PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
32. Pertaruhan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Elrich dan Abrine sudah berangkat ke Bandara untuk menjemput kedatangan Edgar, Elena dan suaminya Hardin, sebab mereka baru saja tiba di Indonesia.


"Hi boy! Apa kabarmu?" Elena memeluk El sesaat, kemudian menepuk-nepuk pundak lebar pria itu dengan akrab.


"I'm great, Sist." El tersenyum lebar pada Elena.


Tak lama, El beralih pada Hardin, mereka ber-high five ria sambil menyeringai satu sama lain, tampaknya keduanya juga sangat dekat selama ini, hanya saja ada jarak yang sudah memisahkan mereka.


Abrine sendiri lebih memilih untuk menyalami Edgar yang mematut wajah bahagia.


"Apa kabar, Paman?" tanyanya.


"Sangat baik, lebih baik daripada pertemuan kita waktu itu. Paman tidak sabar menunggu kalian menikah," papar Edgar membuat Abrine tertunduk malu.


"Calon adik iparku ternyata sangat cantik." Elena dan Abrine pun berpelukan. Ini adalah pertemuan pertama mereka, tapi Abrine sudah dikenalkan sebagai calon istri dari adiknya. Terasa sangat cepat memang, tapi Elena pikir memang sudah saatnya untuk El serius dalam sebuah hubungan.


"Kau tidak bilang kalau kakakmu ternyata lebih cantik dari fotonya, El!" kata Abrine yang membuat mereka semua terkekeh pelan.


Abrine dan Elena langsung akrab dihari pertemuan mereka yang pertama ini, bahkan keduanya asyik mengobrol dan memutuskan duduk berdua di sheet mobil paling belakang.


Mereka tiba dikediaman Nev setelah empat puluh lima menit berkendara. El membantu membawakan barang-barang sang Ayah dibantu oleh beberapa orang yang bekerja di rumah besar itu.


Kedatangan keluarga Elrich disambut hangat oleh Nev dan Raya. Mereka bahkan sudah menyiapkan banyak makanan untuk menjamu tamu spesial yang datang jauh dari Jerman itu.


Mereka membincangkan tentang acara pernikahan yang akan terjadi dalam beberapa hari kedepan. Semuanya tampak cocok dan tidak ada kecanggungan lagi. Mereka benar-benar terlihat seperti keluarga harmonis yang sesungguhnya.


Nev dan Raya juga memperkenalkan Edgar pada putranya Aarav, dan putrinya Airish beserta pasangan mereka masing-masing. Tak lupa mereka juga mengenalkan Jimmy-Nimas dan Ken-Hana selaku besan mereka juga.


"Itu artinya kita akan menjadi keluarga yang sangat besar nanti, begitu Pak Nev?" Edgar tersenyum antusias.


"Begitulah, Pak. Jadi jangan sungkan untuk kembali datang ke Indonesia. Disini akan banyak keluarga anda juga." Nev menjawab dengan akrab.


Tapi, ada satu wajah yang menatap kebahagiaan itu dengan mata nanar. Dia adalah Abrine. Abrine takut jika akhirnya semua kebersamaan yang akrab ini akan terpecah belah, karena dia yang akan berpisah dari Elrich suatu hari nanti.


"Apa aku harus memikirkan saran dari Rahelsa? Bagaimana jika El tidak mau menyentuhku? Jika begitu, harapan untuk hamil pun percuma saja!" batin Abrine. Dia jadi merasa dilema sekarang.


Apakah nanti dia juga harus menggoda Elrich agar pria itu mau menyentuhnya? Bukankah itu akan membuat dia seperti gadis murahan jika melakukannya lebih dulu? Tapi, setelah Abrine memikirkannya, dia memang harus memiliki keturunan dari El agar pria itu berat melepaskan dia nanti. Soal perasaannya, sebenarnya Abrine sudah mulai bisa menerima El walau dia belum yakin jika dia mencintai pria itu atau tidak.


*****

__ADS_1


Abrine memakai jaketnya, dia baru saja mendapat panggilan dari Raymond. Pria itu ingin menemuinya untuk yang terakhir kali sebelum Abrine benar-benar menikah. Raymond mengatakan jika dia akan pulang ke Jerman setelah ini dan tidak akan mengganggu Abrine lagi.


Awalnya Abrine menolak, tapi karena Raymond berjanji akan menghargai keputusan Abrine jika gadis itu meluangkan waktu untuknya malam ini, mau tak mau Abrine harus mendatanginya juga.


Sebenarnya malam sudah cukup larut, sekitar pukul 11 malam tapi Abrine harus menyelesaikan dan menuntaskan semua urusannya dengan Raymond. Dia tak mau ada harapan lagi diantara keduanya, baik dia ataupun Raymond, mereka harus saling melupakan satu sama lain secepatnya sebab Abrine akan segera melepas masa gadisnya.


Tanpa berpamitan pada siapapun, Abrine memutuskan untuk keluar rumah. Dia mengambil kunci mobilnya saat keadaan rumah yang memang sudah senyap. Kebetulan keluarga Elrich menginap di hotel. Para saudaranya juga sudah pulang ke rumah masing-masing setelah makan malam bersama tadi.


Tanpa Abrine sadari, Elrich masih berada disana. Dia memang kembali karena hendak mengambil ponsel Elena yang tak sengaja tertinggal. Elrich memutuskan untuk mengikuti Abrine dengan taksi yang tadinya dia gunakan saat datang kembali ke kediaman itu.


"Mau kemana dia?" batin Elrich penasaran.


Mobil Abrine berhenti pada satu kawasan yang dipenuhi oleh suara motor yang bising. Ya, disana adalah track yang biasa digunakan anak-anak ABG untuk melakukan balap liar. Sebenarnya Abrine tak mengenali kawasan ini karena dia juga sudah lama tak tinggal di Indonesia.


"Ray! Kenapa disini?" tanya Abrine heran. Dia tahu Raymond sangat hobi otomotif dan balapan, tapi itu terjadi waktu di Jerman. Sedangkan sekarang mereka ada di Indonesia dan kawasan ini adalah ilegal yang tidak memperbolehkan adanya balapan. Jika polisi mengetahui ini, mereka semua akan diangkut habis ke Polsek terdekat.


"Selama di Indonesia aku berteman dengan mereka. Kebetulan mereka semua akan adu balapan disini."


"Tapi jika ini diketahui polisi, maka semuanya akan runyam. Kau juga bukan WNI, kau bisa dideportasi."


"Tak masalah, aku memang akan pulang ke Jerman, bukan? Aku tidak siap menyaksikan pernikahanmu, Brine!" Raymond tersenyum tipis, senyuman itu nampak sangat menyedihkan.


"Baiklah, aku sudah menemuimu sekarang. Apa kau bisa memegang kata-katamu? Kita akan tetap berteman dan hargai keputusanku untuk menikah!"


"Apa?"


"Apa kau masih mencintaiku?"


"Apa itu penting?"


"Entahlah, aku hanya ingin menata perasaanku saja jika tahu yang sebenarnya mengenai perasaanmu."


"Aku sudah tidak mencintaimu, Ray..."


"Tidak mungkin."


"Begitulah, ku rasa semua yang terjadi dan apa yang ku lihat antara kau dan Freya waktu itu... sudah mengangkat seluruh perasaanku padamu hingga tidak bersisa sedikitpun didalam sini." Abrine menyentuh dadanya yang sesak dengan ucapannya sendiri. Tentu dia berbohong, tak mudah baginya melupakan Raymond begitu saja.


"Sepertinya aku belum bisa menerima keputusanmu, Brine!" lirih Raymond, bersamaan dengan itu dia melihat seseorang yang berdiri tak jauh dari posisi mereka. "Apalagi kau datang kesini tidak seorang diri. Kenapa kau mengajaknya, Brine?" Raymond menunjuk El dengan dagunya. Disaat itulah Abrine tersadar bahwa El sudahp mengikutinya.

__ADS_1


El mendekat pada posisi keduanya, padahal sebelumnya dia hanya diam bersedekap dan mendengarkan ucapan mereka berdua dengan cukup jelas karena jarak yang tak terlalu jauh.


"El, kau disini?" tanya Abrine terkesiap.


Elrich hanya tersenyum tipis, kemudian dia menatap Raymond yang mematut wajah sangat menyedihkan. Penyesalan yang besar sangat terpancar di iris mata lelaki itu.


"Kenapa? Kau mau mengatakan bahwa aku sangat menyedihkan?" tanya Raymond pada El.


El hanya megendikkan bahu tak acuh. "Tidak, aku hanya ingin mengatakan padamu untuk tidak menemui calon istriku lagi!" ucapnya menekankan kata terakhirnya.


Abrine tertunduk. Dia akan menjelaskan pada El nanti mengenai pertemuannya dengan Raymond malam ini, kendati El mengatakan tidak butuh penjelasannya, tapi dia akan tetap memberitahunya.


"Dengar, aku bersumpah jika aku tidak mempercayai pernikahan yang akan kalian rencanakan. Aku sangat mengenal Abrine lebih daripada kau! Aku sangat tahu dia seperti apa. Aku memang menyedihkan, tapi kau jauh lebih menyedihkan daripada aku. Kau tahu kenapa? Karena kau hanya dijadikan sebagai pasangan pelampiasan!" ucap Raymond disertai senyum penuh cibiran pada El.


"Ray!" protes Abrine pada Raymond. Tapi pria itu tak berniat menarik ucapannya kembali.


Entah kenapa ucapan Raymond justru memantik kemarahan bagi El. Dia sangat kesal meski dia tahu ucapan Raymond benar adanya. Sejak awal El sudah tahu jika dia dijadikan Abrine sebagai alat pelampiasan sakit hati, tapi dia tetap tak menerima ucapan yang Raymond itu. Apalagi senyum diwajah Raymond benar-benar membuat emosinya memuncak.


"Seperti apapun kau mengenal Abrine, pada kenyataannya, aku yang akan menikahinya!" El membalas tersenyum kecil pada Raymond. Dia menekan amarah dihati dan berusaha bersikap tenang. "Jadi, apa maumu sekarang?" tantangnya dengan senyum meremehkan.


"Mari kita bertaruh, Tuan! Siapa yang memenangkan balapan malam ini, dia yang berhak memiliki Abrine. Tapi, jika kau kalah, maka mundurlah! Jika tidak, bersiaplah pernikahan kalian akan aku buat selesai bahkan sebelum dimulai."


"Apa-apaan, Ray! Kau menjadikanku bahan taruhan?" Abrine menatap Raymond tak percaya.


"Sorry, setidaknya aku harus mempertahankan keyakinanku, dia harus mundur jika malam ini dia kalah!" Raymond merujuk pada Elrich yang berusaha terlihat tenang.


"El, abaikan ucapannya! Tidak akan ada pertaruhan!" tegas Abrine. Bagaimanapun Abrine meragukan kemampuan El dalam hal balapan.


"Tidak, aku akan melakukannya," jawab El tenang.


"You're crazy?" pekik Abrine sambil mendelik.


Abrine beralih pada Raymond. Berharap pria itu menarik ucapannya soal pertaruhan tidak masuk akal ini.


"Ray, apapun yang kau lakukan, tidak akan mengubah apapun. Pernikahanku akan tetap terlaksana! Jadi, batalkan pertaruhan aneh ini."


"Kau meragukan jika aku bisa menghancurkan rencana pernikahan kalian?" Raymond justru bertanya pada Abrine.


"Baiklah, jika kau bersikeras maka biar aku yang melawanmu. Kita berdua yang akan bertaruh, bukan El!" kata Abrine gusar.

__ADS_1


Raymond menggeleng keras sementara Elrich menahan lengan Abrine yang tampaknya sudah jengah dengan situasi ini.


*******


__ADS_2