
...Tidak terasa, kita sudah sampai di penghujung bulan Ramadhan tahun ini....
...Semoga amalan kita selama bulan suci menambah pahala dan keberkahan di hidup kita. Amin...
...Autor ingin mengucapkan....
...Minail aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin....
...Bagi semua readers baik muslim maupun non-muslim...
Happy Reading 🌹🌹
Malam telah datang, terlihat semua penghuni mansion Wiratama tengah berkumpul di meja makan.
Bulan yang melihat kaki menantunya mulus tanpa sehelai bulu akhirnya bertanya, "Apa kamu baru saja melakukan perawatan Sky?" Tanya Bulan.
"Tidak Mah, ada apa?" Jawab Sky yang tengah dilayani istrinya.
"Kenapa kakimu mulus sekali seperti perempuan." Ucap Bulan yang menengok untuk melihat kaki Sky.
"Tadi Putri Mah yang mencabut bulu kaki Kak Sky," Jawabnya tanpa beban dengan menghidangkan makan malam untuk suaminya.
Ketiga orang yang berada di meja tersebut terperangah mendengar jawaban Putri.
"Iya Mah, tadi pagi Putri ngidam ingin mencabut bulu kaki Sky. Sky mencoba mencari alternatif dengan buah rambutan tetapi belum musim." Jawab Sky dengan wajah sayu.
Bintang tergelak, dia tidak bisa membayangkan Kak Sky berteriak karena di cabut bulu kakinya satu per satu.
"Bagaimana rasanya Kak?" Tanya Bintang iseng.
Sky hanya mendengus malas, "Tanya saja pada saudaramu." Jawab Sky kesal jika mengingat kejadian tadi siang.
"Mas, Putrikan mencabut bulu menggunakan waxing bukan dengan pinter seperti tadi pagi." Bela Putri pada dirinya sendiri.
Doni yang tengah meminum air putih tersedak, apa teriakan tadi pagi itu adalah teriakan Sky. Kebetulan Doni hari ini memiliki jadwal meeting dengan klien di pagi hari.
Doni mendengar suara teriakan yang berasal dari rumahnya, tetapi posisi Doni sudah keluar dari pintu gerbang sehingga hanya menganggapnya angin lalu.
Terlihat sudah sepi karena seluruh penghuni masuk. kedalam kamar masing-masing untuk beristirahat.
Terlihat Bulan dan Doni tengah duduk di sofa yang terdapat di dalam kamar mereka.
__ADS_1
"Pah," Panggil Bulan pada suaminya.
Doni menoleh ke arah istrinya, terlihat saat ini Bulan tengah ingin berbicara serius dengannya.
"Katakan Mah," Ucap Doni lembut.
"Bagaimana jika Ayah dari cucu kita datang?" Tanya Bulan hati-hati.
"Kita tidak butuh kehadirannya Mah," Jawab Doni tegas.
"Benar, kita tidak membutuhkannya. Tetapi Bintang dan kedua anaknya membutuhkan sosok suami dan Ayah." Ucap Bulan membenarkan sekaligus menyalahkan jawaban suaminya.
"Bintang bisa mencari suami yang baik kelak Mah," Jawab Doni tidak ingin mengalah.
"Bintang mencintai pria itu Pah, dan hari ini Mama bertemu dengannya." Jawab Bulan dengan wajah yang tenang.
Doni menampakkan wajah terkejut, bagaimana dirinya bisa kecolongan pria itu sudah mendekati anaknya.
"Mama pasti bohong." Jawab Doni dengan tertawa sinis.
"Kami bertemu di mall tadi siang," Jawab Bulan yang masih memasang wajah datarnya.
Tawa Doni meredup, "Jangan biarkan peria itu mendekati Bintang dan juga anak-anaknya." Ucap Doni tegas.
"Cukup Mah, kita akhiri pembicaraan yang tidak penting ini."
Doni segera berdiri dan beranjak dari sofa, Bulan hanya memandang punggung pria yang dia cintai hingga menghilang di dalam kamar mandi.
Doni di dalam kamar mandi terduduk di closed, sebenarnya dia tahu jika Ayah dari bayi yang tengah di kandung Bintang mengirimkan bunga untuk Bintang.
Doni mengetahuinya karena laporan dari dua bodyguard yang dia tugaskan untuk menjaga Bintang, tetapi Doni biarkan agar pria itu tahu jika anak dan cucunya bahagia tanpa sosoknya.
Sedangkan Bulan mendesah pasrah, dia akan mencoba membujuk suaminya lagi. Bagaimanapun Bulan tidak ingin Bintang terus saja bersedih seorang diri, Bulan juga yakin jika Ayah kandung dari cucunya juga mencintai Bintang.
...**...
Di kamar seorang gadis dengan suara temaram telihat tengah meringkuk karena menangis.
Gadis itu adalah Rose, setelah dirinya mengirimkan video dan pesan singkat kepada Dave masih tidak mendapatkan balasan apapun dari pria tersebut.
Hingga akhirnya Rose memberanikan diri datang ke perusahaan Danuarta, meskipun tidak sampai masuk kedalam perusahaan Dave. Rose rela menunggu hingga mobil Dave keluar dari perusahaan.
__ADS_1
Satu jam sudah berlalu, tetapi belum ada kemunduran dari mobil pria yang dia cintai.
"Apa dia sudah pulang ya." Gumam Rose lirih dengan memandang ke arah pintu keluar perusahaann.
Pucuk di cinta ulam tiba, baru saja Rose mempertanyakannya terlihat sedang hitam keluar dari parkirann perusahaan.
Rose sangat yakin jika itu adalah mobil Dave, dengan senyum lebar segera Rose menghidupkan mesin mobilnya dan mengikuti mobil Dave dari arah belakang.
Dave yang merasa di ikuti seseorang, memperhatikan spion tengah mobilnya. Terlihat mobil yang tidak asing di matanya.
Hingga di jalanan sepi, Rose segera mensejajarkan monilnya dan memepet mobil Dave untuk berhenti. Dave yang kaget dengan tindakan bodoh pengendara mobil merah tersebut sangat kesal.
Tok... tok... tok...
Terdengar seseorang mengetuk pintu kaca mobil Dave, Dave yang melihatnya mecincingkan matanya.
"Apa lagi mau gadis ingusan itu." Kesal Dave.
Dengan rasa kesal yang bergejolak di dalam hati Dave, dengan kasar Dave membuka pintu mobilnya sehingga Rose sedikit terhuyung mundur.
"Apa!" Ucap Dave kesal.
"Kenapa tidak membalas pesan-pesanku," Ucap Rose dengan nada sedih.
"Rose jangan menghubungi dan menemuiku lagi. Kita tidak ada ikatan apapun, jadi menjauhlah dariku." Ucap Dave dengan perasaan sedikit berat meminta gadis cerewet itu menjauhinya.
"Kita adalah sepasang kekasih, kamu tidak ingat sudah mengambil keperawanan bibirku. Bibir ini selalu aku jaga untuk suamiku kelak." Jawab Rose yang matanya sudah berkaca-kaca karena ada sudut hati yang sakit mendengar penolakan Dave.
Dave memijit pelipisnya pelan, "Rose lupakan ciuman itu, aku melakukannya karena terpengaruh minuman alkohol dan suasana. Aku sudah melupakan semuanya, jadi berhentilah mendekatiku dan jangan mengirimkan pesan maupun makan siang lagi. Aku bisa membelinya di luar maupun di kantin kantor." Jawab Dave tegas dengan sorot mata yang tajam.
Rose meremas selepang tas miliknya, bagaimana bisa Dave menyuruhnya melupakan ciuman dan perasaannya begitu saja.
"Kamu kejam!!" Seru Rose yang kemudian berlari masuk kedalam mobilnya dia tidak ingin terlihat lemah didepan pria tersebut.
Dave hanya memandang nanar mobil merah yang sudah semakin menjauh dari dirinya, Dave tidak mungkin berhubungan dengan circle pertemanan Putri.
Sedangkan Rose mengusap kasar air matanya yang berlomba-lomba keluar untuk membasahi pipinya, "Jangan menangis Rose, kamu harus memperjuangkan cintamu sampai titik darah penghabisan. Ini hanya baru kerikil kecil yang menguji perasaanmu Rose... semangat!!!" Ucap Rose pada dirinya sendiri.
Rose masih bertekad akan memperjuangkan Dave hingga dirinya tidak mampu lagi untuk berjuang. Rose akan memikirkan bagaimana caranya untuk lebih menempel pada Dave setiap harinya, tentu saja dengan kekuatan Ayahnya.
"Tapi aku harus bilang apa ke Ayah, tidak mungkin magang bukan. Aku saja anak jurusan Bahasa bukan bisnis." Ucap Rose lesu.
__ADS_1
...**...
Woahhhastaga... autor udah up dari jam enam pagi sampai jam setengah dua belum lolos review.