PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
97. Ingin bicara


__ADS_3

Anne terbangun di pagi harinya dengan kepala yang terasa berat. Sadar bahwa dia tengah berada didalam sebuah kamar hotel, Anne segera memeriksa keadaan dirinya. Dia sangat bersyukur karena kondisinya tidak kurang satu apapun.


Pakaian masih lengkap dia kenakan. Hanya saja, kenapa dia bisa berada didalam kamar ini?


Apa ini ulah Mr. Alison? Jika iya, kenapa Anne merasa baik-baik saja. Jika dia memang berakhir menjadi salah satu korban pria buncit itu, pasti keadaan dirinya tidak sebaik ini sekarang.


Lelah menebak-nebak, Anne memutuskan untuk mencuci wajahnya di wastafel kamar mandi. Setelah cukup membersihkan diri. Anne segera berlalu dari kamar tersebut.


Saat melewati meja resepsionis, Anne kepikiran untuk bertanya disana saja.


"Ehm, bisakah aku tau siapa yang memesan kamar untukku malam tadi? Ehm... maksudku, kamar itu atas nama siapa?" Anne menggaruk-garuk lengannya karena canggung dengan pertanyaannya sendiri.


Sang resepsionis menatapnya dengan senyuman kecil. "Kamar nomor berapa yang anda tempati, Nona?" tanyanya.


"1428"


"Kamar itu hanya dipesan satu kali. Check in malam tadi, atas nama Tuan Rodriguez."


"Apa?" pekik Anne antara percaya dan tidak.


"Apa ada yang salah, Nona? Ada yang bisa kami bantu?"


Anne memasang cengiran. Sadar jika reaksinya terlalu berlebihan. "Emm... tak apa, sorry," ujarnya sungkan.


Anne segera beranjak dari area hotel.


Dipikirannya saat ini adalah kenapa bisa kamar hotelnya dipesan atas nama Tuan Rodriguez?


Cukup banyak populasi orang yang memiliki nama tersebut, tapi hanya ada satu orang kenalan Anne yang memiliki nama belakang yang sama. Raymond. Tapi, apa mungkin? Kenapa bisa?


*****


Abrine harus kembali ke kantornya hari ini. El juga sudah mulai menjalani aktivitasnya seperti sedia kala karena pria itu ngotot bahwa dia sudah benar-benar pulih dan ingin bekerja kembali.


Sayangnya, ketika Abrine tiba dikantornya dia tidak menjumpai Anne dimanapun.


"Apa Anne tidak masuk kantor hari ini?" gumam Abrine.


Tak berselang lama, Abrine menerima panggilan dari sang sekretaris. Rupanya Anne izin untuk datang terlambat.


Abrine memaklumi, meski begitu dia cukup heran karena ini tak biasa Anne lakukan.


Menjelang pukul 10 pagi, barulah Anne datang ke kantor. Dia terlihat tidak seperti biasanya. Wajahnya tampak lelah. Seperti memendam beban yang berat.


"Anne, are you okay?" Abrine menatap Anne keheranan. "Apa ada masalah?" tanyanya kemudian.


"Maafkan aku, karena datang terlambat, Miss."


"Bukan, bukan karena itu. Aku memakluminya. Kau juga tidak pernah seperti ini sebelumnya. Kau kenapa, Anne?"


Anne menggeleng tapi matanya tidak bisa menutupi bahwa sesuatu telah terjadi.

__ADS_1


"Anne, jika ada masalah kau tidak perlu memaksakan diri untuk masuk kerja." Abrine mencoba pengertian. Dia tak mungkin memaksa Anne untuk bercerita masalah pribadi kepadanya.


"Ehm... tidak ada, Miss. Aku hanya kelelahan saja."


"Ambilah cuti. Kau tidak pernah mengambil cuti tahunan mu. Kau bekerja sangat keras, Anne."


"Hemm, aku akan memikirkannya, Miss. Thank you."


Abrine mengangguk dengan ekspresi tak puas. Dia berharap Anne memikirkan sarannya untuk bercuti.


"Ehm, Miss... bolehkah aku bertanya sesuatu tapi hal ini adalah hal pribadi, tidak menyangkut pekerjaan sama sekali."


"Boleh, tanyakan saja."


"Mengenai.... mengenai..." Anne ragu melanjutkan kalimatnya.


"Mengenai apa? Tanyakan saja."


"Tu-tuan Rodriguez...." lirih Anne.


"Raymond?" Wajah Abrine semringah. Bukan karena harus membicarakan Raymond yang membuatnya bersemangat tapi dia mengira telah terjadi sesuatu antara Anne dengan sahabatnya itu.


"Iya, Miss.."


"Kau mau tanya tentangnya? Mengenai apa?"


"Apa dia pria breng sek?" tanya Anne to the point-- membuat Abrine terperangah. Melihat ekspresi Abrine, Anne buru-buru meralat kalimatnya. "Ehm... maaf, aku tidak bermaksud untuk---"


"Tak apa, kau mau tahu soal itu kan?"


"Yang aku tahu... dulunya Raymond memang suka bersenang-senang. Ya semacam itulah, kau pasti tahu apa maksudku, kan?"


Mendengar itu wajah Anne berubah pias. Apa semalam telah terjadi sesuatu padanya dan Raymond di kamar hotel? Astaga.... jika memang iya, tapi dia merasa tak ada yang aneh pada tubuhnya.


"Memangnya kenapa Anne? Apa kalian sudah semakin dekat dan ingin menjalin hubungan yang serius?"


Pertanyaan Abrine membuat semua pikiran Anne buyar. Dia segera mengibas-ngibaskan tangan dihadapan sang atasan.


"Tentu saja tidak, Miss."


"Tapi, ku rasa sekarang Raymond sudah berubah. Pada dasarnya dia memang pria yang baik." Abrine menepuk pelan pundak Anne.


Anne terdiam dengan pikiran yang sudah berkelana entah kemana. Pasalnya, sebelum dia ke kantor tadi, tepatnya setelah dia pulang dari hotel dan menuju kediamannya untuk berganti pakaian, kepulangannya itu mm disambut oleh kemarahan Kakaknya, Jerry.


Padahal, niat awal Anne adalah dia yang ingin mengumpat sang kakak karena akhirnya dia berakhir di sebuah kamar hotel. Nyatanya, justru dia yang dicerca habis-habisan. Itulah mengapa dia telat datang ke kantor tadi dan itu pula yang membuatnya tak semangat hari ini.


Jerry juga menyebut-nyebut nama Tuan Rodriguez, membuat Anne semakin berburuk sangka pada Raymond.


"Kau punya hubungan apa dengan Tuan Rodriguez, hah? Bisa-bisanya dia datang menjemputmu disaat Mr. Alison sudah mau bekerja sama!"


Itulah ucapan Jerry beberapa jam lalu kepada Anne. Tentulah hal itu membuat Anne semakin bingung-- situasi apa yang telah terjadi sebenarnya? Andai saja semalam dia tidak mabuk, pasti dia tahu apa yang dia alami.

__ADS_1


*


Menjelang makan siang, Abrine tidak sengaja berpapasan dengan seorang pria yang tak lain dan tak bukan adalah Raymond.


"Kau sedang apa disini, Ray?" tanya Abrine karena lagi-lagi pria itu mendatangi kantornya.


"Huh, akhirnya aku bisa menemuimu juga. Bagaimana kabarmu, Brine? Aku sempat mendengar berita mengenai apa yang terjadi pada suamimu."


"Aku baik, El juga sudah pulih. Tapi...." Abrine menatap Raymond dengan pandangan menyelidik. "Apa kau yakin kesini hanya untuk menanyakan kabarku?" tanyanya berniat menyindir.


"Hah? Apa maksudmu? Tentu saja aku ingin menanyakan kabarmu. Aku bahkan mencarimu sejak beberapa hari yang lalu. Come on, Brine. Aku tidak tahu dimana kau tinggal sekarang."


Raymond terlihat santai dan tidak gugup menjawab pertanyaan Abrine, padahal wanita itu berharap Raymond akan membahas sedikit mengenai hubungannya dengan Anne. Tapi, bagi Raymond, memang tak ada apapun yang menarik di kantor Abrine selain wanita itu sendiri.


"Tidak ada, aku pikir kau mau cerita soal... ehm, soal hubunganmu dengan Anne."


"Apa? Hubungan? Dengan Anne? Astaga.... Brine."


Raymond bahkan terkekeh santai seolah menganggap Abrine tengah melemparkan lelucon yang sangat konyol.


"Dengar, aku tidak sedang menjalin hubungan apapun dengan siapapun apalagi dengan sekretarismu itu. Ku pastikan itu tidak akan terjadi."


"Huh, yakin sekali kau ini..." cibir Abrine.


"Ya, ya, aku memang sudah mengikhlaskan mu, tapi aku belum bisa melupakanmu, Brine. Eitss ... tapi, aku mengatakan ini bukan berharap agar kau membalas perasaanku. Aku hanya berkata yang sebenarnya. Jikapun kau mau membalasnya itu sangat tidak apa-apa!" kelakar Raymond disertai tawa diujung kalimatnya.


"Kau ini! Masih saja." Abrine memukul pelan lengan Raymond dengan sebuah kertas file yang dipegangnya.


Percakapan mereka yang dilakukan didepan resepsionis itu, tak sengaja harus didengar oleh Anne. Dia pun mengetahui bahwa Raymond masih menyimpan rasa untuk Abrine, atasannya.


Apakah Anne harus peduli mengenai hal itu? Tidak, itu bukan urusannya.


Tapi, kenapa perasaannya terasa tersentil akan hal ini. Jika benar malam tadi ada sesuatu yang terjadi antara dia dan Raymond, haruskah dia menanyakannya secara langsung? Tapi, dia dan Raymond tidak sedekat itu, kan? Bagaimana caranya dia mengajak pria itu agar bisa bicara empat mata untuk membahas hal semalam?


"Sudahkan? Kau sudah melihatku yang baik-baik saja." Abrine kembali bertanya pada Raymond. Disaat yang sama Anne pun berlalu dari tempat dia berdiri sebelumnya.


"Ya, kau nampak sehat. Melihatmu begini aku sudah cukup puas." Raymond terkekeh. Tak sengaja dia menangkap siluet tubuh seseorang yang baru saja memasuki lift. Tak salah lagi, itu adalah Anne.


Entah kenapa sejak menolong Anne semalam, Raymond jadi memikirkan nasib malang gadis itu. Bagaimana jika malam tadi dia tidak menolongnya?


Raymond ingin sekali bicara empat mata dengan Anne. Bukan membicarakan tentang perasaan tentunya. Tapi, dia ingin memperingatkan Anne untuk menjaga jarak dari pria bernama Jerry. Bagaimanapun, Raymond tahu jelas seluk-beluk mengenai keburukan Jerry yang memiliki banyak hutang.


"Ah, apa peduliku?" gumam Raymond dihadapan Abrine.


"Apa yang kau katakan?" tanya Abrine terheran-heran.


"Ng... tak ada. Kau salah dengar. Aku permisi, ya. Aku tidak mau suamimu menghajarku lagi nanti."


"Apa El pernah menghajarmu?" tanya Abrine cukup terkejut.


"Hahaha, kau tanyakan saja padanya. Bilang padanya, aku tidak takut jika harus duel dengannya tapi aku tak melakukan itu karena aku menghargaimu saja dan aku tak mau membuatmu bersedih nantinya."

__ADS_1


Raymond melambai-lambaikan tangan sambil berjalan mundur. Pria itu berbalik badan dan pergi dari kantor Abrine dengan perasaan kurang puas karena dia belum memiliki kesempatan untuk memperingatkan Anne.


*****


__ADS_2