. Sebenarnya dia sengaja, karena pembahasan mereka sebelumnya justru membuat Abrine memikirkan tentang mengapa Anne dan Raymond tidak bersama saja? Mereka terlihat cocok.


Jangan tanyakan perasaan cemburu yang dirasakan Abrine mengenai hal itu. Dia yakin dia tak memiliki perasaan semacam itu lagi terhadap Raymond sekarang.


"Kami duluan, ya. Suamiku tidak bisa makan jika bukan dari masakanku. Bye...."


"Tapi, Miss?" Bagaimana Anne tidak melayangkan protes. Abrine yang mengajaknya untuk menemani tadi. Kenapa dia justru ditinggalkan dengan sengaja seperti ini.


"Bye, Ray. Kalau kau tidak repot, tolong antarkan Anne ke Apartmennya, ya."


Raymond sudah membuka mulutnya untuk menolak tapi berhubung itu sebuah permintaan dari Abrine akhirnya dia kembali mengatupkan bibir.


"Anne, mintalah Raymond mengantarmu. Tapi setelah itu kau harus berhati-hati dengan wanita bernama Freya." Bahkan Abrine masih sempat-sempatnya berbisik di telinga sang sekretaris.?


Kemudian, tanpa persetujuan siapapun, Abrine justru meninggalkan Anne dan Raymond berdua disana. Dia menggamit lengan El dan melenggang pergi.


Sementara disana, Anne dan Raymond saling melempar tatapan yang sulit diartikan. Ada kemarahan, jengkel sekaligus aneh satu sama lain.


"Jangan memikirkan ucapan mereka. Kau tahu, Abrine itu suka bercanda." Raymond bangkit dari duduknya. Mengeluarkan beberapa lembar uang diatas meja sebab dia menolak saat tadinya El ingin membayar bill minuman mereka semua.


"Y-ya, aku tahu ini hanya percandaan." Anne mendadak gelisah dan serba salah. Dia salah tingkah sampai sudah ikut berdiri tapi kemudian dia terduduk lagi.


"Kau akan tetap disini?" Raymond yang hendak pergi justru kembali berbalik dan menoleh sekilas pada Anne yang masih enggan meninggalkan tempat duduknya.


"Ehm... ya, duluan saja."


"Tapi Abrine memintaku untuk mengantarmu."


"Tidak usah." Kedua tangan Anne dikibas-kibaskan, menolak.


"Ayolah! Aku tidak akan menawarimu dua kali. Jika sekarang kau menolak, aku benar-benar akan pergi."


Anne tampak berpikir sejenak, menimbang apa yang harus dia lakukan.


"Aku pergi," kata Raymond yang tak mau menunggu lebih lama.


Disaat itulah Anne menghela nafas panjang. Akhirnya dia hanya menatap tubuh jangkung Raymond yang perlahan menjauh dari pandangannya.

__ADS_1


"Miss Abrine, apa yang kau lakukan? Hah? Kau bisa merubah pandanganku terhadap Tuan Rodriguez..." batin Anne meronta, merutuk sikap Abrine yang sangat mengada-ngada dan dengan sengaja meninggalkannya berdua dengan Raymond.


*****


__ADS_2