PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
105. Alasan mendendam


__ADS_3

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memaafkan orang lain? Atau .... daripada mengharap orang lain untuk berucap maaf, akan lebih baik memilih melupakannya dan menganggapnya tidak pernah ada dalam hidupmu sama sekali?


Sebab, untuk menanti kata maaf dari orang yang tidak pernah mengakui kesalahannya adalah sesuatu yang sia-sia.


Begitulah yang dialami Edgar, bertahun-tahun dia menunggu Erika untuk mengucap kata maaf dan penyesalan, tetapi itu tidak pernah didapatkannya. Kenapa? Karena sejatinya wanita itu tidak pernah merasa bersalah.


Penantian itu hanyalah sia-sia, hingga dia menua--Edgar lebih memilih melupakan sosok Erika dan menganggapnya tidak pernah ada.


Satu hari yang dia hindari tiba, dipernikahan Elrich, Edgar harus kembali bertemu mantan istrinya.


Andai pada saat itu Erika mau menyapanya, mungkin Edgar akan berusaha memaafkannya sekalipun kata itu tidak pernah diucapkan Erika didepannya.


Sayangnya, Erika tetaplah Erika. Wanita yang tidak pernah merasa bersalah apalagi menyesal. Hingga untuk sekedar melakukan tegur-sapa pun Erika urung melakukannya.


Hari ini, dengan kebesaran hati, Edgar ingin menemui Erika. Sebenarnya dia tidak tahu jika Erika tengah di rawat di rumah sakit. Akan tetapi kedatangannya ke kota hari ini, rupanya disambut dengan berita tersebut.


Edgar merasa, di umurnya yang sudah tidak muda lagi, tidak sepantasnya dia terus menyimpan luka lama yang akan menguras pikirannya. Dia ingin melepaskan belenggu itu, dalam kata lain dia ingin berdamai dengan keadaan.


Edgar merasa telah kehabisan waktu. Dia ingin hidup lebih tenang di masa tua tanpa dibayangi masa lalu yang suram.


Untuk itulah dia berada disini sekarang. Menemui Erika dan berharap semua permasalahan mereka di masa lalu dapat dibicarakan secara baik-baik dengan kepala dingin.


"Untuk apa kau disini?" Erika menatap sinis pada Edgar yang baru saja memasuki Bangsal perawatannya bersama Elrich.


"Kau mau mengejekku, huh?"


Edgar diam, Elrich yang juga mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Kenapa Erika masih saja sama seperti belasan tahun yang lalu. Tidak merasa bersalah, justru bersikap seolah mereka yang memiliki kesalahan kepadanya.


"Aku datang kesini untuk menjengukmu," kata Edgar terdengar sangat tenang.


"Untuk apa? Kau mau tertawa melihatku sedang sakit? Atau justru kau berharap aku sedang dalam kondisi yang parah dan mengenaskan?"


"Astaga...." gumam Elrich. Dia menatap sang Ayah, seolah menanyakan lewat sorot mata apakah ayahnya tetap mau melanjutkan percakapan dengan Erika meski sambutan Erika sangat tidak menyenangkan seperti ini.

__ADS_1


"El, biarkan ayah bicara empat mata dengan Mama Erika."


"Tapi, Ayah?" El tidak setuju, dia ingat pesan Wildan beberapa waktu lalu. Mereka sama-sama takut Erika akan menyakiti Edgar dengan segala sikap liciknya. Apalagi Edgar juga baru saja pulih.


"Tidak apa-apa," kata Edgar. Pria tua itu meyakinkan El lewat tatapannya. Dia yakin Erika tak akan berani nekat sebab saat ini Erika juga sedang terbaring lemah diatas tempat tidur pasien.


"Baiklah," kata El. Dia tahu ayahnya butuh privasi. Tapi El akan tetap menunggui sang ayah di depan ruangan Erika.


Setelah Elrich keluar. Edgar berjalan pelan kearah ran jang tempat Erika dirawat.


"Aku tidak ingin menanyakan kabarmu karena aku sudah mengetahuinya. Ku harap kau... cepat pulih kembali." Suara Edgar terdengar sangat pelan di samping Erika yang berbaring.


Wanita paruh baya itu langsung memalingkan pandangan. Dia menatap kearah yang berlawanan dengan posisi Edgar.


"Hari ini, kedatanganku kesini adalah ingin berdamai denganmu. Terlepas dari segala sakit hati atau dendam yang mungkin masih kau pendam untukku. Aku hanya mau hidup tenang tanpa mengingat masa lalu itu lagi."


Erika mendengkus pelan, namun tetap tidak sudi menatap lawan bicaranya.


"Kau pikir aku bisa melupakan rasa sakit hatiku atas tindakanmu mengusirku dan Erland dulu?" Akhirnya Erika angkat bicara.


"Aku tidak akan bisa melupakannya, Edgar!" sambung Erika dengan menekankan kata-katanya.


Edgar tersenyum kecil. Dia menghela nafas pelan. "Baiklah, jika kau memang tidak bisa melupakan hal itu. Sekarang, izinkan aku bertanya padamu. Jika kau jadi aku, apa yang harus kau lakukan saat melihat pasanganmu berselingkuh dengan orang kepercayaannya?" Edgar menarik nafas dalam. "Apa aku harus memaafkanmu? Ya... dan nyatanya aku ada disini untuk mengatakan padamu bahwa semua ini sudah selesai," tukasnya kemudian.


"Tentu saja aku akan langsung memaafkanmu jika itu terjadi! Aku tidak akan mengusirmu seperti yang kau lakukan padaku," serobot Erika.


"Kau bisa berkata begitu karena disaat itu kau lah yang berada di posisi yang salah."


Erika mengepalkan tangannya. Bahkan dia mere mas selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Ucapan Edgar ada benarnya, jika dia diposisi Edgar mungkin dia juga akan sangat marah, hanya saja dia menjawab demikian demi membela kesalahannya sendiri.


"Sejujurnya aku sudah memaafkanmu pada saat kau mengkhianatiku. Tetapi, aku tidak bisa mengendalikan emosi saat aku tahu bahwa Erland bukan darah dagingku. Kau terlalu lama menjalin hubungan dengan Wilmar di belakangku, Erika!"


Erika tidak bisa menyahut lagi. Sejatinya ucapan Edgar memang seratus persen benar adanya. Inilah kenapa dia tidak mau membahas masa lalu bersama Edgar, karena dia akan selalu kalah dan terpojok sebab dialah yang berada diposisi bersalah.

__ADS_1


"Aku berharap kau tidak pernah mengusik hidupku lagi. Bukan. Jangan mengusik hidup keluargaku lagi. Baik Elena, Elrich dan keluarga mereka. Ku harap kau memahami maksudku, Erika. Kita sudah menua, bukan saatnya untuk kita bersikap kekanak-kanakan lagi. Seharusnya kita malu pada umur yang masih kita sandang." Edgar menekankan setiap kata-katanya.


Erika menahan rasa sakit atas ucapan Edgar. Sebenarnya dia sakit hati akibat ulahnya sendiri. Jadi, semua ucapan Edgar saat ini terasa begitu menamparnya secara tak langsung. Edgar bagai menguliti segala kesalahannya di masa lalu.


Erika pun memilih bungkam.


"Baiklah, semoga kau mengerti. Aku mendoakanmu agar cepat sembuh."


"Kenapa?" Tiba-tiba Erika bersuara lagi dengan suara yang terdengar sumbang. "Kenapa kau harus mendoakanku sembuh? Bukankah jika aku meninggal kau akan puas?" ujarnya.


Edgar tersenyum tipis. "Ya, itu memang benar. Tapi aku masih berharap kau dapat berubah menjadi lebih baik sebelum kau benar-benar meninggal."


Sekali lagi, ucapan Edgar membuat Erika terpukul.


"Aku sudah selesai. Aku permisi." Edgar berjalan menjauh.


"Kenapa kau tidak bisa menganggap Erland anakmu, padahal status Elrich juga sama. El adalah anak hasil dari perselingkuhanmu, kan?"


Ucapan dan Pertanyaan Erika berhasil menghentikan langkah Edgar.


"Naina bisa menerima Elrich anakmu. Kenapa kau tidak bisa menerima Erland, seperti Naina yang menerima Elrich?"


".... seharusnya kau belajar dari kesalahanmu Edgar! Kau juga pernah menyelingkuhi Naina hingga kau punya anak lain diluar pernikahan kalian. Tapi, kenapa kau tidak bisa menerima Erland hanya karena dia bukan darah dagingmu? Kenapa kau tidak belajar dari Naina yang bisa menerima anakmu?"


"Jadi, hal ini yang membuatmu dendam?" Edgar sedikit terkekeh diujung kalimatnya karena ungkapan Erika. Hal yang tidak Erika ketahui adalah mengenai Emily. Erika pikir, Edgar sudah menyelingkuhi Naina dan Elrich adalah anak dari hasil perselingkuhan.


Erika cemburu pada Elrich karena mengira status Elrich dan Wildan adalah sama.


Erika mengacuhkan ucapan Edgar. Tapi, raut wajahnya mengartikan bahwa itulah yang memang menjadi pokok utama dan alasan rasa dendamnya.


"Yang perlu kau ketahui adalah, Elrich adalah anak kandungku didalam pernikahan yang sah. Emily adalah istri pertamaku dan aku menikahinya jauh sebelum aku menikahi Naina."


******

__ADS_1


__ADS_2