
El tak menghiraukan lagi ucapan yang Raymond lontarkan. Dia hanya terfokus pada Abrine yang tampak menggigil. Dia membawa tubuh istrinya sampai ke dalam kamar tempat mereka menginap. Sementara Raymond hanya bisa berharap El mampu memberikan yang terbaik untuk Abrine sesegera mungkin.
"Sayang, maafkan aku...." El merasa bersalah. Begitu memasuki kamar, dia segera menyalakan penghangat ruangan.
El membantu Abrine mengganti semua pakaiannya dengan perlahan demi memastikan pakaian yang Abrine kenakan tetap bersih dan kering. Dia memakaikan baju tebal dan jaket pada Abrine. Kemudian dia juga menyelimuti tubuh istrinya itu.
Abrine masih tampak sayu dengan wajah yang pucat pasi. El makin tak tega melihatnya. Kendati istrinya setangguh apapun, Abrine tetaplah wanita dan pasti membutuhkan dirinya sebagai suami yang bertanggung jawab. Dalam hati, El bersyukur mereka tiba lebih cepat di penginapan.
El mulai mengompres bagian tubuh Abrine dengan air hangat, lalu mengambilkan air hangat lainnya untuk diminum sang istri sesegera mungkin.
"El?"
"Iya, sayang?"
"Tetaplah disini."
Elrich mengangguk, dia menggenggam jari jemari istrinya dan berpindah untuk ikut berbaring didekat tubuh Abrine. Dia mendekap Abrine demi menyalurkan kehangatan yang lebih lagi untuk tubuh istrinya.
"Sehatlah kembali, ku mohon." El berbisik penuh harap.
"Aku tak apa, El. Hanya saja, kali ini memang aku merasa sangat kedinginan."
"Kau tidak baik-baik saja. Maafkan aku mengenai keributan kita tadi. Maaf, maaf...."
Sepanjang malam, Abrine mendengar suaminya terus menggumamkan kata maaf. El tampak sangat merasa bersalah karena pertengkaran yang sempat terjadi diantara mereka. Abrine tidak tega melihat El seperti itu. Padahal El pun tak tega melihat kondisi dan keadaan istrinya.
El meletakkan kepala istrinya di lengannya. Menjadikan lengan itu sebagai bantal untuk berada lebih dekat dengan Abrine. Menjelang subuh, El terbangun karena tangannya terasa kesemutan.
Dia melihat wajah istrinya yang tertidur dan menyentuh suhu tubuhnya. Keadaan Abrine mulai membaik. Kulitnya tak sedingin tadi. Wajahnya pun mulai kembali cerah. Syukurlah, sepertinya Abrine benar-benar telah pulih.
El mengecup dahi Abrine sekilas. Dia baru sadar bahwa dirinya sendiri tidak mengganti pakaian sampai ikut tertidur disamping Abrine.
"Maafkan aku, aku belum mengetahui banyak tentangmu. Aku akan menjadikan ini pelajaran. Aku benar-benar kalut melihatmu seperti malam tadi." El berujar lembut didepan wajah istrinya yang tertidur. dia mengusap kasar wajahnya sendiri, perasaan bersalah terus melingkupi dirinya. Dia harus segera membawa Abrine kembali dan tidak terlalu lama di tempat ini.
Menjelang pagi Abrine terbangun dari tidurnya. Dia tak menemukan El yang malam tadi tertidur disampingnya. Rupanya El tengah berkemas. Dia benar-benar akan mengajak Abrine kembali.
Abrine menghampiri El yang tampak sibuk. Dia terkejut kenapa El mengepak pakaian mereka kedalam tas lagi padahal mereka baru satu hari berada ditempat ini. Apa ini karena kejadian kemarin? Karena hipotermia nya yang kambuh?
"El? Kenapa semua bajunya disusun kedalam tas lagi?"
"Kita pulang," sahut El cepat tanpa menatap Abrine. Dia sibuk dengan aktivitasnya itu.
"Tapi ...."
"Aku tidak mau mengorbankanmu dan terlalu lama berada ditempat dingin seperti ini."
__ADS_1
"El mungkin kemarin aku hanya kelelahan dan suhu sekitar sedang turun jadi---"
"Aku tidak menerima penolakan, Brine. Kita pulang."
Ucapan El berhasil membuat Abrine terdiam. Dia tahu El mengkhawatirkan kesehatannya. Dia menurut dan siang itu juga mereka melakukan perjalanan pulang ke kota.
"El, maaf .... karena aku bukan madu kita jadi rusak."
"Tidak, Brine. Jika ada yang patut disalahkan disini maka aku lah orangnya."
"Kau tidak salah. Aku yang ngotot mau ketempat itu."
"Dan aku mengiyakannya tanpa menanyakan riwayat penyakit istriku sendiri. Dokter macam apa aku ini!" sesal El, membuat Abrine bungkam seketika. Abrine tak menyangka El merasa sangat bersalah seperti itu.
"Lain kali kita bisa ketempat lain yang tidak membuat kondisimu drop, sayang. Cukup malam tadi aku melihatmu seperti itu dan aku merasa kacau."
"El.... jangan menyalahkan dirimu sendiri," kata Abrine.
El menggenggam tangan Abrine, melihatnya sekilas dan mengecup punggung tangan istrinya itu.
"Maaf, aku terlalu takut kehilanganmu."
Abrine tersenyum tipis. Berapa kali El mengucapkan kata maaf sejak semalam? Rasanya tak terhitung.
Mereka pun melakukan perjalanan pulang selama beberapa waktu dan tiba di Apartmen menjelang senja.
Abrine mengelus rahang El sekilas, tanpa kata, dia pun memasuki tempat tinggal mereka.
Sejujurnya, Abrine merasa tak enak karena bulan madu mereka harus kacau karena kejadian kemarin. Tapi dia pun tak pernah menyangka jika penyakit itu menghampirinya disaat yang tidak tepat.
*****
El sudah kembali pada rutinitasnya. Hari ini dia ada jadwal operasi sampai malam.
Xander menghampirinya dan menanyakan kabarnya.
"Bagaimana bulan madunya? Apa menyenangkan?"
El tersenyum tipis. "Semuanya lancar saja."
"Bagaimana hubungan kalian, ada kemajuan?"
El mendengkus pelan. "Abrine belum bisa melupakan pria itu. Aku tidak mau memaksanya," ujarnya.
Xander menganggukkan kepalanya. "Semua butuh proses, kan? Sama sepertimu yang juga butuh waktu untuk benar-benar yakin tentang perasaanmu."
__ADS_1
"Ya, aku tahu."
"Ku dengar jadwalmu hari ini dengan Claire lagi."
"Begitulah," jawab Elrich dengan tampang tanpa minat.
"Semoga berhasil." Xander menepuk pundak El sekilas dan berlalu dari sana.
El memasuki ruang operasi. Ini bukan jam terbangnya yang pertama kali. Dia sudah berulang kali melakukan hal yang sama. Tapi, jika harus berhadapan dengan Claire selalu membuatnya serba salah. Gugup, canggung dan entah apa lagi. Dia hanya menghindari pertengkaran dengan wanita itu, makanya dia banyak diam dan mengalah.
"Sejak awal, aku tahu jika waktu itu Pevita bukan mengandung anakmu." Secara tiba-tiba, Claire berujar di ruang operasi. Padahal mereka sedang konsen melakukan pembedahan.
Ucapan Claire itu bukan hanya membuat El terkejut, bahkan semua dokter pendamping berikut perawat yang ada diruangan yang sama pun ikut kaget karena ucapan yang dilontarkan wanita itu.
El diam, entah apa maksud Claire membicarakan masalah pribadi disaat seperti ini.
"Jadi, yang membuatku kecewa bukan karena kau menghamili adikku, melainkan karena kau memintanya melakukan aborsi."
Semua yang ada diruangan itu pun terdiam. Hanya suara mesin anastesi yang terdengar karena itu memang digunakan untuk membantu disaat proses tindakan operasi berlangsung.
Elrich meletakkan hemostat (gunting bedah) yang berada ditangannya kedalam Bak instrument. Padahal, seharusnya dia bisa memberikan itu pada perawat pendamping untuk membantunya meletakkan alat-alat itu ketempat semula agar tetap steril.
Ucapan Claire memang membuat El gusar. Andai dia egois, saat ini juga dia ingin pergi dan segera keluar dari ruang operasi tersebut. Sayangnya, dia harus bisa bersabar lebih dan lebih lagi. Mengabaikan ucapan Claire yang sepertinya memang sengaja mengacaukan pikirannya. Dia pun melanjutkan operasi itu sampai tuntas.
El tahu, setelah ini akan banyak omongan orang lain mengenai dirinya. Tampaknya Claire bukan cuma mau mengacaukan pikirannya saja tapi juga hendak mencoreng nama baiknya didepan rekannya yang lain.
Syukurlah, operasi itu berjalan lancar tanpa ada kendala. El keluar dari ruang operasi diikuti yang lainnya.
"Dokter El, Dokter Claire.... kalian di panggil ke ruangan Dokter Finn."
El tahu, sekarang masalahnya harus merambat sampai kepada pimpinan rumah sakit. Ini semua karena mulut Claire yang sengaja membicarakan problem pribadi ditengah-tengah proses operasi.
"Setelah ini, kau masih harus berurusan denganku, Claire!" El menyorot tajam wajah Claire namun wanita itu hanya tersungging sinis.
******
Hemostat
Bak instument
Mesin Anastesi
__ADS_1