PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
61. Kantor polisi


__ADS_3

Claire sedang asyik dengan kesendiriannya, dia memang lebih suka begini ketimbang harus berbaur dengan rekan-rekan kerjanya yang lain.


Saat tengah berselancar di media sosial, tanpa sengaja dia melihat sebuah postingan yang menyebarkan sebuah video mengenai tertangkapnya seorang CEO wanita dengan tagar penganiayaan dan tindak kekerasan.


Sudut bibirnya melengkung saat mengetahui jika sosok yang digelandang polisi itu adalah saingan terberatnya. Itu adalah Abrine, istri Elrich.


Sebenarnya dia ingin tertawa terbahak-bahak untuk menuntaskan euforia atas berita ini. Tapi, dia tidak melakukan itu. Dia melihat jam tangan yang tengah dia kenakan. Elrich masih dalam ruang operasi, pikirnya.


Segera dia mengembalikan layar ponsel ke tampilan semula. Lalu mencari sebuah nomor yang kemarin sempat dia simpan disana.


"Hallo?"


"Wildan? Ehm... atau aku harus memanggilmu Erland seperti yang El lakukan?"


"Ada apa kau menghubungiku? Aku sudah mengatakan jika aku tidak mau bekerja sama denganmu."


Pria itu memang telah menolak tawarannya yang mengajak bekerja sama untuk memisahkan Abrine dan Elrich. Tapi, untungnya dia sempat meminta nomor ponsel pria itu. Dia yakin bisa memanfaatkan Wildan dikala ada hal brilian seperti ini.


Dia merasa Wildan sangat naif atau bisa dikatakan munafik, padahal sudah jelas jika pria itu sangat menginginkan istri dari Elrich. Tapi bisa-bisanya menolak tawaran kerja sama dengannya. Ckck!


"Calm down, Wil. Aku hanya ingin memberimu info segar. Siapa tahu kau tertarik."


"Aku tidak tertarik bekerja sama denganmu. Aku akan memisahkan mereka dengan caraku sendiri."


"Ya, ya, ya, terserah kau saja. Aku hanya menjembatani saja. Mungkin ini akan mempermudah urusanmu untuk menarik perhatian Abrine."


"Memangnya ada apa?" sahut Wildan dari sebrang sana.


Seperti dugaannya, Wildan akan tertarik jika dia sudah menyebut nama wanita itu.


"Dengar, Abrine sekarang di kantor polisi--"


"Apa?" Wildan memotong pembicaraannya yang belum selesai. Reaksinya tentu kaget dengan berita yang dia sampaikan.


"Dengar dulu!"


"Oke, katakan! Cepat!" desak pria itu ingin tahu.


"Jemput dia di kantor polisi. Terserah kau mau menolongnya, membawanya kabur atau apalah, aku tidak peduli. Yang penting kau bisa mengambil simpatinya. Itu yang kau mau, kan? Dengan cara baik-baik?"


"Hmm.... aku akan kesana."


"Ya, lakukan itu dengan cepat. Elrich akan menyelesaikan operasinya sekitar jam 3."


"Thanks," kata Wildan terdengar bersemangat.


Dia menutup panggilan. Dia tahu Wildan bisa menjadi bonekanya kali ini. Jika beruntung, pria itu mungkin akan mendapatkan wanita yang diidam-idamkan, Abrine.


Dia akan mengikuti alur perlahan yang Wildan jalankan. Jika berhasil, maka dia bisa leluasa mendekati Elrich. Mengambil hati dokter tampan itu secara baik-baik atau dengan pemaksaan. Apa saja! Asal bisa bersama dengan El.


Jika ada yang mengatakannya gila. Ya, itulah dia. Terserah orang mau bilang apa. Ini hidupnya. Dia yang menentukan. Baik yang boleh berada disisinya atau yang layak disingkirkan.


Tapi, jika Wildan tak berhasil memisahkan Abrine dan El. Maka, dia pun tak bisa berharap banyak dengan usaha pria itu.

__ADS_1


Jika demikian, dia akan kembali pada rencana semula. Adalah, tidak ada yang bisa memiliki Elrich selamanya. Akan lebih baik jika dia melenyapkannya.


***


"Abrine?"


"Raymond?" Abrine terperanjat saat Raymond sudah berada di kantor polisi. Bahkan dia tidak tahu apakah El sudah menerima pesannya atau belum. "Kenapa kau bisa disini, Ray?" tanyanya.


"Sudahlah, aku akan menjaminmu. Atau kau mau membela diri? Pengacaraku akan menyiapkan bukti-buktinya untuk membantumu."


"Tidak, aku lelah. Aku ingin cepat kembali."


"Baiklah."


Raymond beserta Ivan mengurus semua problem Abrine di kantor polisi. Masalah itu selesai dengan cepat. Meski Abrine memiliki uang, tapi dia tak bisa menjamin dirinya sendiri disana, harus ada pengacara atau minimal orang lain yang bisa memberi pernyataan dan membuat perjanjian mengenai sikap Abrine di kedepan hari.


Atupun dia bisa bebas jika pelapor mencabut laporannya disana.


"Apa bisa dijamin? Ku pikir hasil visumnya sudah keluar dan kita harus menunggu pelapor mencabut laporannya, Ray."


Raymond menggeleng samar. "Sudah, lupakan itu. Yang penting kau tidak berada disini lagi."


Raymond tidak menceritakan pada Abrine bahwa Freya memang telah mencabut laporan itu, tentu Freya melakukan itu setelah sebelumnya membuat sebuah kesepakatan dengannya.


"Mana suamimu, Brine?" Mereka berdua berjalan beriringan untuk keluar dari area kantor polisi.


"El di ruang operasi. Tidak bisa dihubungi."


"Darimana kau tahu aku ada disini?"


"Video mengenai penangkapan mu tersebar, jadi...."


"Astaga! Bagaimana bisa?" Abrine syok. Padahal dia keluar dari kantornya bersama para aparat pagi tadi--secara baik-baik, bukan seperti penjahat yang terciduk telah melakukan kejahatan dan langsung dibekuk ke kantor polisi.


Raymond menghela nafas pelan.


"Freya sengaja melakukan ini, kan? Video itu akan menggiring opini publik ke arah yang negatif."


"Sudahlah, aku tahu itu akan berimbas pada karirmu. Aku sudah meminta Ivan untuk mengurus semuanya melalui humas perusahaan. Mereka akan menghapus semua video yang tersebar."


"Ray, aku tahu kau bisa melakukan apapun. Tapi, jangan selalu melakukan banyak hal untukku lagi!"


"Kenapa?" tanya Raymond heran.


"Aku sudah menikah. Aku tidak mau menyakitimu. Jika kau terus menolongku karena berharap padaku, lebih baik jangan kau lakukan."


Raymond tersenyum kecil. "Aku tahu, aku ingat hal itu. Tapi, kau yang mengatakan jika kita masih bersahabat, kan? Apa salah aku menolongmu, Brine? Mana mungkin aku membiarkan sahabatku berlama-lama di kantor polisi?"


Raymond tak mungkin terus menjajakan perasaannya didepan Abrine. Walau dia memang melakukan semua ini atas dasar rasa cintanya dan bukan karena arti persahabatan. Tapi, dia tahu Abrine sudah memiliki hidup baru. Dia tak mau terus menuntut apalagi memaksa. Ini semua sudah keputusan Abrine. Dia sudah berusaha mencegah pernikahan Abrine waktu itu, jadi sekarang dia tak mau memaksakan lagi.


"Terima kasih jika memang begitu," kata Abrine tersenyum simpul.


"Kau kembali ke kantormu?" tanya Raymond. Mereka sudah di depan pintu masuk kantor polisi.

__ADS_1


"Iya."


"Mau ku antar?"


"Tidak usah, aku terlalu banyak merepotkanmu."


"Tak masalah. Aku senang kau repotkan."


Mereka terkekeh bersama. Sampai sebuah suara menginterupsi keduanya.


"Abrine?"


Abrine dan Raymond melihat pada sosok itu. Rupanya itu Wildan. Dia datang seperti saran yang Claire berikan. Sayangnya dia terlambat karena Raymond lebih dulu membantu Abrine menyelesaikan masalahnya.


"Wildan? Kenapa kau bisa disini?"


Awalnya Wildan ingin berdalih, seolah-olah dia sedang mengurus sesuatu di kantor polisi, tapi melihat ada sosok Raymond disana. Dia jadi berubah pikiran.


"Aku melihat video mengenai penangkapanmu."


"Aaah... iya, sudah beres." Abrine yakin Wildan datang kesini demi dirinya.


Wildan mengingat sosok Raymond. Pria ini yang sempat terbang ke Indonesia demi membujuk Abrine agar tidak menikah dengan El waktu itu. Bedanya, tempo hari Raymond tampak kusut, berbanding terbalik dengan sekarang, penampilannya sangat berkelas dan menunjukkan jati dirinya yang bukan orang sembarangan.


"Kau di Jerman?" Rupanya Raymond juga mengenali sosok Wildan. Dia ingat Wildan adalah pria yang membantu Abrine menghindarinya waktu berkunjung ke Indonesia. Yang Raymond tahu juga ialah Wildan adik dari Elrich alias adik ipar Abrine.


"Ya, sudah cukup lama ini." Wildan menjawab acuh tak acuh.


"Bekerja atau hal lain?" tanya Raymond masih ingin tahu.


Sejak awal, Raymond dapat melihat cara Wildan menatap Abrine dengan pandangan yang berbeda. Ayolah, sesama pria, dia sangat tahu jika ada maksud lain dari tatapan Wildan kepada wanita disampingnya.


”Dua-duanya," jawab Wildan random.


"Apa kau mau pulang, Brine? Bersamanya?" Wildan mengendikkan dagu kearah Raymond.


"Tidak, aku naik taksi."


"Bersamaku saja!" kata Wildan pasang badan.


Raymond terkekeh. "Ada baiknya Abrine kembali bersamaku, karena aku yang menjaminnya di kantor polisi. Aku takut ada hal-hal yang tidak baik kembali terjadi," selanya.


"Alangkah lebih baik Abrine pulang denganku. Apa kata Kak El jika dia bersama denganmu?" Wildan tak mau kalah, dia anggap posisinya lebih baik sebab dia tahu jika Raymond menganggapnya adalah adik dari Elrich. Jadi, dia lebih berhak, bukan?


Abrine menatap kedua pria itu dengan heran. Dia menggeleng kecil. Kenapa mereka jadi seperti anak kecil yang tengah memperebutkan mainan.


"Baiklah, Brine. Kau pulang bersama siapa?" tanya Raymond.


Abrine ingin menyahut, bahwa dia akan kembali dengan taksi. Tapi suaranya hanya dapat tertahan di kerongkongan karena seseorang hadir dan itu adalah suaminya.


"Abrine tidak akan kembali dengan siapapun diantara kalian karena dia akan pulang bersamaku."


*****

__ADS_1


__ADS_2