PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
93. Sudah Menyerah


__ADS_3

Sementara itu, disebuah Apartmen yang berada dalam satu gedung yang sama dengan yang El dan Abrine tempati, Erika tengah menyidang putra semata wayangnya. Bagaikan seorang terdakwa, Wildan tengah diadili oleh ibu kandungnya sendiri.


"Kenapa, Er? Kenapa sejak awal kamu gak terbuka sama mama? Seharusnya kamu bilang sama mama mengenai kejadian yang menimpa Elrich!" ujarnya menuding Wildan.


"Udahlah, Ma.... berhenti urusin urusan keluarga Kak Elrich dan Abrine."


"Jadi, kamu udah nyerah sama usaha untuk mendapatkan Abrine?"


Wildan menarik nafas dalam. "Udah, ma. Udah!" tuturnya lirih.


Erika mendengkus keras. Kenapa putranya jadi pria yang gampang menyerah seperti ini? Wildan juga menyembunyikan fakta mengenai insiden tertusuknya Elrich. Padahal jika sejak awal dia tahu, pasti Erika akan mengambil kesempatan itu untuk membuat Elrich semakin menderita.


Erika baru mengetahui hal ini, karena kemarin dia tak sengaja berpapasan dengan orangtua Abrine di lobby Apartmen.


Raya dan Nev yang tak tahu apa-apa mengenai rekam hubungan tak baik antara Erika dan Elrich, menyapa kehadiran Erika disana.


Melihat itu, Erika membalas sapaan mereka, bersikap ramah dan segera menanyai tujuan mereka datang ke Jerman. Tanpa praduga, orangtua Abrine pun bercerita singkat mengenai insiden yang sempat menimpa Elrich.


Sejak awal merekapun mengira jika Erika adalah keluarga bagi menantunya, sama seperti Wildan.


"Kenapa kamu gampang menyerah, Er? Kenapa?" Wajah Erika memerah menahan amarah.


"Karena kak El bukan sainganku, Ma."


"Jadi apa?"


"Dia kakakku, Ma. Kakakku!" tukas Wildan membuat Erika ternganga tak percaya.


"Er.... kamu---"


"Sejak awal, karena mama lah hubunganku dengan Kak El jadi memanas." Kali ini Wildan yang justru menuding perempuan setengah baya itu.


"Erland!!!"


"Udahlah, Ma. Aku capek!" Wildan berbalik pergi menuju letak kamarnya dalam Apartmen itu.


"Udah berani kamu melawan mama, Erland?"


Wildan tak menyahut lagi, dia mengunci pintu dan mengurung diri didalam kamarnya.


Mendengar kemarahan sang Mama, membuat kepala Wildan makin berdenyut nyeri.


Jika diibaratkan, saat ini hati Wildan sedang diobati dan dalam masa pemulihan. Dia sudah merelakan Abrine tapi tetap saja dia butuh waktu untuk menenangkan diri, agar dia tetap baik-baik saja. Seharusnya ucapan sang Mama bisa memberi penghiburan padanya, tapi nyatanya mendengar suara Erika malah membuatnya semakin kesal saja.


Wildan memilih menyalakan laptopnya. Ada baiknya dia melihat perkembangan usahanya di Indonesia.


Beberapa email masuk. Salah satunya dari staff yang bekerja sebagai manajemen keuangan bagi outlet-outletnya.


Wildan pun memeriksa data yang dikirimkan padanya. Dia ingin mengalihkan pikirannya dari segala problem. Baik tentang perasaan maupun tentang desakan sang Mama yang tak berkesudahan.


Bagaimanapun, Wildan tahu dan bisa menilai jika Erika memiliki obsesi tersendiri untuk menghancurkan Elrich.


Satu jam kemudian, Wildan yang sudah merasa tenang, keluar dari kamarnya. Dia melihat Erika yang duduk sambil menghadap botol minuman beralkohol yang nyaris kosong.


"Astaga, selalu saja... Mama tidak pernah berubah," gumam Wildan.


Wildan tahu, Mamanya selalu minum-minum apabila sesuatu yang dia rencanakan tak sesuai dengan yang terjadi.

__ADS_1


Dengan perlahan, pria itu menghampiri sang Mama yang tampak melamun sambil memangku dagu dengan satu tangannya.


"Ma, udah ya, ma. Hentikan semua ini..." Wildan memberi nasehat.


"Kamu tau, mama sangat menunggu Edgar hancur. Dia pasti akan tersiksa melihat anak lelaki yang dia banggakan itu terluka." Erika menjawab tanpa memandang wajah sang putera.


"Gak perlu, ma. Gak usah. Ayah udah cukup tersiksa. Berita mengenai tertusuknya kak Elrich kemarin udah buat Ayah masuk rumah sakit."


Mendengar itu wajah Erika malah berbinar-binar. Berbanding terbalik dengan raut kesedihan diwajah Wildan.


"Yang bener kamu?" Erika menyeringai.


"Iya, kemarin aku mau menjenguk ayah tapi aku terlalu malu menampakkan wajahku didepannya."


"Ternyata dia bisa hancur tanpa aku harus bersusah payah," gumam Erika terdengar puas. Dia terkekeh senang, ditambah lagi efek minuman yang telah dikonsumsinya telah membuatnya mabuk.


Wildan meraup kasar wajahnya sendiri.


"Udah ya, ma... mau sampai kapan mama begini terus?"


"Kamu itu gak ngerti, Erland! Edgar itu udah buat mama hancur. Dia ngusir mama dulu, ngusir kamu juga! Padahal waktu itu kamu masih kecil, belum paham apapun yang terjadi."


"Tapi aku ingat waktu itu Mama yang bersikeras mau bawa aku. Ayah gak pernah ngusir aku, Ma!" Wildan mengingat jelas kejadian itu, karena saat itu terjadi dia sudah berusia belasan tahun. Tetapi, waktu itu dia masih labil dan belum sepenuhnya mengerti keadaan apa yang sesungguhnya, hingga menyebabkan sang Mama membawanya untuk ikut pergi dari kediaman sang ayah.


"Pokoknya Edgar udah ngusir kita! Gak ngasi kita uang untuk bertahan hidup di Jerman!"


"Sekarang aku tanya sama mama, kenapa ayah bisa ngusir kita? Karena kesalahan siapa yang buat ayah jadi marah?" Wildan bertanya dengan suara lembut dan penuh kehati-hatian, bagaimanapun dia takut menyinggung perasaan sang Mama.


Erika terdiam. Selang beberapa detik kemudian wanita itu bangkit berdiri dan mengomel tidak jelas sembari berjalan kearah kamarnya.


Wildan menghela nafas kasar. Erika sebenarnya sadar bahwa kejadian tak enak dimasa lalu itu murni karena kesalahannya sendiri, tapi selalu saja sang Mama tak mau disalahkan.


****


Abrine memandangi Elrich yang tengah diganti perbannya oleh seorang perawat pria. Bukan tanpa alasan, El takut Abrine akan merajuk lagi jika yang datang ke kediamannya untuk mengganti perban hari ini adalah perawat wanita, sehingga dia sengaja meminta Xander untuk mengirimkan perawat pria saja dari rumah sakit.


Elrich tampak tenang sampai perbannya sudah benar-benar terganti. Dia tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa lukanya itu masih sangat perih.


"Sudah selesai, Dokter. Saya permisi...." ujar perawat tersebut.


Elrich dan Abrine mengucapkan terima kasih dan mengantar sang perawat sampai depan pintu.


"Apa itu masih sakit?" tanya Abrine pada suaminya.


"Tidak, kau dengar sendiri kan, perawat itu mengatakan bahwa 90% lukanya sudah mengering. Ini hanya sedikit gatal di beberapa sisi..."


Abrine mengangguk. Elrich mendekat padanya dan ingin merangkul bahu wanitanya, sayangnya sebelum itu terjadi El lebih dulu meringis kesakitan.


Abrine panik dengan mata membulat.


"El, kenapa? Sudah ku bilang jangan terlalu banyak bergerak!" omel Abrine. Dia melihat pada perban dibelakang tubuh sang suami dengan respon yang kelimpungan.


"Apa sangat sakit?" Abrine mematut wajah khawatir.


Disaat itulah Elrich terbahak. Dia hanya mengerjai Abrine lagi dan lagi.


"Kau ini! Aku tidak mau mempercayaimu lagi!" Abrine bahkan memukul lengan Elrich dan berlalu dari hadapan suaminya.

__ADS_1


"Sayang, aku cuma bercanda...." El mengejar langkah Abrine.


Saat El berhasil mengikuti sang istri, rupanya Abrine tengah melamun dan menatap pada gedung-gedung pencakar langit dari sebuah jendela kaca lebar didalam kamar mereka. Posisinya pun membelakangi Elrich sekarang.


Abrine bersedekap, tanpa mau melihat wajah suaminya, dia mulai mengeluarkan omelan.


"Sekali saja, El. Bisa tidak, jangan membuat lukamu itu menjadi sebuah lelucon! Aku sangat khawatir padamu! Apa tidak bisa kau serius sedikit! Aku takut sesuatu yang buruk terjadi lagi padamu yang hampir sembuh."


Elrich menghela nafas pelan. Dia memeluk leher istrinya dari belakang, mengungkung tubuh itu, meraih kepala Abrine agar bersandar didada bidangnya.


"Maafkan aku... aku hanya ingin sedikit menghiburmu. Beberapa hari ini kita terlalu serius, kan?" bisiknya.


"Menghibur katamu?" protes Abrine masih tak terima.


"Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir lagi. Aku benar-benar menyesal." El mengecup puncak kepala istrinya.


"Sudahlah, El. Lebih baik kau tidur saja!" Abrine ingin bergerak dan menghindar. Dia masih kesal dengan ulah suaminya. Tapi El tidak memberinya akses untuk keluar dari dekapannya.


"Aku tidak mau tidur, Brine. Maunya menidurimu." Tangan El yang satunya sudab menelusup kedalam piyama yang Abrine kenakan.


"Dasar me sum!" sentak Abrine. Dia menepis tangan El sebelum jemari itu menyentuh titik titik kelemahannya.


"Please...."


"Tidak mau."


"Kau tahu, menahannya selama dua Minggu itu sangat sulit."


"Kau, kan, masih sakit!" kata Abrine mencari alasan.


"Yang sakit punggungku. Tapi tubuhku yang lain tidak."


Abrine tak bisa menjawab lagi, kala dia merasakan ada sesuatu yang menge ras di balik punggungnya. El bahkan sengaja mengge-sekkan itu disana untuk menunjukkan bukti gai rahnya yang telah menjadi.


"Emph...." Abrine menahan de sahannya yang keluar-- begitu El menciumi tengkuknya dan menyurukkan wajah di perpotongan lehernya.


"Disini saja, ya? Standing position," bisik El diliputi has rat.


"Ti-tidak. Kita bisa dilihat orang, El." Abrine menolak.


Tak menyahut, El malah me lucu ti baju istrinya.


"El!"


"Tidak ada yang akan melihat. Ini lantai teratas. Kalaupun ada, mungkin orang di gedung sebelah yang juga berada di lantai yang sejajar dengan kita. Atau jika ada helikopter yang kebetulan melintasi jalur ini."


"You're crazy!"


"Yes, i am. Biar saja! Kau yang membuatku gila."


Wajah Abrine memerah mendengar hal itu. Suaminya ini kadang-kadang memang gila dan sulit ditebak. Sama sepertinya juga, kan?


****


SIAPA YANG MAU NOLAK MAS BULE? NYESEL DONG KALO ABRINE NOLAK... MWEHEHEHE🤭


__ADS_1



__ADS_2