PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
104. Gara-gara Foto


__ADS_3

Beberapa saat sebelum Xena mengunjungi kediaman keluarga Anne. Terjadi perdebatan antara dia dengan putranya, Raymond.


Xena tidak habis pikir kenapa Raymond terus saja mengharapkan Abrine.


"Abrine itu sudah menikah. Dia juga sedang hamil sekarang!" Untuk kesekian kalinya, Xena memberi peringatan pada putra semata wayangnya.


"Sudahlah, ibu. Jangan mencampuri urusan percintaan ku! Aku dan Abrine hanya berteman sekarang."


Kemarahan Xena bukan tanpa sebab. Dia menuduh Raymond masih mengharapkan Abrine karena beberapa kali dia sempat melihat putranya yang masih saja mengunjungi kantor wanita itu meski tidak ada urusan pekerjaan.


"Kalau begitu, menikahlah dengan Freya!"


"Harus berapa kali ku katakan. Aku dan Freya tidak ada hubungan."


"Freya mengharapkanmu. Ibu sangat tahu itu."


"Aku juga tahu."


"Ya sudah, menikah!"


"Kenapa terus saja menyuruhku menikah? Umurku bahkan masih terlalu muda."


"Ibu juga mau menimang cucu, Ray."


"Ah, timang saja kucing kesayangan ibu...." Raymond berlalu dari hadapan sang ibu sambil menggerutu.


Tak lama, bel rumah terdengar berbunyi. Itu adalah Freya yang datang berkunjung.


Belum lelah juga rupanya wanita itu-- untuk mengejar Raymond.


Meskipun Raymond sudah menolaknya, tapi dukungan Xena membuat Freya pantang menyerah dan semakin optimis mendapatkan sang pria.


"Frey...."


"Aunty...."


Kedua wanita berbeda generasi itu saling menyapa dengan hangat.


Freya memang sering berkunjung, dia ingin meluluhkan hati Raymond meski sangat sulit. Keyakinannya adalah, dulu Raymond sempat menyukainya jadi akan ada kemungkinan pria itu akan kembali ke sisinya. Apalagi dia juga sudah tahu jika Abrine tengah hamil. Secara otomatis, harapan Raymond pada Abrine sudah pupus, kan?


Inilah saat yang tepat untuk Freya mengambil hati Raymond kembali. Sayangnya, Raymond selalu menanggapi dia dengan sikap dingin dan acuh tak perduli.


"Raymond..." Freya bangkit ketika Raymond baru saja turun kembali dari lantai atas.


Raymond memutar bola mata jengah. Kehadiran Freya di mansion orangtuanya bukanlah pemandangan yang langka. Ini sudah biasa baginya.


Raymond memilih diam tanpa menjawab sapaan Freya.


"Kau mau kemana, Ray?" Xena menanyakan putranya.


"Aku mau keluar. Cari angin. Bosan dirumah, mendengar Omelan ibu," cicitnya.


"Ajak Freya, ya."

__ADS_1


"Iya, aku ikut...."


"Apa? Tidak-tidak!" tolak Raymond to the point.


"Ayolah, Ray!" desak Freya kekanakan.


"Harus berapa kali ku bilang... kalau aku berkata tidak artinya ya tidak! Kalian seperti baru mengenalku sehari saja!" tukas Raymond kepada dua wanita dihadapannya.


Raymond ingin berlalu, tapi Freya segera mencekal lengannya.


"Apa lagi?"


"Apa kau mau terus begini? Sampai kapan kau akan terus menolak ku?"


"Sampai kapanpun," tandas Raymond dingin.


Freya menahan isaknya, entah kenapa matanya berkaca-kaca mendengar penolakan Raymond untuk kesekian kalinya.


"Sudahlah, hentikan dramanya!" cibir Raymond pada Freya. Dia hendak berlalu tapi suara Xena kembali menghentikannya.


"Ray! Jika kau terus menolak Freya, menolak juga untuk menikah.... maka beri ibu satu alasan yang paling tepat agar ibu bisa memakluminya."


Raymond berdecak lidah. "Ibu, aku memang menolak Freya. Tapi aku tidak menolak untuk menikah... Aku akan menikah jika memang sudah waktunya."


"Benarkah?" Xena menatap penuh harap pada sang putra.


"Iya, tapi tidak sekarang... mungkin nanti, saat calon istriku sudah menyetujui waktunya!" Raymond menjawab random.


"Ca-calon istri?" Freya berkata dengan tak percaya.


"Iya, sebenarnya aku sudah punya calon istri. Dia yang dapat menggantikan posisi Abrine dihatiku. Beberapa hari belakangan aku juga terus memikirkannya. Ku pikir dia yang paling tepat." Kembali Raymond mengarang cerita.


"Apa kau serius, Ray?" Kali ini Xena yang angkat suara. Dia tampak antusias, tak sabar rasanya melihat sang anak menikah dan bersanding dengan istri pilihannya.


"Iya," jawab Raymond tegas.


"Kalau begitu, siapa orangnya?" Xena kembali bertanya.


Raymond sendiri jadi bingung. Dia tak punya calon, dia hanya berniat menghentikan obsesi Freya terhadap dirinya. Bisa dikatakan, saat ini dia sedang berakting dan berlagak memiliki calon istri. Nyatanya tidak. Nol.


"Ah, nanti akan ku kenalkan pada ibu. sudah, ya. Aku sudah ada janji."


"Kau pasti bohong! Kau mau membuatku mundur, kan?" tanya Freya, dia menerka gelagat Raymond. Dia tahu Raymond sedang berbohong demi menghindarinya.


"Tidak, aku serius."


"Bohong!"


"Terserahmu saja. Aku tidak wajib membuatmu percaya."


"Jika Raymond sudah mengatakan iya, berarti iya, Frey..." ujar Xena menengahi. "Mana, Ray? Siapa calon istrimu? Boleh ibu melihat dan mengenalnya?" tanyanya lagi ke arah Raymond.


"Nanti juga ibu akan tahu."

__ADS_1


"Beritahu ibu sekarang!" desak Xena, membuat Freya membuang pandangan ke arah lainnya.


Freya tak habis pikir. Bagaimana bisa, Xena yang biasa mendukungnya, sekarang justru terlihat tak menggubrisnya lagi, setelah tahu jika Raymond sudah memiliki pilihan sendiri?


Sementara bagi Xena, untuk apa dia terus memaksa Raymond bersama Freya, jika putranya pun tetap bersikukuh menolak wanita itu? Yang terpenting baginya adalah Raymond segera menikah dan dia bisa menimang cucu sekaligus diberikan keturunan untuk mewarisi harta serta bisnisnya.


"Ayo, mana buktinya! Kau tidak punya bukti jika kau sedang menjalin hubungan dengan wanita lain. Kau berbohong, Ray! Kau pikir aku tidak tahu," kata Freya dengan senyuman meremehkan.


Raymond bingung sendiri, dia tidak suka ucapannya dipatahkan seperti ini apalagi oleh Freya. Paling tidak, dia harus punya sedikit bukti untuk membungkam mulut kekanakan wanita ini.


Demi apapun Raymond menyesal sudah pernah berurusan dengan wanita semenjengkelkan Freya.


Raymond memutar otak. Siapa wanita yang bisa membantunya kali ini? Selain Abrine, dia tak punya kandidat sebagai calon istri.


Seketika dia mengingat Anne. Anne punya hutang budi padanya. Ya, pasti gadis itu mau membantunya kali ini.


"Kau bisa mengajak kekasihmu kesini, Ray?" Suara Xena membuyarkan lamunan Raymond.


"Huh? Ya, ya, kapan-kapan."


"Apa ibu mengenalnya? Siapa namanya? Kau punya fotonya?"


"Uhm.... ya, ada. Tentu saja." Raymond segera meraih ponsel didalam saku celananya.


"Mana?" Kali ini Freya kembali bersuara. Dia tak percaya Raymond memiliki kekasih. Dia yakin pria itu belum move on dari Abrine. Pasti Raymond sedang mengarang, pikirnya.


Raymond pun mencari-cari foto Anne di gallery ponselnya. Iya, foto Anne yang tertidur di hotel waktu dia menolongnya tempo hari.


"Ini...." Raymond menyerahkan ponselnya pada Xena. Saat itu juga Freya mendekati Xena untuk dapat melihat foto gadis yang dikatakan Raymond sebagai kekasih dari pria itu. Dia ingin menilai gadis pilihan Raymond, apakah lebih cantik darinya?


Sementara Xena sendiri terkejut bukan main saat mengenali sosok yang ada di ponsel putranya.


"Bukankah ini Nona Anne? Dia ini kan.... dia----" Xena tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Dia tahu Anne adalah sekretaris Abrine yang bahkan sempat dia curigai ada hubungan dengan Raymond. Ternyata dugaannya benar adanya. Tidak salah lagi.


"Iya, ibu. Dia Anne," kata Raymond memperjelas sosok gadis itu.


Seketika wajah Freya memucat disebelah Xena. Dia tidak mengenal siapa wanita yang ada di foto itu, tapi sepertinya dia pernah bertemu? Kapan? Entahlah. Wajah gadis itu terlihat tidak asing?


Freya memang sempat bertemu Anne saat berpapasan dengan Abrine di sebuah restoran, beberapa waktu silam. Saat itu terjadi, Anne bahkan sempat memperingatkan Freya untuk menjaga jarak dari Abrine. Kejadian itu berakhir dengan Abrine yang memukul Freya dan akhirnya Freya melaporkan Abrine ke polisi. Sayangnya, Freya melupakan momen pertemuannya dengan Anne waktu itu.


"Tapi, Ray... kenapa foto Anne disini terlihat sangat kacau."


"Kacau, maksudnya?" Raymond tidak mengerti maksud dari perkataan ibunya.


"Ah, jangan-jangan kau dan dia.... astaga Raymond..." Entah apa yang ada dipikiran Xena. Dia mengira Raymond memotret Anne setelah terjadi sesuatu diantara mereka.


"Apa? Kenapa, Bu?" Raymond masih saja tak paham kemana arah ucapan sang ibu.


"Kau harus segera menikahinya, Ray. Ibu tidak mau mendengar gosip dan desas-desus tidak enak mengenai kalian dikalangan kolega ibu."


"Apa?" Raymond dan Freya berkata serempak.


"Iya, apalagi kalau Anne hamil... Sebelum itu terjadi baiknya kalian menikah. Ibu akan segera melamarnya, hari ini juga!"

__ADS_1


Xena beranjak dari sana tanpa mengajak Raymond ikut serta. Dia bahkan mengabaikan perasaan Freya yang langsung berkecamuk mengetahui semua hal ini dalam beberapa menit saja.


******


__ADS_2