PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
109. End


__ADS_3

Hari yang paling ditunggu oleh pasangan dadakan itu telah tiba. Anne dan Raymond benar-benar akan menikah.


Seminggu sebelum acara itu dilangsungkan. Abrine dan Elrich terkaget-kaget saat mendapat surat undangan dari keduanya. Sebab, setelah mereka dekat--tak satupun dari keduanya yang menceritakan pada Abrine terkait hal ini. Baik Raymond maupun Anne memilih bungkam dan menjalani hubungan tanpa sepengatahuan Abrine.


Mereka bukannya tak sengaja. Justru mereka sengaja melakukannya. Mereka tahu ini akan menjadi momen mengejutkan bagi pasangan Abrine dan Elrich.


Hingga hari ini pun tiba. Anne tampak sangat cantik dan anggun ketika mengenakan gaun pengantinnya. Mata Raymond tidak berkedip melihatnya. Pria itu seakan buta dengan pemandangan lainnya, tatapannya hanya tertuju pada satu orang saja. Gadis itu, Anne, calon istrinya.


Saat Abrine dan Elrich menghadiri pesta pernikahan mereka. Keempatnya terkekeh dengan jenaka. Bagaimana tidak, berawal dari ide cemerlang Elrich yang menjodohkan mereka hingga akhirnya ucapan itu menjadi doa.


"Hahaha, ternyata ucapanku menjadi mantra," kelakar El didepan sepasang pengantin baru itu.


Raymond ikut tertawa, sementara Anne mengulumm senyum dengan raut wajah memerah.


"Ray. Selamat.... aku ikut bahagia untukmu. Kalian terlihat sangat cocok. Aku benar-benar tenang melihatmu sudah mendapatkan pasangan seperti Anne." Abrine memeluk Raymond dan dibalas pria itu dengan tepukan ringan di punggung sang wanita.


Persahabatan mereka, yang dulunya berakhir dengan saling mencinta tidak berarti harus menyatukan mereka. Pada nyatanya, Abrine telah memiliki Elrich dan Raymond telah memilih Anne. Pelukan ini bukan semata-mata untuk menyatakan rasa yang tidak sempat bersama tetapi ini adalah pelukan persahabatan yang sesungguhnya.


"Terima kasih, Brine. Doakan kami bahagia."


"Tentu saja. Jika kau menyakiti Anne maka aku yang akan menjadi lawanmu," kata Abrine menunjukkan tinjunya dihadapan Raymond.


Raymond berlagak bergidik sekilas, membuat mereka semua kembali terkekeh.


Satu persatu masalah Anne juga sudah diselesaikan Raymond dengan caranya sendiri. Jerry yang memiliki banyak hutang dan menggadaikan nama Anne sudah Raymond tangani.


Sekarang, kakak tiri Anne itu tidak dapat hadir di pesta pernikahan mereka. Ya, karena Raymond sudah membayarkan semua hutangnya tanpa membuat kedua orangtua Anne dan Jerry mengetahuinya. Anne bebas dari permasalahan Jerry berkat Raymond. Tapi, untuk Jerry, tentu Raymond membantunya dengan syarat dan tidak gratis.


Jerry harus membayar hutang itu pada Raymond. Dia menandatangani sebuah perjanjian. Sedikit ancaman membuat Jerry melakukannya.


Sekarang Jerry bekerja dibawah kendali Raymond. Gajinya akan tetap dibayar hanya untuk memenuhi kebutuhannya saja--agar dia tidak dapat berjudi lagi. Sisa gajinya, tentu dianggap Raymond sebagai cicilan hutang. Jerry dipekerjakan Raymond di luar pulau, agar kehadirannya tidak mengganggu dia ataupun Anne lagi.


Raymond dan Anne memasuki kamar pengantin setelah pesta mereka berakhir. Tidak mau melewatkan kesempatan, Raymond dan Anne memanfaatkan malam per tama mereka dengan sebaik-baiknya.



Sungguh sangat disayangkan, jika Raymond melewatkan Anne begitu saja. Dia tidak menyangka, perubahannya menjadi lebih baik justru berujung dengan mendapatkan istri yang baik.


"Kenapa? Aku sangat memalukan, ya?" tanya Anne mengira Raymond kecewa dengan keadaannya. Pria itu tampak diam setelah melakukan rutinitas suami istri untuk pertama kalinya malam ini.


Raymond menggeleng, kemudian membawa Anne kedalam dekapannya.


"Kenapa kau mengatakan bahwa kau sangat memalukan, hmm?"


"Tidak, aku pikir di usiaku yang sekarang akan sangat memalukan jika ternyata aku masih virgin..." Anne menggigit bibir diujung kalimatnya.


Raymond mengusap wajah sang istri. "Justru karena itulah aku jadi berpikir.... kemana saja kau selama ini? Kenapa aku yang pertama menyentuhmu?"


"Kau kecewa padaku?"


Raymond terkekeh. "Bukan begitu, aku cuma tak percaya bisa mendapatkan gadis yang terjaga sepertimu... aku merasa terhormat memilikimu." Diapun mengecup pipi Anne dengan sangat lembut. Keberuntungan, pikirnya.


"Tapi...."


"Tapi kenapa lagi?"


"Tapi kan, aku belum berpengalaman... kau pasti lebih suka yang pandai memuas-kanmu." Anne tertunduk malu setelah kalimatnya terlontar.


Sekali lagi Raymond tertawa pelan. "Kalau begitu, aku akan sering mengajarimu supaya kau bisa memua-skanku sekaligus memuas-kanmu juga. Hmm, bonusnya kau juga akan jadi berpengalaman."

__ADS_1


Raymond mengulumm senyumnya dan Anne semakin menundukkan wajah berlama-lama.



***


Tes ....


Salju pertama turun bersamaan dengan Abrine yang baru saja melahirkan bayi-bayi kembarnya. Awalnya Abrine ingin melahirkan secara normal. Tetapi berat badan kedua bayinya tidak memungkinkan untuk dia melakukan jalan itu. Akhirnya, Abrine pun menjalani operasi caesar. Dia melahirkan dua bayi laki-laki.



Arcelio Gustav dan Wilian Gustav. Lio dan Lian memiliki warna mata yang sama persis seperti Elrich. Hidungnya seperti Elrich dan bibirnya juga menurun dari Elrich. Abrine hanya kebagian sesi mengandung dan melahirkan saja. Wajah mereka tidak satupun yang mirip dengannya.


"Kau berhasil membuatku iri kali ini," kata Abrine bersungut-sungut. Dia tidak serius merajuk, dia hanya menggoda suaminya.


"Yang penting mereka mirip aku," kata Elrich tak mau kalah. El bahkan menggendong kedua bayinya secara bersamaan. Abrine memanyunkan bibir tetapi dia juga tersenyum disela-sela tingkah absurdnya itu.


Kedatangan Yemima dan Xander, membuat suasana bangsal dimana Abrine dirawat menjadi riuh dan ramai.


Yemima juga tengah hamil saat ini. Usia kandungannya baru berjalan dua bulan tetapi dia sudah mengeluh.


"Aku merasa gendut sekarang," kata wanita itu.


"Kau tetap sek si dimataku," ujar Xander menggoda.


"Ya, jangan pedulikan bentuk tubuhmu kau tetap cantik, Mima." Abrine memberi semangat pada sahabatnya itu.


"Halloo... wah ramai sekali ini." Rupanya Anne dan Raymond juga ikut datang menjenguk. Mereka tidak mau melewatkan kesempatan untuk melihat anak-anak Abrine dan Elrich.


Mereka mengucapkan selamat pada pasangan itu dan meminta doa agar segera menyusul.


"Sayang, kita juga jangan sampai kalah dari mereka, ya!" tambah El, bicara pada sang istri.


"Apanya yang kalah? Kau bahkan sudah mencetak dua!" Xander menimpali.


"Ya, setelah ini aku akan mencetak hattrick," kata El terkekeh. (Hattrick \= istilah untuk seorang pemain sepak bola yang bisa mencetak gol sebanyak tiga kali dalam satu pertandingan.)


"Yang benar saja!" gerutu Abrine.


Semua dalam ruangan itu pun kembali tertawa.


Setelah mereka semua pulang, Theresia datang ke ruang perawatan Abrine. Dia menggendong Lio dan Lian.


"Dua orang cicit nenek... jagoan nenek!" Theresia menciumi kedua bayi gembul itu. Merasa sangat beruntung masih diberi umur yang panjang hingga dapat bertemu dengan kedua cicitnya yang baru hadir ke dunia.


Kabar mengenai Abrine yang melahirkan juga sampai ke telinga Wildan dan Erika di Indonesia.


Saat mengetahuinya, Wildan segera menelepon Abrine dan mengucapkan selamat pada kakak dan kakak iparnya.


Rupanya Erika juga ingin mengucapkan hal yang sama. Wildan memberinya kesempatan untuk hal itu.


"Abrine, maafkan Mama...." Erika terdengar terisak dari seberang panggilan.


"Mama tidak peduli kamu percaya atau tidak, tetapi mama ikut senang dengan kelahiran putra-putra kalian. Maafkan Mama yang pernah salah. Mama sudah menyesalinya. Mama tidak akan mengganggu kalian lagi. Terima kasih sudah membalas kelakuan mama dengan kelakuan yang baik. Mama terlalu malu bertemu kalian."


Entahlah yang diucapkan Erika benar atau tidak, tetapi Abrine menanggapinya dengan cukup bijak.


"Terima kasih, ma. Semoga Mama juga selalu dalam keadaan sehat disana. Abrine berharap mama menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan diberi umur yang panjang. Kelak, mama juga akan menjadi seorang nenek apabila Wildan sudah menikah dan memiliki anak... jadi, semoga mama mau memikirkan ucapan Abrine kali ini."

__ADS_1


*


Berselang dua hari dari persalinan Abrine itu. Edgar, Elena dan Hardin tiba menjenguk mereka. Kabar baiknya adalah Elena akan kembali menetap di Jerman sebab Hardin sudah mendapat jadwal pekerjaannya di negara asal mereka itu.


Sebagai info, Elena dan Hardin memang belum memiliki anak. Mereka tidak menunda hanya saja memang belum diberi rezeki itu. Kehadiran dua orang bayi ditengah-tengah keluarga besar Elrich membuat Elena sangat gembira. Dia berniat membantu Abrine mengasuh bayi-bayinya nanti.


Keluarga Abrine di Indonesia juga melakukan panggilan video setiap hari untuk melihat kedua bayi kembar Abrine. Kabarnya mereka juga akan segera mendarat di Jerman demi melihat Lio dan Lian.


******


3 Tahun kemudian.


Lio dan Lian tumbuh sangat cepat. Perkembangan mereka juga sangat baik. Diusia yang ketiga, mereka sudah dapat melakukan banyak hal. Bahkan, Lio sudah dapat menilai sikap seseorang. Dia seperti dianugerahi sesuatu yang berbeda. Lio dapat membaca gerak-gerik orang yang berbohong dan sedang mengelabuinya. Abrine dan Elrich cukup kewalahan menangani Lio yang kritis dan banyak pertanyaan. Mereka bahkan tidak bisa mengalihkan Lio ke hal yang lain jika balita itu sudah penuh rasa ingin tahu.


Sedangkan Lian, bocah kecil itu juga lain daripada yang lain. Dia tampak lebih dewasa dan tidak secengeng Lio. Dia suka dengan hal-hal yang seharusnya tidak disukai oleh anak kecil. Jika anak kecil lain lebih menyukai mainan, maka Lian berbeda, dia lebih tertarik menonton film-film rumit mengenai astronot dan robotik daripada mengambil mainan yang diberikan.


Kadang, El dan Abrine sangat heran melihat Lian. Apa bocah sekecil itu dapat memahami film yang ditonton? Ini semua karena Hardin yang sering mengajak Lian menonton film semacam itu sebab Hardin memang bekerja di salah satu perusahaan robotik.


Ah ya, sekarang El lebih santai dengan pekerjaan barunya. Sesuai janjinya waktu itu, dia telah menjabat sebagai pemilik rumah sakit baru yang diberikan Theresia. Dia tidak bekerja di rumah sakit milik keluarga Xander lagi.


El jadi lebih sering berada dirumah. Sesekali dia mengecek keadaan rumah sakit. Begitulah aktifitasnya sekarang.


Abrine sendiri masih mengelola perusahaannya dibawah naungan sang Papa. Dia tetap ingin menjadi wanita karir sambil menjaga anak-anaknya.


Elena telah hamil besar, asuhannya pada anak-anak Elrich berbuah manis. Akhirnya dia ketularan mengandung.


Kabar mengenai kesehatan Galvin pun mencuat. Pria itu telah dapat berjalan meski harus menggunakan satu tongkat. Kabar bahagia lain yang dibawanya adalah dia dan Kristy akan segera menikah.


Dihari yang sama, Abrine juga menerima panggilan lain yang berasal dari Indonesia.


"Hallo, Brine?"


"Wildan?"


"Aku mengundang kalian sekeluarga untuk hadir ke pernikahanku. Minggu depan."


"Wah, akhirnya kamu menikah..." Abrine mengaktifkan speaker ponselnya agar semua keluarga mendengar, termasuk Elrich, Edgar, Elena dan Hardin, sebab mereka sedang di Villa sekarang.


"Ya, katakan pada semuanya untuk datang. Aku tidak punya keluarga lain selain kalian."


"Kami pasti akan datang, Er!" seru Elena terdengar girang.


Pada akhirnya, mereka semua dapat menjalani kapasitas dan ujian hidupnya masing-masing hingga menuai apa yang telah mereka tanam. Ketahuilah, apa yang kita tanam hari ini adalah yang akan kita panen dikemudian hari.


Semua lika-liku hidup yang rumit dan terkesan sulit untuk dihadapi, nyatanya tetap harus dijalani. Maka dari itu, lalui semuanya tanpa mengeluh dan terus mengucap kata syukur.


Semoga kelak, perjalanan hidup yang disyukuri akan menghasilkan akhir yang bahagia.


Terkadang hidup seperti nyata. Tapi ketahuilah itu hanya fana. Dengan hidup, kita diajarkan arti bertahan dan bagaimana cara kita melewatinya. Sampai masa itu tiba. Masa kita dipanggil dan kembali ke pangkuanNya.


...----------Tamat---------...


Makasih banyak yang udah baca kisah Elbrine sampai tamat. Semoga puas dengan endingnya 🙏🙏


Aku bakal umumin pemenang Give away setelah part ini alias di bab selanjutnya yang bakal aku up nanti. Tungguin ya.... aku juga bakal promo novel baru, loh... rilis besok di tanggal 1. Ini aku kasih lihat covernya yah🙏🙏


Semoga berkenan mampir nantinya. Makasih banyak... banyak... banyak... semoga kita sehat selalu.,🤎🤎🤎


__ADS_1


__ADS_2