
Happy Reading 🌹🌹
Banyak pasang mata memandang Putrinyang tengah berjalan, tidak sedikit juga yang menyapanya sepanjang Putri melangkah menuju gedung baru dimana sekarang dia menimba ilmu bisnis.
Putri hanya membalas sapaan mereka dengan tersenyum kaku, karena dia tidak terbiasa mendapatkan perhatian banyak orang.
Dulu keberadaan Putri bahkan kasat mata, tidak ada yang tahu dan peduli tentang keberadaannya di kampus tersebut.
Apakah kekuatan uang dan jabatan sedahsyat itu sampai dirinya terkenal melebihi artis papan atas?
...**...
Kini Bintang tengah bersiap untuk datang ke kampusnya, setelah perdebatan kecil dengan Mamanya.
"Sayang kamu yakin ingin ke kampus sendirian?" Tanya Bulan pada Bintang.
"Mah, yakin." Jawab Bintang yang tengah menyisir rambutnya.
"Baiklah, segera turun. Pak Ujang sudah menunggu dari tadi." Ucap Bulan
Segera Bintang mengambil tas slempang nya, dan mengenakan sepatu flat karena kehamipannya sudah cukup besar.
Bintang segera berpamitan kepada Mamanya dan masuk ke dalam mobil.
Selama di perjalanan Bintang beberapa kali menghela nafasnya karena gugup, setelah insiden tersebarnya video naked dan dirinya mengetahui jika bukan keluarga Wiratama baru kali ini Bintang keluar dari rumah.
Mobil mewah memasuki pekarangan kampus, dan menuju area parkiran yang sudah di sediakan oleh pihak kampus untuk tamu.
Mobil sudah berhenti, Bintang segera membuka pintu mobil dan keluar. Dia mengedarkan pandangannya.
Banyak mahasiswa yang berlalu lalang, suasana yang cukup Bintang rindukan.
Bintang segera berjalan meninggalkan pelataran parkir, sepanjang jalan koridor yang dia lewatin untuk sampai di ruangan administrasi.
Banyak mahasiswa yang masih berbisik-bisik tentang dirinya, bahkan melemparkan tatapan jijik dan sinis.
Meskipun namanya sudah di bersihkan oleh Papanya, tetapi masih ada segelintir orang yang terus membencinya.
Bintang telah sampai di depann ruang administrasi, Bintang mengetuk pintu dan segera masuk kedalam setelah di persilahkan masuk oleh pegawainya.
Cukup lama Bintang berasa di dalam ruangan tersebut, segera dirinya undur diri untuk segera pulang.
Baru saja melangkah keluar dari ruangan administrasi, Bintang sudah di kejutkan dengan suara yang sangat dia kenal.
__ADS_1
"Masih punya muka untuk datang ke kampus." Ucap Dilla dengan nada sinis.
Reni yang berada di sampingnya segera menyikutnya, dia tadi melihat Bintang datang ke kampus dan mengajak Dila untuk menemuinya.
Karena Reni beberapa kali mencoba menghubungi nomor Bintang tetapi tidak aktif, pernah jse kali Reni datang ke rumah Bintang tetapi banyak penjaga berdiri di luar rumah.
"Kamu apa-apaan sih Dil," Tegur Reni pada Dila dengan menatap kesal.
Dila hanya melengos dan tidak menjawab ucapan Reni.
"Hallo Bin, bagaimana kabarmu?" Tanya Reni dengan tersenyum canggung.
"Baik, bagaimana kabar kalian?" Tanya Bintang kembali.
"Kami baik sangat baik." Jawab Dila dengan ngotot.
Reni melihatnya mendelik kesal, sedangkan Bintang tersenyum tipis.
"Oh iya Bintang, kami minta maaf ya karena belum pernah menjenguk kamu." Ucap Reni dengan nada sedih.
"Iya tidak apa-apa, bolehkah kita duduk. Aku pegal berdiri terlalu lama." Ajak Bintang pada keduanya.
"Ayo-ayo, maaf aku lupa jika kamu sekarang tidak sendiri." Reni segera merangkul salah satu lengan Bintang dan mengajaknya duduk di taman.
Kini mereka bertiga sudah duduk di salah satu bangku taman, dengan di temani minuman yang menyegarkan.
"Bintang, kenapa perutmu besar sekali. Padahal belum ada enam bulan bukan?" Tanya Reni pada Bintang.
Bintang mengelus perutnya dengan lembut dan tersenyum ke arah Reni, "Iya aku sendiri belum tahu karena belum kembali ke dokter kandungan." Jawab Bintang halus.
"Perutnya besar karena itu anak haram, gak tau bapaknya siapa." Ucap Dila kerus.
Hati Bintang berdenyut nyeri, anaknya bukan anak haram. Dia memiliki Ayah meskipun laki-laki tersebut tidak menginginkannya.
"Anakku bukan anak haram." Jawab Bintang tegas.
"Lalu apa? Kamu hamil di luar nikah dan melakukan berhubungan dengan banyak laki-laki. Oh atau kamu sudah tahu jika kamu bukan anak keluarga Wiratama. Kamu takut hidup miskin dengan menjajakan tubuhmu ke banyak pria hidung belang bukan. Cih sungguh menjijikkaan." Jawab Dila sinis dan sadis.
Lelehan air mata membasahi pipinya, segera Bintang berdiri dan menampar Dila dengan keras.
Sehingga membuat Dila sampai berpaling kesebelah kiri, terlihat ada tanda tapak dewa di pipinya.
Bintang menatap nyalang dengan ke arah Dilla, bahkan nafasnya sudah memburu. Dia tidak terima dengan segala tuduhan yang di layangkan terhadapnya.
__ADS_1
"Asal kamu tahu, jikalau pun aku bukan anak dari keluarga Wiratama aku tidak akan melakukan hal sehina itu. Menjajakan tubuhku? Cih, apa kamu tidak mengaca terhadap dirimu sendiri. Kamu bilang kamu anak dari keluarga Amanda, nyatanya pria tersebut adalah sugar dadymu!! Kamu bahkan jauh lebih hina dariku." Jawab Bintang panjang lebar dengan dada yang naik turun karena emosinya meluap.
Reni yang mendengarkannya menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan karena kaget, dia menatap kedua sahabatnya saling bergantia.
"Ap... apa yang kamu maksud Bintang." Tanya Reni dengan tangan gemetar.
"Gadis itu, dia itu hanya anak dari pegawai kecil dengan gaji UMR. Selama ini dia menipu kita mengaku jika keluarga Amanda, tapi kamu tahu. Keluarga Amanda hanya memiliki anak laki-laki yang sudah lama meninggal dunia." Jelas Bintang kepada Reni.
"Dila, ja... jadi kamu... " Belum Reni menyelesaikan ucapannya sudah di potong oleh Bintang.
"Kamu juga yang menyebarkan videoku! Video dimana aku mengetahui jika aku bukan keluarga Wiratama. Apa masalahmu denganku, hah!!" Seru Bintang yang meluapkan seluruh perasaan sakitnya terhadap Dila.
Dila berdiri dan mengangkat dagunya "Ya benar, kenapa! Apa kamu sakit?" Tanya Dila sinis dengan mata yang sudah memerah.
Reni ikut berdiri, dia akhirny tahu kenapa Dila selama ini tidak pernah mau bahkan sering membuat Reni tidak jadi menjenguk Bintang.
"Kenapa kamu tega terhadap Bintang, Dila!" Seru Reni yang tidak habis pikir dengan pemikiran Dila.
"Aku sangat benci dengannya, kenapa harus selalu dia yang di utamakan. Semua memperlakukan nya seperti seorang puteri. Kita? kita hanya kacungnya saja, entah di kampus maupun di luar." Jawab Dila dengan tegas.
Bintang menggelengkan kepalanya perlahan, "Jika bukan karena kamu sering di remehkan oleh orang lain, aku tidak akan pernah ingin berteman denganmu!! Kamu ingat kenapa aku menyuruhmu membelikan aku minum di kantin, karena di atas kursimu di beri kotoran hewan oleh teman kelas kita." Jawab Bintang kesal.
Segera Bintang berlalu meninggalkan mereka berdua di taman kampus, sungguh hati dan perasaan Bintang sangat terluka saat ini.
Belum juga luka yang di torehkan oleh seorang pria belum sembuh, sekarang kedua orang yang dia anggap sebagai sahabatnya memandang rendah dirinya.
Pertemanan mereka bahkan sudah sejak SMA tetapi kenapa hanya dengan goncangan sekecil ini hubungan mereka sudah hancur.
Apakah persahabat mereka setipis tisu?
...**...
...Halo readers, jangan lupa like dan komentarnya....
...Berikan vote bintang lima, agar novel autor dapat di promosikan oleh NT....
Visual Bintang Putri Wiratama
Udah kelihatan jutek belom sih, ehe.
Autor bingung semuanya cantikk ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1