
Claire benar-benar di pindahkan ke rumah sakit jiwa setelah hasil diagnosa kejiwaannya keluar. Ternyata dia mengalami gangguan mental yang cukup serius.
Hal yang miris memang, tapi Claire mendapatkan sakit itu karena sejak lama dia menjadi korban kekerasan ayahnya sendiri. Dan lagi, dia juga terpukul atas meninggalnya Pevita waktu itu.
Dalam hati kecilnya, tentu saja dia merasa bersalah pada Pevita. Bagaimanapun, dialah yang memulai kehancuran hidup sang adik sejak meminta Galvin untuk membuat Pevita hamil.
Tak dipungkiri, Claire merasa amat menyayangkan keputusan Pevita yang memilih melakukan aborsi sesuai saran Elrich waktu itu. Dia pikir, Pevita akan menuntut pertanggungjawaban Galvin lalu mereka menikah. Tak disangka, Galvin malah menolak hal itu karena tak mau menyakiti Pevita lebih jauh sebab tak mencintai gadis itu.
Disitulah awal mula Claire merasa terguncang. Dia menyalahkan Elrich, dia juga menyalahkan Galvin. Tapi, di lubuk hatinya yang terdalam, dia juga menyalahkan dirinya sendiri.
Dia benci pada Elrich, namun disaat yang sama dia juga mencintai pria itu.
Dia marah pada Galvin, tapi pada saat itu Galvin lah yang selalu ada bersamanya.
Dia kesal pada dirinya sendiri, sebab itulah dia mencari pelampiasan lain.
Saat Pevita meninggal, dia senang Elrich mendapat kekerasan dari Isaac, ayahnya.
Tapi disatu sisi yang lain, dia juga merasa kasihan dengan pria itu. Bagaimanapun, El adalah cinta pertamanya. Bahkan sebelum El mengenal Pevita.
Dari kejadian-kejadian itu. Kekerasan sejak kecil, meninggalnya Pevita, serta kekerasan yang diterima Elrich meski tak bersalah. Dari sanalah awal mula Claire seperti memiliki sisi lain dalam dirinya. Semakin hari dia selalu mendapat bisikan diri. Seolah dia memiliki kepribadian yang lain.
Hati nuraninya terkalahkan oleh bagian lain yang ada dalam dirinya. Bagian lain itu menguasai dia. Membuatnya berimajinasi hal-hal yang diluar nalar serta membayangkan hal-hal yang memacu adrenalin.
Setiap melakukan sebuah tindak kejahatan, Claire merasa ada kepuasan tersendiri.
Dia mulai mengumpulkan benda-benda yang menarik atensinya. Pisau, gunting, belati dan semacamnya membuatnya sangat berminat. Awalnya satu, lama kelamaan dia menjadikan itu hobi yang menyenangkan.
Dia mulai membayangkan hal-hal yang aneh. Bagaimana jika pisau ini digunakan untuk itu. Atau, bagaimana jika belati ini menusuk perut seseorang. Itu pasti sangat menyenangkan.
Jika has rat nya muncul. Claire bahkan tidak segan menyakiti binatang sebagai bahan percobaan. Tikus, kucing, bahkan anjing tak luput menjadi bahan percobaannya.
Dan benar saja, dia selalu meras terpuaskan apabila has rat kejinya itu sudah tersalurkan.
Dia mencobai semua 'benda koleksi' nya, untuk melihat kemampuan dirinya sendiri, sekaligus untuk tahu kualitas benda tajam koleksinya tersebut.
"Aku dipindahkan kesini?" tanya Claire pada dua orang perawat yang membantu memindahkannya ke sebuah kamar di rumah sakit jiwa.
"Iya, Nona. Ini tempatmu sekarang."
Claire menyeringai. Ternyata dia benar-benar dipindahkan ke rumah sakit jiwa. Ini lebih baik, pikirnya.
Kedua orang perawat itu keluar meninggalkan Claire seorang diri didalam bangsalnya. Disaat itulah Claire memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa bebas dari rumah sakit jiwa ini.
"Tunggu aku, El. Aku akan menghabisi istrimu itu. Mungkin dia tidak layak ditusuk dengan belati yang tajam. Sepertinya pisau berkarat akan cocok untuknya."
Senyum miring terbit dari sudut bibir wanita itu.
Bagaimana dia tak dendam pada Elrich dan Abrine. Selain perasaannya ditolak mentah-mentah dan tak punya kesempatan lagi untuk mendapatkan El, dia juga dijebloskan El ke penjara karena Abrine.
Setelah ini, dia akan memastikan sendiri bahwa Abrine akan habis ditangannya.
"Aku harus menghabisinya, tidak peduli aku harus berakhir dimana nanti. Sekarang saja aku sudah disini, aku tidak punya harapan lagi. Hahaha..." Suara tawa getir keluar dari mulut Claire. Rencananya harus membuahkan hasil kali ini.
*****
__ADS_1
Kedatangan Yemima dan Xander ke Apartmen Abrine hari ini cukup membuat wanita itu semringah.
"Apa ada kabar baik?" tanya Abrine menatap sepasang kekasih dihadapannya.
"Kami akan menikah. Tanggalnya sudah ditentukan."
Sebelumnya Abrine memang sudah mendengar ini dari Yemima. Hal ini pula yang membuat mereka jarang bertemu akhir-akhir ini karena Yemima sibuk dengan urusan pernikahannya.
"Selamat. Aku ikut bahagia untuk kalian." Abrine membawa Yemima dalam dekapannya. Gadis ini yang selalu menolongnya belakangan hari padahal waktu kuliah dulu mereka tak begitu dekat meski berada dalam circle yang sama, itu semua karena dulu Abrine terlalu fokus bersahabat dengan Raymond saja.
"Ah, sampai lupa. Bagaimana kalau malam ini kalian makan malam disini. El sebentar lagi akan pulang, barusan dia memberiku kabar."
"Bagaimana, honey?" tanya Yemima pada Xander.
"Yeah, aku tidak akan menolak rezeki," kelakar Xander disertai gelak tawa Yemima dan Abrine.
Abrine dibantu oleh Bibi Daisy menyiapkan masakan untuk makan malam mereka hari ini. Tak berselang lama El benar-benar pulang. Dia pun bergabung dengan Xander dan Yemima di ruang tamu.
"Kalian disini? Mana istriku?" tanya El, dia mengganggu Xander yang tengah berkutat memainkan game melalui ponsel.
"Abrine memasak, di dapur bersama bibi Daisy. Aku ingin membantunya tapi dia tidak mau," sahut Yemima.
"Oh, baiklah.... ada berita apa sehingga kalian datang bersama-sama ke sini?"
"Kami mau datang saja. Apa tidak boleh? Apa kami mengganggumu?"
"Sedikit," canda El. "Seharusnya jika kalian tidak datang Abrine ingin menyambut ku dengan godaan, kedatangan kalian membuat dia melupakan janjinya," imbuhnya.
Mendengar itu Xander memutar bola matanya.
Masakan telah siap. Bibi Daisy juga telah undur diri karena hari beranjak malam. El memutuskan untuk mandi sebelum makan. Sementara Abrine dan Yemima sibuk menyajikan makanan.
Xander yang kini tengah fokus menonton televisi tiba-tiba berceloteh kaget.
"Ya Tuhan, kenapa dia dipindahkan ke rumah sakit jiwa?"
"Apa?" tanya Abrine dan Yemima kompak. Mereka mendengar suara Xander yang kebetulan tak terlalu jauh dari posisi mereka.
"Claire, dia dipindahkan ke rumah sakit jiwa."
Abrine mendengkus pelan, sementara Yemima merasa telah melewatkan sesuatu.
"Claire? Siapa lagi dia?" tanya Yemima. Beberapa bulan ini dia memang sibuk mengenai urusan pernikahan. Bahkan bertemu dengan Xander juga jarang. Jika mereka bertemu yang dibahas tentang hotel, tamu undangan, menu prasmanan dan sebagainya. Mereka lupa mengobrol perihal kasus Claire, sehingga tidak salah jika Yemima tak mengetahui soal ini. Dia juga jarang menonton televisi.
"Claire, dokter spesialis jantung yang bekerja di rumah sakit. Dia dipindahkan ke rumah sakit jiwa."
"Oh, mengenai dokter yang viral karena kasus koleksi anehnya itu, ya?"
"Hmmm...." sahut Xander. Dia menghampiri mereka di meja makan.
"Aku sempat membaca berita mengenai dia di surat kabar online. Katanya dia juga menyewa preman untuk mencelakai istri rekannya."
"Yeah, dan itu adalah aku," timpal Abrine, membuat Yemima menatapnya tak percaya.
"Are you seriously?" tanyanya dan Abrine mengangguki.
__ADS_1
"Kenapa? Jadi kau tidak apa-apa, kan, Brine?"
"Syukurnya aku tidak apa-apa. Seminggu setelah kejadian itu aku juga mendapati bahwa aku hamil. Syukurnya kandunganku tidak apa-apa."
"Ya Tuhan, dia mengerikan. Apa motifnya melakukan itu, Brine?"
"Karena dia terobsesi pada El," sahut Xander.
"Kau harus berhati-hati, Brine. Rumah sakit jiwa bukan hal yang sulit untuk seorang psikopat seperti dia."
"Ya, aku memilih lebih sering dirumah. Keluar pun karena bekerja. El juga sudah meminta seorang sopir untuk mengantarku kemanapun disaat dia tidak bisa menemaniku."
"Syukurlah...." Yemima bernafas lega.
Tak berapa lama, El turun dan ikut bergabung di meja makan.
"Jadi, tanggal berapa kalian menikah?" tanyanya.
"Tanggal 16 di bulan ini."
"Kami pasti akan datang," kata Abrine semangat.
"Pasti dan harus!" jawab Yemima seperti memperingati.
"Kalian mau hadiah apa?" tanya El pada Xander.
"Hohoho, sudah jadi orang kaya kau rupanya."
Xander memang belum mengetahui mengenai Theresia, sebab El belum menceritakannya. Dia hanya bercanda mengatakan jika El telah menjadi orang kaya.
"Begitulah, aku sangat beruntung." El tersenyum miring dan Xander menatapnya kebingungan.
"Jadi, katakan apa hadiah yang kau mau untuk pernikahan kalian?"
Yemima tertawa. "Kau yakin, El? Jika aku menyebutkannya apa kau akan mengabulkan? Jangan memberi harapan palsu, oke?"
"Dia tidak main-main, Sayang. El berkata serius," kata Xander yang paham betul bagaimana sahabatnya ini.
"Oke, baiklah. Bagaimana kalau hadiah dari kalian adalah tiket bulan madu ke luar negeri. Ehm, sekalian fasilitasnya juga."
Sebenarnya Yemima memang menginginkan itu. Tapi, tentu dia hanya bercanda saat mengutarakannya didepan El dan Abrine.
"Kau ini, Mima...." kata Abrine terkikik, dia tahu Yemima sedang becanda sekaligus memanfaatkan keadaan.
"Mumpung ditawari, Brine."
"Baiklah, negara mana tujuan kalian?"
Yemima dan Xander saling menatap. Sepersekian detik berikutnya mereka melihat kearah Elrich yang tidak main-main.
"Jadi.... kau benar-benar serius, El?" pekik Yemima.
El hanya mengendikkan bahu, sementara Abrine menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap sang suami.
*****
__ADS_1