PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
57. Panti Sosial


__ADS_3

"Brine..."


"Ya?"


"Apa tadi kau melihatnya?"


"Melihat apa? Ciuman kalian?" Abrine tertawa pelan.


"Maaf.... jangan pikirkan apapun yang Claire katakan padamu. Tidak ada hubungan apapun diantara kami."


"Hemm, itu tidak terlalu penting, El. Aku bisa melihat apa yang terjadi."


El mengelus pelan punggung tangan Abrine yang berada dalam pangkuan wanita itu. Dia tahu istrinya bisa menyikapi ini dengan dewasa.


"Tadi aku hanya syok. Ku pikir dia melakukan sesuatu padamu," ujar Abrine akhirnya.


"Melakukan apa?"


"Entahlah, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Tapi gerak-geriknya sangat mencurigakan. Aku merasa, dia menciummu karena sudah terlanjur melihatku ada disana," terang Abrine.


"Jadi menurutmu apa yang sebenarnya mau dia lakukan? Kenapa kau merasa dia mencurigakan?"


"Aku hanya membaca gelagatnya saja. Tidak tahu apa yang ada dipikirannya."


Elrich menganggukkan kepalanya. Tapi ucapan Abrine cukup membuatnya berpikir keras.


"Menurutku, setelah ini kau harus mawas diri padanya." Abrine mengutarakan isi pikirannya.


"Why?"


"Entahlah, tapi kenapa kau mengatakan dia gila?"


"Karena memang begitulah kenyataannya. Dia tipikal orang yang rela melakukan apa saja demi kepentingannya sendiri."


"Ku rasa juga begitu, maka hati-hatilah, El."


Elrich tertawa pelan. "Iya, sayang. Aku bisa menjaga diriku. Kenapa kau tiba-tiba ada di Rumah Sakit di waktu selarut ini?"


"Ya, perasaanku tidak enak. Aku mengkhawatirkanmu, El."


Elrich mengelus rambut Abrine sekilas namun tidak mengurangi atensinya dari fokusnya pada jalanan yang masih gerimis malam ini. Sedikit banyak, dia memikirkan ucapan Abrine mengenai Claire.


El sendiri mengakui jika Claire tipe orang yang melakukan apa saja demi kepuasan diri. Buktinya Claire rela mengorbankan Pevita dan Galvin--kekasihnya berhubungan, demi membuat El melihat keberadaannya. Dengan kata lain, dia merencanakan itu untuk kepentingannya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang-orang terdekatnya.


Sementara itu, Claire pulang dan memasuki tempat tinggalnya dengan perasaan kesal luar biasa. Seandainya tadi Abrine tidak ada disana, dia pasti sudah bisa melakukan aksinya.


"Sh*ttt!!!!" Claire melemparkan belati yang sejak tadi dia sembunyikan didalam almamaternya. Dia berpikir, jika dia tak bisa mendapatkan El dimasa lalu, dimasa sekarang atau dimasa depan, ada baiknya pria itu lenyap saja selamanya.


"Seharusnya kau sudah menyusul Pevita hari ini, El!" geramnya.

__ADS_1


Claire dimutasi dari Rumah Sakit sebelumnya karena keributan yang dibuatnya dengan seorang perawat. Dia tidak senang karena perawat itu mengetahui rahasianya. Perawat itu melaporkannya pada pihak Rumah Sakit tempat mereka bekerja, tapi Claire berhasil mengelak dan menepis semua tuduhan yang diarahkan kepadanya. Hanya saja, sebagai konsekuensi dari keributan itu dia harus di mutasi.


*****


Hari ini kegiatan Abrine dan El adalah berkunjung ke panti sosial. Untuk menepati janjinya, El menyanggupi keinginan istrinya itu. Sekaligus untuk mengganti momen kebersamaan mereka yang sempat rusak ketika bulan madu waktu itu.


Menurut El, kebersamaan mereka tidak harus selalu ke tempat romantis, yang penting mereka melakukannya bersama-sama dan ke panti sosial tak ada salahnya, justru itu membuat semakin banyak orang yang akan mendoakan hubungan mereka berdua.


"El, kenalkan, beliau adalah pengurus panti ini. Namanya Ibu Sandra."


El mengulurkan tangan dia menyalami wanita paruh baya yang tampak mematut senyum ramah.


"Elrich..." ujarnya memperkenalkan diri.


"Aku senang akhirnya kau datang kesini bersama suamimu, Brine." Sandra menepuk-nepuk punggung tangan Abrine dengan raut bahagia.


Mereka menyerahkan banyak sumbangan ke panti itu, ada bahan makanan, pakaian baru bahkan mainan untuk anak-anak yang juga ditampung di panti yang sama. Kebanyakan dari mereka berada di panti sosial itu karena bencana alam yang membuat mereka tidak punya tempat tinggal lagi.


"Terima kasih banyak, kak Abrine!" ujar salah satu anak kecil yang mengenali sosok Abrine disana.


"Sama-sama, Sayang." Abrine mencubit gemas dagu mungil anak kecil itu.


"Kau datang bersama siapa, kak? Mana Kak Raymond?"


El yakin jika sebelumnya Abrine rutin ke panti ini bersama Raymond. Tentu kehadirannya disini sekarang banyak mengundang tanda tanya dari orang-orang yang tinggal di panti.


"Kak Raymond tidak ikut, Lisa. Dia sedang sibuk akhir-akhir ini," dusta Abrine pada bocah kecil itu.


Abrine menghela nafas pendek. Sementara Elrich berjongkok demi mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Lisa.


"Siapa namamu, girl?"


"Lisa..."


"Lisa, aku Elrich.... aku juga membawakanku boneka, tapi ini boneka beruang. Apa kau mau?"


Lisa mendekati Elrich secara perlahan, kemudian mengulurkan tangan pertanda mau menerima boneka yang Elrich bawakan.


"Good girl. Lain kali aku akan membawakanmu Boneka Barbie. Aku janji."


"Benarkah? Bukan janji palsu, kan?"


Elrich terkekeh sementara Abrine mengulumm senyum, dia tahu suaminya sangat menyukai anak kecil.


Elrich mengacak gemas rambut pirang Lisa. "Tidak, aku berjanji sungguhan. Sebagai jaminannya, kau bisa memegang kartu namaku dan jika aku membohongimu kau boleh meneleponku untuk menagih janjiku. Bagaimana?"


Lisa mengerjap-ngerjapkan matanya. Sesaat kemudian dia melengkungkan bibir. "Baiklah, kak... mana kartu namamu? Aku benar-benar akan menagihnya jika kau lupa!" ujarnya.


Elrich kembali tertawa, dia mengeluarkan namecard dari dalam dompet dan menyerahkan itu pada Lisa.

__ADS_1


"Dokter Elrich?" baca Lisa pada kartu nama itu. "Kau seorang dokter? Wah, aku punya kakak baru seorang dokter!" Lisa berujar kegirangan seolah bangga baru saja berkenalan dengan seorang dokter.


Abrine tersenyum pada suaminya dan Elrich pun melakukan hal yang sama.


"Brine, kau disini?"


Abrine dan El melihat pada seorang wanita yang menyapa Abrine. Dia adalah suster Kristy.


"Kristy, lama tidak bertemu denganmu." Abrine dan Kristy berpelukan. Mereka cukup dekat selama ini. Mereka seumuran.


"Siapa dia, Brine?" Kristy melihat pada Elrich.


"Ah, dia adalah suamiku."


"Kenalkan, aku Elrich."


"Kristy...." Kristy mengulurkan tangan pada El dan disambut oleh pria itu. Tapi matanya terus memicing pada El seolah tengah menyelidik.


"Apa ada yang salah, Kris?"


"No... no... aku hanya seperti pernah melihat suamimu."


"Benarkah?"


"Ya, apa kau seorang aktor?" tanya Kristy pada Elrich.


"Bukan, aku hanya seorang dokter."


"Oh dokter...." Kristy bergumam pelan. Tapi kemudian dia terlonjak. "Kau dokter Elrich Gustav? Ya, ya, aku mengenalimu...." lanjutnya.


"Oh ternyata suamiku cukup terkenal," bisik Abrine membuat El tersenyum kecil.


"Darimana kau bisa mengenalku, Kristy?"


"Kebetulan aku bekerja di Rumah Sakit juga sebagai seorang perawat. Di panti ini aku mengabdikan diri sekaligus tinggal disini."


Elrich menganggukkan kepalanya mulai memahami kenapa Kristy bisa mengenalinya. Mungkin dia pernah terlibat satu pekerjaan di rumah sakit tempat Kristy bekerja, ataupun pernah bertemu saat sama-sama menjadi relawan dari rumah sakit.


"Aku dan Kristy sangat cocok. Kalau kami bertemu kami bisa lupa waktu karena saling bercerita satu sama lain." Abrine terkekeh memperkenalkan Kristy pada suaminya.


"Syukurlah, itu artinya kau punya juga sahabat seorang wanita."


"El.... jangan begitu, tentu aku punya sahabat wanita. Yemima salah satunya. Kristy juga... dan ada yang lainnya lagi."


Elrich hanya tertawa. Dalam hatinya dia mengira jika sahabat Abrine hanyalah Raymond seorang. Dia benar-benar senang melihat Abrine yang memiliki teman lain selain pria itu.


*******


Berhubung dapat cover baru dari NT, jadi aku up lagi yah guys... tinggalkan komentar kalian ya.💚💚💚

__ADS_1


Btw, gimana cover barunya nih? Dibuatin sama pihak NT. Apakah kurang greget? Wkwkwk


__ADS_2