PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
45. Bukan Vitamin


__ADS_3

Dikarenakan hari ini El dinas lebih siang, dia menyempatkan untuk mengantar Abrine ke kantor wanita itu. Lagipula, dia memang belum pernah mengunjungi tempat kerja sang istri.


Sesampainya disana, rupanya kedatangan mereka disambut oleh beberapa pekerja yang memang semuanya sudah mengetahui jika Abrine telah melepas masa lajangnya. Mereka membuat acara penyambutan untuk pasangan pengantin baru itu.


El dan Abrine disalami dan diberikan banyak ucapan selamat, membuat keduanya mengulas senyum bahagia yang kali ini bukanlah akting dan tidak dibuat-buat seperti saat di pesta pernikahan mereka tempo hari.


Anne, dialah yang menjadi dalang untuk menyiapkan acara ini. Kendati demikian, setelah acara penyambutan selesai, semua pekerja tetap harus kembali bekerja seperti hari biasanya.


Acara itu terstruktur dengan singkat dan rapi. Terakhir, Abrine diberikan sebuket bunga dan diminta untuk melemparnya.


Seperti di acara perkawinan klise, setiap orang yang dapat menangkap buket dari pengantin, konon dialah yang akan menyusul untuk segera menikah kemudian.


Tidak ada yang menduga, rupanya Anne lah yang mendapat buket dari lemparan Abrine yang memang tidak begitu jauh.


"Wah, selamat Anne, kau akan menyusulku," kekeh Abrine yang dirangkul mesra oleh El disisinya.


Anne justru terbengong. Dia saja tidak punya pacar, dengan siapa pula dia akan menyusul jejak Abrine? Akhirnya dia hanya tersenyum tipis, dia tak berniat menangkap buket itu tadinya, tapi karena refleks melindungi diri, akhirnya buket mendarat tepat ditangannya.


"Semoga saja, Miss..." Akhirnya Anne menjawab Abrine disertai senyum tipis.


Acara dadakan yang diadakan di pelataran parkir gedung perusahaan Abrine itu-- tentu dapat dilihat oleh banyak orang, termasuk orang yang berada di area luar.


Dari jarak yang tak terlalu jauh, Raymond menyaksikan pemandangan itu. Dia tersenyum tipis dengan mata memerah. Dia berusaha bahagia diatas kebahagiaan Abrine walau itu menyesakkan jiwanya.


Walau bagaimanapun, Raymond harus bersikap lapang dada. Dengan Abrine yang tetap ingin berteman dengannya saja seharusnya dia sudah bersyukur. Dia tak bisa menuntut lebih. Ini sudah menjadi keputusan Abrine dan dia menghargainya.


Raymond mendoakan kebahagiaan Abrine, dia tak mau mengusiknya, tapi jika Abrine sampai terluka, dia bertekad merebut wanita itu dari suaminya. Akan selalu ada tempat dihatinya untuk wanita itu.


Dilain sisi, Abrine memasuki ruangannya masih dengan El yang berjalan disisinya. Acara sudah usai dan kini saatnya El melepas Abrine untuk bekerja.


"Jangan terlalu lelah, ingatlah jika sekarang ada aku yang membutuhkanmu," kata El sambil mengacak rambut istrinya.


Abrine memeluk El sejenak. Dilanda perasaan nyaman membuatnya enggan bergerak, tapi dia harus melepaskan tautan itu sesegera mungkin karena El juga harus berangkat ke Rumah Sakit.


"Hmm, kau juga. Jangan terlalu lelah. Ada aku yang selalu menunggumu pulang."

__ADS_1


El mengangguk, senyum manis tidak memudar dari bibirnya. Dia mengecup bibir Abrine sekilas kemudian dia benar-benar pergi dari area kantor istrinya tersebut.


Sesampainya di mobil, El mengingat jika dia telah meninggalkan ponselnya dirumah. Mau tak mau, akhirnya dia pun kembali ke Apartmen mereka dan menyahut ponselnya yang terletak diatas nakas.


El hampir beranjak, sampai akhirnya matanya tak sengaja menangkap ada sebuah botol kecil yang masih terbuka diatas meja rias. Kebiasaan El yang disiplin, membuatnya mendekat pada botol itu, dia kira itu adalah vitamin yang Abrine konsumsi, dia ingin menutup botolnya yang terbuka.


El mengambil itu dengan tenang, kemasannya memang terlihat seperti botol vitamin pada umumnya, tapi saat ingin menutup, mau tak mau El dapat melihat isi tablet didalamnya.


Dahinya mengernyit dalam, sembari menuang isi tablet ke telapak tangan. Dalam seketika, matanya memicing kaget, dalam sekali lihat saja dia sudah tahu jika itu bukan vitamin melainkan pil kon-tra-sep-si.


"Abrine?" gumamnya lesu. Sejak kapan istrinya mengonsumsi ini? Memang pernikahan mereka baru memasuki seminggu, tapi kenapa Abrine harus meminum obat pencegah kehamilan?


"Apa kau tidak mau mengandung anakku?" lirihnya bermonolog.


El menutup itu dengan rasa putus asa. Dia sadar, Abrine belum mencintainya. Harus dia akui dia sedih mengetahui istrinya belum mau mengandung anaknya. Kendati Abrine tidak mengatakan hal itu, tapi obat ini sudah menjadi jawaban untuknya.


"Mungkin dia belum yakin dengan perasaanku padanya." Lagi-lagi El hanya bisa bermonolog lesu pada dirinya sendiri.


Apa El berhak kecewa sekarang? Abrine pun tahu jika El sangat mengharapkan agar istrinya itu lekas hamil, tapi kenapa tindakan Abrine seolah mematahkan harapannya?


El pergi dari sana dengan membawa rasa kecewa. Dia ingin menanyakan ini pada Abrine nanti secara baik-baik. Kenapa Abrine melakukan ini, pasti ada alasannya.


Suara deringan tablephone membuat El harus menjawab panggilan itu.


"Dokter El, sudah menerima jadwal operasi hari ini?" tanya Dokter Finn. Dia adalah kepala dokter di Rumah Sakit tempat El bekerja.


"Sudah, baru saja ku terima."


"Baiklah, kau pasti sudah tahu jika hari ini ada operasi cangkok jantung, bukan?"


"Iya, Dokter."


"Tolong lakukan meeting singkat bersama dokter spesialis jantung secepatnya."


"Aku sudah membicarakan ini dengan Dokter Jane," jelas El.

__ADS_1


"No! Dokter Jane ada operasi darurat tadi, seorang pasien mati otak karena kecelakaan, dia dibantu oleh Dokter Jack dan yang lainnya. Sekarang mereka masih berada diruang operasi. Jadi, lakukan meeting singkat dengan dokter spesialis jantung kita yang baru saja. Aku sudah memberitahunya, temui dia di ruang meeting."


"Baiklah, aku akan menemuinya."


Elrich mengambil jas kebesarannya, keluar dari ruangannya dan mengetuk ruang khusus untuk dokter yang akan melakukan meeting.


Mendapat sahutan, El masuk kedalam ruangan itu. Dia terdiam membeku saat menyadari siapa sosok dokter spesialis jantung yang kini berada dihadapannya.


"Elrich? How are you?" sapa wanita itu terdengar ramah.


Elrich berusaha bersikap biasa, walau hatinya semrawut melihat wanita ini.


"Tentu saja aku baik, Claire." El mencoba bersikap profesional. "Kau bekerja disini sekarang?" tanyanya kemudian.


Wanita bernama Claire itu tertawa sumbang. "Begitulah, aku disini sekarang."


Claire memandangi El dari ujung kepala sampai ujung kaki seperti tengah menilai lelaki itu.


"Kau memang tampak baik, ya... kau tidak nampak menyesali apapun, El." Claire berujar dan mulai memberikan penilaiannya.


"Bisakah kita hanya membahas pekerjaan? Setidaknya untuk sekarang." El menyahut dengan suara tegas tak mau dibantah.


"Hmm, baiklah. Tapi, dilain waktu, aku ingin membahas tentang dosamu. Bagaimana?" tanya Claire dengan nada mengintimidasi.


Kini giliran Elrich yang tertawa sumbang. "Kau bicara seakan kau tidak pernah melakukan dosa, Claire!" katanya menekankan.


"Well, kita bahas pekerjaan saja dulu. Masih banyak waktu untuk mengingatkanmu perkara masa lalumu yang telah membuat trauma banyak pihak, termasuk aku!"


"Shut up! Tutup mulutmu itu! Kau tidak tahu apa-apa tentang aku!"


"Tapi aku tahu tentang Pevita, dia adikku, El!"


Mereka saling menatap tajam, tapi akhirnya Claire tidak sanggup menatap El lebih lama karena wajah pria itu terlalu menyakitkan jika dia pandangi terus-menerus. Dan lagi, El mengingatkannya dengan masa kelam yang sulit untuk dilupakan.


"Baiklah, kita---kita bahas pekerjaan saja!" putus Claire kemudian sambil membuang pandangannya.

__ADS_1


"Itu lebih baik."


******


__ADS_2