
Abrine tidak bisa menjawab pertanyaan Elrich. Dia tidak pernah menduga El akan menanyakan hal seperti itu. Tapi, itu ada benarnya. Bagaimana jika cinta sejatinya adalah Elrich--suaminya sendiri?
"Itu lebih baik, bukan?" gumam Abrine pada diri sendiri. Akhirnya dia tersenyum kecil, lalu menyusul langkah El yang sudah mendahuluinya menyambut para tamu mereka. Disana mereka bertemu dengan para kerabat. Ada juga beberapa teman SMA Abrine yang datang. Tapi, selebihnya mereka tak mengenali para tamu lainnya, karena kebanyakan tamu itu adalah relasi bisnis Nev dan Aarav yang ada di Indonesia.
"Selamat atas pernikahan kalian." Wildan menatap Abrine bergantian dengan El. Dia menekan perasaannya dalam-dalam. Hari ini, dia menyaksikan gadis yang ingin dia miliki telah bersanding dengan pria lain.
"Terima kasih, Er..." Elrich yang menyambut tangan Wildan sebelum Abrine sempat mengulurkan tangan.
Dengan amat sangat terpaksa, Wildan mematut senyum kaku. Dia datang bersama Erika yang membuat Edgar dan Elena langsung mengenali keduanya. Namun, tak ada sapaan apapun diantara mereka.
Sebelumnya, Elrich sudah mengatakan pada ayahnya mengenai pertemuannya dengan Erika dan Wildan. Edgar tak pernah mempermasalahkan itu, karena selama ini dia tak pernah meminta anak-anaknya untuk menjaga jarak dari Erika dan Wildan. Hanya saja, Elena dan Elrich yang memang memasang tembok diri sebab mereka belum bisa memaafkan kesalahan Erika dimasa lalu.
Erika memeluk Abrine beberapa saat. Dia berharap Wildan bisa memiliki gadis ini suatu saat nanti. Tapi, dia memang tak begitu yakin dengan hal itu.
"El, Brine, selamat untuk kalian, ya," ujar Erika disertai senyum mengembang.
"Ini hadiah dari Mama untuk kamu, Brine!" Erika memberikan sebuah kotak berukuran sedang untuk Abrine. "Mama berharap pernikahan kalian langgeng dan cepat diberikan keturunan."
Elrich melirik sekilas pada hadiah kecil yang diberikan Erika pada gadis yang sudah menjadi istrinya itu. Dia senang dengan sikap Erika yang tampak hangat dan keibuan sekarang.
"Terima kasih banyak, Ma!" kata Abrine semringah.
Acara itu ditutup dengan makan malam bersama, sampai semuanya kembali ke kamar masing-masing yang mereka tempati di hotel tempat berlangsungnya acara pernikahan tersebut.
Elrich dan Abrine juga memasuki kamar mereka. Sebenarnya Abrine sangat canggung berada dikamar berdua dengan El, tapi sekuat tenaga dia berusaha bersikap biasa saja.
Abrine memasuki kamar mandi, diam-diam dia membuka hadiah yang Erika berikan kepadanya tadi tanpa sepengetahuan El, sebab Erika sempat mengatakan padanya untuk membuka kado itu seorang diri. Rupanya Erika memberikan sebuah lingerie untuk Abrine.
"Astaga, pantas saja Mama memintaku membuka ini seorang diri. Jika Aku membukanya didepan El, aku pasti akan malu setengah mati." Abrine terkekeh pelan, dia mengangkat baju itu setinggi dada dan terbahak lagi setelah membayangkan dirinya menggunakan itu.
"Tidak-tidak, aku tidak mau memakai ini, memalukan sekali." Meski Abrine berniat menggoda El malam ini agar dia segera hamil, tapi tetap saja dia malu mengenakannya dihadapan pria yang sudah menjadi suaminya itu.
Tatapan Abrine tak sengaja kembali menatap pada kotak hadiah tadi, rupanya disana bukan cuma berisikan lingerie saja melainkan ada sebuah botol kecil yang membuat Abrine menyipitkan mata.
__ADS_1
"Obat apa ini?" batin Abrine penasaran. Dia mengamati tapi tak ada keterangan itu obat apa. Abrine memutuskan menghubungi Erika karena dia memang membawa ponselnya tadi.
"Hallo, Ma?"
"Abrine? Apa udah buka kado dari Mama?" tebak Erika yang menduga Abrine meneleponnya karena hadiah darinya.
"Udah, Ma. Makasih ya, Ma. Bajunya bagus tapi Abrine belum berani pakai itu didepan El," ujar Abrine terus terang.
Erika malah tertawa mendengar ucapan Abrine itu. "Ya, nanti aja pakai itu kalau kamu udah siap."
"Tapi, Ma. Abrine juga nemuin obat. Ini obat apa ya, Ma?"
"Oh iya, itu obat kesuburan Abrine. Mama kan bilang tadi, pengen kalian cepat diberi keturunan."
Mendengar itu, Abrine tersenyum antusias diposisinya. "Jadi, kalau konsumsi ini bisa cepat hamil ya, Ma?"
"Iya, Brine. Kamu rutin konsumsi itu ya. Jangan lewat satu haripun. Minum sebelum berhubungan. Nanti kalau udah habis, biar Mama pesankan lagi buat kamu."
"Makasih banyak ya, Ma. Mama perhatian sama Abrine sampai segitunya."
Abrine yakin Erika sudah belajar banyak dari kesalahannya dimasa lalu, kendati Abrine pun belum tahu apa kesalahannya tapi Abrine harus menghargai niat baik Erika padanya.
Pada akhirnya, Abrine pun mandi lalu mengganti pakaiannya, dia memakai piyama biasa. Setelah itu, dia menatap pada obat yang Erika berikan. Walau tak yakin akan berhubungan dengan El malam ini, akhirnya Abrine meminum satu butir obat itu. Setelah selesai, Abrine keluar dan diapun berbaring di atas pembaringan.
Hal serupa dilakukan oleh Elrich, dia membersihkan diri setelah Abrine selesai mandi. Kemudian dia melakukan hal serupa yaitu membaringkan diri diatas tempat tidur yang sama dengan yang ditempati Abrine.
Karena tidak ada protes dari Abrine, Elrich pun tetap tenang pada posisinya dan tidak pindah. Dia akan memulai rencana yang sempat dia diskusikan dengan Xander tempo hari, mengenai hal yang bisa membuat Abrine makin terikat padanya dan tak mau dilepaskan.
Mereka berdua sama-sama menatap ke langit-langit kamar dengan pemikiran masing-masing.
Abrine sendiri sedang memikirkan saran dari Rahelsa, bagaimana caranya dia bisa membuat Elrich mau menyentuhnya. Lebih cepat akan lebih baik. Hanya saja, hal ini membuat Abrine seperti gadis yang haus belaian. Tapi, bukan itu masalahnya. Yang terpenting dia harus mengandung anak El lebih dulu. Urusan cinta, dia percaya El akan mencintainya seiring kebersamaan mereka.
Kamar itu terasa hening dan senyap. Keduanya larut dalam pemikiran masing-masing.
__ADS_1
"El...."
"Hmmm?"
"Apa kau sudah mengantuk?"
"Tidak juga. Kenapa?"
Abrine bingung sekarang, mana mungkin dia yang lebih dulu menyentuh El ataupun menggoda agar El mau memberinya malam pertama mereka. Disatu sisi, Abrine malu, disisi lain dia takut dan ada bagian dalam dirinya yang justru juga menginginkan hal itu.
"Gak, gak apa-apa." Abrine menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia pun langsung memutar tubuh jadi berbaring menyamping dan membelakangi posisi Elrich. Sekarang Abrine memeluk gulingnya erat-erat.
"Apa kau tetap mau mengikuti kesepakatan awal kita?" tanya El tanpa menoleh pada Abrine yang bergeming diposisinya.
"Tentu saja!"
"Bisakah salah satu perjanjian itu ku langgar?" tanya El dengan suara lirih.
"Ma-maksudmu?"
Elrich merubah posisinya, dia menatap punggung Abrine yang membelakanginya, tangannya terulur dan merayap masuk kedalam piyama yang Abrine kenakan.
Abrine terjingkat kaget dengan kelakuan El, ini diluar prediksinya. Bukankah seharusnya dia yang lebih dulu menggoda El? Lalu, apa kelakuan El ini? Apa El juga berniat menggodanya?
Abrine memejamkan matanya rapat-rapat, merasakan jemari El yang bergrilya di punggung mulusnya.
"El....." Abrine menahan geli. Gelenyar aneh ditubuhnya meronta dan berkejaran disekujur pembuluh nadinya.
Elrich diam saja, dia justru melepas kaitan b-r-a milik Abrine, membuat Abrine terkesiap.
"El, perjanjian kita?" ujar Abrine mengingatkan El. Padahal ini juga yang dia tunggu.
"Per-se-tan dengan perjanjian itu!" kata El dan langsung menarik Abrine ke sisinya.
__ADS_1
****"