PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
96. Perkara benda segitiga


__ADS_3

Abrine merapikan tataan rambutnya setelah El benar-benar menghabisinya di kamar mandi. Dia mematut wajah sebal, bagaimana tidak, bisa-bisanya El ambil kesempatan dikala mereka ada jamuan makan malam bersama keempat teman mereka.


Abrine meninju pelan bahu Elrich sambil berlalu keluar dari area toilet, sedangkan pria yang ditinju malah terkekeh-kekeh geli sembari mencuci tangan di wastafel. Tujuannya telah tuntas, batinnya.


Abrine kembali ke meja makan setelah sebelumnya dia menyempatkan untuk mengenakan underwear lain di dalam kamarnya.


"Apa mual nya parah?" tanya Yemima melihat Abrine yang kembali bergabung dengan mereka.


"Ehm... begitulah," jawab Abrine sekenanya.


"Oh.... kalau nanti aku hamil apa aku juga akan mual-mual sepertimu?" tanya Yemima serius.


"Mungkin iya, mungkin juga tidak."


"Ah, jika iya pasti aku akan menghabiskan banyak waktu dikamar mandi. Kau bahkan berada disana hampir 45 menit, Brine."


Mata Abrine membola. "Benarkah?" tanyanya tak percaya. Gara-gara ulah El, dia jadi meninggalkan tamunya cukup lama. Abrine menatap keempat orang disana dengan tatapan sungkan.


"Lalu, dimana Elrich? Apa dia ikut mual dan muntah-muntah juga?" canda Galvin.


"Hei, Dude! Aku disini!" El berjalan dengan tenang dan menyahuti pertanyaan Galvin.


"Apa kalian muntah bersama?" Xander ikut menimpali. "Kami bahkan sudah selesai dengan makan malam ini."


"Maaf.... tapi aku juga sudah selesai menikmati makan malam ku," ujar Elrich, tentu saja makan malam yang dimaksudnya mengarah pada makan malam yang lain. Dia menyeringai kecil, membuat Abrine semakin sebal melihat tingkah suaminya itu.


"Bibi Daisy, tolong bersihkan meja makannya, ya. Kami semua sudah selesai." El memanggil maid-nya.


Usai dengan makan malam itu, kini mereka pun berkumpul bersama di ruang keluarga.


"Bagaimana kalau kita nonton DVD," usul Xander. Rupanya usul itu disetujui oleh mereka semua.


"Film horor!" teriak Yemima dan Abrine kompak.


Elrich mengabulkan permintaan mereka. Maka dia pun memutar film horor yang cukup membuat para wanita merinding ketakutan. Tak lupa lampu ruangan di setel agar bernuansa gelap dan remang-remang seperti menonton di bioskop sungguhan.


Ditengah-tengah tontonan itu, Abrine rupanya menyadari sesuatu. Didekat sofa--tepatnya di tempat duduk Kristy dan Galvin--dia melihat underwearnya terselip disana. Iya, benda berenda yang tadi sempat diambil oleh Elrich sebelum para teman-temannya ini datang.


Benda itu menyempil didekat selipan sofa.

__ADS_1


Seketika itu juga mata Abrine melotot. Jika benda itu disadari oleh teman-temannya yang lain atau Kristy dan Galvin mendapatkan benda segitiga itu, bagaimana?


Abrine menatap El disisinya. Pria itu terlihat serius menonton film seperti tidak pernah merasa bahwa dia telah meletakkan barang pribadi Abrine dengan sembarangan disana.


"El..." Abrine menggoyang-goyangkan lengan Elrich.


"Apa sayang? Mau lagi?" tanya El ikut berbisik meniru gaya bicara istrinya.


"Lagi apanya! Kau ini!" Abrine mendengkus.


"Lagi yang tadi. Yang di kamar mandi. Masa harus aku ingatkan kejadian yang baru terjadi beberapa menit lalu. Kau merasa kurang? Nanti malam lagi saja, ya. Jika mereka semua sudah pulang."


Abrine mencubit lengan Elrich dengan sangat kuat. Membuat pria itu mengaduh saat itu juga tanpa bisa ditahannya.


Sekarang, semua mata tertuju pada Elrich. Padahal, saat El berteriak--- sedang tak ada scene mengejutkan di film horor yang mereka tonton. Mereka semua jadi menatap pada El dengan tampang keheranan.


Kenapa El justru berteriak histeris? Begitulah batin mereka.


"Kau ini kenapa, El?" tanya Xander.


"Ah biasa, istriku suka menggigit jika didalam ruang minim cahaya seperti ini," canda El.


Seketika itu juga keempat tamu itu terkekeh mendengarnya.


Jika saja ini bukan cerita novel, melainkan komik, pasti authornya udah buat gambar wajah Abrine yang keluar asap dari hidung dan telinganya. Sayangnya ini cuma novel, guys... jadi kalian bayangkan aja Abrine udah semarah apa sama sikap suaminya itu ya.


Abrine mengusap kasar wajahnya sendiri. Dia berinisiatif mengambil ponsel disaku dress yang dia kenakan. Dia pun mengetik pesan untuk dikirim pada suami yang duduk tepat disebelahnya, karena jika saat ini dia mengajak El berbicara, pasti yang ada dia makin kesal dan usahanya tak akan optimal.


Sebab, suaminya memang sedang dalam mode gila, jadi Abrine akan sulit untuk mengimbanginya.


El mengernyit menyadari Abrine tengah mengetik pesan. Tak lama, dia merasakan vibrasi di ponselnya sendiri. Diapun mengambil benda pipih itu dari saku celana yang dia kenakan.


Matanya terbelalak membaca pesan yang tak lain dan tak bukan adalah dari istrinya sendiri.


[Akibat ulahmu, underwearku yang tadi kau ambil sekarang berada tepat diantara Kristy dan Galvin. Bisakah kau selamatkan benda itu sekarang? Atau kau mau benda itu ditemukan oleh mereka? Yang lebih parah, Galvin akan memegangnya. Apa kau mau hal itu terjadi, hah?]


Elrich tahu, pesan itu pasti diketik oleh Abrine dengan perasaan yang amat dongkol kepadanya. Sesekali mata Elrich melirik pada sisi yang Abrine maksudkan. Tepatnya, diantara Galvin dan Kristy duduk. Ternyata benar, benda berenda itu ada disana.


Astaga, aku lupa. Batin Elrich. Untunglah ruangan yang minim cahaya masih menyelamatkannya. Sehingga kedua insan yang duduk di sofa tersebut tidak mengetahui.

__ADS_1


Galvin dan Kristy sepertinya memang tidak menyadari mengenai adanya benda asing segitiga itu diantara mereka.


Elrich menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Bagaimana caranya dia menyelamatkan benda itu? Dia tak akan rela ada lelaki lain yang memegang benda pribadi milik istrinya


Ini memang salahnya.


Ini balasan untuk kejahilannya.


Sekarang dia harus memutar otak, bagaimana caranya menyingkirkan benda itu dari sana.


"Ehm... Galvin, Kristy... maaf, apa kalian bisa melihat filmnya dengan jelas?"


Abrine harap-harap cemas mendengar suaminya sudah mulai bereaksi karena pesan yang tadi dia kirimkan.


"Hah? Kenapa?" tanya Kristy tak paham. Pasalnya, pertanyaan Elrich terkesan mengada-ngada. Mana mungkin mereka tak melihat film dengan jelas sementara TV di ruangan itu sangat besar layaknya di bioskop pribadi.


Elrich kini menggaruk kepalanya sendiri. Dia bingung bagaimana caranya mengusir kedua pasangan itu dari sofa yang mereka duduki. Sebelum keduanya menyadari ada benda aneh disana, ada baiknya mereka segera menyingkir, kan?


"Ehm... begini, sepertinya sesi mengidam Abrine sedang kambuh sekarang. Dia... ehm... dia menginginkan berpindah posisi ke tempat kalian. Boleh, ya? Hahaha.... pasti boleh. Iyakan?"


El terkekeh mencairkan suasana hatinya yang sebenarnya teg-ang. Ucapannya bahkan terdengar memaksa-- agar Kristy dan Galvin merelakan posisi nyaman mereka.


Abrine mengulumm senyum mendengar alasan El yang dibuat-buat.


"Ya... aku mengidam dan menginginkan menonton disofa yang sekarang kalian tempati," kata Abrine akhirnya. Dia berusaha menolong El agar bisa keluar dari situasi Akward akibat benda segitiga yang tak sengaja ditaruh El disana.


Mendengar itu, Kristy dan Galvin saling berpandangan. Begitu pula Yemima dan Xander yang terheran-heran. Kendati demikian, pasangan itupun menyetujui permintaan El dan Abrine.


Ketika Kristy dan Galvin baru saja beranjak untuk berpindah posisi, disaat yang sama El pun bergerak secepat kilat untuk duduk dan menutupi benda berenda milik istrinya di sofa tersebut. Abrine menahan geli karena tingkah sang suami. Diapun mengikuti untuk duduk disebelah Elrich.


Padahal, Galvin baru saja menjatuhkan bo kong di kursi rodanya, alias belum sepenuhnya pergi dari area sofa tersebut. Tapi El tampak buru-buru sekali mengambil alih posisi tersebut.


Tontonan mereka yang sempat terjeda pun, kembali dilanjutkan dengan keadaan tempat duduk yang sudah berubah posisi.


"Astaga, hampir saja." El menghela nafas lega. Buru-buru tangannya menyentuh benda yang kini dia duduki itu. Sepersekian detik berikutnya, benda itu sudah berpindah kedalam saku celananya.


"Rasakan itu! Itu akibatnya jika suka menjahili istri! Senjata makan tuan namanya!" ejek Abrine tepat ditelinga suaminya.


Disatu sisi Abrine juga bernafas lega. Tak bisa dia bayangkan jika sampai benda pribadinya itu ditemukan oleh orang lain.

__ADS_1


Terlebih lagi, apa yang harus dia jawab jika salah satu dari mereka bertanya kenapa benda itu bisa ada disana? Betapa malunya Abrine jika sampai itu benar-benar terjadi.


*****


__ADS_2