PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
22. Pertimbangkan lagi


__ADS_3

Mendengar penuturan Abrine barusan, Wildan berharap jika saat ini dia tengah bermimpi. Atau hal yang paling masuk akal, dia menganggap ucapan Abrine itu hanyalah sebuah lelucon yang lucu.


Tapi, tidak mungkin Abrine berbohong dengan membawa nama Elrich, kan? Dengan gadis itu menyebut nama El saja, itu artinya Abrine memanglah mengenal pria itu.


Sulit untuk diungkapkan tapi nyatanya perasaan Wildan sekarang terasa seperti dihantam palu godam yang sangat besar.


Melihat Wildan dan Erika yang sama-sama terdiam cukup lama saat dia sudah mengutarakan tujuannya, Abrine hanya bisa menundukkan kepala sambil mere mas jari jemarinya sendiri. Dalam hati gadis itu, dia yakin jika memang ada yang tidak beres dengan keluarga mereka. Tapi, apa?


"Apa El ada di Indonesia sekarang?" Itulah pertanyaan yang Erika lontarkan pada Abrine, membuat gadis itu kembali mengangkat wajah demi menatap wanita paruh baya itu.


"I-iya, Tant...."


"Kenapa dia gak mau ikut bersama kamu, kesini?" Erika kembali bertanya, tapi suaranya terdengar dingin.


"Saya sudah mencoba mengajak El kesini, tapi---"


"Dia gak mau, kan?" Erika menebak, wajahnya menyunggingkan senyum tipis yang tampak dipaksakan.


Abrine meneguk ludah beberapa kali dalam kurun waktu sedetik. Dia gugup sekarang, padahal tadi tidak terlalu. Hanya saja, sejak awal dia sudah bisa memperkirakan jika Erika akan menyambutnya dengan ekspresi dingin-- mengingat bagaimana juga sikap El jika membicarakan wanita itu.


"Ehm, Tant... sebelumnya saya mau menanyakan, apa El memang putra Tante?"


Erika mengangguk pelan, Abrine melirik pada Wildan yang sejak tadi bungkam. Pria itu tampak menekuk wajah, mungkin masih terkejut dengan kabar yang Abrine bawa hari ini mengenai pernikahannya dengan Elrich.


"Jadi, El dan Wildan memang kakak beradik?" tanya Abrine kemudian.


Erika tidak menjawab itu, dia hanya diam dengan pikirannya sendiri.


"Maaf jika pertanyaan saya tadi menyinggung dan memberatkan Tante untuk menjawabnya."


"Bukan begitu, Brine. Apa Elrich tidak pernah bercerita sama kamu mengenai Tante ataupun Erland?"


Abrine menggeleng cepat.


"Ya, wajar aja, sih!" sahut Erika kemudian.


Abrine tidak berani menanyakan lebih lanjut mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga mereka. Tapi, jika Erika mau menjelaskan padanya, dia siap menyimak dan mendengarkan. Masalahnya, Erika tidak mengatakan apapun kecuali sebuah kalimat yang membuat Abrine berpikir keras.


"Saya yakin kamu gadis baik-baik dari keluarga yang terhormat, Abrine. Elrich memang anak saya, meskipun.... ah, sudahlah. Intinya, saya tidak layak dimintai restu seperti ini dari kamu. Jika kamu memang yakin ingin menikah dengannya, saya tidak bisa melarang, tapi pikirkanlah hal ini secara matang sebelum kamu menyesalinya."


Mendengar ucapan itu, Abrine semakin bingung harus berkata apalagi. Kenapa jawaban Erika terdengar sarkasme? Jika memang Elrich adalah putranya, kenapa dia seolah tengah memprovokasi Abrine dengan ucapannya?


Pada akhirnya, Abrine pamit undur diri dari hadapan Erika.


"Abrine!"


Rupanya Wildan mengejar langkah gadis itu saat Abrine sudah keluar dari dalam rumah.


Abrine menoleh, "Kenapa, Wil?" tanyanya.


"Ehm, sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?"


"Maksudnya?"


"Kamu dan Kak El, berapa lama kalian berpacaran hingga akhirnya memutuskan untuk menikah?"


Mana bisa Abrine menjawab pertanyaan Wildan yang dia sendiri tak tahu harus mengarang cerita apa lagi sekarang, karena otaknya sudah buntu dengan hal yang baru dia ketahui mengenai hubungan Elrich dengan Wildan.


"Brine...."


Abrine terkesiap saat Wildan kembali memanggil namanya.

__ADS_1


"Eh? Gak terlalu lama, kok. Aku sama El memutuskan menikah karena kami udah ngerasa cocok aja."


Wildan menganggukkan kepalanya pelan, menekan rasa sakit dihatinya. Belum lagi rasa rindunya terbayarkan, ternyata Abrine akan segera pergi. Penantiannya selama ini sudah terbayar lunas hari ini dengan sebuah jawaban yaitu Abrine akan menikah dengan Elrich, pria yang sangat dikenalnya.


"Aku harap kamu memikirkan lagi soal pernikahan kamu dengan Kak Elrich."


"Kenapa kamu bilang gitu? Memangnya ada yang salah dari El?" Abrine heran kenapa Erika dan Wildan berkata seperti tengah menyudutkan El, seolah El punya sesuatu yang nantinya akan membuat Abrine menyesali keputusan karena pernikahannya dengan pria itu.


"Aku gak mau jawab pertanyaan itu, karena aku gak mau kamu menganggap aku sedang menjelekkan Kak Elrich didepan kamu. Yang jelas, aku adalah orang yang sangat mengenal dia lebih dari kamu mengenalinya selama ini."


Abrine tersenyum tipis. "Kamu gak usah khawatir, aku udah memikirkannya matang-matang."


Wildan mengangguk. "Aku harap kamu masih bisa mempertimbangkannya."


Disaat yang bersamaan, ponsel Abrine bergetar dan itu adalah panggilan dari Elrich.


"Ya?" Abrine menyahut panggilan seluler itu didepan Wildan yang diam tanpa kata lagi.


"Sudah selesai? Kau bertemu dengannya?" tanya Elrich dari seberang panggilan.


"Hmm, aku bahkan mendapat kejutan disini."


"Kejutan apa?"


"Aku akan menceritakannya padamu nanti."


"Bagus! Segeralah pulang, jangan terlalu lama ditengah-tengah mereka."


Abrine tertawa pelan, dia bisa menyimpulkan ucapan El kali ini adalah tengah mengkhawatirkannya.


"Ya, aku segera pulang."


"Wil, sepertinya aku harus pulang sekarang."


"Apa itu tadi, telepon dari Kak Elrich?"


"Hmm...."


"Dia tinggal dimana selama di Indonesia?"


"Di kediaman orangtuaku."


Wildan nampak terperanjat seperti kaget. "Kalian tinggal bersama?" tanyanya.


Abrine tertawa pelan. "Iya, tapi bersama keluargaku juga dan dia menginap di kamar tamu."


"Oh...." Wildan mengembuskan nafas lega.


"Kenapa?"


"Gak apa-apa, aku pikir kalian tinggal sekamar."


Abrine memutar bola matanya jengah. "Impossible, Wil. Kecuali nanti, setelah kami menikah," sahut Abrine sewajarnya.


Tapi, tentu hal itu kembali mengingatkan Wildan tentang status Abrine sekarang.


"Ya udah, aku pulang ya. Bye!" Abrine kembali hendak beranjak namun ucapan Wildan selanjutnya malah membuatnya mengulas senyum kecil.


"Brine, menurut kamu.... kak Elrich masih bisa ditikung, gak?"


_____

__ADS_1


"Dia bilang apa? Dan apa kejutan yang kamu temui disana?"


Abrine meletakkan tas selempangnya di dekat meja. Padahal dia baru saja tiba dirumah, rupanya Elrich sudah menghadangnya seolah ingin tahu apa saja kegiatan Abrine hari ini dikediaman Erika.


"Kalau penasaran gini, kenapa tadi gak sekalian ikut aja?" tanya Abrine dengan senyum penuh cibiran pada Elrich.


Elrich berdecak lidah. "Ya sudahlah, tidak penting juga!" katanya sambil mencoba beranjak hendak pergi dari hadapan Abrine.


Abrine menarik pergelangan tangan Elrich demi mencegah kepergian pria itu. Dia sudah sepakat pada dirinya sendiri kalau dia akan menceritakan semuanya pada El meskipun El akan terlihat tak berminat mendengarkan ceritanya nanti.


Melihat El yang ingin tahu seperti ini, malah membuat Abrine keheranan karena dia pikir El memang tak mau tahu sama sekali.


Abrine pun mulai menceritakan pada Elrich mengenai pertemuannya dengan Erika, termasuk dengan Wildan. Abrine juga jujur mengenai ucapan Erika yang mengatakan bahwa beliau meminta Abrine untuk memikirkan pernikahan dengan Elrich secara matang.


"Lalu, apa keputusan kamu setelah mendengar ucapan wanita itu?" tanya Elrich pelan tanpa menatap wajah Abrine.


"Aku rasa gak perlu lah dipikir-pikir lagi, toh .... kita juga nikahnya sementara, kan?"


"Iya, sampai kau bertemu cinta sejati mu, kan? Aku tidak lupa, Brine! Tapi perlu kau ingat, selama kau belum menemukan cinta itu, maka selama itu pula kau masih terperangkap dalam pernikahan ini," batin Elrich berkata-kata namun tak menyuarakan itu didepan Abrine.


"Jadi, kesimpulannya?"


"Ya, kita tetap menikah, El."


"Good." Elrich tersenyum miring. "Lalu, kejutannya apa?" tanyanya kemudian.


"Aku ketemu Wildan disana."


"Wildan?"


Abrine mengangguk. "Aku udah kenal dia lama, jauh sebelum kenal kamu. Mungkin kamu manggil Wildan, Erland, ya? Kayak Tante Erika."


Mendengar nama itu, raut wajah Elrich langsung berubah, sulit diutarakan dengan kata-kata bagaimana menggambarkan ekspresinya saat ini.


"Dia adik kamu, kan?"


Elrich justru mendengkus pelan tanpa menjawab.


"Hem, aku udah tahu kok apa yang membuat kamu kayak gini sama Tante Erika dan Wildan."


"Apa?" tanya El acuh tak acuh. "Memangnya mereka cerita padamu mengenai permasalahan kami?"


"Enggak, tapi aku bisa menyimpulkan sendiri."


Elrich bersedekap, dia mau mendengar apa kesimpulan gadis ini sekarang. Apakah kesimpulan Abrine akan benar atau justru salah menyimpulkan seperti insiden kecelakaan mereka waktu itu yang dianggap Abrine dialah yang telah menabrak El?


"Jadi, kesimpulan aku... kamu itu hanya iri sama Wildan. Karena setelah Mama dan ayah kamu berpisah, yang dibawa sama Tante Erika cuma Wildan, sementara kamu enggak."


Elrich tersenyum miring mendengar ujaran kesimpulan Abrine yang tidak ada benar-benarnya sama sekali.


"Bener, kan?" Abrine menuntut jawaban.


Elrich menipiskan bibir. Sepertinya dia harus memberi Abrine sedikit gambaran agar pemikiran gadis ini terbuka dan tidak mengada-ngada.


"Mama dan Ayahku berpisah saat aku berusia 17 tahun. Saat itu aku sudah legal. Kau tahu legal, kan? Itu artinya aku punya hak untuk memilih ingin ikut dengan siapa diantara mereka berdua."


"Dan kau memilih ikut Ayahmu?"


Elrich mengangguk. "Aku sama sekali tidak iri dengan Erland. Dia layak ikut dengan wanita itu, karena dia memang tak mungkin ikut dengan ayahku!" tukasnya kemudian, membuat Abrine bertanya-tanya dalam pikirannya sendiri.


******

__ADS_1


__ADS_2