PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
36. Demi diriku


__ADS_3

"Tapi, El...." Sisi kegadisan dalam diri Abrine tetaplah merasa takut melakukan ini. Ini yang pertama kali baginya.


"Kau menolak suamimu?" tanya El dengan suara parau didepan wajah Abrine yang kini sangat dekat dengan wajahnya.


"Bu--bukan begitu," bantah Abrine. "Aku takut... ini, ini pertama kalinya bagiku."


"Aku tahu, tapi kau tidak lupa kan, jika kau mau melakukan satu permintaanku. Ini saatnya, lakukan ini demi diriku, hmm?" Elrich mengelus-elus pipi Abrine yang sudah merah padam dengan jemarinya. Sementara jemari satunya masih setia berada didalam piyama Abrine. Dia merayu Abrine dengan perlakuannya yang tidak bisa Abrine artikan apa maksudnya.


"Brine... aku ingin." Satu pernyataan El itu berhasil membuat Abrine menyerahkan diri dan berpasrah pada kendali pria itu.


Pada akhirnya, mereka benar-benar melewatkan malam itu tanpa keterpaksaan dari siapapun. Keduanya sama-sama menikmati setiap prosesnya dan seperti tak ingin kehilangan momen itu sedetikpun. Mereka merekam hal indah itu dalam memori ingatan masing-masing.


El sangat ingin Abrine segera mengandung be-nihnya, demi mengikat gadis itu agar lebih lama bersamanya. Begitulah kesimpulannya saat dia bicara dengan Xander waktu itu.


Abrine juga ingin segera hamil, karena dia pun tak akan mau melepas El, apalagi setelah semua ini terjadi dan apa yang El lakukan kepadanya. Tak mungkin Abrine mau melepaskan El begitu saja.


Perlakuan lembut El kepadanya, tidak akan bisa dia lupakan seumur hidupnya. Sepertinya dia ingin mengulanginya lagi dan lagi nanti, itupun jika El menginginkannya.


Tanpa mereka sadari, keduanya punya tujuan yang sama yaitu ingin Abrine segera mengandung.


"Jangan harap kau bisa menjauh dariku. Kau tidak akan bisa pergi dariku, karena aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk bisa dimiliki oleh wanita lain kecuali aku." Abrine membatin sambil memejamkan matanya, dia mulai mengantuk setelah kegiatan yang menguras energi bersama El.


"Sejak sekarang dan sejak aku menyentuhmu hari ini, sejak itulah kau sudah menjadi kepunyaanku!" batin Elrich bertekad. Dia pun mengeratkan pelukannya pada sang istri yang mulai tertidur dengan nafas teratur.


Elrich menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. Dia mengecup dahi Abrine dan bertahan beberapa saat disana. Dipandanginya wajah lelah gadis itu.


"Kau sudah ku beri stempel kepemilikan. Jadi, jangan pernah berharap untuk ku lepaskan," gumam Elrich didepan wajah Abrine yang tentu sudah tidak mendengar ucapannya itu karena Abrine memang telah berada dalam dunia mimpi.


******


Pagi harinya, Abrine turun dari tempat tidur dengan sangat hati-hati. Dia tak mau membangunkan Elrich karena dia ingin bersiap sebelum pria yang telah menjadi suaminya itu terbangun.


"Morning kiss," kata Elrich mengagetkan Abrine dengan ciumannya.


Astaga, kenapa pria ini berlaku manis seperti ini. Jika begini, bisa-bisa Abrine yang lebih dulu takhluk kepadanya, padahal Abrine sudah bertekad akan menaklukkan El. Kalau begini, Abrine yang akan kalah dari suaminya ini.


"Kau sudah bangun? Ku pikir kau masih tidur," kata Abrine datar.


Elrich memicing pada Abrine. "Ada apa denganmu?" tanyanya.


"Tidak ada apapun."


"Benarkah? Kenapa kau kaku sekali? Kau marah atas perbuatanku semalam?"


"Tidak juga." Abrine berdiri sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


"Brine!" El menahan pergelangan tangan Abrine yang hendak beranjak. "Apa kau mau melupakan kejadian malam tadi? Jika ya, katakan itu didepanku sekarang!"

__ADS_1


Abrine menggeleng. "Aku tidak akan bisa melupakan malam per-tama kita. Tapi, aku hanya takut jatuh terlalu dalam dengan permainan ini."


"Maksudmu?"


"Setelah tadi malam, aku jadi semakin tidak mau berpisah darimu! Apa kau mengerti!" ucap Abrine terus terang. Setelah mengucapkan itu, Abrine menutup keras pintu kamar mandi.


Elrich terdiam. Dia menunggu Abrine keluar dari kamar mandi dengan perasaan yang bahagia. Ucapan Abrine memberinya harapan bahwa istrinya itu tidak akan mau berpisah sampai kapanpun. Berarti rencananya sukses, bukan?


Setelah dua puluh menit kemudian, Abrine keluar dari kamar mandi dan Elrich langsung mencegatnya.


"Apa katamu tadi?" tanya El yang bangkit dan langsung mengungkung Abrine diantara dinding dan kedua tangannya.


"Yang mana?" Abrine balik bertanya dalam posisi terpojok.


"Kau tidak mau berpisah dariku setelah apa yang kita lakukan malam tadi?"


Abrine mengangguk, tapi dia tak berani beradu tatap dengan mata hazel milik sang suami.


Melihat itu Elrich tersenyum kecil. "Aku juga tidak mau berpisah, Brine. Tidak akan ada yang pergi atau ditinggalkan. Tidak akan ada!" ujarnya menekankan.


"Benarkah?" Kini Abrine berani menatap El dengan mata berkaca-kaca.


"Ya, kita akan tetap bersama. Melewati semuanya bersama. Mengambil keuntungan dari pasangan kita. Kau juga boleh memanfaatkanku, apapun." Elrich tersenyum miring.


"Keuntungan apa lagi, huh?"


"Kau memenuhi kebutuhanku, aku memenuhi kebutuhanmu. Ah ya, aku memberimu nafkah lahir dan batin. Bagaimana?"


"Tidak akan."


"Apa kau sudah memiliki rasa padaku?"


"Aku tidak percaya cinta, Brine.... sudahlah, jalani saja semua ini. Ah, satu lagi, jangan berhubungan dengan pria manapun kecuali aku!" pungkas El tak ingin dibantah.


Abrine memang senang dengan keputusan El, otomatis mereka tak akan berpisah, tapi tentu dia juga sedih karena suaminya itu tetap tidak mau berusaha untuk mencintainya. Abrine memang selalu merasa kurang. Sekarang dia malah ingin dicintai.


"El, maaf aku banyak menuntut. Aku mau kau belajar mencintaiku mulai dari sekarang agar hubungan kita bukan cuma saling membutuhkan karena nafkah lahir batin, melainkan karena ada rasa cinta yang juga melandasi rumah tangga kita." Abrine tertunduk diposisinya.


Elrich mengangkat dagu Abrine dengan meletakkan telunjuknya disana. "Apakah itu penting?" tanyanya.


Abrine mengangguk. "Sangat, aku ingin dicintai suamiku sendiri."


Lagi-lagi Elrich tersenyum. "Baiklah, aku akan mencobanya. Tapi, cinta atau tidak, aku tidak akan melepasmu, Brine!"


"Apa itu hanya karena kau tidak mau dipaksa menikah kembali oleh ayahmu?" tebak Abrine.


Elrich ingin mengiyakan tapi dia hanya diam tak menjawab.

__ADS_1


"Sebelum kau mencintaiku, ku harap aku juga tak akan jatuh cinta padamu," ujar Abrine dengan suara pelan. Tapi El dapat mendengar itu.


"Kau juga masih mencintai pria itu, kan? Siapa namanya... aku lupa." El padahal hapal nama raymond tapi dia tak mau menyebutnya.


"Aku akan melupakannya jika kau berhasil mengambil hatiku."


Elrich terkekeh, dia ingin masuk ke dalam kamar mandi, tapi dia menghentikan langkah sejenak.


"Cutiku tidak banyak, dua hari lagi kita akan kembali ke Jerman."


"Iya, aku tahu." Abrine cemberut karena El mengalihkan pembicaraan mereka.


Tapi, El kembali berbalik menuju Abrine, dia tahu Abrine merajuk. Dia mencium bibir istrinya itu dengan sangat dalam, sampai membuat Abrine susah bernafas.


"Maafkan aku, aku sudah membuatmu berada dalam posisi ini. Aku berjanji akan berusaha, Brine..." ujar El tampak sungguh-sungguh. Dia mengacak rambut Abrine sekilas kemudian benar-benar masuk kedalam kamar mandi. Tampaknya dia sangat senang seperti pengantin baru yang sesungguhnya.


Abrine menggeleng samar, kemudian dia pun mulai bersiap. Tak lama, dia mendapat telepon dari Wildan.


"Ada apa, Wil?" Abrine tak habis pikir kenapa Wildan menelepon dia sepagi ini apalagi Wildan tahu ini adalah hari pertamanya menjadi istri El.


"Kapan kalian berpisah, Brine?" tanya Wildan dengan suara aneh diseberang sana.


"Apa maksudmu, Wil?" Abrine terkejut dengan pertanyaan Wildan yang terkesan blak-blakan itu.


"Aku tahu semuanya, Brine! Kamu dan Kak El hanya menikah sementara. Aku menunggu kalian berpisah."


Abrine terkesiap, darimana Wildan tahu semua ini?


"Wil? Ada apa denganmu? Kamu mabuk?" terka Abrine.


"Itu tidak penting. Jawab aku, Brine. Kalian menikah karena kesepakatan saja, kan?" desak Wildan dari seberang sana.


Wildan mengetahui hal itu karena dia tak sengaja mendengar percakapan Yemima dan Xander saat pesta pernikahan Abrine dan El kemarin. Selama ini dia berusaha ikhlas karena mengira Abrine dan El saling mencintai. Dia mencoba rela karena berpikir inilah kebahagiaan Abrine. Tapi nyatanya pernikahan ini hanya sementara dan membuat Abrine terpaksa, dia merasa ikut kesal karena tak menghalangi pernikahan itu terjadi.


"Aku pikir kamu akan bahagia makanya aku berusaha rela, tapi jika begini aku semakin yakin untuk menunggu kamu sampai kamu benar-benar berpisah dari Kak El."


"Wil, tidak ada gunanya menungguku. Aku dan El sudah menikah. Apapun pemikiranmu tentang pernikahan kami, lupakan itu dan lupakan aku!" ucap Abrine sampai akhirnya Abrine tak bisa mendengar lagi sahutan dari Wildan diseberang sana karena ponselnya sudah diambil alih oleh Elrich yang ternyata mendengar semua percakapan mereka sejak tadi.


El tidak bisa mendengar ucapan Wildan tadi, tapi dia bisa menyimpulkan sesuatu hanya dari kata-kata Abrine yang dia dengar.


"Aku akan menunggu kamu, Brine! Sejak awal seharusnya kita sudah bersama. Aku saja yang payah karena tidak pernah menyusulmu selama ini ke Jerman. Maafkan aku, Brine!"


Dan ucapan itu didengar oleh Elrich karena ponsel Abrine sudah berada di telinga pria itu sekarang. El mengetahui satu fakta yang selama ini tidak dia ketahui.


Fakta itu adalah Abrine dan Wildan yang pernah memiliki masa lalu.


"Jelaskan padaku apa hubunganmu dengan Erland, Brine." Elrich meletakkan ponsel Abrine keatas meja rias. Dia nampak tenang, tapi dia menunggu penjelasan dari mulut Abrine.

__ADS_1


"Beritahu aku semuanya tentang kalian. Apa yang kalian tutupi dariku!" tukasnya kemudian.


******


__ADS_2