
Elrich tahu ada yang tidak beres ketika Abrine menyetujui rencana menikah begitu saja. Kendati diapun tak menginginkan adanya sebuah ikatan, tapi keadaan yang memaksa El untuk mengikuti arus hidup. Keinginan Ayahnya sulit untuk dia abaikan.
"Aku mau menikah denganmu bukan karena ada rasa. Sama sepertimu, aku juga sedang dalam posisi yang sulit." Itulah ucapan Abrine padanya.
"Kau baik-baik saja?" Elrich justru menanyakan perihal keadaan sang gadis tanpa menggubris ajakan menikah yang Abrine utarakan. Elrich menatap kedalam netra milik Abrine, ingin mencari sebuah jawaban disana, namun yang dia lihat justru sebuah kesedihan yang besar.
"Jika aku mengatakan baik-baik saja disaat tertangkap basah sedang menangis seperti ini, itu artinya aku berbohong, Dokter!"
Itulah percakapan terakhirnya dengan Abrine beberapa saat sebelum benar-benar mengantarkan gadis itu pulang ke Apartmennya.
"Dokter El? Kau sudah kembali bekerja?" Xander menghampiri Elrich didalam ruang kerjanya di Rumah Sakit, membuat sirna semua lamunan El tentang percakapannya dengan Abrine kemarin.
"Hmm," sahut El pelan.
"Aku tidak salah lihat, kan? Apa yang terjadi sehingga bisa mendapatimu sedang melamun seperti ini? Ini pemandangan yang tidak biasa," Xander menaik-naikkan alisnya sambil menatapi wajah Elrich.
Elrich mengusap wajahnya sendiri, dia belum bisa mengatakan pada Xander terkait hubungannya dengan Abrine yang sebentar lagi akan terikat oleh sebuah pernikahan. Pernikahan tanpa cinta. Pernikahan yang hanya karena keadaan yang memaksa mereka mengikuti alur kehidupan saja.
"Aku akan memeriksa pasienku," kata Elrich bangkit dari posisinya.
"Kau lupa jika beberapa hari ini kau tidak membedah?" Xander bersedekap santai, dia tak lagi bicara formal, dia menebak sesuatu telah terjadi pada sahabatnya.
"Ya, aku tau. Aku hanya akan melihat pasien pasca operasi," kata Elrich yang lagi-lagi menghindar dari segala pertanyaan Xander.
"Apa Abrine menerima keputusanmu?" tanya Xander akhirnya. Dia sudah mendengar sedikit dari Yemima mengenai apa yang terjadi. Meskipun belum mengetahui apa jawaban Abrine tentang rencana pernikahan yang Elrich dan ayahnya usung.
"Jangan bahas ini dulu," kata Elrich sambil berlalu.
Elrich pun melakukan pekerjaannya hari ini, kendati belum ada pasien untuk dia tangani, tapi dia juga tetap harus rutin mengecek keadaan pasien yang sempat dia operasi dalam beberapa minggu terakhir. Dia menyibukkan diri untuk menghindari pikiran mengenai Abrine.
Memang Elrich sudah memutuskan untuk menikah dengan Abrine, tentu hal itu dia lakukan bukan sembarangan. Tapi, dia sudah mengambil keputusan. Sebelum mengajak Abrine dan ayahnya bicara sore itu, Elrich lebih dulu mencari tahu tentang latar belakang sang gadis. Dia tahu gadis ini tidak akan merepotkannya. Dia juga yakin Abrine tak akan memanfaatkan atau menguasai keuangannya karena Abrine gadis yang berasal dari keluarga terhormat serta dia adalah gadis baik-baik.
Menurut pandangan El, Abrine lebih dari mampu dalam soal materi dan tidak bisa akan memerasnya dalam pernikahan ini nanti.
Semua silsilah keluarga Abrine sudah dia ketahui, itu sebabnya dengan mudah dia mengatakan pada ayahnya akan menikah dengan Abrine dua bulan kedepan.
Tapi, walau bagaimanapun tetap saja Elrich merasa tak yakin dengan semua ini. Kendati demikian, dia mengiyakan usul ayahnya untuk menikah dengan Abrine karena keyakinannya Abrine pun tidak akan mencintainya sebagaimana dia tak mau menjanjikan cinta itu akan hadir diantara mereka, sebab dia memang tak mempercayai adanya hal itu. Sedangkan pada Abrine sendiri, El menebak jika gadis itu hanya menjadikannya pelampiasan atas rasa sakit hati. Itulah yang Elrich simpulkan setelah dua kali melihat Abrine menangis. Pertama adalah saat malam dimana Abrine mabuk dan kedua adalah malam tadi saat Abrine dengan mudah menyetujui rencana menikah dengannya.
Jadi, pernikahan ini adalah simbiosis mutualisme diantara mereka. Mereka sama-sama mengambil keuntungan dari pernikahan ini. Elrich bisa membuat ayahnya senang dan Abrine bisa menjadikannya pelampiasan untuk sementara waktu.
"Dokter El...."
Elrich terkejut mendapati Abrine di koridor Rumah Sakit. Gadis itu tampak anggun dengan pakaian semi formal yang dia kenakan, cukup membuat El terpana sesaat, tapi buru-buru bersikap biasa saja karena tak mau menunjukkan keminatannya.
__ADS_1
Elrich tahu jika Abrine berpenampilan begini berarti gadis itu sedang dalam jam kerja.
"Ada apa? Aku sedang bekerja." Elrich menatal Abrine sekilas.
"Aku mau bicara, bisakah?"
Elrich mengangguk. "Aku masih jam dinas. Jika kau tidak keberatan, kau bisa menungguku sebentar," Elrich melihat arloji dipergelangan tangannya. "Tunggu sampai jam makan siang tiba," sambungnya.
"Baiklah, aku akan menunggu di taman Rumah Sakit saja."
"Jangan!" cegah Elrich cepat. "Jam segini taman itu akan sangat terik, tunggulah di ruanganku."
Abrine berkedip-kedip sesaat, sebelum akhirnya mengangguki ucapan Elrich. Dia tak menyangka Elrich membiarkannya menunggu di ruang pribadi pria itu.
"Naiklah ke lantai 5, dari lift kau lurus saja, ruanganku pintu ketiga disebelah kiri."
"Oke," jawab Abrine menurut. Dia menyunggingkan senyum yang membuat Elrich jadi salah tingkah.
Kenapa pula gadis ini harus tersenyum padanya, aneh tapi El menyukai hal itu, entah kenapa.
******
Abrine menunggu cukup lama di dalam ruangan Elrich, hampir sekitar empat puluh menit. Dia menghabiskan waktu menunggunya sambil bermain game melalui ponsel.
Abrine terkesiap saat melihat Elrich memasuki ruangan itu. Ini adalah pertemuan mereka yang entah keberapa kalinya, Abrine lupa. Tapi sejak dia mengatakan akan menikah dengan pria ini, pandangannya terhadap El jadi berbeda. Terkesan mereka sedang menjalin hubungan yang membuat keduanya terlihat sama-sama canggung.
"Tidak apa," jawab Abrine sekenanya.
"Kau mau bicara apa? Aku mau makan siang. Apa sekalian saja kita makan siang bersama?"
Abrine menggosok lehernya sekilas kemudian dengan ragu-ragu dia mengangguk.
Akhirnya mereka makan di sebuah Restoran yang tak jauh dari Rumah Sakit.
"Biar aku tebak...." Elrich memandang Abrine dengan tatapan penuh selidik. "Kau datang menemuiku dan ingin bicara tentang ucapanmu kemarin, kan? Kenapa? Apa kau berubah pikiran sekarang?"
Abrine tersenyum tipis. "Justru aku yang mau menanyakan hal itu padamu, Dokter El. Apa kau mau menarik ucapanmu soal ingin menikahiku?"
"Tidak."
"Aku juga tidak."
"Jadi, kau tetap mau menikah denganku?"
__ADS_1
Abrine mengangguk. "Ya, tapi sebelumnya buatlah perjanjian pranikah."
Elrich mengerutkan dahi dan Abrine mengerti keheranan pria itu mengenai pembahasan ini.
"Begini, perjanjian pranikah yang ku maksud disini bukan mengenai harta, uang atau warisan. Aku tidak butuh uangmu karena aku juga berpenghasilan."
"Lalu?" Elrich mengambil segelas air dan meminumnya sambil mendengar penuturan Abrine dengan seksama.
"Sebelumnya kita sama-sama tahu bahwa pernikahan ini tidak dilandasi oleh perasaan, baik itu cinta atau yang lainnya. Jadi, aku mau kita membuat perjanjian pranikah mengenai hal yang tak akan merugikan kita satu sama lain nantinya."
"Apa itu?"
"Salah satunya, aku tidak mau adanya sentuhan fisik yang berlebihan diantara kita meskipun nanti kita berstatus suami istri."
Elrich tertawa mendengar hal yang dikemukakan Abrine. "Jadi, aku tidak boleh menyentuh istriku sendiri, begitu?" tanyanya disertai senyum miring.
"Iya, karena kita tidak saling mencintai."
"Pria bisa meniduri gadis yang tidak dia cintai, Nona. Dan itu tidak mesti melibatkan perasaannya."
"Jadi maksudmu kau mau menyentuhku nanti? Mana bisa begitu!" Suara Abrine naik satu oktaf.
"Entahlah, tapi jika nanti aku khilaf mungkin hal itu bisa saja terjadi."
"Aku tidak mau!"
"Kalau keinginanmu begitu, maka baiklah, aku akan menyepakatinya," jawab Elrich dengan gampang, diapun tidak berminat untuk terlalu jauh dengan Abrine, ini dia lakukan hanya demi ayahnya. "Katakan berapa lama pernikahan palsu ini akan berlangsung!" lanjutnya.
Abrine mengerucutkan bibir. "Aku tidak pernah mengatakan ini pernikahan palsu, ini adalah pernikahan sungguhan."
"Jadi, maumu bagaimana?" Elrich memutar bola matanya.
"Lepaskan aku jika nanti aku sudah menemukan orang yang benar-benar mencintaiku dan mau menerimaku apa adanya."
"Begitu, ya?" Elrich mengangguk-anggukkan kepalanya. "Itu artinya tidak ada batas waktu dalam pernikahan ini? Aku hanya perlu melepasmu saat kau menemukan cinta sejati?" Elrich merasa Abrine terlalu naif karena El sendiri tak percaya dengan yang namanya cinta.
"Benar! Hal itu berlaku untukmu juga, Dokter. Jika kau sudah menemukan orang yang tepat maka kita akan sepakat untuk berpisah."
Elrich masih diam mencerna semua ucapan Abrine. Kalau mereka berpisah nanti, apa pendapat ayahnya? Apa pendapat orangtua Abrine? Apa gadis ini tidak berpikir sampai kesana?
"Deal?" Abrine mengulurkan tangannya ke hadapan Elrich. Baginya, pernikahan ini memang sungguhan, tapi dia juga tak bisa memaksa Elrich untuk tetap bersamanya apabila nanti masing-masing dari mereka sudah menemukan orang yang tepat.
Elrich menegakkan tubuh, menyambut uluran tangan gadis di depannya. "Deal," jawabnya yakin.
__ADS_1
******